
Flashback On
Hanya tersisa Raka dan Arkan yang duduk menanti acara pertunangan dimulai. Jordy, Danil, dan Leon sibuk mencari makan, mereka kelaparan karena belum makan siang. Ralat, bukannya belum makan, tapi sengaja tidak makan karena ingin numpang makan gratis di acara ini, katanya biar makanan ditempat Umran gak mubasir.
"Sial," gumam Raka.
Arkan menoleh, "Kenapa?"
Raka menyerahkan ponselnya, Arkan melihat isi chat dari Via.
From: Via
Tunggu aku di acara tunangannya kakaknya Litha ya! Nanti aku ke sana bareng Oma Rahma.
"Ini Via yang tinggal di Amerika?" Arkan pernah mendengar cerita dari Mama Kania tentang Raka yang pernah dekat dengan seorang gadis saat dulu menempuh pendidikan sekolah menengah pertama di luar negeri.
"Iya," jawabnya.
Arkan manggut-manggut, Arkan tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu Nick bercerita jika Raka akan dijodohkan oleh Omanya dengan gadis yang ia cintai bernama Via, dan gadis itu adalah teman Raka saat di Amerika.
"Ini yang dijodohin sama lo kan?" Arkan memastikan, mengingat beberapa Minggu yang lalu ia pernah diajak Raka untuk bertemu dengan model tersebut.
"Iya," jawabnya singkat.
"Asli gue gak terima kalo lo terima perjodohan ini. Gue tau Via emang cantik, gue harap lo gak terpesona hanya karena kecantikannya aja. Gue sayang sama Litha, gua gak mau dia terluka," cerocos Arkan panjang lebar.
Mendengar ucapan Arkan yang begitu perhatian terhadap Litha, Raka langsung melotot menatap tajam Arkan.
"Mm.. maksud gue, gue sayang Litha sebagai adik, sebagai sahabat juga. Lo kan tau sendiri gimana gue kalo udah ketemu Litha, pokoknya kita klop banget lahh..." Bela Arkan pada dirinya sendiri.
"Dia udah deketin Litha sejak awal kedatangannya ke Indo," ujar Raka.
"Wahhh... Kampr*t tu cewek, mainnya licik. Dia deketin Litha, karena dia tau kalo Litha cewek lo. Nanti disaat yang tepat dia akan ngehancurin hati Litha dengan bilang kalo dia calon yang dipilih langsung oleh Oma," jelas Arkan yang diangguki oleh Raka.
Raka juga sudah menebaknya sejak Via mencoba mendekati Litha.
"Via sebenernya Fani," ucap Raka yang sukses membuat Arkan terkejut.
"Fani?" Arkan masih mengingat jelas wajah Fani yang dulu berhasil melakukan aksi gila bunuh diri.
"Gimana bisa dia hidup lagi dan berubah jadi Via?" Arkan sangat penasaran.
"Cerianya panjang," Raka berkali-kali menghubungi Mark untuk menggagalkan rencana Via yang akan datang bersama Oma ke acara ini, namun ponsel Mark mati. Ini adalah pertama kalinya Mark tidak bisa dihubungi, entah apa yang sedang dilakukannya.
"Gue aja yang turun tangan, lo disini baik-baik jaga Litha dan Sekar. Gue curiga ini ada sangkut pautnya sama Fandy, dan gue yakin keluarga Sekar sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa ngawasin peliharaannya yang str*s," ujar Arkan emosi.
Flashback Off
__ADS_1
Arkan membisikkan kepada Raka jika Mark disekap oleh beberapa orang anggota mafia, yang tak lain adalah mafia milik Fandy yang dia rampas dari Leon. Setelah menyelidikinya, Arkan menyuruh orang bayaran untuk membantu melepaskan Mark.
Usaha Arkan tidak hanya sampai itu, Arkan lanjut melacak keberadaan Via dan Fandy. Tapi sayang sekali, Arkan terlambat, Via sudah berada diperjalanan bersama Oma Rahma.
