Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Boleh Nggak?


__ADS_3

Raka dan Litha turun dari mobil bersamaan dengan Leon dan Fika. Seperti biasa, banyak para siswi yang nongkrong di parkiran sekolah hanya untuk bisa melihat wajah tampan Raka, oleh karena itu saat ini Litha sedang menggandeng tangan Raka dengan posesif.


"Tunggu!" pinta Litha dengan memberhentikan langkah kakinya.


"Kenapa?" tanya Raka tapi tak ada sahutan dari Litha.


Litha menyipitkan kedua matanya. Dia melihat dua orang yang sepertinya sangat familiar, tetapi aktivitas kedua orang tersebut nampak asing bagi Litha.


"Itu beneran Fika sama kak Leon?" Litha masih kurang percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Fika dan Leon berjalan dengan bergandengan tangan ke arah Raka dan Litha.


"Iya," Raka menjawab.


"Telat," ketus Litha. Ya emang udah terlambat, sekarang Leon sama Fika udah terpampang jelas di depan mata Litha.


"Kalian jadian?" Litha kepo tuh wkwk... Kalau Raka sih sudah dapat menebaknya.


"Balikan," ucap keduanya meralat ucapnya Litha, secara bersamaan. Iya Author akui mereka kompak hehe...


Mereka berdua saling menatap, lalu tersenyum. Namanya juga baru balikan, wajar saja lah.


"Jangan putus lagi ya!" ceritanya Litha lagi ngeledekin Fika sama Leon tuh.


"Rese lo," ucap Fika tidak terima.


Litha malah cekikikan ga jelas, dan itu membuat Fika tambah kesal saja. Leon? Dia hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Gue doain hubungan kal..." tambah Fika, tapi ke potong.


"Apa?" tanya Raka. Terdengar santai dan datar, namun faktanya terdengar seperti sebuah ancaman yang mengerikan bagi Fika. Membuat nyali Fika menjadi menciut, hingga Fika mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya.


"Ee... Nggak jadi kak," jawab Fika dengan tersenyum kikuk.


"Jangan gitu dong Rak sama pacar gue," sahut Leon membela sang kekasih.


"Sorry, refleks," ujar Raka datar.


"Oh ya gue mau ngajak Fika ke basecamp, boleh nggak?" tanya Leon pada Raka.


"Boleh," tidak, itu tidak jawaban dari Raka. Yah siapa lagi kalau bukan tuan putri.


Raka menoleh ke arah samping, Litha juga menghadap ke arah Raka. "Kenapa? Nggak boleh?" tanya Litha, tetapi nadanya seperti sedang mengancam.


"Boleh," jawabnya seperlunya.


"Nggak ikhlas," sahut gadis itu.


Raka menghelai nafasnya, "Fika itu sahabat kamu, jadi aku nggak akan mungkin ngelarang Fika buat masuk ke basecamp. Nggak cuma Fika doang, kalau mau, Sarah juga boleh masuk ke basecamp," jelas Raka panjang lebar.


"Serius?" Litha sudah mempercayai penuturan Raka, tapi ga tau kenapa Litha pengen nanya itu.


"Iya," jawabnya.


"Kalau aku mau semua murid bebas keluar masuk basecamp, kamu bolehin nggak?" tenang!!! Percayalah Litha tidak serius meminta hal seperti itu. Litha hanya ingin mengerjai Raka sekaligus mengetes bagaimana reaksi dari kekasihnya.

__ADS_1


Leon dan Fika melongo. Bisa-bisanya Litha menginginkan hal yang aneh-aneh. 'Jangan sampe Raka nurutin kemauan Litha. Kalau sampe iya, wah... Bisa kacau tempat nongkrong The Perfect,' batin Leon.


'Jangan ngaco deh Tha!' ucap Fika tanpa suara.


'Siapa yang ngaco?' balas Litha dengan kode mata.


"Kalau aku nggak bolehin?" sahut Raka setelah diam cukup lama.


"Aku marah," jawab Litha enteng.


"Iya boleh," tutur Raka cepat dan tanpa pikir panjang, membuat Litha tersenyum puas.


