
Sedangkan diluar apartemen Fani, sudah terjadi keributan antara Fandy dan Raka juga Umran yang mendapat kabar dari Mbok Inah, beserta para bawahannya masing-masing. Papa Baskara sudah membuat laporan kepada pihak yang berwajib, namun polisi belum datang juga.
Raka mendapat celah untuk masuk ke dalam apartemen saat Fandy sedang berkelahi dengan Umran. Raka dapat masuk dengan mudah karena Fani pernah memberitahu password apartemennya.
Dan untung saja Raka memiliki ingatan yang bagus. Meskipun dulu Raka tidak memperdulikan ocehan Fani tentang password nya tersebut, Raka masih mengingat jelas jika password nya adalah tanggal dimana Via dapat bertemu Raka untuk pertama kalinya di cafe The Perfect.
"Raka," senyuman lebar terukir di wajah cantik Fani yang sangat merindukan Raka setelah seminggu lebih tidak melihat wajah datar tersebut. Gadis itu seakan-akan terhipnotis oleh pesona Raka, bahkan ia melupakan dirinya yang telah menyekap nenek dari pemuda dihadapannya.
"Litha," ucap Raka melangkah mendekat kepada Litha yang menoleh ke belakang.
"I.. itu..." Langkah Raka terhenti, ia terkejut mendapati wajah Litha yang dipenuhi memar dan darah di sudut bibir serta hidungnya.
"Aku nggak papa," Litha tersenyum menutupi rasa sakitnya.
Melihat Raka yang lebih memperhatikan Litha, membuat Fani tersadar dari lamunannya lalu menggelengkan kepalanya.
Dengan gerakan cepat Fani menarik leher Litha. Ingin memberontak pun rasanya Litha tidak sanggup lagi karena tenaganya habis untuk melawan dua orang yang sudah terkapar di lantai itu.
"Jangan mendekat!" Ancam Fani tersenyum sinis melihat raut wajah Raka yang sangat khawatir.
Hati Fani sakit dan hancur melihat wajah Raka, raut wajah tersebut sudah mewakili betapa Raka sangat mencintai dan menyayangi Litha.
Fani mengusap pipi Litha menggunakan pecahan beling yang masih ia pegang dari tadi. "Gimana kalau seandainya wajah manis ini berubah jadi buruk rupa? Apa kamu masih mencintainya Raka?" Fani tersenyum getir, matanya menatap Raka, tiba-tiba air matanya sudah mengalir tanpa diperintah.
"Fani tolong jangan sakiti Litha," tatapan Raka fokus kepada Litha yang matanya melirik pecahan beling ditangan Fani.
__ADS_1
Air mata Fani semakin deras. Untuk pertama kalinya Raka memanggil namanya hanya demi memohon untuk keselamatan Litha. Hati Fani bertanya-tanya seberapa besar kah rasa sayang Raka untuk Litha? Apakah sebesar lautan, atau bahkan sebesar samudera? Atau mungkin melebihi semuanya yang ada di bumi sampai tidak dapat dibandingkan dengan apapun itu.
Suara langkah kaki terdengar, Umran masuk diikuti oleh Fandy dengan luka-luka di wajah serta tubuhnya yang semakin parah.
"Jangan mendekat!!!" Teriak Fani membuat Umran mundur satu langkah.
"Jangan coba-coba berani sentuh adek gue," tatapan Umran begitu tajam.
"Fan tolong jangan sakiti Litha, gue mohon," ucap Fandy menambah kesedihan Fani.
Fani mengeratkan rangkulannya pada leher Litha, "Kenapa semua perduli sama lo Tha? Gak ada satu pun diantara mereka yang ngerti perasaan gue Tha, sekalipun itu kakak gue sendiri," Fani menatap tajam kakaknya.
"Tapi gue gak yakin, kalo pacar lo dan kakak gue masih cinta sama cewek yang mukanya rusak karena beling ini," Fani tertawa menatap pecahan beling yang menempel di wajah manis Litha.
