
Untung aja Litha bukan tipe manusia yang terlalu memikirkan omongan orang lain tentang dirinya. Yups Litha tidak memperdulikan celotehan siswi-siswi dari kelas 11 itu.
Iya mereka semua anak kelas 11, secara ini kan lantai dua yang cuman dihuni oleh anak kelas 11. Sedangkan kelas 10 berada dibawah, dan kelas 12 berada di lantai tiga, serta para ruang guru berada di lantai paling atas.
Sekolah milik keluarga Nagara ini memang sangat besar dan bagus. Ditambah lagi dengan fasilitas alat belajar yang lengkap, membuat sekolah yang bernama SMA Nagara ini menjadi sekolah terelit dan terfavorit di kota ini. Wajar aja kalau bangunannya besar dan tinggi, soalnya muridnya juga buanyak banget.
Jika dilihat dari atas bentuk dari bangunan sekolah ini persegi, setiap ruangan mengelilingi area lapangan, so gedungnya saling berhadap-hadapan. Itu baru gedung sekolahannya ya guys, belum lagi tempat perpustakaan, kantin, sama tempat parkirnya.
Litha memutuskan untuk pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan Dita yang sudah tersenyum puas. Litha sangat kesal mengapa dirinya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Raka? Dan dimana Raka sekarang?
***
Sedangkan Fika kini sedang berada di taman sekolah untuk menemui seseorang. Walaupun cuaca saat ini sangat panas, tetapi matahari terik siang ini tak menghalangi pertemuan antara kedua manusia yang cantik dan ganteng bingits itu wkwk...
"BTW gue mau bilang makasih kemaren lo udah nolongin gue," ucap Fika yang mendapat senyuman dari pemuda tampan.
Fika berterimakasih karena pemuda yang ada disampingnya ini telah menolong Fika, saat kejadian geng mafia Harimau Putih kemarin menculik Litha dan Fika.
"Dulu kamu cuman salah paham doang, aku pengen kita kayak dulu lagi!" pinta pemuda itu pada Fika.
Fika terdiam, dia menatap pemuda yang sedang tersenyum tampan ke arahnya.
"Kamu gak usah jawab sekarang gpp, aku bakal nunggu sampai kamu siap buat jawab," tambah pemuda itu.
"Apa lo yakin sama ucapan lo?" tanya Fika ragu.
"Yakin, yakin banget. Setelah kamu ninggalin aku, hidup ku rasanya kurang berwarna. Aku nyesel karena gak ceritain semuanya ke kamu," jelas pemuda itu.
"Maksudnya?" tanya Fika penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pasti waktu itu kamu mikir kalo aku masih playboy. Tapi jujur setelah aku ketemu kamu, gak tau kenapa aku gak pengen buat kamu sedih. Aku bener mau ngejaga kamu, terutama ngejaga perasaan kamu supaya kamu gak kecewa," ungkap Leon panjang lebar.
Yups pemuda tampan yang mengajak Fika bertemu di taman sekolah adalah mantannya yang sering dijuluki playboy cap kadal. Siapa lagi kalau bukan Leon Leonard.
"Aku serius cinta sama kamu, tapi kalo perasaan kamu udah gak sama kayak dulu, aku gpp. Bisa ngelihat kamu senyum aja aku udah bahagia," Leon memegang tangan Fika.
Fika terdiam sejenak lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Leon. "Lo gak lagi taruhan kan sama temen lo?" sulit bagi Fika untuk mempercayai playboy seperti Leon.
__ADS_1
Leon tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan itu. Kini Leon harus berusaha lebih sabar untuk menghadapi dan menghilangkan keraguan dalam diri Fika. Sebelum menjelaskan, Leon menghelai nafas panjangnya terlebih dahulu.
"Nggak mungkin Fik, aku gak akan ngrendahin cewek dengan cara jadiin cewek itu sebagai bahan taruhan. Lagi pula kamu juga tau kalau Raka sekarang pacaran sama Litha, temen kamu sendiri. Jadi Raka gak akan mungkin mau, kalau aku ajak dia buat taruhan," jelas Leon yang seperti rumus volume balok.
"Gue butuh penjelasan tentang kejadian waktu itu!" pinta Fika.
Beberapa bulan yang lalu Fika tak sengaja memergoki Leon sedang makan siang di cafe bersama seorang wanita cantik. Fika mengira jika Leon memiliki hubungan yang spesial dengan wanita tersebut.
Fika menghampiri meja Leon dan wanita itu, Fika menyiram wajah Leon dengan minuman yang ada di meja itu. Tentunya Leon terkejut, dia berdiri dan akan mencoba menjelaskan semuanya. Tetapi tangan Fika lebih dulu beraksi dari pada niat Leon yang ingin berbicara, Fika menampar pipi Leon sangat keras. Tanpa meminta penjelasan apapun dari Leon, Fika meminta mengakhiri hubungannya dengan Leon.
"Awalnya aku cuman mau makan siang biasa aja, terus gak sengaja ketemu cewek itu. Aku inget kalo dia itu..." jelas Leon terpotong.
"Mantan lo? Terus lo mau ngajak dia balikan?" selah Fika mengira-ngira sendiri.
