Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sepupu Fandy


__ADS_3

**XII MIPA 1__


Tok... Tok...


Leon mengetuk pintu yang terbuka.


Semua yang berada dalam ruangan tersebut menoleh ke sumber suara. "Ada apa?" tanya guru yang sedang mengajar di kelas Raka.


Leon mengatur nafasnya terlebih dahulu, terlihat jelas jika nafasnya tidak beraturan, mungkin karena dia lari dengan kecepatan maksimum.


"Sebelumnya maaf telah mengganggu jam pelajaran ibu dan teman-teman sekalian," ucap Leon sopan. Ibu guru yang sedang mengajar menganggukkan kepalanya dengan seulas senyuman.


"Saya ada perlu dengan Raka Bu," sambung Leon yang masih berada diambang pintu.


Untung saja tadi Leon sempat izin ke toilet dan saat dia mengecek ponselnya, ternyata manusia ceroboh mengirimkan chat ke grup WhatsApp The Perfect. Namun Leon tidak percaya dengan chat yang dikirim oleh Arkan, yang memberitahukan bahwa Litha dalam bahaya. Arkan juga menyuruh siapapun yang melihat chat darinya, untuk membawa Litha pergi dari gedung sekolahan.


Lalu Leon menghubungi Arkan untuk meminta penjelasan lebih rinci. Dan berikutnya mau tidak mau Arkan menjelaskan semuanya secara detail.


***


"Ada apa?" tanya Raka setelah keluar dari kelas.


"Litha dalam bahaya," sahutnya.


"Jangan main-main!" ujar Raka dengan nada yang masih datar dan pandangannya lurus ke depan, menatap arah lapangan.


"Gue serius," Leon meyakinkan.


"Ceritanya panjang. Kalau cerita dulu, nanti Litha keburu kenapa-kenapa," Leon menjeda ucapannya.


"Fandy," tambah Leon yang sukses membuat Raka menoleh ke arahnya.


Raka berjalan cepat melewati lorong-lorong kelas sembari menghubungi Litha. Leon mengikutinya dari belakang, dia sendiri juga cemas.


"Mereka akan beraksi setelah pulang sekolah," tutur Leon yang tidak digubris oleh Raka.


Raka melihat arloji yang ada ditangannya, bel istirahat akan berbunyi 2 menit lagi untuk murid kelas 10. Sebentar lagi, itu artinya Raka hanya mempunyai durasi 2 menit untuk sampai tepat di depan kelas Litha.


Kring...


Bel berbunyi nyaring, tetapi Raka masih berada dilantai dua. Raka berlari sekencang mungkin, diikuti oleh Leon.


Pandangan Danil tak sengaja menangkap Raka dan Leon yang sedang berlari dengan sangat cepat. Danil sudah dapat menebak, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Ditambah dengan Arkan yang sedari tadi tidak kembali lagi ke kelas setelah izin ke toilet. Apakah ini ada hubungannya dengan Arkan?


Lalu Danil memberi isyarat kepada Jordy untuk izin keluar dari kelas, dan selanjutnya mengikuti Raka dan Leon yang sepertinya menuju lantai bawah.


"Aaggghhh..." begitulah suara yang keluar dari bibir Raka saat mendapati kelas Litha yang sudah kosong. Raka menonjok pintu kelas tersebut dengan amat keras, sampai membuat Leon berdegit ngeri.


"Ada apa?" tanya Danil.


"Ada Fandy yang lagi ngincer Litha," jawab Leon..


Raka menghubungi Litha lagi. Kali ini bukan hanya tidak diangkat, tapi sekarang handphone Litha malah mati.


"Terus Litha nya sekarang ada dimana?" tanya Jordy.


"Itu dia masalahnya, kita nggak tau," Leon mencoba menghubungi Fika, siapa tahu pacarnya itu tahu keberadaan Litha.


"Gimana?" tanya Raka setelah Leon memutuskan panggilannya dengan Fika.


