
Flashback On
"Ngapain lo kesini? Dan gimana cara lo bisa masuk ke sekolah ini?" tanya Sekar tanpa basa-basi. Fandy meminta agar Sekar menemui dirinya di sebuah gudang sekolah ini.
"Dan ada apa lo minta gue buat temuin lo disini?" tanya Sekar.
Fandy menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. "Hal yang mudah untuk gue bisa masuk kesini,"
"Gue harap tujuan lo kesini bukan untuk buat masalah seperti beberapa tahun yang lalu," Sekar memperingatkan Fandy.
"Bukan itu. Tujuan gue kesini itu, untuk balas dendam sekaligus mendapatkan cinta yang udah lama gue kubur," jawab Fandy.
"Balas dendam dan cinta?" ucap Sekar meminta penjelasan.
"Litha cinta pertama dan terakhir gue. Dia pacar Raka dan adik dari Umran," jawab Fandy.
Sekar mengetahui Litha, Raka, dan Umran. Bagaimana tidak? Ketiga orang tersebut pernah menggemparkan seluruh SMA Nagara, dengan kejadian yang berbeda. Terlebih lagi dulunya Raka adalah ketua OSIS dan sampai sekarang dia adalah siswa yang paling tampan serta cool yang dikagumi oleh hampir semua kalangan wanita.
"Gue udah jatuh cinta sama Litha sebelum Litha punya pacar. Tapi sayangnya gue cuma dianggep Litha sebagai sahabat dan kakaknya aja," jelasnya.
Krek...
Sekar menoleh saat ada suara pintu yang terbuka, dilihatnya seorang gadis cantik sedang berjalan kearahnya dengan senyum devil.
"Dita," ucap Sekar. Siapa yang tidak mengenal Dita? Salah satu siswi populer yang terkenal dengan kecantikan dan kecentilannya.
"Dita akan bantu rencana gue, dan gue harap lo juga mau bantu gue," ujar Fandy.
"Kalian..." ucap Sekar menggantung.
"Ya. Gue nyari tau siapa murid yang sekolah disini yang cinta sama Raka yang mau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Raka," Fandy menjeda kalimatnya.
"Karena gue butuh bantuan dia," sambungnya dengan menoleh ke arah Dita. Keduanya saling menatap dengan tersenyum licik.
"Gue akan memperko*a Litha disuatu tempat di sekolah ini, sekolah milik keluarganya sendiri. Dita yang akan mengabadikan momen itu dan menyebarkannya di media sosial," jelas Fandy yang sukses membuat Sekar terkejut bukan main.
Awalnya Sekar mengira Fandy akan melakukan kejahatan yang masih dalam batas wajar, tanpa adanya pelecehan serta kekerasan dalam segala bentuk untuk Litha. Namun kenyataannya diluar dugaan Sekar, Fandy bahkan akan menghancurkan harga diri seorang perempuan, dan perempuan itu adalah gadis yang selama ini dicintai oleh Fandy. Dasar gila!!!
"Bentar lagi akan ada artikel. Seorang siswi yang tak lain adalah anak dari pemilik sekolah ternama, melakukan por*ogra*i di sekolah milik keluarganya sendiri," Dita membayangkan hal tersebut dengan senyuman devil nya, begitu juga dengan Fandy.
"Dan tugas lo cuma nyamperin Litha tepat setelah bel berbunyi, lo suruh dia ke tempat yang udah gue tentuin di salah satu ruangan di sekolah ini," jelas Fandy pada Sekar.
"Nggak, gue nggak mau," tegas Sekar dan hendak berlalu meninggalkan gudang tersebut. Tapi tangannya malah ditarik oleh Fandy dengan sekuat tenaga, lalu Fandy melepaskannya, hingga membuat Sekar terjatuh ke belakang.
"Lo gak bisa nolak permintaan gue!" Fandy mencengkram erat dagu Sekar. Sedangkan Dita melihatnya dengan senyum meremehkan.
__ADS_1
"Lepas!!!" seru Sekar dan menghempaskan tangan Fandy dari dagunya.
"Kenapa nggak bisa? Lo pikir gue takut sama lo?" Sekar berdiri dengan sorot mata yang tak kalah tajam dari Fandy.
Seketika emosi Fandy memuncak saat dirinya merasa ditantang oleh sepupunya sendiri. Fandy juga berdiri kemudian dia mengeluarkan pisau yang berada disaku jaket bagian dalamnya. Fandy memperlihatkan pisau tajam tersebut tepat didepan wajah Sekar.