"Bukan... Dia itu anak dari pengusaha toko emas yang sukses dan terkenal dengan kualitas emasnya yang bagus," sambung Leon.
"Lo nyindir gue nih?" tanya Fika sedikit ngegas.
"Maksudnya?" Leon mengernyitkan keningnya.
Leon hanya menepuk jidatnya sendiri, dia tidak habis pikir dengan Fika. "Ya ampun. Aku gak ada niatan gitu Fika. Bukannya tadi kamu nanya siapa cewek itu, ya aku jawab dong. Salah ku dimana coba?" Leon menggelengkan kepalanya.
"Sorry deh..." ucap Fika merasa sedikit bersalah.
"Salah lo juga ngomongnya setengah-setengah," sambung Fika lagi, begitulah namanya juga cewek. Kalau pun salah dan udah minta maaf, tetep aja endingnya juga nyalahin si cowok. Dan Leon sangat memahami itu kok, jelas lah paham, orang dia mantan playboy. Wkwk...
"Bukannya tadi kamu yang motong penjelasan aku?" tanya Leon membenarkan yang sebenarnya terjadi.
"Kok gue sih? Jadi gue yang salah?" tanya Fika dengan nada tinggi.
"Eng.. enggak kok, iya aku yang salah. Kamu mah selalu benar," tutur Leon sedikit gugup.
Leon yang memahami jika pada dasarnya wanita selalu ingin menang, mau tidak mau Leon memilih mengalah aja. Dari pada Fika ngambek bisa-bisa malam ini Leon jadi begadang, alias gak bisa tidur karena uring-uringan mikirin Fika. Cieee....
"Terusin!" perintah Fika.
"Apanya?" tanya Leon lagi-lagi mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Ceritanya lah..." jawab Fika sewot.
"Oh iya lupa. Jadi aku mau ngasih surprise ke kamu dengan beliin kamu kalung dari dia. Niatnya aku mau request bentuk kalungnya, supaya kelihatan istimewa dan pastinya yang akan punya kalung bentuk itu cuman kamu doang," jelas Leon panjang lebar.
"Mana kalungnya?" tagih Fika dengan menyodorkan tangannya seakan-akan meminta.
"Ya gak jadi lah... Orang kamu udah bilang putus duluan sebelum aku pesen kalung ke dia," jawab Leon.
"Oh," ucap Fika singkat.
"Kita balikan yuk? Aku udah jelasin semuanya ke kamu lhoh..." ujar Leon dengan senyum tampannya.
"Aku udah beneran tobat, udah gak kayak dulu. Aku gak akan ngelirik cewek lain! Setelah putus dari kamu, aku gak punya hubungan spesial sama cewek lain. Karena hati aku udah kekunci, dan kuncinya ada di kamu," tambah Leon meyakinkan Fika, plus ngegombal juga. Namanya juga mantan playboy, pastinya gak bisa jauh-jauh dari gombalan mautnya. Tak lupa, Leon juga memperlihatkan senyuman tampannya.
Untuk Leon yang dulunya pernah mencoba mendekati Litha, itu Leon hanya iseng-iseng aja. Leon gak beneran punya perasaan yang tulus sama Litha, Leon hanya sekedar mengangumi kecantikan wajah Litha.
Fika? Dia juga gak kalah cantik dari Litha kok, dan Leon mencintai Fika tulus dari hatinya, bukan hanya karena paras cantik yang dimiliki Fika. Buktinya aja Leon bisa meninggalkan dunia keplayboyan nya karena Fika.
Secara tidak langsung pun Leon juga meninggalkan dunia hitamnya karena Fika, anak dari koruptor yang diincar kliennya, ya lebih tepatnya sih karena ulah Fandy sebenarnya. Leon benar-benar ingin menjauh dari dunia mafia yang pernah membuat namanya dikenal oleh para miliarder.
"Gue bingung, gue masih ra.." ucap Fika terpotong karena Fika ngomongnya juga lama sih, so jangan salahin kalau dipotong oleh Leon.
"Masih ragu sama aku? Gpp kok aku ngerti, dan ingat satu hal, aku akan setia nunggu jawaban kamu," selah Leon.
"Tapi nggak tau deh kalau ada yang godain aku?" tutur Leon songong.
Tadi aja ngomongnya kayak tulus dari hati gitu. Eh malah kembali ke mode aslinya yang nyebelin banget. Pengen nimpuk nih playboy pakai sepatu haihils. Eh ralat mantan playboy maksudnya, Leon kan udah tobat.
"Ya harusnya lo jangan sampai ke goda," tegas Fika seolah-olah seperti orang yang memberi nasihat kepada kekasihnya saja.
"Ya kalau maunya gitu, kamu jangan lama-lama gantungin aku," ucap Leon tak kalah tegas dari Fika.
"Emang jemuran di gantungin?" gurau Fika mencairkan suasana agar tidak terlalu serius.
Leon dan Fika tertawa renyah, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari taman itu. Kan kurang baik juga kalau kulit keduanya sampai berubah menjadi lebih gelap.
Leon menghabiskan sisa waktu jam istirahatnya dengan menemui The Perfect di basecamp The Perfect tentunya. Sedangkan Fika lebih memilih ke kantin untuk menemui Sarah yang semoga saja masih nongkrong di sana.
__ADS_1