"Ini nih... Generasi penerus suami takut istri," celetuk Arkan tiba-tiba dari arah belakang Leon dan Fika.


"Lo ngomong gitu karena belom punya pacar!" sahut Raka yang secara langsung menghina Arkan terang-terangan.


"Belom pernah punya pacar kan lo?" Leon berada di pihak Raka. Jujur, sebenarnya itu bukanlah sebuah pertanyaan. Karena Leon memang sudah mengetahui jawabannya, dia hanya ingin meledek Arkan di depan Litha dan Fika.


Arkan menggelengkan kepalanya pasrah. Litha dan Fika tertawa kecil. Raka hanya tersenyum miring, sedangkan Leon? Jangan ditanyakan, sudah pasti tawanya pecah. Leon lupa jika diparkiran masih banyak siswi yang memperhatikannya, biasanya kalau di keramaian gini, dia selalu berusaha stay cool.


"Udah gue tebak," ucap Leon di sela-sela tawanya.


"Bukan nebak. Emang udah tau kadal," sewot Arkan yang disambut oleh tawa pecah Leon serta tawa kecil Litha san Fika. Sedangkan Raka hanya menggelengkan kepalanya.


Jordy yang baru saja sampai ke sekolah, memarkirkan mobil sport nya, lalu menghampiri gerombolan geng nya yang terlihat sedang bercanda ria. Terbukti dari Leon yang mengeluarkan gelak tawanya, padahal banyak siswi yang menyaksikannya. Memang bercanda nya selucu apa, sampai-sampai Leon melupakan image sok cool nya? Dan siapa gadis disebelah Leon? Pikir Jordy penasaran.


Jordy berjalan dari arah belakang Leon, Arkan, dan Fika. Dia berniat berada di antara Leon dan Fika. Jordy merenggangkan kedua tangannya di tengah-tengah Leon dan Fika, namun ia malah mendapati tangan Leon yang menggandeng tangan Fika. "Lhoh.. kalian gandengan?" Jordy terkejut setelah menyadari hal tersebut.


Sontak saja ucapan Arkan membuat Fika merasa tidak enak. Jujur Fika canggung dengan mereka berdua, Fika mencoba melepaskan genggaman tangan Leon, namun Leon malah tetap menahannya.


"Udah biarin aja yang. Maklum mereka masih jomblo, jadi pada iri sama keharmonisan rumah tangga kita," ungkap Leon sombong plus nyebelin, untuk para jones pastinya.


"Nikah aja belom, udah ngomong rumah tangga," sahut Jordy sewot.


"Sirik aja lo," ketus Leon.


***


"Mm... Soal yang tadi aku bercanda doang," ungkap Litha sambil berjalan menyusuri koridor.


Raka tidak menyahut, dibahas nanti jika sudah sampai di depan kelas Litha saja. Toh juga tinggal tiga langkah lagi untuk sampai di tempat tujuan, pikir Raka.


Mereka berenam terpisah setelah obrolan unfaedah di parkiran tadi. Leon dan Fika berkunjung ke basecamp dulu, Jordy dan Arkan memilih mengisi perutnya yang kosong dengan sarapan di kantin. Dan disinilah Raka, mengantarkan Litha sampai di depan kelasnya.


"Yang mana?" tanya Raka penasaran.


"Yang semua murid bebas keluar masuk basecamp," jelas gadis itu.


Raka hanya ber oh ria saja. Mode menyebalkannya mulai kumat lagi.


"Besok aku jemput ya, Oma pengen ketemu kamu," ujar Raka.


Litha terkejut bukan main, jadi Oma nya Raka sudah tahu tentang Litha? Pasti Raka yang menceritakan tentang Litha ke Oma nya. Dan sekarang Oma nya ingin bertemu dengan Litha, agar lebih mengenal Litha? Duh... Mamps, Litha belom siap!

__ADS_1


"Kapan-kapan aja boleh nggak?" tawar Litha dengan senyum di buat-buat.


"Nggak boleh. Ini perintah," jawabnya.


"Perintah dari siapa?" Litha mengerutkan dahinya.