"Lo mau bunuh sepupu lo sendiri?" Sekar berjalan mundur saat Fandy mendekat ke arahnya.
Sedangkan Dita mengira jika Fandy hanya menggertak sambal saja, agar Sekar mau menuruti perintah dari Fandy.
"Hanya sekedar melukai," Fandy tersenyum miring dengan mata tajamnya.
"Jangan gila! Sadar Fan! Lo itu udah dibuatin karena dendam dan cinta!" Sekar masih berjalan mundur.
"Telat. Gue udah terlanjur gila! Whahahaha..." ujar Fandy dengan tawa yang menggelegar seorang penjahat pada umumnya.
Jarak Fandy dengan Sekar lumayan agak jauh, Fandy memegang gagang pisau tajam tersebut dengan mengarah ke bawah, seolah-olah akan menusuk sesuatu yang berada dibawah.
Tak sengaja Fandy menginjak tali sepatu sebelahnya yang terlepas saat jaraknya sudah dekat dengan Sekar. Jadilah Fandy tersungkur ke depan dengan pisau yang masih berada dalam genggamannya, pisau tajam tersebut mendarat mulus di pergelangan kaki Sekar, menembus kaus kaki putih milik Sekar beserta kulitnya.
Gadis tersebut tidak menjerit, dia memang tidak merasakan rasa sakit waktu itu. Sekar hanya merasakan ada benda tajam yang menusuk di kakinya, Sekar sudah dapat menebak, pasti itu adalah pisau yang dibawa oleh sepupunya.
Perlahan mata Sekar melihat ke bawah, melihat kakinya yang sudah mulai merasakan rasa nyeri dan agak basah, mungkin itu adalah darah yang keluar dari kakinya.
Fandy masih telungkup di lantai dengan pandangan matanya yang mengikuti arah tangannya, lalu pisau tajam yang menancap pada kaki Sekar, dan selanjutnya adalah cairan warna merah yang mengotori kaus kaki Sekar.
Fandy masih memegang erat pisau tersebut, jujur Fandy tidak berniat untuk melukai Sekar dengan alat tajam itu. Tapi apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi. Fandy mencabut pisau tajam tersebut dari kaki Sekar yang sudah bercucuran darah.
"Kalo lo nurut sama gue, ini nggak akan terjadi," seru Fandy tanpa rasa bersalah.
"Lo bener-bener gak waras Fan," sahut Sekar dengan air mata berlinang. Sekar berjalan dengan pincang, dia sudah tidak perduli dengan Fandy.
Tapi lagi-lagi Fandy menarik paksa tangan Sekar. "Lo nggak bisa pergi!" tegas Fandy dengan menggenggam erat lengan Sekar.
"Gue yakin setelah lo keluar dari ruangan ini, lo akan bocorin rencana gue," ujar Fandy.
"Terus lo mau apa? Mau sekap gue? Mau bunuh gue?" ucap Sekar seolah-oleh menantang Fandy. Tidak! Itu adalah menurut Fandy yang merasa diremehkan sekaligus ditantang oleh Sekar.
Fandy mendekat ke arah Sekar dan menyudutkan Sekar hingga tubuh Sekar menempel pada tembok. Entah Fandy sedang kerasukan makhluk macam apa? Tiba-tiba saja Fandy mencekik leher Sekar dengan kedua tangan berototnya.
Sekar memang tidak berteriak, tapi rasanya sakit sekali, terlihat dari ekspresi wajah Sekar yang menahan rasa sakit yang dialaminya. Gadis itu memegang erat kedua tangan yang sedang mencoba membunuhnya secara perlahan.
Dita sendiri sampai merinding, dia menelan ludahnya sendiri. Dita tidak percaya jika Fandy akan melakukan tindakan kejam terhadap sepupunya sendiri.
Jika Fandy tega melakukan hal tersebut pada sepupunya sendiri, berarti bukan tidak mungkin jika Fandy akan berbuat lebih buruk kepada Dita, jika saja Dita tidak menuruti perintah Fandy, terlebih lagi Dita bukan siapa-siapa Fandy. Sepertinya Dita salah menerima tawaran kerja sama dari orang macam Fandy, untuk memisahkan Raka dan Litha.
__ADS_1
Kini wajah Sekar sudah memucat dan darah dari kakinya masih saja keluar, Sekar mulai kehabisan nafas. Lantas Fandy melepaskan cekikan tangannya pada leher Sekar. Agar memberi sedikit ruang untuk Sekar bisa mengambil nafas, serta memberi kesempatan jika saja Sekar mau membantu rencana licik Fandy.
