Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Banjir Air Mata


__ADS_3

"Kak Raka nggak lagi modus kan?" Litha melirik Raka yang sedang mengoleskan salep di punggungnya.


Raka hanya diam, masih fokus mengoleskan salep disetiap inci memar di punggung Litha.


"Diem aja berarti jawabannya iya," ucap Litha mengeratkan pelukan bantal yang menutupi dadanya.


Raka tersenyum menggelengkan kepalanya. Pemuda itu sudah selesai mengoleskan salep pada memar punggung Litha, kemudian Raka memegang bantal yang ada di pelukan Litha. Mata gadis itu sudah melotot kepada Raka.


"Mau apa?" Litha sudah berpikir yang tidak-tidak.


"Mau modus. Udah di tuduh yang macem-macem, sayang kalo gak dilakuin beneran," Raka tersenyum melihat Litha yang marah-marah, itu artinya Litha sudah membaik dan tenaganya sudah full.


"Berani sentuh, aku tonjok nih!' ancam Litha dengan satu tangan terangkat menunjukkan kepalan.


Raka mengangkat kedua telapak tangannya, "Ampun.. Kak Raka gak berani sama cewek yang berhasil bikin patah tulang dua preman sekaligus,"


"Itu pujian apa ngeledek?" Litha memasang wajah datar.


"Menurut kamu?" Tanya Raka.


"Udah ah, kamu hadap kesana dulu aku mau benerin baju," Litha membalikkan tubuh Raka agar membelakanginya.


Raka hanya menurut saja, "Kamu kenapa gak marah sama aku?"


Setelah menarik tali tanktop sampai ke bahunya Litha berpikir sejenak. "Kenapa harus marah? Kamu suka sama cewek lain? Cewek yang mukanya putih mulus?"


Raka membalikkan tubuhnya lagi menghadap Litha, "Astaga... Kenapa bahas muka terus sih Tha?"


"Eh... Balik badan lagi gih..! Aku belom ngancingin bajunya," protes Litha.


"Udah gak kelihatan apa-apa, orang datar-datar aja kayak triplek. Sini aku bantu kancingin," ucap Raka biasa saja mendapat pelototan tajam dari Litha.


"Enak aja ngatain kayak triplek, belom lihat secara langsung kan?" Litha memperhatikan tangan Raka yang mengancing bajunya.


"Lihatnya nanti aja kalo udah nikah," jawab Raka tidak berekspresi dan tidak nyambung sekali dengan ucapan Litha.


"Dih... Siapa yang nawarin buat lihat," ketus Litha.


Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas dalam kepala Litha. "Emang kamu yakin kita bakal nikah?" Litha menatap Raka yang sudah selesai mengancingkan bajunya.


"Yakin 1%," jawabnya singkat sambil duduk di kursi yang tersedia.


"Kenapa cuma 1%? Berarti kemungkinan besar kita gak akan sampai pelaminan dong?" Sahut Litha.


"1% nya dari keyakinan aku, 1% nya tergantung dari kamunya mau atau enggak nikah sama aku. 98% nya tergantung jalan dan takdir dari Sang Maha Kuasa. Manusia mempunyai rencana, tapi tetap takdir pemenangnya," Raka mengamati setiap luka-luka di wajah Litha.


"Di masa depan kemungkinan besar kita akan menikah ada 2%," Litha tersenyum menatap Raka yang juga tersenyum.


"Kamu bener gak marah sama aku?" Raka mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


Litha mengernyitkan dahinya, "Kenapa harus marah?"


"Karena aku gagal melindungi kamu dari dua manusia sampah itu," mata Raka berkaca-kaca menahan air yang siap untuk meluncur.


Raka menggenggam tangan Litha, ia menundukkan kepalanya, dahinya menempel pada punggung tangan gadis tersebut. "Maaf Tha. Dan terimakasih banyak atas pengorbanan kamu untuk Oma. Aku gak tau harus balas jasa kamu dengan cara apa? Hanya ucapan kata Maaf dan Terimakasih yang bisa aku lakukan,"


Litha menarik kedua sudut bibirnya, ia bisa merasakan tetesan air mengenai punggung tangannya. Litha mengusap-usap rambut Raka.


