Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Tamu Bulanan


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Raka mengetuk pintu kamar Litha.


"Masuk" terdengar suara dari dalam mempersilahkannya masuk.


Raka membuka pintu dan mendapati gadis yang sedang tengkurap, dengan wajah mengarah ke samping kanannya, dengan tubuhnya yang menindih guling di bagian perutnya. Karena ranjang Litha berada tepat disamping pintu, jadi tanpa mengganti posisinya saat ini, Litha dapat melihat orang yang masuk ke kamarnya.


"Kak perut aku sakit," rengek Litha tanpa merubah posisinya, tanpa rasa canggung atau malu. Memangnya apa yang harus dipermalukan? Toh Litha juga masih memakai seragam sekolahannya, dan rok nya pun tidak terlalu mini sekali.


Raka mendekat, disaat itu pula Litha bertanya. "Obatnya mana?"


"Kok tanya aku?" tanya Raka balik.


"Kan aku tadi minta tolong buat dibeliin obat maag," jawab Litha. Lalu Raka seperti berfikir, matanya melirik langit-langit kamar.


"Jangan bilang kak Raka lupa," tuduh Litha yang kini sudah duduk dengan kaki menyilang dan guling yang berada di pangkuannya.


"I.. ya," ucap Raka ragu, tetapi memang Raka bukan tipikal orang yang suka bohong.


"Ih... Kak Raka..." teriak Litha yang rasanya seperti mencekik indera pendengaran Raka sampai Raka meringis.


Bahkan Umran yang berada di luar bersama dengan yang lainnya pun juga sampai mendengar teriakkan gadis tersebut. Umran dan yang lainnya segera menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamar Litha berada.


"Tha lo kenapa?" tanya Umran khawatir.


"Tuh..." Litha menunjuk Raka dengan dagunya.


Umran menoleh ke arah Raka, seperti bertanya 'Lo apain adek gue?' tanya Umran tanpa mengeluarkan suara.


'Emang gue apain?' tanya Raka balik, tanpa suara.


'Terus?' tanya Umran dan masih tanpa bersuara juga.


"Lupa beli obat," jawab Raka.


Tiba-tiba saja Litha menjadi diam, seperti melamun, entah apa yang menggangu pikirannya? Litha masih memegang perutnya.


"Tha," panggil Raka, entahlah sudah berapa kali Raka memanggilnya.


"Woi..." seru Umran dengan nada tinggi dan akhirnya sukses membuyarkan lamunan Litha.


"Apa?" tanya Litha acuh.


"Kenapa lo?" tanya Umran sewot.


Mata Litha malah menatap satu persatu dari manusia tampan yang ada di kamarnya. Seperti mau berkata namun enggan, begitulah gambaran ekspresi Litha sekarang. Yang ditatap Litha malah merasa heran. Arkan, Jordy, Leon dan Danil, mereka tidak mengerti maksud dari tatapan gadis itu.


Raka yang sepertinya mengerti dari tatapan Litha lantas bertanya. "Kenapa? Bilang aja," tutur Raka sangat amat lembut. Litha jadi luluh karena penuturan Raka yang dalam mode lembut begitu.


Ini adalah pertama kalinya bagi calon iparnya dan para sahabatnya mendengar penuturan Raka dengan mode lembut. Ah... Es balok yang dingin dan beku, yang selalu dalam mode datar dan cueknya ternyata bisa di mode lembut juga, pikir mereka.


"Perut aku tambah sakit kak. Beliin obat maag ss.. sam.. sama..." ujar Litha terpotong, kelamaan sih ngomongnya. Bukan hanya Raka saja yang penasaran, tetapi semua yang ada di ruangan tersebut juga penasaran, termasuk Danil yang biasanya cenderung cuek.


"Sama apa Tha?" tanya Raka masih setia dalam mode lembutnya.

__ADS_1


"Sama... Pp.. pem.. balut," jawab Litha ragu.


"Hah...?" ucap mereka berenam bersamaan. Bukan kaget atau gimana-gimana, tapi mereka memang tidak mendengar penuturan gadis itu. Ya iyalah gak kedegeran sampai ke gendang telinga mereka, orang Litha ngomongnya pake volume paling terendah. Malah ucapan Litha itu seperti sebuah gumaman yang hanya dapat didengar oleh dia sendiri.


