Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Penyekapan


__ADS_3

"Hahaha emangnya cewek miskin kayak lo bisa apa? Lo mau nantangin gue yang terlahir dari keluarga Tabitha, salah satu keluarga yang terpandang, terhormat dan pastinya bergelimang harta," Dita itu memang selalu sombong dan membanggakan harta orang tuanya sendiri.


Padahal masih banyak di luar sana, keluarga yang lebih terpandang, terhormat dan lebih kaya raya dari pada keluarga Tabhita. Contohnya saja keluarga Nagara dan keluarga Adelard yang mempunyai perusahaan dimana-mana, bahkan ada yang berada di luar negeri.


"Lo mau laporin kita ke guru? Atauuu ke Raka? Gue yakin mereka gak akan percaya, karena semua orang itu butuh bukti yang kuat, bukan sekedar omongan doang!!!" ujar Tania.


"Baik-baik ya lo disini semaleman, karena di depan pintu kamar mandinya udah gue kasih peringatan palsu, kalo toiletnya lagi rusak," ucap Dita dengan nada lembut.


"Eh tapi kalo dia kehabisan oksigen gimana Dit? Disini kan gak ada fentilasinya, otomatis kalo pintunya ditutup udara gak bisa masuk dong," ujar Tania. Gini-gini Tania juga gak mau kalau sampai buat anak orang jadi inalillahi, bisa-bisa jadi masuk polisi.


"Udah tenang aja, di ruangan ini cuman ada dia doang. Gue yakin kalo oksigen di dalam ini cukup buat dia bertahan semaleman," jawab Dita. Sungguh kali ini Dita sangat kelewatan.


"Apa alesan lo buat NGUNCI gue disini?" tanya Litha dengan memberi penekanan disetiap abjad dari kata ngunci.


"Masih nanya? Gue rasa lo udah tau sendiri jawabannya," jawab Dita.


"Kasih tau aja Dit, biar semuanya jelas," ujar Tania.


"Apa karena Raka lagiii?" tanya Litha.


"Iyaaa... Gue bisa berbuat lebih nekat sama lo, kalo lo masih deket-deket sama Raka. Ohh enggak! Kali ini lo udah bikin gue marah. Jadi ini baru awal, gue bakal bikin lo menderita bahkan sampai lo gak betah sekolah disini," ancam Dita.


Dita benar-benar sudah kehilangan akal, sampai-sampai melakukan tindakan kriminal yang menyekap Litha didalam toilet. Semua itu dilakukannya hanya karena terlalu terobsesi oleh cintanya kepada Raka yang tidak pernah terbalaskan.


"Kali ini lo udah bener-bener kelewatan, gue jamin lo bakal nyesel sama perbuatan lo sendiri," ucap Litha tegas dan penuh amarah. Litha sudah kehabisan kesabaran, menurutnya perbuatan Dita kali ini sudah kelewat batas.


Dita dan Tania tidak menggubris perkataan Litha, mereka berdua meninggalkan Litha yang terkunci di toilet tersebut.

__ADS_1


***


Kring-kringgg


Handphone Raka berdering, Raka segera mengambil HP-nya dari dalam saku celananya.


"Ada apa?" tanya Raka pada seseorang yang meneleponnya. Sontak ekspresi wajah Raka menjadi panik dan cemas.


"Gak usah khawatir, biar gue yang tanganin," ucap Raka pada seseorang yang berhasil membuat Raka panik dan cemas.


"Kenapa tiba-tiba lo panik gini? Ada masalah?" tanya Arkan. Untung saja sekarang Raka hanya bersama dengan Arkan, jadi Raka tidak terlalu tertekan karena mendapat banyak pertanyaan dari para sahabatnya.


Dimana si playboy, si kalem dan bule nyasar itu?


Leon, Danil dan Jordy sudah pulang dari tadi, karena ini memang waktunya jam pulang sekolah.


"Gue boleh ikut? Sekalian nemenin lo, ya walaupun gue tau lo bisa sendiri," tanya Arkan.