"Ada satu cara Kak," mata Litha berkaca-kaca, perlahan air matanya ikut menetes.


Mendengar hal tersebut membuat Raka mendongakkan kepalanya, menatap Litha yang sudah berlinang air mata.


"Kakak jauhin aku dan pergi dari hidupku," Litha melepaskan genggaman tangan Raka dari tangannya.


Tentu saja Raka terkejut dengan permintaan Litha. "Kenapa Tha? Kalo kamu marah sama aku, bilang yang jujur. Silahkan kamu boleh pukul aku sepuasnya. Kamu boleh matahin tulang-tulang aku sepuas kamu, tapi jangan suruh aku buat jahuin kamu,"


"Aku sama sekali gak marah sama Kak Raka," Litha mengusap air matanya.


"Terus apa kalo bukan marah? Kalo kamu marah gak gini caranya Tha, aku sayang sama kamu," Raka menatap mata Litha yang menghindar dari tatapannya.


"Aku bener gak marah Kak. Aku cuma..." ucap Litha ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Cuma apa?" Raka menangkup wajah Litha agar menatap matanya. Gadis tersebut hanya diam, matanya tidak berani melihat netra pemuda didepannya.


"Oke, aku akan pergi dari hidup kamu, kalo itu akan buat kamu bahagia," lidah Raka terasa pahit mengatakan hal tersebut, tapi mau bagaimana pun dia tidak boleh egois.


"Tapi jujur dulu! Apa perasaan kamu udah berubah? Tatap mata aku dan bilang kalo kamu udah gak sayang lagi sama aku," Raka menatap bola mata Litha yang sama sekali tidak meliriknya.


"Jangan!" Seru Litha.


"Kenapa? Aku harus tahu alesannya," tegas Raka tidak ingin dibantah.


"Tha, tatap mata aku!" Raka bersuara lembut, tangannya masih menangkup wajah Litha.


Litha menurut, matanya keduanya kini sudah saling bertemu. "A.. aa.. aku cuma takut kalo kamu dihina orang lain. Atau nanti kamu akan malu karena deket sama cewek jelek kayak aku," air mata mengalir membasahi pipinya yang lukanya belum terlalu kering.


Litha menundukkan kepalanya, "Aku takut Kak... Aku takut kalo nanti kedepannya kita terus bersama, kamu akan kecewa karena bekas luka ini gak akan bisa hilang," Litha bersuara keras begitu pula dengan tangisannya yang semakin kuat.


Raka mengangkat dagu Litha untuk menatapnya. "Hey... Dengar aku. Aku sayang sama kamu tulus tanpa memandang fisik kamu, aku gak perduli tentang omongan orang diluar sana. Hubungan ini kita yang menjalani, jadi untuk apa kita perduli ocehan orang lain?" Raka berbicara sangat lembut tidak ingin melukai hati Litha.


"Ttt... Tapi aku gak mau di oplas Kak," ucap Litha.


"Aku tau itu," jawab Raka tersenyum mengusap pinggir-pinggir luka di wajah sambil memandangi goresan tersebut.


"Kakak gak malu deket sama aku? Gak malu punya cewek jelek gini?" Jari telunjuk Litha mengarah kepada dirinya sendiri.


Raka tersenyum meskipun air matanya masih keluar, ia membalas dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku jadi minder. Kak Raka terlalu sempurna untuk kondisi aku saat ini," air mata sudah menggenang di pelupuk matanya lagi.

__ADS_1


"Kamu cantik Tha, hati kamu yang baik membuat kamu terlihat lebih cantik dari wanita manapun. Kamu salah besar! Kalo kamu beranggapan selama ini aku mencintai kamu karena wajah manis kamu yang selalu polos tanpa makeup itu," ungkap Raka panjang lebar meyakinkan Litha.


"Justru aku takut kamu marah dan kecewa sama aku. Aku sangat merasa bersalah karena gagal melindungi kamu, aku nyesel Tha karena datang terlambat," tambah Raka masih dengan penyesalannya.


