Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Nick Baik


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Litha dirawat di rumah sakit, malam ini adalah malam terakhir Litha menginap di tempat ini dan besok siang Litha sudah boleh pulang. Kondisi Litha sudah sepenuhnya pulih, memar dan rasa sakit dipunggung sudah tidak ada, lebam-lebam di wajahnya juga sudah menghilang.


Hanya tinggal goresan di pipi yang memang bekasnya tidak akan hilang meskipun nantinya darah yang mengering itu sudah rontok, kecuali kalau Litha mau operasi wajah.


"Jaga Litha baik-baik! Ingat jangan macem-macem! Masa depan kalian masih panjang!" Mama Kania mewanti-wanti Raka agar tidak kelewatan batas malam ini, karena Raka akan menjaga Litha sendiri, so mereka akan berduaan malam ini.


Hari-hari sebelumnya Raka memang selalu menginap di sini, tetapi selalu ditemani oleh Ayah Kusuma dan Umran atau terkadang juga Papa Baskara ikut menginap.


"Banyak-banyak istighfar biar gak tergoda godaan syaitan," Umran ikut menjadi kompor.


"Bener juga kata Umran. Mending Mama ikut nginep di sini aja deh..." Ujar Mama Kania membuat Raka ingin memangsa Umran hidup-hidup.


"Kenapa tu matanya? Minta di colok pake jarum suntik?" Mama Kania melihat Raka yang matanya melotot ke arah Umran yang sudah cekikikan.


Umran tahu kalo Raka pasti kesenangan bisa berduaan dengan adeknya. Dan Umran tentu iri dengan Raka, dia saja tidak pernah berduaan lama dengan Sarah. Nah ni anak kok untung banget bisa berduaan sama Litha malam-malam lagi, auto menang banyak dong.


Sebenarnya Umran mau-mau aja nemenin Litha, malah mau banget supaya Raka gagal berdua-duaan. Tapi Umran mendapat tugas dari Ayah agar besok pagi-pagi sekali Umran harus cuss ke luar kota memantau langsung perkembangan pembangunan proyeknya.


"Udahlah Kania, aku percaya sama Raka," Bunda Larissa tersenyum menatap Raka yang juga tersenyum.


Bunda Larissa berganti menatap Mama Kania. "Besok jadwal praktek kamu kan pagi, nanti kamu malah telat bangun kalo tidur disini,"


Sebagus apapun ruangan VVIP, tetap saja di ruangan tersebut hanya ada satu banker untuk pasien. Dan sebagus apapun sofa tetap tidak nyaman jika dipakai untuk tidur, karena kodrat nya sofa ialah untuk duduk.


"Mama tidur di ruangan pribadi Mama aja. Biar nanti sesekali Mama akan ke sini," ujar Mama Kania meminta izin suaminya.


"Iya terserah kamu. Besok Papa akan pergi ke bandara sendiri," pagi-pagi sekali Papa Baskara dan Ayah Kusuma akan menuju ke bandara untuk pergi ke luar negeri karena bisnis yang mereka berdua rintis sedang mengalami masalah, mau tidak mau mereka berdua harus turun tangan langsung.


"Mama gak percaya sama Litha? Litha janji gak akan aneh-aneh!" Ujar Litha meyakinkan.


Mama Kania mengusap kepala Litha, "Sayang, Mama percaya sama kamu. Tapi Mama gak percaya sama anak Mama sendiri," mengucap kata anak, Mama Kania menatap tajam putranya.


Tawa dari enam cogan-cogan terdengar mengejek Raka yang tidak dipercayai oleh Mama kandungnya sendiri. The Perfect bersama dengan Nick kompak menjenguk Litha malam-malam, katanya sekalian nongkrong gratis. Dasar sukanya yang gratisan, padahal duit sendiri juga banyak. Ke rumah sakit bukannya jenguk orang sakit, malah tujuannya untuk nongkrong gratis.


Para orang tua sudah pamit untuk pulang, begitu pula dengan Mama Kania yang akan pergi beristirahat ke ruangan pribadinya di rumah sakit ini. "Kalian gak sekalian pulang?" Tanya Mama Kania yang terkesan mengusir mereka semua secara halus.


"Hehe nanti aja Tante," jawab Arkan sopan.

__ADS_1


"Baru juga dateng udah diusir," berbeda dengan Nick yang blak-blakan.


Rasanya Arkan ingin menggantung leher Nick, sebisa mungkin Arkan sopan, eh malah si bule ini bikin orang emosi.


Arkan tersenyum canggung kepada Mama Kania yang terlihat menahan emosi. "Maaf ya Tant, obatnya Nick lagi habis," Arkan mendorong kepala Nick sangat kasar hingga kepalanya terbentur tembok.


Umran menatap kedua orang tuanya yang hendak mengajak Umran pulang. "Nanti Umran nyusul Bun. Bunda sama Ayah duluan aja,"


Diluar ruangan, Mama Kania masih berdebat dengan suami dan orang tua Litha. Mama Kania mengkhawatirkan Litha yang hanya perempuan satu-satunya diantara tujuh laki-laki yang dari bentukan luarnya tidak bisa dipercaya itu.


"Udah Kania, aku percaya sama mereka. Walaupun kelihatannya mereka seperti itu, tapi aku yakin mereka gak akan macem-macem sama Litha," ujar Bunda Larissa.


"Tapi Sa..." Ucapan Mama Kania dipotong oleh suaminya.


