Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Gak Peka


__ADS_3

"Hm," Raka membalas sapaan tersebut dengan berdeham singkat dan datar.


"Gue punya sesuatu buat lo. Ini bukan barang KW, arloji ini merek asli kok," tutur siswi lainnya dengan mengulurkan tangannya yang masih membawa sebuah paper bag.


"Oh ya ini ada sandwich, ini buatan gue sendiri lhoh... Dimakan ya..!" jelas siswi yang tadi menyapa Raka, dan mengulurkan tangannya yang masih membawa sebuah kotak makan.


"Kemaren gue lihat helm ini di mall. Terus gak tau kenapa, gue langsung inget elo, gue yakin ini cocok buat lo," sambung siswi lainnya, dan juga mengulurkan tangannya yang masih membawa sebuah paper bag besar.


Kalau ini sih aneh, masak waktu lihat helm langsung ke inget sama Raka. Emang Raka siapanya kakak itu?


"Gue beli bunga mawar merah buat lo," ucap siswa lainnya sambil mengulurkan tangannya yang memegang sekuntum mawar merah.


Kalau ini kebalik dong... Masak cewek yang ngasih bunga ke cowok?


"Gue gak ultah," jawab Raka datar.


"Iya kita tau kok, kalo hari ini lo gak ulang tahun. Tapi kita pengen ngasih ini aja ke elo, terima ya!!!" pinta salah satu siswi yang mewakili teman-temannya.


Raka sangat heran dengan tingkah laku mereka yang tiba-tiba memberi sesuatu pada dirinya, seolah-olah seperti memberi hadiah karena Raka ultah, biasanya tidak pernah seperti ini. Itulah yang ada di dalam pikiran Raka.


"Kita gak ada maksud apa-apa kok Ka, please terima ya..!" tambah siswa lainnya, karena Raka masih saja diam membisu dan mematung.


Sebenarnya kakak cantik itu berbohong, kakak-kakak yang mengidolakan Raka memang sengaja memberikan sesuatu pada Raka dengan tujuan mendapatkan perhatian dari Raka. Seperti yang kita tahu bahwa Raka sekarang memiliki kekasih bernama Litha, oleh karena itu kakak-kakak kelas 3 tidak kehilangan akal untuk mencoba mendapatkan hati pemuda sedingin es batu tersebut, memberikan barang-barang pada Raka itulah usaha mereka.


Sedangkan Litha yang masih di dalam mobil, tentunya dia berharap agar Raka tidak menerima pemberian dari kakak-kakak cantik kelas 3 itu. Jika Raka menerima barang tersebut itu artinya Raka memberi harapan bagi gadis-gadis tersebut untuk memberikan sesuatu lagi kepada Raka di hari selanjutnya. Kalau Raka yang dingin gitu sih mana paham tentang perempuan.


"Please jangan terima, jangan terima!!!" gumam Litha sangat amat berharap dengan ucapannya.


***


"Thanks," ucap Raka kepada semua kakak kelas 3, sambil mengambil barang-barang tersebut dari tangan mereka. Setelah itu Raka melanjutkan lagi langkah kakinya menuju ke kelasnya, tanpa membukakan pintu mobil untuk Litha.


Kakak-kakak kelas 3 tersebut sangat kegirangan, mereka berteriak-teriak gak jelas gitu lahhh saking happy nya. Ya sepertinya pemikiran Litha benar, gadis-gadis itu merencanakan untuk membelikan sebuah kado lagi untuk pujaan hatinya yang dingin dan datar itu.


"What???" Litha kaget dong. Selain karena Raka yang menerima barang dari kakak kelas 3, ternyata tebakan Litha salah. Raka meninggalkan Litha di dalam mobilnya sendiri?


Ya jangan salahin Raka dong, tadi Raka udah nawarin bukain pintu buat Litha, terus Litha nya nolak kan? Ya kan? Ya kan? Hehe.. Emang gitu resikonya punya pacar yang gak peka, sabar-sabar deh buat Litha cantik.


**Kelas X MIPA 3__


"Kok cemberut gitu mukanya?" tanya Sarah kepada Litha yang baru masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Raka," ketus Litha masih cemberut, dan sambil duduk di bangkunya tepatnya di belakang Sarah.


"Lo di apain sama kak Raka? Dia berani macem-macem sama lo? Kenapa gak lo tonjok aja, lu kan mantan petinju perempuan. Apa perlu gue yang kasih pelajaran buat tu es balok?" ujar Sarah yang udah ngegas duluan, padahal Sarah belum tahu masalahnya apa?


"Ehhh tunggu, kayaknya kak Raka bukan tipe orang yang suka macem-macem sama cewek," tambah Sarah.


"Pikiran lu tu ya!!!" ucap Litha sambil menjitak kepala Sarah. Litha gak terima dong kalau Sarah memiliki pikiran yang enggak-enggak sama pacarnya yang ganteng bingits hehe author lebay...


"Awww... Sakit Tha," rengek Sarah. Sarah gak berani membalas perbuatan Litha, alasannya karena Sarah mengakui kalau dirinya memang salah.


"Gue kesel sama tu es balok karena dia gak peka banget, asli gue tu berasa punya pacar es balok beneran tau nggak!" sambung Litha.


"Kan dia emang es balok hhh..." ledek Sarah sambil ngakak wkwk... Litha hanya menatap Sarah yang masih menghadap ke belakang dengan tatapan sinis.


