Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Kurang Suka


__ADS_3

"Maaf Nick, aku gak bisa," Dita menepis tangan Nick.


"Hei kenapa sayang?" Nick berusaha menahan Dita.


Dita menyeka air matanya yang perlahan mengalir. "Siapa pemilik rumah sakit ini?"


"Raka, dia sahabat aku," sahut Nick.


Dita mengangguk dengan senyumannya dan air mata yang tidak dapat terbendung. "Udah aku duga,"


Dita memeluk Nick begitu erat untuk yang terakhir kalinya. "Aku gak bisa ada di kehidupan kamu. Lebih baik kita akhiri hubungan ini,"


Dita tahu jika Ayahnya sudah berjanji kepada Raka agar Dita menjauhi kehidupan Litha. Oleh karena itu Dita memilih memutuskan Nick, meskipun Dita begitu mencintai pemuda itu.


Dita tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang telah berusaha mati-matian mempertahankan bisnisnya yang nyaris saja hancur karena ulah dirinya yang berperilaku buruk kepada Litha.


"Dd.. Dita, kamu ngomong apa sih?" Nick menggelengkan kepalanya berharap telinganya salah dengar dengan ucapan Dita.


"Sampaiin permintaan maaf aku buat Litha," Dita melirik Litha yang berjalan mendekat kepada mereka, detik berikutnya Dita berlari meninggalkan rumah sakit.


Dita benar-benar merasa malu dihadapan Litha, jika mengingat rencana jahatnya saat bersama Fandy. Kehidupannya di luar negeri membuatnya sadar dan berubah menjadi sosok wanita yang lebih baik.


Nick menatap Litha yang kini berada tepat dibelakangnya. "Apa maksud semua ini?"


"Dita pernah suka sama Kak Raka," Litha pergi melewati Nick begitu saja.


"What?"


***


Setelah selesai dari rumah sakit, Litha langsung pulang ke rumah Raka untuk mengurus bayi gede tersebut. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan Litha selama lima hari ini, semenjak Litha menghajar Raka habis-habisan.


Langkah Litha berhenti melihat tiga orang yang asik bermain video game sambil bergelut ria dengan banyaknya cemilan didepan mereka.


Litha mencabut colokan listrik membuat tiga manusia itu baru menyadari kehadiran Litha yang sudah bersikedap didepan mereka.

__ADS_1


"Katanya kemarin masih sakit? Makan masih minta disuapi mulu karena tangan kanannya masih sakit kalau digerakin. Sakit dari mananya?" Litha menatap tajam tiga makhluk didepannya yang mematung.


Raka nyengir kuda. "Udah sembuh Tha. Besok aku masuk kerja,"


"Colokin lagi dong Tha kabelnya. Kita masih mau main, mumpung kita lagi pada free," Arkan sudah bersiap untuk memulai perangnya lagi melawan Raka dan Umran.


Tanpa banyak bicara Litha mencolokkan kabelnya lagi. Litha geleng-geleng kepala melihat Arkan yang masih mengenakan kaos khas TNI AD, pasti manusia itu habis tugas, selesai tugas langsung capcuss ke sini.


"Aunty..." Suara anak kecil berusia tiga tahun berlari ke arah Litha dan langsung memeluknya.


Litha berjongkok agar dapat mensejajarkan dirinya dengan bocah gembul tersebut. "Hai ganteng, apa kabar?"


"Baik Aunty," ucap Pangeran yang intonasinya sedikit kurang jelas, maklum masih bocil. Yap, bocah yang akrab dipanggil Eran itu adalah buah hati Umran dan Sarah.


"Mimi kamu mana?" Tanya Litha.


"Itu," Pangeran menunjuk Sarah yang berjalan dari arah dapur dengan membawa beberapa makanan ringan untuk suami dan sahabatnya. Wkwk berasa rumah sendiri ya Mi? Padahal doi tamu.


Sarah memeluk adik iparnya, sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti dahulu. Banyak perubahan dalam diri Sarah sejak mempunyai anak, kini penampilannya lebih terlihat feminim dan dia bahkan rela meninggalkan sifat bar-barnya demi suami dan anaknya.


Litha merasakan jika Sarah bukan lagi sahabatnya, Sarah lebih mirip seperti seorang kakak bagi Litha. Entah apa yang diperbuat Umran kepada Sarah, hingga kini gadis bar-bar tersebut berubah seratus delapan puluh derajat.