Arkan tidak mungkin menghadang mobil mereka dan memberitahu kelicikan Via, karena Arkan tidak mempunyai bukti. Semua bukti ada di Raka dan hanya Raka yang berhak memberitahu kebusukan Via kepada Oma sendiri.
"Jadi Fani selama ini masih hidup?" Jordy dan Danil terkejut.
"Terus dimana Fandy sekarang?" Tanya Danil.
Arkan menghembuskan nafasnya, "Nah itu dia... Gue sampai lupa nyari binatang itu, saking paniknya nunggu kedatangan si zombie sama Oma Rahma,"
"Zombie?" Heran Danil.
"Si Via," Jordy langsung paham maksud ucapan Arkan.
"Maksud lo Fani?" Danil memperjelas.
"Iya itu si Via atau si Fani sama aja lah... Ya habisnya kayak zombie, udah meninggal, gak bisa nafas, gak sadar, ehh bisa hidup lagi," cerocos Arkan.
"Jadi gitu ceritanya toh..." Leon diam-diam menguping pembicaraan sahabatnya.
"Eh anji*g kaget gua. Nyempil aja lo kayak upil," Jordy kaget tiba-tiba Leon berada disampingnya.
"Ganteng gini disamain upil. Nohhh upil lo masih nyangkut didepan idung," Leon tidak terima.
"Yahhh berarti tiap hari lo ngorek-ngorek idung lo dong? Hhhhh..." Leon mengejek Jordy, membuat Jordy kesal.
"Heh... Ini kenapa jadi bahas upil sih?" Arkan jadi kesal sendiri mendengar pembicaraan yang unfaedah.
Ditempat yang tak jauh dari gerombolan cogan-cogan tersebut, Via sudah datang berjalan dengan anggun, menggandeng lengan Oma Rahma. Via sengaja ingin memamerkan kedekatannya dengan Oma dihadapan Litha.
"Hai Tha..." Sapa Via tersenyum semanis mungkin.
Litha hanya membalasnya dengan senyuman kaku, dia heran dengan Via yang datang bersama Oma Rahma.
"Maaf yaa aku menuhin undangan dari kamu bareng sama Oma, tapi gak bilang-bilang dulu ke kamu. Kamuuu gak keberatan kan, kalo aku sama Oma Rahma?" ujarnya.
Litha menggeleng, "Enggak kok, Oma pasti juga diundang sama Ayah dan Bunda kan?"
"Iya," jawab Oma dingin. Membuat Via memalingkan wajahnya sebentar, dia tersenyum miring meremehkan Litha yang jelas kalah jauh darinya.
"Oh ya ini kakak kamu Tha?" Via menatap ke arah Umran yang sinis menatapnya, begitupun dengan Sarah yang tidak kalah lebih sinis.
Litha hanya mengangguk, dia masih penasaran ada hubungan apa antara Via dan Oma hingga sebegitu dekatnya.
"Selamat atas pertunangannya yaa..." Via memberikan telapak tangannya, namun kedua pasangan tersebut enggan untuk bersalaman.
__ADS_1
Via masih tersenyum berganti menatap Litha, Raka, dan selanjutnya Oma. "Selamat atas pertunangan kalian," ucap Oma seraya mensejajarkan tangannya disamping tangan Via.
"Terimakasih Oma sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri acara kami," ucap Umran tersenyum ramah lalu menyalami tangan Oma dan Via.
Sarah memaksakan dirinya untuk tersenyum ramah mengikuti apa yang Umran lakukan, meskipun dia sangat malas bersalaman dengan Via. Sarah sudah melihat dari gerak-gerik Via bahwa wanita itu ingin merebut Raka dari sahabatnya sekaligus adek iparnya.