Tiba-tiba guru mata pelajaran hari ini udah nongol aja. Padahal belum ada bel yang berbunyi yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah mulai dilaksanakan, ya walaupun tinggal hitungan menit lagi bel akan berbunyi. Emang guru mapel matematika yang mengampu kelas X itu rajin banget, acungan jempol deh buat bu guru matematika.


"Ehemmm Sarah!" ucap guru tersebut dengan nada tegas.


Tentunya Sarah terkejut, dengan segera Sarah langsung menghentikan acara ngakak nya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke depan. "Maaf bu," tutur Sarah lembut yang hanya diangguki oleh guru rajin tersebut.


"Sukurin lo," gumam Litha sambil cekikikan, yang hanya dapat didengar oleh telinga milik Sarah.


***


Di sisi lain Raka sedang berjalan dengan tujuan hendak berkumpul dengan para sahabatnya di basecamp The Perfect tentunya. Tadi Raka sengaja menyuruh Leon untuk duluan ke basecamp, karena setelah bel istirahat berbunyi Raka langsung membuka handphonenya dan mengecek data-data kantor yang dipegangnya.


Di sepanjang jalan menyusuri koridor, banyak pasang mata yang melihat ke arah Raka. Selain karena kagum dengan ketampanan yang dimiliki Raka, terdapat juga tatapan dengan arti penuh pertanyaan. Pasalnya Raka sedang membawa barang yang lumayan menggangu dan menutupi penampilan Raka, itu sih pendapat para kaum hawa.


Raka memang sengaja membawa barang yang tadi diterimanya dari kakak-kakak kelas 3. Pemuda tinggi tersebut berniat memberikan barang-barang tadi kepada keempat sahabatnya. Siapa tahu diantara sahabatnya ada yang mau, kalau Raka sih males memakai barang dari kakak-kakak tadi, dan sandwich-nya? Raka udah sarapan dari rumah Litha tadi pagi.


**Basecamp The Perfect__


Brak...


Raka menaruh barang-barang yang tadi sempat dibawanya dengan kasar, sehingga membuat suaranya sedikit keras. Seketika keempat sahabatnya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Wihhh... Ngapain lo bawa barang-barang itu?" tanya Arkan penasaran.


"Iya aneh lu. Ada mawar merah juga buat apa? Mau lo kasih ke Litha?" tanya Jordy.


"Bukan," jawab Raka singkat, padat, dan jelas.

__ADS_1


"Terus? Lo mau ke makam opa lo?" tanya Jordy absurd. Emang kalau mau ngomong suka gak dipikirin dulu tu bule nyasar.


"Otak lu gunanya buat apa sih? Heran gue sama lo. Kalo ke makam itu bagusnya pake bunga mawar yang bisa disebar gitu," jelas Leon.


"Sialan lo. Perasaan gue pernah lihat di sinetron TV-TV ada yang ke makam keluarganya bawa sekuntum mawar merah gitu," jelas Jordy.


"Ya emang ada, tapi mayoritas nya kan pada bawa bunga yang bisa disebar gitu," sahut Leon yang tak ingin kalah dari Jordy.


Dan blabla... Perdebatan antara playboy kadal dan bule nyasar itu baru berakhir setelah mereka merasakan otaknya sudah lelah berdebat, kurang lebih sekitar 5 menitan mereka berdebat. Akhirnya selesai juga... Ini waktunya Raka angkat bicara.


"Ini dari anak kelas 3, ambil aja kalo mau," jelas Raka sambil duduk dan membaca komik. Raka sekarang jadi suka baca komik karena ketularan pacarnya.


"Gue ambil mawarnya ya," izin Leon dan diangguki oleh si pemilik bunga.


"Buat apaan tu mawar?" tanya Jordy.


"Gue kasih aja ke cewek yang mau bunga ini," tutur Leon.


"Habis dikasih malah dikasihin lagi ke orang lain," sindir Arkan dan Leon hanya menanggapinya dengan cengengesan.


"Katanya mau tobat. Cih... playboy kayak lu udah gak bisa tobat," sahut Jordy.


"Suuzon aja lo. Gue gak bilang mau nembak cewek, niat gue itu cuman mau ngasih doang," ucap Leon yang tidak terima dengan hinaan tersebut.


Ya semoga saja bule nyasar dan playboy kadal itu tidak berdebat lagi, karena kalau dua anak Adam itu berdebat lagi bisa-bisa konsentrasi Raka dalam membaca komik buyar...


"Serah lu," ketus Jordy dan Arkan secara bersamaan.


"Gue ambil helm nya aja deh... Bagus banget nih bentuknya, mereknya juga terkenal. Nih lo arloji nya aja!" ucap Arkan pada Jordy. Arkan memang tidak menawarkan barang untuk Danil, karena dia tahu bahwa Danil tidak menyukai barang gratisan wkwk...


"Boleh juga. Buat mengingatkan waktu, gue kan pengusaha muda sukses yang kadang-kadang saking sibuknya jadi lupa waktu," ucap Jordy songong.


"Dih sombong amat lu. Eh ada sandwich nih... pas banget si kalem belum sarapan pagi, nih buat lu mau nggak?" tawar Arkan pada si kalem, eh maksudnya Danil. Nah kalau ini ada kemungkinan besar Danil akan menerimanya dan memakannya, ini kan makanan bukan sebuah barang.


Bonus visualnya si ganteng dingin es batu hehe...


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen and vote ya!!!


Salam sayang dari Author untuk para readers 🥰


__ADS_1


__ADS_2