"Kok hah sih? Beliin pembalut mau apa enggak? Kalo enggak ya udah biasa aja kali. Namanya cewek itu wajar lah kalo lagi datang bulan. Malah pada hah-hah," cerocos Litha dengan volume naik satu oktaf.


Ya ya ya Litha kiranya mereka pada kaget gitu, padahal mereka begitu karena gak denger ucapan Litha. Hadeh Litha! Gak peka and sensian. Wajar sih sensi, bawaannya pengen marah mulu, namanya juga cewek kalau lagi kedatangan tamu bulanan mah suka gitu.


"Oh.. itu. Bilang dong yang jelas dari tadi, kita tadi gak denger kali Tha. Bukannya gimana-gimana," tutur Leon.


"Bohong," ketus Litha.


"Udah cepetan kak Raka beliin, mau apa enggak nih? Kalau nggak mau biar mbok In..." Litha masih dalam emosinya nih... Sabar ya Beruang Kutub nya Litha.


"Iya tunggu sebentar," selah Raka lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu. Pergi menuju apotek membeli obat maag dan mampir ke minimarket membeli kebutuhan bulanan wanita. Sungguh idaman sekali bukan?


Raka tidak malu membeli kebutuhan bulanan wanita! Memang apa yang harus dipermalukan, catat Raka hanya membeli dan tidak memakai!


***


Raka sudah melaksanakan perintah tuan putri. Hanya dalam hitungan menit Raka sudah kembali ke kamar Litha dengan menenteng empat buah kantong plastik berukuran besar berwarna putih.


Raka merogoh saku jaketnya, mengambil obat maag yang sudah dibelinya, lalu memberikannya kepada Litha. Gadis itu hanya menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, suasana masih hening. Keduanya hanya saling beradu pandang, hingga akhirnya Raka memecah keheningan.


"Udah makan siang?" Raka bertanya.


"Belom," jawab Litha singkat, padat dan jelas.


"Makan dulu baru minum obat, biar perutnya nggak kosong," jelasnya.


"Permisi non," mbak ART tersebut berada di ambang pintu, meminta izin untuk masuk ke kamar nona nya.


"Masuk mbak," sahut Litha kemudian.


Mbak tersebut masuk dan seketika kakinya merasa kaku untuk melangkah lagi ketika pandangannya bertemu dengan Raka yang membalikkan tubuhnya. Merasa ada yang tidak beres dengan mbak ART itu, lantas Raka menoleh ke arah Litha.


Litha yang mengerti tatapan dari sang kekasih, lalu "Mbak," panggil Litha membuyarkan lamunan mbak ART tersebut.


Mbak itu bukan mbak ART yang tadi membukakan pintu untuk The Perfect, yang ini udah beda orang lagi. Mbak-mbak ART di rumah keluarga Nagara ini kan banyak, mungkin sekitar 10 orang.


"Eh iya maaf non," sahut mbak tersebut seraya menaruh nampan yang dibawanya, di atas meja samping ranjang yang berada tepat di depan Raka.


Setelah selesai dengan tujuannya, mbak tersebut berbalik. Niatnya sih mau langsung keluar, tapi mata mbak nya malah ketemu lagi sama mata Raka. Jujur aja mbak nya tu mau meleleh, ini pertama kalinya mbak itu berhadapan langsung dengan jarak yang sedekat ini dengan manusia yang gantengnya gak manusiawi.


"Ekhem..." Dehaman Litha sukses membuat keduanya menoleh ke arahnya. Niat hati mbak itu mau minta maaf sama tuan putri, eh udah keduluan.


"Kenapa mbak? Jelek yah?" tanya Litha tanpa rasa dosa.


Mbak tersebut hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Raka tersenyum miring, apa iya gadis itu cemburu dengan mbak ART ini?


"Maaf permisi non," ucap mbak tersebut lalu melenggang pergi.


"Mau makan sekarang? Aku suapin mau?" tanya Raka kembali ke mode lembutnya.


Duh bikin Litha jadi melting aja, yups Litha sekarang dalam kondisi sadar, sesadar sadarnya. Kalau diawal tadi waktu Raka dalam mode lembutnya kan pikirannya Litha kemana-mana, bingung mau bilangnya gimana ke Raka, soalnya tadi bukan cuma ada Umran doang, tapi ada sahabatnya juga. So tingkat kadar kesadaran Litha berkurang.

__ADS_1


"Nanti aja," jawabnya.


"Oh iya pembalutnya mana?" tanya Litha.