"Semoga Raka juga cepat menyusul sama seperti kalian, iya kan Via?" Oma Rahma tersenyum menatap Raka dan Via yang juga balik tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Mm.. maksud Oma?" Mata Litha mulai berkaca-kaca.
"Bukan apa-apa, ayo kita pergi!" Raka menggandeng tangan Litha.
"Tunggu!" Via menahan pergelangan tangan Raka.
"Lepas!" Raka menghempaskan pergelangan tangannya sampai Via memilih melepaskan genggamannya.
"Raka...! Jangan kasar terhadap calon tunangan kamu," Oma menatap tajam cucunya.
Raka dan Litha saling pandang, Litha menggelengkan kepalanya dengan air mata yang susah payah ia tahan agar tidak keluar.
"Tha aku bisa jelasin. Maksud Oma bukan itu, dia cuma.." ucap Raka terpotong.
"Dia cuma apa? Dia calon tunangan kamu," Litha melepaskan genggaman tangan Raka dengan kasar, kemudian mengusap pipinya dengan kasar pula.
"Kenapa gak bilang sejak awal Kak? Aku ngerasa jadi orang paling bodoh. Selamat kalian berdua sukses nutupin semua ini dari aku," Nafas Litha sudah tidak beraturan. Matanya menahan air matanya, meskipun setetes, dua tetes, tiga tetes air mulai berjatuhan mengalir di pipinya.
"Maaf ya Tha aku gak bilang sejak pertemuan pertama kita, soalnya Raka ngelarang aku untuk cerita tentang rencana pertunangan kita berdua. Padahal pertunangan ini udah disetujui sama kedua pihak keluarga kita," Via berakting merasa sedikit bersalah. Berbeda dengan lubuk hati yang paling dalam, Via sangat amat bahagia.
"Mungkin bulan depan kita akan melangsungkan acara pertunangan. Iya kan Raka? Oma?" Via tersenyum manis.
"Tidak" tegas Raka
"Tentu," ucapan Oma Rahmah hampir berbarengan dengan ucapan Raka.
"Saya permisi Oma," Litha menundukkan sedikit kepalanya, langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Litha.." Raka hendak mengejar Litha, namun tangannya ditahan oleh Oma. Raka tidak mau membuat keributan di acara Umran, sehingga Raka memilih diam.
Ayah dan Bunda juga berada tidak jauh dari tempat itu, sehingga mereka mendengar pembicaraan mereka. Dan kebetulan sekali Litha berlari ke arah dimana orang tuanya berdiri. Ayah menahan tubuh Litha dan memeluknya, Bunda meneteskan air matanya juga memeluk putrinya yang sedang hancur.
"Maafkan Ayah tidak bisa berbuat apa-apa," Ayah mengira sahabatnya, Baskara menyetujui pertunangan Raka dan Via sesuai ucapan Via tadi. Tentu saja Ayah Kusuma tidak berhak melarang keputusan apa pun yang diambil oleh sahabatnya tersebut.
Pak Baskara dan istrinya tidak dapat hadir dalam acara ini karena masih diluar kota, so Ayah Kusuma tidak dapat menanyakan langsung apakah ucapan Via benar adanya. Jika menanyakan dengan menghubungi ponselnya pun, Ayah merasa tidak enak hati.
Litha melepaskan pelukan kedua orang tuanya, dia butuh waktu untuk sendiri.
Untung saja tidak banyak yang mengetahui permasalahan tadi. Hanya mereka saja yang mengenal baik Raka dan Litha yang memperhatikan obrolan Oma, Via dan Litha. Jika sampai terjadi keributan, mungkin acara hari ini sudah berantakan.
__ADS_1
Sekar dan Fika berpelukan, mereka juga merasakan kesedihan dan kehancuran hati yang Litha rasakan. Pasti sangat sakit jika pasangan kita tidak berkata terus terang dan malah menyembunyikan sesuatu dari kita, itulah yang ada dipikiran Fika dan Sekar.