
"Aw..." pekik Litha sembari memegang perutnya dengan erat.
Oke! Lengkap sudah penderitaan Litha.
Yah seperti yang diucapkan Umran tadi, penderitaan Litha sudah sempurna. Namun bukan karena pulang dengan mengesot, tetapi karena rasa sakit diperutnya. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kini Litha hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ada seseorang yang masuk ke kamarnya atau meneleponnya yang menjadi malaikat penolongnya.
Tak lama handphone Litha berdering, Litha segera mengambil benda pipih tersebut. Seketika senyuman dibibir Litha merekah, setelah melihat nama seseorang yang menghubunginya menghiasi layar ponselnya.
"Kak Raka tolong, cepet ke rumah. Aku butuh kamu," ucap Litha setelah sebelumnya menekan ikon hijau yang ada di layar ponselnya.
"Kamu kenapa? Ada apa sama kamu?" tanya Raka dari seberang sana. Didengar dari nada bicaranya, sepertinya Raka panik sekali.
"Perut aku sakit, tolong beliin obat maag," jawab Litha cepat.
"Oke, aku kesana sekarang. Kamu tahan ya, jangan sampai pingsan," ujar Raka lalu mematikan sambungan teleponnya. Ucapan Raka malah seakan-akan seperti menunjukkan bahwa kecerdasannya mendadak hilang, mungkin tenggelam di laut wkwk...
"Hah... Ni orang kadang emang rada aneh ya? Ya kali maag doang bisa sampai pingsan? Kalo gak makan dua hari, baru bisa pingsan," Litha tertawa kecil, tidak habis pikir dengan kekonyolan kekasihnya, ada-ada saja. Tanpa Litha sadari, hal tersebut membuat dirinya sejenak lupa akan rasa sakit diperutnya.
**Sekolah__
Disisi lain, Raka sedang berada diparkiran bersama keempat sahabatnya. Mereka mendengar obrolan antara Litha dan Raka, ralat mereka hanya mengetahui ucapan dan kepanikan dari Raka saja.
Niatnya Raka mau mengabari Litha, kalau Raka diajak nongkrong sama sahabat-sahabatnya. Yah tapi mau diapakan lagi, sepertinya Raka lebih dibutuhkan oleh Litha.
"Kenapa?" tanya Leon kepada Raka.
"Gue nggak ikut. Litha butuh gue," jawab Raka seraya membuka pintu mobilnya.
"Eh boleh juga tuh kita nongkrong ke rumah Litha," celetuk Jordy yang membuat Raka mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Yoi, udah lama juga gak ketemu Umran," tambah Arkan yang mengerti raut wajah Raka yang seperti tidak setuju dengan Jordy.
"So?" kali ini Danil ikut angkat suara, dengan berada di pihak Jordy, Arkan dan Leon yang sedang menaik turunkan kedua alisnya.
"Terserah," jawab Raka acuh. Lalu segera masuk ke dalam mobilnya, menancap gas nya, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Leon, Danil, Jordy dan Arkan mengikuti arah mobil bigbosss nya dengan mengunakan kendaraan masing-masing, dengan mobil sport nya masing-masing. Jika dilihat mereka berlima seperti rombongan para artis K-Pop yang akan menuju suatu acara penting dengan terpisah.
**Kediaman Keluarga Nagara__
Kini mereka telah sampai di rumah Litha, memarkirkan mobil sport nya masing-masing dipekarangan kediaman Keluarga Nagara. Ah... Mereka keterlaluan sampai-sampai memenuhi pekarangan depan rumah Litha yang terbilang cukup luas.
Mobil mereka terparkir rapi di depan rumah mewah keluarga Nagara, tidak ada celah sedikit pun untuk mobil lain masuk ke halaman depan rumah Litha. Padahal mobil Umran belum terparkir di garasi. Lalu apakah mobil Umran yang tak kalah bagus dari mobil Raka, harus terparkir ditepi jalan? Sungguh keterlaluan!
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
Raka mengetok pintu tinggi tersebut, tak lama keluarlah salah satu ART yang bekerja di rumah mewah tersebut.
ART tersebut terpukau melihat ada lima pemuda tampan yang ada dihadapannya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah tampan yang dimiliki kelima pemuda dihadapannya ini. Yah mbak itu adalah ART baru disini, mungkin ia baru bekerja disini sekitar 1 bulan yang lalu.