Raka menatap empat kantong plastik yang berada di atas meja, di samping televisi besar yang berhadapan dengan ranjang besar milik Litha . Dan Litha mengerti itu.


"Kantongnya kok gede gitu, ada empat lagi? Isinya apa aja?" selidik Litha.


"Yang kamu suruh beli tadi," jawab Raka santai lalu duduk di sofa samping pintu dan berhadapan agak jauh dari tepi ranjang.


"Sebanyak itu?" tanya Litha tidak percaya, ya kali cowok dingin itu beli kebutuhan bulanan wanita sebanyak itu.


"Iya," jawab Raka acuh.


"Serius?" tanya Litha masih tidak percaya. Emang Raka pernah bohong? Enggak pernah kan? Tapi kenapa rasanya Litha sulit untuk mempercayainya?


Ya gini aja deh... Ya kali Litha mau pake gituan sebanyak itu? Buat stok? Bisa sih, tapi gak sebanyak itu juga kali. Itu mah bisa buat stok dua tahun mendatang, orang kantong plastiknya ukuran jumbo gitu, ada empat pula jumlahnya.


"Buka aja kalo nggak percaya!" suruh Raka.


Oke, sekarang Litha percaya tanpa harus mencari bukti dengan membuka kantong plastik berukuran jumbo tersebut. Toh nanti dia juga akan membukanya jika nanti akan memakai barang tersebut.


"Ih... Parah banget sih kak. Nggak mungkin aku pake semuanya buat bulan ini kak, nih ya... Biasanya tu cuma semingguan doang kak," jelas Litha.


"Udah terlanjur ke beli. Buat stok aja," sahut Raka kalem. Sejujurnya Raka pun tahu kalau rata-rata perempuan mendapat tanggal merah hanya dalam durasi semingguan.


"Boros," ketus Litha.


"Pake uang aku," jawabnya.


"Iya tau, tapi tetep aja boros. Mending uangnya kasih aku, buat beli liontin berlian bentuk hati yang polos tapi mengkilap kayak bola disko gitu. Dari pada buat beli gituan sebanyak itu," ungkap Litha asal. Meski pada kenyataannya tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Litha menginginkan liontin seperti yang diucapkannya. Ya kalau nggak ingin kenapa Litha menyebutkannya?


"Berlian harganya gak kaleng-kaleng sayang," jelas Raka.


Duor....


Hati Litha bergemuruh, rasanya ada yang meletup-letup di dalam dadanya, senyumnya merekah menghiasi bibir mungilnya, matanya berbinar-binar.


What? Sayang? Serius ini Litha dipanggil sayang? Udah lama juga dia gak dipanggil sayang, pengennya Litha tu dipanggil sayang tiap hari beruang kutub! Tau gitu mah Litha tadi rekam aja buat kenang-kenangan wkwk...


Setelah puas dengan kebahagiaannya karena hanya sebuah kata sayang yang keluar dari bibir orang tersayangnya. Litha mencerna ucapan Raka, sebelum kosakata sayang dilontarkan.


"Iya tau harganya selangit. Niatnya kan cuma buat nambah-nambah aja. Coba kalau satu juta, tapi uang seratus ribunya hilang, kan nggak jadi satu juta namanya," cerocos gadis cantik itu.


"Iya kamu bener, aku boros," ogah-ogahan Raka mengutarakan tersebut, tapi mau bagaimana lagi? Nggak baik juga kalau masalah begituan jadi panjang urusannya.


"Nggak jadi makai itu?" tanya Raka dengan arah mata yang mengarah pada kantong plastik jumbo di dekat televisi besar itu.


"Jadi, ini mau makai," jawab Litha sembari beranjak dari duduknya.


"Mau aku bantu?" goda Raka dengan tersenyum tampan ditambah menaikkan kedua alisnya dan menahannya. Bukan menaik turunkan alis ya guys! Hanya menaikkan lalu menahannya agar tetap diatas. Raka itu bukan tipe orang yang suka gombal yang alay dan merayu atau sejenisnya itu! So dia punya caranya sendiri.


"Ih... Jangan mesum deh," keluh Litha.


BTW Author nulis novel baru lhoh... ceritanya nggak kalah menarik dari Ice Boy My Mood Booster. Mampir yuk para readers ku tersayang🥰, di My Favorite Teacher, karena jiwa-jiwa Author masih anak SMA, so ceritanya masih tentang anak SMA juga.

__ADS_1


__ADS_2