Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sadar!


__ADS_3

Litha menghempaskan tubuhnya kasar di sofa panjang ruang tamu. Bugh.. Raka menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang berasal dari tubuh mungil tersebut. Kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat gadis itu sudah memejamkan matanya.


"Ada makanan gak? Aku laper," ujar Litha masih memejamkan matanya.


"Bentar lagi dateng, aku udah pesen online," jawab Raka.


Litha memperhatikan pemuda dingin itu yang malah menaiki anak tangga. Dasar tidak peka sekali, ada tamu bukannya dikasih minum malah ditinggal.


"Aku gak dikasih minum nih?" sindir Litha membuat langkah Raka terhenti.


"Ambil sendiri, anggep apartemen milik sendiri," balas Raka tanpa menoleh lalu melangkah kakinya lagi.


Litha cemberut, "Dasar nyebelin!" teriak Litha sekencang yang ia mampu agar terdengar oleh telinga si beruang kutub. Sedangkan Raka yang mendengar itu, malah menyunggingkan senyumnya saat ada didepan pintu kamarnya.


Litha berjalan menuju pantry, membuka lemari es dan mengambil satu kaleng minuman. Kemudian duduk dengan meneguk minumannya, walaupun cuacanya tidak panas, tapi tenggorokannya terasa kering dan haus.


Cup


Uhuk-uhuk...


Mata Litha melotot saat ada suatu benda lembab menempel pada pipi kirinya. Pastinya dia sangat terkejut bukan main, sampai ia tersedak minumannya. Litha terdiam sejenak, entah apa yang ada dalam pikirannya?


Detik berikutnya ia menoleh ke samping kiri, tatapan matanya tajam melihat pemuda tampan yang sedang tersenyum puas melihatnya.


"Rese banget sih, kalo aku mati gara-gara keselek doang gak lucu kali," protes Litha membuat Raka terkekeh.


"Emang kamu mau, aku hantuin kamu tiap kamu ke sini?" tambah Litha.


Raka duduk disebelah Litha, dan dia masih... tertawa? Huh menyebalkan.


Raka menghentikan tawanya saat tangannya mengusap lembut pipi yang beberapa detik yang lalu ia cium. Perlahan tapi pasti Raka mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Litha.


Litha yang masih kesal pun menghentikan aksi Raka, karena dia sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Litha menoleh ke arah lain, Raka mengerutkan keningnya.


"Aku butuh makan, bukan bibir kamu!" Ucap Litha sinis.


Raka tersenyum, "Masih ngambek?"

__ADS_1


"Kalau aku meninggal beneran gimana?" Litha merasakan jantungnya tadi sudah ingin melompat dari tempatnya. Ditambah pula dadanya terasa sakit saat tersedak tadi.


"Aku gak rela nanti kamu jadi duda muda yang masih ganteng. Seenggaknya kalau kamu jadi duda, harus udah tua dan udah keriput," tambah Litha yang sukses membuat Raka terkekeh. Sejak kapan status mereka menjadi pasutri?


Ting...


Handphone Raka berbunyi, tertera di layar ponselnya ada sebuah notifikasi chat. Raka mengambil handphone yang sebelumnya tergeletak di atas meja pantry.


"Aku ke bawah ngambil makanan dulu," ucap Raka setelah melihat chat tersebut.


"Lhah... Kenapa gak dianter nyampe sini?" Heran Litha.


"Yang nganter cewek. Katanya ini pertama kalinya dia nganter pesenan, dia gak berani masuk apartemen gede, katanya takut kesasar," jelas Raka membuat Litha mengeluarkan suara gelak tawanya, bahkan dia lupa kalau masih ngambek sama Raka.


"Ada-ada sih mbak nya," sahut Litha disela tawanya.


Raka melangkah keluar dari pantry, diikuti oleh Litha. Tetapi Litha hanya ikut sampai ruang tamu saja.


"Jangan kemana-mana!" ucap Raka diambang pintu.


"Jangan lama-lama!" ucap Litha tak kalah tegas.


Litha bangkit dari duduknya, hendak menuju ruang tengah untuk menonton TV sekalian beristirahat. Langkahnya terhenti saat seseorang memegang pundaknya dari belakang.


"Lama!" Ketus Litha tanpa menoleh, dia pikir itu adalah Raka.


Karena tak mendapat respon apapun, Litha menoleh ke belakang. Litha terkejut karena tebakannya salah.


"E e eee... Maaf Anda siapa ya?" Tanya Litha gugup.


