
Cukup lama Raka dan Litha berjalan. Setelah menaiki lift, melangkah lurus lalu belok kanan, lurus mentok belok kanan, belok kiri. Hingga akhirnya langkah Raka dan Litha berhenti di salah satu ruangan.
Litha membaca tulisan papan persegi panjang yang bergantung dipojok atas pintu. R. Kepala Rumah Sakit, dibawahnya lagi ada tulisan Dr. dr. Raka Adelard P, Sp.B.(K).Onk.
Raka membuka kunci pintu di ruangannya lalu mempersilahkan Litha masuk terlebih dahulu. Raka menutup kembali pintunya setelah mereka masuk ke dalam.
"Itu darah bekas operasi Kak?" Tanya Litha menduga-duga sendiri.
"Ini darah kucing," Raka mengambil tisu basah, tisu kering, dan sebotol air mineral dari meja kerjanya lalu di bawa ke meja jika Raka menerima tamu.
"Kak Raka juga bisa operasi binatang?" Tatapan Litha terlihat kagum membuat Raka tertawa geleng-geleng kepala.
"Ini rumah sakit untuk manusia bukan hewan. Aku gak ikut pendidikan dokter hewan, gimana mungkin aku bisa operasi kucing?" Raka memberikan tisu basah kepada Litha agar ia segera membersihkan nodanya sebelum darahnya mengering dan sulit dibersihkan.
Litha menerimanya, ia meneteskan sedikit air ke tisu basah dan menempelkannya pada noda di bagian dada Raka agar darahnya dapat diserap oleh tisu.
"Terus kenapa bisa dapet darah kucing ini?" Tanya Litha dengan mata indahnya yang berkedip, membuat Raka ingin menciumnya karena terlalu gemas.
Cup. Cup.
Raka mencium singkat kedua mata Litha membuat sang empu memukul tangan Raka. Pemuda tiang tersebut tertawa tanpa rasa bersalah.
Keringat mengalir di dahi seorang Dokter muda yang baru saja menyelesaikan operasi besarnya. Langkah Raka melewati area taman rumah sakit saat hendak menemui mahasiswa yang akan melaksanakan penelitian di sini. Raka mendapati seorang anak kecil yang ditemani oleh pengasuhnya, bocah tersebut menangis dengan memeluk kucing yang kakinya sudah berlumuran darah. Raka menghampirinya, dan mengobati kaki si kucing, hingga tanpa sadar darah kucing tersebut mengenai jas kerjanya.
"Pantesan tadi aku nunggunya lama. Nggak sesuai sama ucapan suster yang katanya tinggal sepuluh menit doang operasinya akan selesai," ujar Litha sambil mengeringkan jas Raka dengan tisu kering setelah noda merahnya hilang diserap oleh tisu basah yang kini berubah warna dari putih bersih menjadi merah darah.
Raka hanya diam tidak menanggapi Litha.
Litha mendongak menatap netra Raka. "Kenapa diem?" Tanya Litha tidak peka.
"Kamu gak mau cerita tentang cowok tadi?" Tanya Raka yang lebih condong ke arah menyuruh bercerita.
Litha menahan senyum. "Enggak,"
"Oke! Kalau gitu aku gak jadi merevisi tugas cowok tadi," ancam Raka.
__ADS_1
"Laki-laki sejati itu laki-laki yang memegang janjinya," sahut Litha.
Raka mengerutkan keningnya. "Emang tadi aku sempet janji sama dia? Enggak kan?"
Litha menyipitkan matanya dengan bibir mengerucut. "Ya udah kalo gitu aku ikut bantuin Kak Aldi buat makalah penelitian,"
Litha beranjak dari duduknya, Raka langsung menahan lengan Litha.
"Kak itu juga tugas aku, masak aku dapet nilai tambahan tapi gak ikut bantu ngerjain?" Protes Litha.
"Aku janji akan merevisi makalahnya. Anggap itu sebagai pengantinnya karena kamu gak bisa ikut penelitian sama dia," ujar Raka.
"Siapa bilang gak bisa? Aku bisa kok," kekeh Litha memaksa ingin ikut bersama seniornya, Aldi.
"Kamu gak bisa! Kamu harus bersihin jas aku," tatapan mata Raka tajam membuat Litha menahan tawa.
"Udah bersih Dokter Raka. Coba dilihat lagi jasnya!" Suara Litha begitu lembut, tangannya membelai dada Raka, senyuman manis terukir indah di wajah Litha.