"Mbak?" panggil Arkan entah sudah berapa kali, Arkan saja sampai jadi ngeri sendiri melihat mbak di depannya ini yang seperti orang linglung.
"Tu mbaknya kenapa sih?" tanya Arkan berbisik pada Raka.
Raka hanya melirik sekilas ke arah Arkan, lalu ke arah mbak di depannya itu. Setelah itu Raka mengangkat kedua bahunya. Ya Raka gak tahu lah, emang Raka dukun atau paranormal gitu?
Raka terlihat santai? Bukannya tadi panik? Ya karena tadi sebelum mengetuk pintu rumah Litha, Leon sempat memberitahu Raka. Ralat Leon mengingatkan Raka agar tidak usah terlalu panik, karena maag memang terasa sangat sakit jika sedang kambuh. Tetapi percayalah itu tidak terlalu berbahaya, karena setahu Leon yang tahu dari Raka, maag yang dialami Litha masih terbilang ringan, belum sampai maag kronis.
Yups Raka padahal yang lebih mengetahui Litha dari pada yang lain. Untung aja Leon orangnya kepo, jadi kalau sahabatnya yang bucin banget itu tiba-tiba pikun mendadak, Leon bisa mengingatkannya.
"Mbak," kali ini Danil ikut angkat suara. Entah mendapat dorongan dari mana, sampai dia memanggil mbak ART tersebut.
"Ini beneran..." akhirnya mbak nya nyaut juga, ya walaupun ucapannya menggantung sekali.
Tetapi setidaknya kekhawatiran Arkan salah pada perempuan yang mungkin memiliki selisih umur 4 tahun lebih tua dengan dirinya. Yups Arkan sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kesehatan mental mbak ART ini. Dasar Arkan Ganteng!
"Ini..." lagi-lagi menggantung, mata mbak ART tersebut berbinar-binar seperti mendapat harta karun saja.
"Defras Danil Nanggolan? Aktor dan musisi yang kerjanya di luar negeri, tapi asalnya dari Indonesia? Cuma mau pentas diatas panggung, di Indonesia di satu tempat doang, di cafe The Perfect? Astaga mimpi apa semalem bisa ketemu artis terkenal," cerocos nya panjang lebar.
Lalu kembali memandang wajah rupawan milik Danil, anehnya mbak itu sama sekali tak berekspresi sedari awal tadi. So jangan salahkan Arkan, jika dia berpikir yang tidak-tidak tentang ART tersebut.
Seketika Danil menjadi pusat perhatian para sahabatnya. Oke ternyata mbak itu adalah salah satu fans dari Danil, mungkin tadi mbak nya shok melihat idolanya berada tepat di depannya. Susah payah keempat cogan-cogan itu menahan tawanya, ya termasuk Raka juga. Jujur saja mereka tidak habis pikir dengan Danil yang ternyata mempunyai penggemar yang aneh begini.
"Kenapa?" tanya Danil merasa heran dengan tingkah para sahabatnya. Bukankah hal wajar jika dirinya yang berprofesi sebagai artis memiliki penggemar? Danil belum mengerti saja, apa yang ada di dalam pikiran para sahabatnya, termasuk Raka yang biasanya cuek-cuek saja.
"Ekhem," suara seseorang dari arah belakang menggema di telinga milik lima pemuda tampan tersebut. Mereka pun menoleh ke asal suara.
"Bagus ya!!! Kesini pada bawa mobil sendiri-sendiri, mau pamer? Yang tuan rumah sampai gak dikasih jalan buat masukin mobil ke garasi," protes Umran.
Mbok Inah sudah masuk ke dalam rumah ketika para sahabat dari tuan mudanya menoleh. Mbok Inah sih sudah pernah melihat mereka semua, apa lagi Raka Adelard Pangestu, sudah sangat biasa!
"Noh... Mobil gue masih di pinggir jalan," tambah Umran seraya menunjuk ke arah luar gerbang.
"Bodoamat!" sahut Arkan. Sungguh terang-terangan sekali si ganteng yang satu ini. Sangat memperlihatkan bahwa Arkan adalah sahabat terkampr*t.
"Biar sekalian dikatain orang. Rumah segede istana tapi halamannya sempit kek lubang tikus. Dimasukin mobil lima aja udah mentok," ledek Leon.
