
Di dalam perjalanan Litha sama sekali tidak bergeming, Umran hanya mengajak berbicara kepada Sarah. Benar-benar kakak laknat, Litha dianggap apa? Obat nyamuk?
Tak masalah, nanti Litha akan membalas kelakuan kakaknya jika Raka datang ke rumah! Tunggu saja tanggal mainnya! Jiwa kejombloan Umran pasti akan meronta-ronta.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang tinggi nan besar, Litha mengernyitkan keningnya. Mengapa abangnya yang kampr*t ini malah berhenti di depan rumahnya? Mengapa tidak mengantarkan Sarah dulu? Toh juga tinggal menancap gas kurang lebih sekitar 5 meter lagi untuk sampai tepat di pintu gerbang rumah Sarah. Bukankah Sarah duduk di depan, sehingga nanti keluarnya tidak seribet jika Litha yang akan keluar duluan.
Atau mungkin Umran sengaja menurunkan dua gadis ini di sini? Mungkin Umran akan pergi lagi, sehingga tidak memarkirkan mobilnya di depan rumahnya atau menempatkan mobilnya di garasi. Lagi pula Sarah hanya tinggal jalan kaki beberapa langkah saja, sudah sampai rumahnya. Ya mungkin itu.
"Turun!" suruh Umran dengan nada kalem tidak seperti awal-awal tadi. Entahlah Umran menyuruh siapa? Tetapi Indra penglihatannya mengarah pada Litha lewat kaca depan mobil.
"Gue?" tanya Litha dengan menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.
"Hm," Umran hanya berdeham singkat lalu memutar bola matanya jengah. Memang siapa lagi kalau bukan adeknya? Bukankah tadi Umran menatap Litha? Ahh... Adeknya ini menanyakan hal yang sudah jelas ia tahu jawabannya.
"Kenapa gue?" tanya Litha.
"Lo mau nginep di mobil gue?" tanya Umran balik.
Sungguh kakak menyebalkan. Bukan menjawab pertanyaan, malah balik bertanya dengan pertanyaan yang amat menyebalkan.
"Maksudnya kenapa nggak Sarah dulu yang turun? Kalo dia nggak turun duluan, gue turunnya lewat mana?" ungkap Litha.
"Mobilnya kan belom sampai tepat di depan pintu gerbang rumah Sarah," tutur Umran.
"Ya tinggal majuan dikit kan bisa," Litha berpikir mengapa tidak menancapkan gas mobil nya lagi? Toh juga jaraknya sangat amat dekat.
"Gue mau, yang keluar dari mobil gue, elo duluan. Bukan Sarah," ujar Umran.
"Dih..." keluh Litha.
"Gue turun sini aja," celetuk Sarah.
"Lhoh kok disini? Udah gak usah perduliin omongan tu bocah, turun nanti aja kalo udah sampai di depan pintu gerbang rumah lo," jelas Umran seperti memaksa Sarah. Mau tidak mau Sarah mengiyakan permintaan Umran.
"Gue gak tega kalo lo harus jalan kaki sendiri," sambung Umran.
"Gak tega? Cuma jalan sepuluh langkah aja pake gak tega segala," cibir Litha pada Umran.
Sarah tersenyum. Bukan karena Umran yang terkesan memanjakannya, ralat bukan terkesan, tapi emang beneran dimanjain. Kesannya kayak anak dibawah umur yang baru bisa jalan aja, pakai gak tega segala.
__ADS_1
Sarah tersenyum karena melihat raut wajah Litha yang terlihat merah padam karena menahan amarah, yang sepertinya sudah meluap-luap, bahkan ingin sekali meledak.
"Yang namanya jalan kaki mau jaraknya deket atau jauh, tetep aja jalan pake KAKI," sahut Umran dengan menekankan satu kata diakhir kalimatnya.
"Ya iyalah pake kaki masak pake bibir," Litha menjawab asal.
"Kalo bibir itu buat ciuman, iya kan Sar?" sahut Umran yang tidak nyambung dengan perkataan Litha.
Tunggu, Umran nanya Sarah? Maksudnya apa coba? Seolah-olah seperti mereka berdua pernah melakukan hal tersebut. Padahal mereka tidak pernah melakukan hal itu!
"Hah..? Iya kali," Sarah menjawab karena refleks saja.
Sarah terkejut dengan pertanyaan Umran, apa-apaan ini? Kenapa tentang bibir pun, Sarah juga ikut di sangkut pautkan? Tuh kan Sarah jadi salah tingkah sendiri. Dasar Umran!!!
Umran tersenyum tampan dengan jawaban dari Sarah. Mungkin ketampanan Umran saat ini hanya diakui oleh Sarah saja. Litha menganggap kakaknya ini sangat amat menyebalkan, dan ketampanan Umran? Entah mengapa tiba-tiba lenyap begitu saja, menurut Litha.
Entah mengapa juga, senyuman Umran kali ini malah membuat perut Litha menjadi sakit. "Perut gue jadi mules gara-gara liat lo," ucap Litha pada Umran, gadis itu memegang perutnya dengan erat.
"Turun duluan gih! Gue mau lewat," suruh Litha pada Sarah.
"Lo beneran mules?" tanya Sarah heran. Dipikir Sarah, Litha cuma bercanda, eh... taunya beneran.
Sarah hendak keluar dari mobil, namun dicegah oleh Umran yang memegang lengan Sarah.
"Apa lagi sih?" tanya Litha pada Umran dengan volume sedikit tinggi.