Tatapan tajam Raka langsung memudar, kepala Raka menoleh ke arah lain dengan tangannya yang menurunkan tangan Litha dari dada bidangnya.
Litha menahan tawa dengan reaksi Raka. Ia melangkah mendekati pintu membuat Raka menahannya. "Mau kemana kamu?"
"Aku antar kamu pulang," Raka menarik Litha keluar ruangan.
Sampai diparkiran Litha hanya diam saat Raka membukakan pintu mobil.
"Masuk!" Pinta Raka begitu dingin tanpa ekspresi.
Litha menurut masuk ke dalam mobil sport warna hitam tersebut.
"Terus Kak Aldi gimana?" Di dalam mobil Litha cemberut.
Karena tidak ingin nanti jadi panjang urusannya, Raka langsung menghubungi seseorang, memberikan perintah jika Mahasiswa yang bernama Aldi Alfiansyah tidak boleh melakukan penelitian di rumah sakit Utama.
Mata Litha terbuka sempurna mendengar perintah jahat dari kekasihnya sendiri. Litha memegang tangan Raka yang menggenggam ponsel ditelinganya. Lalu tangan kanan Raka memegang balik tangan Litha.
__ADS_1
Karena tangan kiri masih ada yang ngangur satu, Litha membalas memegang tangan kanan Raka. Jadilah mereka saling megang memegang. Sekuat tenaga Litha menarik paksa tangan Raka yang tidak ada pergerakan sama sekali.
"Katakan juga padanya jika besok dia akan menerima makalah penelitiannya dengan nilai tertinggi," setelah mengucapkan itu Raka mematikan sambungan teleponnya.
Mulut Litha terbuka lebar, ia melepaskan cekalannya pada tangan Raka yang juga melakukan hal yang serupa.
Tangan Litha terlipat didepan dadanya, bibirnya sudah manyun minta dikuncir.
"Ini marah karena apa lagi?" Tanya Raka tidak ada nada lembut-lembutnya.
Litha menoleh langsung mencondongkan tubuhnya kepada Raka membuat tubuh dokter sialan itu terpentok pintu mobil.
"Kenapa kamu ngerjain tugas Kak Aldi dengan suka rela?" sungut Litha.
"Aku ngelakuin itu karena siapa?" Tanya balik Raka.
Litha menyipitkan matanya, iya Litha tau itu karena dirinya, tapi salah Raka juga yang memaksanya untuk tidak membantu mengerjakan tugas Aldi.
"Bodo amat! Yang jadi masalahnya, mana pernah kamu mau ngerjain tugas aku? Kemaren aku minta tolong kerjain tugas, kamu gak mau, alesannya ada operasi, sibuk ngurus dokumen-dokumen penting rumah sakit, restoran, sama kantor, inilah itulah ada ajaaa...." Ocehan Litha terdengar dengan tatapan tajamnya.
"Aku pernah ngerjain tugas kamu," tubuh Raka masih terhimpit tidak berani bergerak jika Litha sudah mengamuk macam ini.
"Kapan?" Teriak Litha.
"Tugas Biologi dari Pak Gio yang sebenarnya bukan tugas, tapi itu hukuman," jawab Raka.
Litha nampak berpikir sejenak, "Itu kan dulu. Aku bahas tugas kemaren," sahut Litha tidak ingin kalah.
Raka menghelai nafasnya, kedua tangannya mendorong perlahan pundak Litha agar duduk dengan baik dan manis seperti seorang putri kerajaan.
"Kemarin aku emang lagi banyak kerjaan Tha. Dan alasan paling utamanya, karena aku gak mau nantinya kamu jadi ketergantungan sama aku dan aku mau istri ku menjadi orang pandai," senyuman Raka terlihat, mode lembutnya kini sudah ia aktifkan.
"Jangan cepat menyerah sesulit apapun keadaannya, dan yang paling penting jangan males belajar ya sayang," Raka tersenyum hangat dengan tangan mengusap lembut kepala Litha, kemudian Raka mengecup kening Litha cukup lama.
Hati Litha luluh seketika. Perasaannya menghangat mendapat kecupan dari Raka yang menyalurkan jiwa kesemangatan dalam diri Litha.
__ADS_1
***
Terimakasih dukungan kalian dalam bentuk apapun sangat berharga bagi Author ❤️