__ADS_1
"Yap betul. Kita aja sampai hati-hati banget tadi waktu markirin mobil, takut kesenggol terus lecet deh..." sambung Jordy berada di pihak Leon dan Arkan.
"Malah ngatain. Besok kalau gue jadi presiden, tanah se-Indonesia bakal jadi milik gue. Lo berempat gue usir dari Indonesia," ucap Umran yang malah berhalusinasi kemana-mana. Plus ngelantur banget sih, ya kali tanah se-Indonesia jadi punya dia.
Kan banyak tuh tanah yang milik pemerintah, contoh tanah kosong, hutan dan sejenisnya. Yang dimana sistem pemerintahan presidensial itu, baik kepala negara atau kepala pemerintahannya dipegang oleh seorang presiden dan tidak ada pemisahan antara keduanya.
Ya ucapan Umran bisa terkabulkan sih, kalau Umran mau beli tanah yang dimiliki seluruh masyarakat yang ada Indonesia. Itu pun juga kalau pemilik tanah mau ngejual tanahnya wkwk...
"Yang diusir kok empat doang? Yang nggak diusir siapa nih?" tanya Arkan mengikuti arah pembicaraan ngaco dari Umran.
"Calon adek ipar dong. Kalau diusir sekalian, nanti adek gue ngamuk. Bisa-bisa turun martabat gue sebagai presiden kalo diomelin tu bocah," sahut Umran yang membuat tawa mereka yang ada disana pecah. Termasuk mbak-mbak ART yang masih setia sebagai pendengar obrolan cogan-cogan itu yang nyeleneh.
Raka? Hanya tersenyum tipis, lalu ia teringat sesuatu yang sempat dilupakannya. "Litha dimana?" celetuk Raka yang membuat tawa mereka berhenti seketika.
"Di kamar kayaknya, langsung ma..." ucap Umran terpotong. Ternyata tanpa disuruh masuk dari salah satu penghuni rumah pun, Raka udah main nyelonong masuk aja, tanpa persimi dan tanpa rasa canggung.
"Dasar bucin," cibir Umran. Tetapi percuma saja, yang dicibirinya juga sudah masuk ke dalam.
"Oh iya tadi katanya maag Litha kambuh tuh, makanya si kulkas buru-buru gitu," ujar Leon.
"Terus kenapa kalian nggak masuk dari tadi? Malah di depan pintu doang. Jadi bener, kalian punya niat pamer mobil sama gue?" tuduh Umran.
" Suudzon aja lu," sahut Leon tidak terima.
"Noh..." sahut Jordy mengarahkan dagunya ke arah mbak ART yang masih diam mematung sedari tadi.
Umran melirik ke samping kanannya, lalu menaikkan sebelah alisnya, seperti bertanya 'Kenapa? Ada masalah sama mbak ini?'
"Nggak dipersilahkan masuk," jawab Arkan malas.
"Bener gitu mbak?" Umran bertanya pada mbak disebelahnya. Mbak tersebut hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum kikuk yang menghiasi bibirnya.
"Kenapa? Mbak takut sama mereka karena dateng rame-rame? Tapi mbak kan juga pernah lihat Raka kesini, jadi kenapa harus takut mbak? Toh tampang mereka juga nggak sama persis kayak preman," ungkap Umran panjang lebar.
What? Nggak sama persis kayak preman? Maksudnya apa nih? Mereka kayak preman gitu? Tapi nggak terlalu persis? Ah... Sudahlah, terserah Umran saja.
Mbak ART tersebut menggelengkan kepalanya. "Terus?" tanya Umran.
"Dia kagum ngeliat gue. Sampai lupa mempersilahkan masuk ke dalam," jawab Danil songong nan sombong. Sebenarnya nggak sombong atau songong juga sih, kan emang kenyataannya begitu.
"Dih... PD amat lu," ucap Leon, Jordy, dan Arkan secara bersamaan. Danil tidak menggubrisnya, bukankah apa yang dikatakannya, itu sebuah fakta?
Umran menatap mbak ART tersebut. Lalu menghirup udara, mengambil oksigen dan membuang nafas panjangnya, mengeluarkan karbondioksida dan uap air.
__ADS_1
"Maaf tuan muda," Mbak ART tersebut meminta maaf dengan tersenyum kikuk.