"Gimana? Lo mau kan bantu gue?" tanya Fandy dengan tersenyum licik, serta dengan penuh keyakinan bahwa Sekar akan mau membantunya.
"Nggak!" teriak Sekar yang sukses membuat emosi Fandy kembali memuncak.
Fandy mencekik lagi leher Sekar yang masih memerah karena ulahnya sebelumnya.
Aakkkhhhh...
Begitulah suara yang keluar dari mulut Sekar dengan mata yang terpejam menahan rasa sakit dilehernya.
Suara dan ekspresi wajah yang Sekar tujukan, membuat Dita menjadi tidak tega. Bagaimana pun juga Dita masih mempunyai rasa kasihan dan kemanusiaan kepada seseorang yang tidak ia benci. Lain cerita dengan Litha, Dita sangat membenci Litha. Sehingga rasa kemanusiaan yang ada dalam diri Dita sudah hilang jika menyangkut dengan Litha.
"Fan..." ucap Dita seolah-olah memperingatkan Fandy bahwa Sekar adalah sepupunya.
"Diem!" tegas Fandy yang membuat nyali Dita menciut.
Tanpa aba-aba Sekar menginjak kaki kanan Fandy dengan sekuat tenaga yang tersisa dalam dirinya. Alhasil Fandy meringis dan refleks melepas cekikan tangannya dari leher Sekar, karena Fandy merasa sakit di bagian kakinya. Berhasil, sesuai dengan rencana Sekar.
Dengan segera Sekar melarikan diri dari sepupunya yang sudah tidak waras itu. Tidak, Sekar tidak berlari, dia berjalan secepat yang ia bisa dengan pincang. Sedangkan Dita bingung harus berbuat apa? Dia tidak tega menahan Sekar dengan keadaan Sekar yang memprihatinkan. Tapi jika Dita tidak mengejar Sekar, maka bisa saja rencananya dengan Fandy akan gagal.
Fandy yang baru menyadari bahwa Sekar sudah tidak ada didepannya, lantas mencari keberadaan Sekar yang kini sudah berada diujung pintu. Fandy menoleh ke arah Dita, karena kakinya masih terasa rada sakit, Fandy menyuruh Dita untuk mengejar Sekar.
"Kejar!!!" perintah Fandy dengan volume tinggi dan menunjuk ke arah luar pintu.
Dita mengangguk tapi kakinya malah enggan untuk melangkah, membuat Fandy jengkel saja. "Cepat!!!" tegas Fandy dengan volume maksimum.
Dita berlari mengejar Sekar yang sudah berada diluar. Namun sayang sekali saat Dita sudah berada tidak jauh dari Sekar, tapi juga tidak dekat dengan Sekar, Dita mendapati Sekar yang sedang bersama Arkan di koridor tersebut.
Dita memutuskan untuk mengawasi mereka dulu, siapa tahu Arkan nantinya akan pergi meninggalkan Sekar sendirian, dan saat itulah Dita akan membawa Sekar ke hadapan Fandy.
Ternyata jauh dari perkiraan Dita. Sekar pingsan, lalu Arkan memilih menggendong Sekar yang tak sadarkan diri itu. Dan sialnya lagi, Arkan sempat melihat kepala Dita yang sedang mengawasi mereka, yang berada di balik tembok paling ujung. Saat Dita sadar jika Arkan melihatnya, Dita segera menyembunyikan kepalanya dibalik tembok.
Dita kembali ke gudang menemui Fandy. "Lolos," satu kata yang terucap dari bibir Dita saat berhadapan dengan Fandy.
"Kacau..." seru Fandy seraya menendang tumpukan kursi rusak yang ada di gudang, membuat Dita ngeri sendiri melihat Fandy yang emosional begitu.
Fandy mengacak rambutnya frustasi, tapi bukan Fandy namanya jika dia menyerah begitu saja. "Atur rencana baru. Kita bisa ngelakuin tanpa Sekar," sahut Fandy.
"Lo yakin akan berhasil? Sekar pingsan dibawa sama Arkan, bisa aja setelah Sekar sadar, dia akan cerita semuanya ke Arkan. Dan Arkan pasti akan ngasih tau ke Raka," ujar Dita.
"Kita harus gerak cepat," tegas Fandy.
Flashback Off
__ADS_1