"Kak Raka sedang tidak ada disini. Jadi lebih baik Anda kembali ke sini lagi di lain waktu saja," Litha tersenyum untuk menutupi rasa takut dan gugupnya. Muka orang didepannya emang gak nyeremin, malahan ganteng. Tapi gak tau kenapa Litha takut.


Bukan tanpa alasan Litha merasa takut, pasalnya orang asing ini terlihat menatap dirinya dengan tatapan aneh. Rambut pemuda itu berantakan, dan Litha mencium aroma yang tidak menyenangkan dari tubuh pemuda dihadapannya ini. Sepertinya pemuda blasteran ini sedang mabuk.


"Cantik," ucap pemuda asing tersebut dengan suara berat.


Pemuda itu memegang kedua pundak Litha. "Kenapa kamu ada disini?"

__ADS_1


"Lepas! Saya tidak mengenal Anda," Litha masih berusaha bersikap sopan dengan menyingkirkan tangan pemuda itu secara perlahan.


"Jangan ngelawak, kita deket udah lama," ucapnya membuat Litha risih.


"Lebih baik Anda pergi meninggalkan tempat ini, karena saya benar-benar tidak mengenal Anda," Litha sedikit mendorong tubuh kekar itu menuju pintu keluar.


Orang tersebut menyingkirkan tangan Litha dari dada bidangnya, lalu memegang lengan Litha, dan menyudutkan Litha ke dinding.


"L l le lepas...!" seru Litha mencoba memberontak tapi tak bisa.


"Kamu begitu cantik, maka dari itu aku memanggilmu cantik," sahutnya. Senyuman tampan terlihat jelas didepan mata Litha.


Litha mengambil ponsel disaku rok seragamnya. Litha menghubungi seseorang, entah siapa Litha sendiri juga tidak tahu. Litha asal geser tanpa melihat layar ponselnya, karena jika orang itu tahu bahwa Litha mencoba menghubungi seseorang, pasti orang itu akan mengamuk.


Litha melirik sekilas ke bawah, sepertinya panggilannya sudah terjawab. Dan beruntungnya yang Litha panggil adalah nomor telepon Umran.


"Sadar! Saya tidak mengenal Anda, kita tidak saling mengenal. Anda mabuk berat, sadarlah!" Tegas Litha yang tentu saja didengar oleh Umran, kecuali jika Umran menganggap panggilan dari Litha tidak penting.


"Cantik jangan bilang gitu. Kita saling kenal, ayolah bersenang-senang," sahutnya.


"Apartemen Kak Raka. Sekarang!" ujar Litha berteriak agar Umran mampu mendengarkannya dengan jelas dan mengetahui posisi Litha sekarang.


"Itu kamu tahu kalo ini apartemen Raka, kenapa kamu ada disini? Seharusnya kamu ke apartemen sebelah, bukan disini!" tutur Nick. Yah dia adalah Nick yang sedang mabuk berat. Niat hati ingin mengajak Raka untuk minum bersama, malah ketemu bidadari disini.


Astaga... Orang gak waras kok dibolehin tinggal di apartemen kelas atas gini sih? Pantes aja dia ngaku-ngaku kenal sama gue, ternyata dia emang gak waras, batin Litha. Mengingat Raka tadi menyebutkan orang yang tinggal di sebelah adalah orang tidak waras.


Kedua tangan Nick kini beralih posisi, melingkarkan tangannya di pinggang Litha, mengunci pergerakan kaki dan tubuh Litha.


Litha segera mengangkat tangannya untuk menutupi seluruh wajahnya, wajahnya pun mengarah ke samping, ke arah pintu keluar. Agar bibir Nick yang sudah mulai memiringkan kepalanya itu tidak dapat menyentuh bagian manapun dari wajah Litha.


Cup


Matanya masih terbuka lebar, tapi Nick tidak sadar yang diciumnya adalah telapak tangan Litha. Tingkat penglihatan Nick sudah berkurang bersamaan dengan akal sehatnya. Dia berhalusinasi bahwa yang ia lahap dengan rakus adalah sebuah bibir.


Litha merasa merinding saat benda lembab menempel pada telapak tangannya, Nick menggigit dan menghisapnya. Entahlah dia benar-benar tidak waras! Bahkan dia tidak bisa merasakan apakah itu bibir atau hanyalah sebuah telapak tangan.


"Aaaaa....." Litha berteriak keras saat Nick menggigit telapak tangannya.

__ADS_1


"Kak Raka..." seru Litha ketika melihat Raka baru datang di depan pintu dengan menenteng dua buah kantong plastik.


__ADS_2