"Apaan sih lo?" tanya balik Umran dengan kalem tanpa menatap Litha.
"Kenapa?" tanya Sarah kepada Umran.
"Biar gue aja yang turun, lo disini aja. Di luar lagi gerimis tuh, gue gak mau kalo lo nanti sakit," tutur Umran. Sejak dalam perjalanan tadi, titik-titik air memang sudah mulai membasahi bumi.
Sarah mengangguk menuruti keinginan Umran. Litha? Ahh... Dia tidak habis pikir dengan kakak laknat nya ini. Emang Sarah itu bocah apa, yang kalo kena air gerimis langsung demam? Tapi ya sudahlah Litha tidak ingin berdebat dengan Umran karena hal yang sangat amat sepele ini. Perutnya sudah sangat sakit sekali!
Sarah tersenyum, ia melihat ada ketulusan dengan sikap Umran kepada dirinya. Umran juga jadi ikut tersenyum, keduanya larut dalam tatapannya dan pikirannya masing-masing. Mereka bertatapan hingga seperkian detik, sampai-sampai membuat Litha kehilangan kesabaran.
"Woiii... Malah pandang-pandangan," seru Litha.
Keduanya menatap Litha dengan tatapan berbeda makna. Sarah jadi merasa tidak enak dengan Litha dan merasa sedikit canggung dengan Umran. Yang satunya malah merasa terganggu karena ulah Litha.
__ADS_1
"Sabar. Kalo gak sabar nanti diputusin sama Raka," sahut Umran ngaco, lalu Umran keluar dari mobilnya. Mana mungkin Raka memutuskan hubungan dengan orang yang sangat dicintai dan disayangi olehnya? Mustahil!
"Makanya jangan lama-lama. Kalo lelet kek siput ntar nggak diterima Sarah jadi pacarnya," balas Litha sembari keluar dari mobil ini, keluar dari tempat yang membuat moodnya jelek.
Deg...
'Jantung gue,' gumam Sarah seraya memegang dadanya.
"Kok jadi bawa-bawa gue sih?" protes Sarah tidak terima.
Litha hanya nyengir tanpa dosa, lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan dua jarinya sebagai simbol perdamaian.
**Kamar Litha__
Litha menghempaskan tubuhnya dengan kasar diatas kasur empuknya. Sekelebat bayangan tentang kejadian di basecamp The Perfect tadi siang membuat Litha jadi senyum-senyum sendiri. Mengingat saat Raka seolah-olah seperti guru kimia yang masih muda nan tampan, yang sedang menjelaskan salah satu senyawa kimia yang dikandung oleh cokelat.
Belum selesai dengan bayangannya memikirkan Raka, tiba-tiba perut Litha menjadi sakit lagi. Padahal sebelum rebahan, Litha sudah terlebih dahulu buang air besar.
Tunggu!!! Litha teringat satu hal, perutnya sakit bukan karena ingin buang air besar dan bukan karena senyuman Umran tadi. Tapi karena tadi pagi Litha tidak sarapan, ya Litha lupa sarapan karena banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan, karena hari ini tugas-tugas tersebut harus dikumpulkan di meja guru.
Meskipun tadi siang Litha sudah memakan cokelat, yang mana makanan tersebut juga mengandung karbohidrat, tetapi tetap saja beda. Maag Litha kambuh lagi! Sedangkan stok obat maag yang dimiliki Litha sudah habis.
Mau menyuruh mbok Inah untuk membelikan obat juga tidak mungkin, karena siang ini mbok Inah sedang belanja bulanan dengan diantar oleh Umran. Setelah mengantarkan Sarah pulang, Litha mendengar obrolan antara bang Umran dengan mbok Inah. Kesambet apa Umran? Kenapa tiba-tiba hari ini, dia jadi suka menawarkan jasa sopir?
Mau menghubungi bang Umran atau mbok Inah pun, Litha juga tidak bisa. Karena kebetulan sekali Litha tidak mempunyai pulsa, kuota internet Litha juga sudah habis. Rencananya sih mau beli kuota internet setelah pulang sekolah, tapi Litha lupa.
Menyuruh asisten rumah tangga lainnya? Sebenarnya juga bisa sih, tapi Litha terlalu malas untuk melangkahkan kakinya, turun dari atas ke bawah dengan melewati tangga, menemui para ART yang mungkin ada di dapur. Ya mengingat perut Litha yang terasa amat sakit, jadi Litha sangat malas untuk keluar dari kamar. Bahkan untuk turun dari ranjangnya saja, kakinya terasa kaku untuk melangkah.
Benar pikir Litha, sepertinya memang para ART di rumahnya sedang berada di dapur. Pasalnya Litha sudah berteriak-teriak memanggil para mbak-mbak yang bekerja sebagai ART di rumahnya. Tetapi tidak ada tanggapan atau sahutan atau jawaban, dan reaksi dari mereka.
"Aw..." pekik Litha sembari memegang perutnya dengan erat.
Oke! Lengkap sudah penderitaan Litha.
Yah seperti yang diucapkan Umran tadi, penderitaan Litha sudah sempurna. Namun bukan karena pulang dengan mengesot, tetapi karena rasa sakit diperutnya. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kini Litha hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ada seseorang yang masuk ke kamarnya atau meneleponnya yang menjadi malaikat penolongnya.
Sorry ya untuk para readers yang udah kangen sama Raka, nanti di chapter berikutnya Raka bakal nongol kok.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, and vote. Dukungan dari kalian, dapat bentuk apapun itu sangat berharga bagi Author 🥰
__ADS_1