"Ma, kamu itu terlalu sayang sama Litha jadi kamu kayak gini. Bahkan sama anak sendiri juga gak percaya," selah Papa Baskara seraya tertawa menggelengkan kepalanya.


"Ya semoga saja istri kamu gak minta adopsi anak bungsu ku," gurau Ayah Kusuma. Papa Baskara tertawa sambil menggeleng.


Bunda Larissa memegang tangan Mama Kania. "Aku tau kekhawatiran kamu bertambah karena Nick,"


Mama Kania mengangguk, kemudian membuang nafas kasarnya.


***


"Behh... Nyokap lo kenapa berubah jadi judes gitu Ka? Perasaan dulu manis banget kayak gula jawa," ujar Nick bersandar pada sofa sambil memakan kuaci.


"Kalo gue jadi nyokap nya Raka, udah gue tampol mulut lo," Danil tersenyum miring mengingat kejadian tadi.


"Beh... Bukan lagi..! Kalo gue jadi Dokter Kania udah gue suntik tuh bibirnya yang asal ceplos biar mingkem," Leon ikut menimpali.


"Nyokap gue jadi gitu karena gue ngelakuin kesalahan," Raka menghelai nafasnya.


Litha yang awalnya rebahan, kini duduk di atas banker. "Kesalahan apa?"


"Karena aku gagal melindungi kamu," jawab Raka yang menyadari kekecewaan dari Mamanya.


"Ini takdir Kak. Berapa kali harus aku bilang, aku kena musibah bukan karena Kakak, jadi stop nyalahin diri Kakak sendiri. Setelah sembuh nanti aku akan ngomong sama Mama supaya gak judes-judes lagi sama Kakak," senyuman manis terukir indah di bibir Litha.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong gimana kabar tentang si curut sama adeknya?" Arkan penasaran dengan kisah mereka berdua.


Raka mengambil handphonenya. Suara rekaman terdengar yang tak lain suara tersebut adalah suara dari Mark yang melapor kepada Raka beberapa hari yang lalu. Untung saja Raka masih menyimpan rekaman suaranya, karena ia sangat malas berbicara panjang lebar.


"Mereka terkena hukuman penjara sepuluh tahun. Keluarga Geraldy lepas tangan tentang masalah Fani. Mereka sudah mencoret nama Via dari daftar keluarga sejak Fani menolak saran dari Nyonya Geraldy untuk lebih bersabar menaklukkan hati Tuan Raka. Disaat itu juga Fani membantu Fandy untuk keluar dari jerat hukuman yang diberikan oleh Tuan Raka karena kejadian saat Nona Litha dibawa ke hotel. Dan siang harinya ternyata Oma pergi diam-diam ke apartemen Fani, karena Oma membatalkan perjodohan secara sepihak membuat Fani emosi dan menyekap Oma,"


"Kasihan Via harus dipenjara," celetuk Nick memasang wajah sedih.


"Bisa sedih juga lo?" Gelak tawa dari Leon mengejek Nick.


"Lo kira gue robot?" Sahut Nick tidak terima.


"Bagus itu, lebih-lebih lagi kayak Doraemon biar ada gunanya," sindir Leon.


"Iya biar gue bisa tendang lo sampe ke ufuk timur pake alat-alat ajaibnya Doraemon," balas Nick ngelantur.


"Nick, mending lo lupain Fani. Lo terlalu baik untuk Fani," ucap Litha tersenyum manis menatap Nick yang juga menatapnya.


Nick terdiam sejenak. "Via, gua sukanya sama Via bukan Fani. Tapi it's oke karena lo satu-satunya orang yang bilang gue baik, gue akan coba move on," senyuman terukir di wajah tampan Nick.


"Sip," Litha tersenyum mengangkat jempolnya.


Raka yang melihat keduanya saling pandang dan tersenyum jadi risih sendiri. Wait! Itu risih apa cemburu? Wkwk...


Tangan Raka terangkat menutupi pemandangan di depan Litha. "Jangan lihat lama-lama gak bagus untuk kesehatan mata," ucap Raka datar.


"Ish... Apaan sih Kak!" Litha menepis tangan Raka.


Sedangkan Nick tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Raka, sudah biasa baginya mendapat sindiran dari teman-temannya. Justru teman yang selalu menyindir dan mengejeknya adalah segerombolan orang yang memberikan warna di hidupnya, yaa tau sendirilah hidupnya Nick sudah kacau karena hadirnya ibu tiri dalam keluarganya.


"Akhirnya ada yang mengakui kebaikan dalam diri gue, apa lagi yang bilang ceweknya imut dan manis," songong Nick menatap temannya satu persatu sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Dih.. lo gak denger Litha bilang apa? Lo terlalu baik untuk Fani. Inget terlalu baiknya elo itu cuma untuk Fani. Nah si Fani kan licik orangnya, yaa gak ada yang kaget kalo Litha bilang lo baik," jelas Jordy yang sedari tadi hanya diam, namun sekali bersuara bicaranya sangat julit.


Suara tawa dari Umran, Leon, Arkan dan Danil terdengar setuju dengan perkataan Jordy.


"Terserah lu pada. Yang penting Indonesia punya sejarah kalau ada yang mengakui jika Nick manusia yang baik," Nick tersenyum lebar tidak memperdulikan yang lain.

__ADS_1


***


Jangan lupa like komen dan vote ❤️


__ADS_2