"Dari pangeran," gurau Raka tetap dalam ekspresi datarnya.


"Ish... Itu mah kamu," sahutnya.


Litha berfikir sejenak, tidak baik juga jika menolak keinginan Raka dan Oma nya. Litha yakin keluarga Adelard pasti bersikap baik kepada dirinya, mengingat Pak Baskara adalah sahabat dari ayahnya Litha. Kalau pun mereka bersikap kurang baik, pasti sang pangeran akan berada di pihak sang tuan putri. So apa yang harus Litha khawatirkan?


"Ya udah besok. Besok pagi, siang atau malem?" Akhirnya Litha setuju untuk menemui keluarga Adelard.


Sebuah senyuman merekah begitu saja menghiasi bibir Raka dan menambah pesona ketampanannya.


"Astaga mimpi apa semalem bisa ngelihat kak Raka senyum,"


"Gantengnya jodohku,"


"Parah, asli ganteng parah,"


Ya rata-rata pada gitu sih, maklumlah mereka mungkin baru pertama kali ngelihat begituan. Ingin rasanya waktu berhenti sebentar saja, agar mereka dapat melihat pemandangan yang menyegarkan mata mereka lebih lama lagi. Atau jika waktu tidak akan berhenti, tolong durasi senyumnya diperpanjang lagi.


Raka tidak memperdulikan celotehan fans-fans nya, dia masih tetap tersenyum. Tentu saja Litha tidak menyukai itu, Litha tidak menyukai mereka, demi apapun Litha sangat ingin membawa Raka pergi dari sini.


"Jangan senyum!" tegas Litha. Raka langsung dengan cepat menuruti perintah Litha. Meski ada rasa heran, tapi ya sudahlah dituruti saja, dari pada marah.


"Kenapa?" Raka mengernyitkan keningnya.


Raka belom paham saja, bahwa Litha tidak ingin senyuman tampannya itu dinikmati oleh mata-mata jelalat*n seperti mereka.


"Iya kenapa sih Tha? Jangan pelit-pelit! Berbagi kenikmatan itu ada pahalanya tauk," ungkap Sarah yang menasehati Litha, dan mewakili seluruh pasang mata yang masih setia melihat ciptaan indah dari sang Maha Pencipta.


Sarah menghampiri Raka dan Litha dari arah dalam kelas. Yah Sarah tadi memang tidak berangkat bersama dengan dengan Raka dan Litha. Mungkin dia sengaja berangkat lebih awal, entah diantar siapa? Litha tidak tahu, yang pasti Sarah tidak membawa mobil.


"Nikmat di elo doang," ketus Litha.


"Bukan gue doang, tuh banyak anak-anak lain yang juga bahagia atas kenikmatan tadi. Elo sih, malah ngilangin kenikmatannya. Heran gue ma elo, elo itu yang paling diuntungkan di sini. Jelas-jelas kenikmatan ada di depan mata lo, tapi malah lo ilangin gitu aja," cerocos Sarah.


"Iya yang paling untung, kalo cuma gue doang yang liat," sahut Litha dengan nada yang tidak enak didengar.


"Kalooo menikmati kenikmatannya bareng gue, boleh nggak?" tawar Sarah dengan menaik turunkan kedua alisnya. Usaha dulu gpp lah, siapa tau berhasil atau bahkan beruntung. Ya walaupun kemungkinan keberhasilannya hanya 0,1 %, yah sama aja bohong dong? Wkwk... Gpp yang penting udah usaha!


"No," Litha menjawab cepat.


"Pelit," ketus Sarah.


"Bodo, wek...." sahut Litha dengan menjulurkan lidahnya.


Sarah mengerucutkan bibirnya, ternyata sangat menyebalkan mempunyai sahabat yang pelit. Bukan pelit materi, tapi pelit karena tidak mau berbagi dengan sesuatu yang dapat menyegarkan mata.


"Kenikmatan?" Aish... percuma saja Raka sedari tadi menyimak pembicaraan dua gadis itu. Nyatanya Raka masih tidak mengerti apa maksud dari pembicaraan mereka, itu terlalu ambigu menurut Raka.

__ADS_1


__ADS_2