"Sejak kapan kamu ada disini?" Tanya Litha membuat Sarah mengernyitkan keningnya karena Litha tidak menanggapi pertanyaannya tadi.


"Sejak tadi siang. Kebetulan Umran gak sibuk, aku ajak dia jenguk Raka, sekalian ngajakin Eran jalan-jalan," sahut Sarah.


Sejak ada Pangeran. Litha, Umran dan Sarah sepakat menggunakan bahasa aku kamu agar bocah kecil tersebut tidak berpikiran aneh-aneh tentang hubungan persaudaraan Pipinya dan Aunty nya yang lebih seperti hubungan pertemanan. Atau kebalik? The Perfect itu teman rasa saudara yang bisa berubah menjadi teman rasa lawan, karena keseringan saling mengejek.


"Aku mandi dulu ya Sar," Litha melangkah ke lantai dua dimana kamar Raka berada. Sudah biasa jika Litha numpang mandi dikamar Raka, biasanya setelah bersih-bersih Litha akan menemani hari-hari Raka yang tidak melakukan aktivitas apapun karena tangannya masih sakit.


Interaksi dua wanita itu tidak terlepas dari pandangan Raka. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Litha, tidak biasanya Litha banyak diamnya.


Raka bangkit dari duduknya meninggalkan game nya begitu saja.


"Kenapa dia?" Tanya Raka kepada Sarah yang mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Kayaknya lagi ada masalah. Coba lo samperin gih!" Suruh Sarah.


**Kamar__


Raka melihat pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, itu artinya Litha belum membersihkan dirinya. Pandangan Raka beralih ke arah balkon, dimana terdapat sosok bayangan wanita di luar sana.


Litha melihat tangan besar yang melingkar diperutnya. Gadis itu mengusap wajah Raka yang bersandar dipundaknya.


"Ada masalah di rumah sakit?" Tanya Raka berada di mode lembutnya.


"Gimana kalo Dita kembali di kehidupan kita?" Litha membalikkan tubuhnya, melihat Raka yang menatapnya penuh selidik.


"Kenapa kamu tiba-tiba bahas dia?" Wajah Raka datar begitupun dengan suaranya yang tidak selembut diawal.


"Aku udah maafin dia. Aku harap kamu juga udah memaafkan dia sepenuh hati," Litha melihat arah pemandangan perumahan mewah disekitar kediaman keluarga Adelard.


"Aku kurang suka kalo kamu bahas dia," Raka juga melihat lurus ke depan balkon.


Litha tersenyum menatap orang disampingnya. "Kamu tau bedanya kurang suka dengan gak suka?"


Raka menoleh, dia tahu kemana arah pembicaraan Litha selanjutnya. "Aku gak mau bahas itu,",


Litha tertawa renyah mendengar jawaban Raka. "Kurang suka, dalam waktu singkat perlahan perasaan itu akan luluh menerima sesuatu yang kurang ia sukai. Tapi kalau gak suka, sampai kapan pun dia akan tetap menolak suatu hal yang ia benci. Tapi terkadang anehnya rasa gak suka itu, bisa juga berubah jadi rasa suka, jika sang Maha Kuasa telah berkehendak,"


Raka hanya diam menyimak penuturan Litha.


"Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Aku percaya orang yang dulunya berperilaku buruk bisa berubah menjadi lebih baik kedepannya," tambah Litha.


"Kamu udah tahu Nick balik ke Indo dan akan menetap disini sama pacarnya?" Tanya Litha yang diangguki oleh Raka.


"Nick akan membangun perusahaan IT. Dan dia minta aku untuk nerima ceweknya kerja di rumah sakit," ujar Raka.


"Terus, kamu setuju kalo dia jadi Dokter di rumah sakit kamu?" Litha berharap jika jawabannya iya.


Raka mengangguk. Dia sudah berjanji agar memperkerjakan kekasih Nick di rumah sakit Utama, walaupun Raka belum mengetahui kemampuan kekasih dari sahabatnya itu. Tapi tak apa, Raka percaya dengan Nick dan kekasih Nick yang belum ia ketahui identitasnya.

__ADS_1


"Cewek itu Dita," ucap Litha membuat Raka menatapnya dengan ekspresi terkejutnya.


__ADS_2