Raka memegang goresan di pipi Litha, "Pasti rasanya sakit," Raka tidak kuasa menahan air matanya.


Litha segera menggeleng, "Enggak, gak sakit kok,"


"Bohong," Raka sedikit menekan luka tersebut, membuat Litha meringis menahan rasa sakitnya.


"Aw..." Litha langsung menepuk keras tangan Raka.


"Tuh kan bohong," Raka tertawa renyah tetapi air matanya mengalir. Hatinya hancur berkeping-keping melihat gadis yang dicintainya terluka tetapi sebisa mungkin ia menutupi rasa sakitnya.


Raka berdiri dan memeluk Litha. Gadis itu melepaskan bebannya, menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Raka, baju Raka dibagian dadanya sampai basah karenanya.


"Aku ngerasa nyaman dan aman di deket Kak Raka. Karena Kakak selalu tahu setiap aku bohong, rasa sakit di luka maupun didalam hati yang aku tutup-tutupi jadi berkurang," Litha mengeratkan pelukannya, beban dalam dirinya terasa langsung hilang entah kemana.


Sejak pagi setelah siuman dan nyawanya sudah kumpul sepenuhnya Litha sebisa mungkin tidak menunjukkan rasa sakitnya kepada seluruh keluarga dan sahabatnya. Litha tidak ingin melihat orang lain sedih karena keadaannya sekarang ini.


"Tapi nyatanya kemarin aku gak bisa melindungi kamu," sahut Raka tersenyum getir.


Litha mendongakkan kepalanya, "Yah... Maaf ya Kak aku salah ngomong. Intinya aku bahagia sama Kakak," Litha memeluk Raka sangat erat.


"Udah jangan nangis, masak ice boy nangis sih? Kalo Kak Raka sedih, aku juga ikut sedih," Litha sesenggukan dalam dekapan Raka.


"Kamu yang duluan nangis, jadi aku ikut-ikut nangis juga," sahut Raka masih mengeluarkan air mata.


"Kok aku sih? Aku gak terima dituduh gini. Orang tadi kamu duluan yang nangis," sewot Litha tidak terima, tapi air mata tidak ingin berhenti mengalir.


"Tapi aku nangisnya diem-diem. Lhah kamu terang-terangan didepan mata aku," Raka masih mengingat jika awal ia menangis, saat dirinya menunduk menyembunyikan wajahnya di punggung tangan Litha.


"Tapi tetep Kakak yang duluan,"


"Tapi kamu yang terang-terangan, jadi aku ikut kebawa suasana,"


"Nggak! Pokoknya Kak Raka duluan yang bikin suasana jadi sedih,"


"Kamu yang nunjukin langsung didepan mata aku, tanpa ada niatan buat nyembunyiin rasa sedihnya,"


"Ya percuma! kalo aku sembunyiin, aku tutup-tutupin, aku bohongin, kamu tetep tahu juga perasaan aku yang sebenarnya,"


Disela-sela keduanya berdebat sambil berpelukan, disaat itu juga mereka masih mengeluarkan tetesan air mata haru. Bahkan mereka tidak menyadari jika pintu sudah terbuka lebar.


Pintu terbuka, para orang tua masuk bersama Umran yang sudah terbangun dari tidurnya. Mereka kompak menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sepasang kekasih tersebut.


"Katanya ruang VVIP tapi bisa kena banjir," suara Umran sengaja ditinggikan agar mengganggu pelukan haru diantara adiknya dan sahabatnya.


Raka dan Litha menoleh tanpa ada niatan untuk melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Kalo banjirnya banjir air mata, saya selaku pemegang saham di rumah sakit ini tidak bisa berbuat banyak, karena hal tersebut diluar kendali saya," Papa Baskara menyindir kedua sejoli yang matanya membengkak akibat lama menangis.


Tawa ringan langsung terdengar memenuhi isi ruangan. Raka lanjut tetap memaksa memeluk Litha yang memberontak ingin dilepas karena malu terhadap para orang tua.


__ADS_2