
Senyuman Litha terlihat menatap gerombolan keluarga Adelard memasuki rumahnya. Acara lamaran ini hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, para sahabat dan tetangga terdekat kompleks.
The Perfect bersama pasangannya masing-masing berada dibarisan paling akhir saat akan menjabat tangan keluarga Nagara, disana ada Sarah, dan Nara yang juga ikut menyambut kedatangan calon mempelai pria.
"Cantiknya calon istri Mas Raka," kalimat yang diucapkan Leon itu sukses membuat Litha merona.
"Aduduh senyum-senyum nih ye," Leon menoel dagu Litha dan selanjutnya Leon malah mendapat hadiah dari Fika berupa tabokan untuk wajah tampannya.
Litha dan Nara hanya menahan tawa melihat itu.
Prosesi lamaran dimulai, MC sudah mengucapkan kata-kata pembukaan.
Pandangan Raka dan Litha bertemu, Litha tersenyum lebar berbanding terbalik dengan Raka yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Membuat senyuman manis berubah, mata Litha melotot dan Raka masih datar-datar saja.
"Mata lo kenapa Tha?" Tanya Nara yang berada disamping kanan Litha.
Sarah menahan senyum, dari tadi fokusnya itu hanya kepada adik ipar dan sahabatnya. "Awas nanti matanya keluar sendiri," Sarah merinding membayangkan itu.
Litha menatap sinis orang disebelah kirinya. "Kek nya sifat lemah lembut lo bakal memudar dan tergantikan lagi oleh ke bar-bar an lo,"
Sarah nyengir kuda. Maklum, Pangeran kan udah mulai gede, jadi sifat keibuannya juga akan memudar, kecuali kalau Sarah akan punya anak lagi.
Bagian acara yang ditunggu-tunggu oleh The Perfect akhirnya tiba, yaitu proses seserahan. Mereka penasaran seserahan ala sultan Raka.
"Greget gue sama kulkas. Tadi gue nanya gak dikasih tau seserahannya apa aja," ujar Leon kepada sahabatnya yang berjajar duduk rapi.
"Kepo amat lu jadi orang!" Ketus Nick.
"Emang lo kagak penasaran?" Tanya Jordy.
Nick garuk-garuk kepala. "Sedikit," Nick tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Yee.. itu sih sama aja," tangan Leon terangkat hendak menampol wajah Nick. Belum juga kena muka bule Nick, Leon langsung mengurukan niatnya karena Mama Kania menoleh menatap tajam.
"Shutt... Diam!" Mama Kania yang berada didepan mereka, menoleh ke belakang dengan jari telunjuk didepan bibirnya.
Lima cogan disana langsung mingkem, tidak berani banyak ulah kalau Mama Kania sudah angkat bicara.
The Perfect menganga melihat seserahan dari keluarga Adelard. Hantaran lamaran mereka untuk Litha beda dari keluarga lainnya. Kalau umumnya seserahan itu berubah perlengkapan ibadah, pakaian, skincare, tas, sepatu dan sebagainya.
Tapi seserahan dari Raka yaitu sebuah black card no limit dan beberapa komik yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah buket yang indah.
Umran geleng-geleng kepala, "Seserahan model apa kek gitu?" Gumam Umran.
"Model sultan," sambung Sarah yang ada disamping suaminya.
__ADS_1
"Aduduh maaf ada yang ketinggalan," seorang pelayan wanita masuk dengan membawa kertas dan kunci mobil yang sudah dihias dalam box kaca.
The Perfect lagi-lagi dibuat menganga oleh seserahan yang aneh itu. Didalam box ada kunci mobil dan dua kertas, kertas yang satunya adalah surat-menyurat kepemilikan mobil sport dan yang satunya lagi terlihat jelas tulisan sebuah sertifikat hak kepemilikan restoran Tata Tuta.
"Mobilnya baru sampai, udah diparkir di halaman rumah," ujar Mama Kania yang diangguki oleh Bunda Larissa yang tersenyum.
Jordy mengusap iler yang keluar dari mulutnya. "Itu kan restoran terbesar di Jakarta," Tentu saja Jordy yang mempunyai bisnis kuliner harus mengetahui bisnis saingannya, hanya saja Jordy tidak tahu owner restoran tersebut.
"Gilee... Bukan maen. Si kulkas beli restoran itu cuma buat seserahan lamaran?" Ken masih tidak habis pikir dengan seserahan lamaran ini. Seserahan yang aneh dan tidak ada aturannya, tapi kalau sultan mah bebas!
Mama Kania yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang. "Enak aja, itu restoran yang dirintis Raka sejak awal dibangun," iya ceritanya Mama Kania agak sombong gitu.
Dah tau lah muka-muka ibuk-ibuk kalau mau pamer sesuatu, mukanya itu loh gak bisa dikondisikan, jadi jangan salahkan lawan bicaranya kalau pingin banting orangnya dan nampol mukanya!
"Hah? Jadi owner restoran Tata Tuta itu Raka?" Jordy menatap Mama Kania yang tersenyum lebar dan cantik. Tapi menurut Jordy itu adalah senyuman yang menyebalkan, oke sepertinya Jordy perlu diingatkan sekali lagi, Sultan mah bebas!
Danil tersenyum tipis, tatapannya beralih kepada Arkan yang hanya diam saja, biasanya dia yang paling heboh kalau udah menyangkut tentang Litha.