"Cinta yang tulus bukan tentang wajah yang cantik ataupun bentuk tubuh yang bagus," tutur Litha sambil mengangguk menatap Raka. Namun Raka malah menggelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban Litha membuat Fani semakin kesal, usahanya untuk menjadi model agar dapat menarik perhatian dari Raka ternyata sia-sia.
Litha menginjak kaki Fani dan menonjok perut Fani menggunakan sikunya. Fani yang refleks kesakitan langsung menggores pipi Litha menggunakan pecahan beling sekaligus mendorong tubuh Litha ke depan.
"Aaa...." Teriakan terdengar keras memenuhi isi ruangan, kemudian diikuti dengan teriakan dari tiga pemuda yang memanggil nama Litha secara bersamaan.
Raka langsung maju menangkap tubuh Litha yang sudah setengah sadar. Raka memeluknya, kepala gadis itu tersandar tepat di dada Raka, noda darah langsung mengenai pakaian Raka.
Fani menatap tangannya yang masih memegang pecahan beling yang terdapat noda cairan berwarna merah darah. Mulut Fani terbuka seraya menggelengkan kepalanya. Jujur Fani benar-benar tidak berniat akan melukai Litha dengan tangannya sendiri serta dengan banyaknya saksi mata dihadapannya.
__ADS_1
Awalnya Fani hanya ingin menggertak sambal saja. Melihat Raka yang sangat mengkhawatirkan Litha, Fani berencana menggunakan kesempatan itu untuk mengancam Raka, agar pemuda dingin itu mau menerima pertunangan mereka. Namun takdir berkata lain, rencananya yang belum ia mulai langsung digagalkan oleh Litha.
Raka merenggangkan pelukannya dan memegang pundak Litha. Pemuda itu tidak mampu menahan air matanya, hatinya sakit seakan-akan tersayat pisau yang begitu tajam saat melihat dengan jelas keadaan wajah gadis yang disayanginya mengeluarkan darah segar yang begitu banyak. Mungkin selain goresan di pipinya lumayan panjang, beling tersebut juga menusuk cukup dalam sampai darah segar terus mengalir.
"Litha kamu masih sadar? Kamu masih bisa denger suara aku kan?" Raka merasakan Litha sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri.
Litha tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Maaf Tha aku datang terlambat," Raka memegang pipi Litha yang terluka, membuat sang empu meringis merasakan sakit.
Raka menundukkan kepalanya di bahu Litha, ia menangis menumpahkan kesedihan dan penyesalannya yang datang terlambat.
"Aw..." Litha merasa nyeri dipundaknya. Raka mendongakkan kepalanya kala mendengar rintihan sakit dari suara tersebut.
"Ini kenapa?" Bukannya mendapat jawaban, Litha langsung pingsan dalam pelukan Raka.
Fandy mendekati adiknya yang masih terbengong entah menatap apa? "Apa yang lo lakuin?"
"Mm... maaf Kak, gg.. gue gak sengaja," tubuh Fani gemetar ketakutan.
"Udah gak usah dipikirin, kita pergi sekarang!" Fandy membuang pecahan beling ditangan adiknya dan menarik tangan Fani.
Mereka akan kabur selagi keadaan masih aman karena Raka, Oma dan Umran masih dengan penyesalannya melihat keadaan Litha yang sudah tidak sadarkan diri.
"Berhenti..! Jangan bergerak!" Polisi berdatangan mengepung pintu apartemen sambil mengarahkan pistol ke arah Fani dan Fandy. Sedangkan beberapa polisi lain menyeret orang-orang bawahan Fandy yang sudah terkapar semua di lantai.
__ADS_1
"Ck... Sial," umpat Fandy kesal. Dilihat dari posisi mereka yang kini berada diambang pintu, mereka nyaris lolos tapi polis sudah ada didepan mata.
Keduanya mengangkat tangan. Mereka berdua tidak dapat bergerak apa lagi melakukan perlawanan, yaa mengingat pistol yang diarahkan tepat di muka Fandy dan Fani. Seandainya polisi terlambat datang satu detik saja, mungkin Fandy dan Fani masih bisa menyelamatkan diri dengan berbagai usaha liciknya.