"Boleh," Raka segera melangkahkan kakinya menuju arah kelas Litha, dan Arkan pun mengikuti langkah Raka yang entah tujuannya kemana? Arkan tidak ingin banyak bertanya kepada Raka, karena Arkan memahami kalau sahabatnya yang satu ini sedang sangat panik dan cemas. Tohhh juga nanti Arkan akan mengetahuinya sendiri.


***


Belum sampai ke tempat yang ditujunya, Raka memberhentikan langkah kakinya tepat dihadapan dua perempuan yang sekarang sedang gugup. Mungkin karena berhadapan langsung dengan seniornya yang gantengnya kelewat batas, apa lagi dia juga menyandang gelar sebagai ketua OSIS.


Arkan pun sangat terkejut, mengapa Raka berhenti dihadapan dua siswi yang tidak populer, buktinya saja Arkan tidak mengetahui identitas dua siswi ini. Ini tidak seperti Raka, bukannya Raka itu selalu dikelilingi banyak perempuan dan semuanya ditolak. Tapi mengapa Raka memberhentikan langkahnya, hanya karena dua perempuan ini. Itulah pertanyaan dari pikiran Arkan.


"Ehh.. kak Raka, ada perlu apa sama kita?" tanya Fika yang lagi gerogi banget tuh.. karena disamperin seniornya yang lebih mirip kulkas berjalan.

__ADS_1


"Dimana Litha?" tanya Raka dingin tanpa ekspresi.


"Litha..?" ucap Sarah, Fika dan tentunya Arkan. Sarah dan Fika tidak menyangka kalau sahabatnya yang pendiam banget jika dengan orang asing, ternyata dicari oleh seniornya yang bergelar ketua OSIS yang gantengnya gak manusiawi dan mempunyai sifat sedingin es batu.


Arkan juga sangat terkejut, dia masih ingat betul dengan perempuan bernama Litha Kusuma Jaya Nagara, yang pertama kali diperbolehkan Raka untuk masuk ke dalam basecamp The Perfect. Dan satu-satunya perempuan yang membuat Raka sampai-sampai menyebut nama panjangnya, padahal selama ini Raka tidak pernah menyebut nama seseorang.


"Dimana dia?" tanya Raka lagiii..


"E eeee... Kita juga gak tau kak, soalnya tadi jam pelajaran terakhir dia gak masuk kelas," jawab Fika.


"Gue ngiranya dia udah balik duluan, makanya tasnya sama HP-nya yang ketinggalan gue bawa," tambah Sarah.


Raka menghembuskan nafas beratnya. Pantesan tadi sebenarnya yang nelfon Raka itu Umran, Umran dari tadi menghubungi nomor Litha, tetapi tidak ada jawaban. Umran was-was jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada adik semata wayangnya itu.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raka berjalan lagi dengan diikuti oleh Arkan yang meninggalkan dua perempuan itu. Tapi entah Raka belum mengetahui tujuannya kemana?


***


Raka dan Arkan menyusuri seluruh ruangan di sekolahnya yang sangat luas, tidak ada satu ruangan pun yang terlewatkan. Arkan pun masih penasaran dengan alasan Raka menghawatirkan seorang wanita bernama Litha. Arkan belum berani menanyakan hal tersebut, karena bagi Arkan ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang sepele. Yang terpenting saat ini adalah mencari keberadaan Litha.


Hingga menjelang malam pun Raka masih berada di sekolah, entah mengapa dia sangat yakin kalau Litha masih berada di sekolah ini. Raka meminta bantuan kepada satpam sekolah agar ikut mencari Litha dan tidak menutup pagar sekolahannya dulu, sebelum Litha ditemukan.


"Udah hampir malem dan kayaknya semua ruangan udah kita cek, tapi gak ada cewek itu. Mungkin emang dia gak ada di sini," ujar Arkan.


"Gak tau kenapa, gue yakin kalo dia ada di sini," ucap Raka yang masih panik dan cemas menghawatirkan keadaan kekasihnya itu.


"Terus gimana jadinya?" tanya Arkan kebingungan.

__ADS_1


Raka memutar bola matanya yang hitam itu, dia mencoba mengingat ruangan mana yang belum di datanginya. Raka mengistirahatkan tubuhnya sebentar diatas kursi yang sekarang sedang di dudukinya.


__ADS_2