"Napa lo?" Danil menyenggol lengan Arkan.
"Litha cantik banget kan?" Arkan memandang wajah Litha yang masih speechless dengan seserahan dari Raka.
"Calon bini orang woi..." Danil mengusap kasar wajah Arkan.
"Lo lihat calon bini lo sendiri noh...!" Danil mengarahkan kepala Arkan agar menatap Sekar yang berada diantara Fika dan Dita.
***
Prosesi lamaran sudah selesai dengan aturan-aturan adat yang berlaku pada umumnya, hanya bagian seserahan saja yang beda dari yang lain.
Semua kerabat dan tetangga terdekat Litha pamit pulang. Kini hanya menyisakan keluarga inti Raka dan para sahabat.
Para anak muda melangkah keluar rumah melihat mobil sport mewah berwarna putih yang terparkir rapi dihalaman rumah Litha. Sedangkan para orang tua masih mengobrol santai di dalam rumah.
The Perfect dan ciwi-ciwinya mendekat ke arah mobil, Nara juga ikut mereka walaupun dia tidak terlalu akrab dengan The Perfect, tapi kalau sama ciwi-ciwi cantik udah klop banget kok.
"Aku dari tadi gak lihat Eran, dikemanain orang tuanya?" Tanya Raka membuat Litha tertawa. Pertanyaannya itu loh, seakan-akan Umran dan Sarah gak terima kalau ada kehadiran Eran ditengah-tengah mereka berdua.
"Di iket diatas genteng," jawab Litha ngawur. Malem-malem gini bocil satu itu pasti lagi ngorok.
"Kita gak boleh cobain mobilnya ni Ka?" Nick menatap Raka yang menggelengkan kepalanya.
"Kalau cobain black card nya boleh kaliii?" Ken menaik turunkan alisnya.
"Wuuu itu sih mau elo!" The Perfect kompak menyoraki Ken yang mata duitan suka memoroti uang Raka saat di rumah sakit.
__ADS_1
"Emang iya Kak?" Tanya Litha memastikan.
Raka mengangguk tersenyum. Ken sering mengorder makanan untuk mereka berdua, dan tugas Raka hanya membayar. Kalau Raka tidak mau memakannya tidak masalah, perut Ken masih sanggup untuk menampung berporsi-porsi makanan mahal.
"Kalau izin terang-terangan masih gak dibolehin coba mobilnya, kita langsung curi aja kuncinya," usul Umran yang diangguki semua cogan-cogan disana.
Eran berlari keluar dari pintu rumah, "Pipi... Ini Eran udah nyuri kunci mobilnya,"
Umran tersenyum lebar memberikan dua jempol untuk anaknya. Tidak sia-sia didikan Umran selama ini.
"Tangkap Pi....!" Eran melemparkan kunci mobil tersebut ke arah gerombolan sahabat Pipinya.
Mata Raka dan Litha mengikuti kunci mobil tersebut mengudara dan hap!
Bukan Umran yang menangkap benda itu, melainkan tangan Danil yang beruntung mendapatkannya.
"Kena!" Danil tersenyum bangga melihat kunci mobil ada digenggamannya.
Danil menyambar tangan Nara dan memaksa gadis polos itu untuk masuk mobil. Nara sedikit terkejut dengan perlakuan dari Danil karena mereka tidak pernah saling sapa, tapi ia menurut saja toh Nara yakin Danil tidak akan macam-macam dengannya.
Danil menutup pintu mobil saat Nara sudah duduk manis disana.
"Karena mobilnya pendek dan sempit, jadi cukup kita aja yang cobain," Danil langsung berlari masuk ke bangku pengemudi sebelum mendapat amukan massa dari sahabatnya yang kurang waras semua.
"Mobilnya masih cukup buat dua orang lagi woi..." Teriak Sarah.
"Sempit!" Balas Danil sebelum benar-benar memasuki mobil sport itu.
"Modus Nar modus, hati-hati sama si Jones!" Seru Fika berteriak kencang dan mobil sport mewah tersebut langsung melaju meninggalkan mereka.
"Ck... Sialan, udah susah-susah ngajarin anak gue buat nyolong, malah yang dapet untung si kalem kutu kupret," umat Umran yang kakinya menendang udara.
"Jadi kamu yang ngajarin anak aku nyolong?" Sarah menatap tajam suaminya yang tersenyum lebar serta menunjukkan dua jari berbetuk V.
Raka dan Litha saling pandang dengan tingkah Danil yang sepertinya tertarik dengan Nara. Kemudian Raka merangkul Litha dan mengecup pucuk kepala gadis itu. "Kamu suka?"
"Sama seserahan ala sultan Adelard?" Litha tersenyum mengangkat alisnya.
Mereka berdua saling pandang dengan senyuman lebar sampai momen itu diganggu oleh... "Uncle gendong..!" Tangan Eran terentang lebar dengan wajah penuh harap.
Raka dan Litha tersenyum saling pandang setelah melihat si kecil yang menggemaskan. Raka mengangkat tubuh Eran tinggi-tinggi. "Jagoan Uncle yang pandai mencuri!"
"Eran tinggi! Aunty pendek. Wek...." Eran menjulurkan lidahnya kepada Litha yang awalnya tersenyum langsung merubah wajahnya jadi datar saat diejek bocil pencuri kunci mobilnya.
***
__ADS_1
Baru bisa up karena kesibukan di dunia nyata
🙏