"Fika pulang duluan. Katanya tadi Litha sama Sarah," jawab Leon.


***

__ADS_1


"Serius lo mau ke sana?" tanya Sarah sambil mensejajarkan langkah kakinya dengan Litha.


"Lo masih ragu?" Litha balik bertanya.


"Ya rasanya aneh aja gitu. Masak kak Raka ngajak ketemu di ruang ganti pakaian sih? Apa lagi itu ruang ganti khusus buat anak basket. Itu kayak bukan dia Tha," ujar Sarah.


"Ya bisa aja kak Raka abis main basket kan?" sahut Litha.


"Tapi sekarang dia itu kelas 12, dia bukan anggota tim inti basket lagi," ucap Sarah yang masih sangat ragu jika orang yang tadi mengirim chat ke Litha adalah Raka. Yah mengingat ruang ganti pakaian itu hanya dikhususkan untuk anggota tim inti basket beserta cadangannya saja.


Tepat setelah bel berbunyi, Litha mengecek ponselnya dan banyak sekali panggilan dari Raka dan Arkan yang tidak terjawab.


Lalu tak lama kemudian Litha mendapat chat dari nomor yang tak dikenalnya. Orang tersebut mengirim pesan jika dia adalah Raka yang meminjam handphone milik teman sekelasnya, karena handphone Raka kehabisan baterai dan akhirnya mati.


Dia meminta Litha untuk menemuinya di ruang ganti pakaian anak basket dan menyuruh Litha untuk mematikan handphonenya. Karena percuma saja jika dihidupkan, toh juga handphone Raka lowbat. Begitu isi chat dari orang yang mengaku sebagai Raka. Dan tanpa adanya rasa curiga, Litha memenuhi permintaan orang tersebut.


Sarah? Ponselnya masih ada didalam tas, tidak ada niatan sedikit pun untuk sekedar mengecek ponselnya.


Disinilah Litha dan Sarah sekarang, didepan tempat yang mereka tuju. "Gue nunggu didepan sini aja ya," ucap Sarah.


"Kenapa? Sekalian masuk aja! Katanya takut kalau yang ada didalam bukan kak Raka, terus nanti kalau gue kenapa-kenapa," jelas Litha.


"Justru itu gue diluar aja, nanti kalo lo kenapa-kenapa gue bisa cepet lari dan nyari bantuan," jawab Sarah.


"Nanti kalau lo kenapa-kenapa lo teriak yang keras ya, biar kuping gue bisa denger," sambung Sarah.


"Kalo inget," sahut Litha dengan santainya. Gadis itu tidak tahu saja, jika ada predator yang sudah menunggu mangsanya, yang mengincar dan siap melahapnya.


**Rumah Sakit__


Sedangkan di rumah sakit, Arkan mondar-mandir menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan gadis yang sampai saat ini Arkan belum mengetahui namanya.


"Dok bagaimana keadaannya?" tanya Arkan setelah dokter tersebut keluar.


Tadi saat di mobil, setelah gadis tersebut menyebutkan nama Fandy dan juga menjawab pertanyaan Arkan dengan anggukan kepala, gadis tersebut tak sadarkan diri lagi. Alias pingsan, mungkin saking lemes kali ya dan tenaganya yang hanya tersisa sedikit udah dipakai buat bicara.


"Bagaimana dengan luka di kakinya Dok?" tanya Arkan. Jujur, tadi dokternya juga udah mau jelasin tentang luka yang ada di pasiennya, tapi Arkan udah nanya dulu. Asli, gak sabaran banget sih Arkan ganteng.


"Saya sudah memberikan obat agar darahnya tidak terus-menerus keluar, sebaiknya perbannya diganti jika sudah 1 kali 24 jam," jelasnya.


"Baik Dok, terimakasih," ucap Arkan.


"Ee... Apakah pasien sudah boleh pulang atau harus dirawat inap Dok?" tanya Arkan.


"Pasien boleh pulang jika infusnya nanti sudah habis," jelasnya.


***


"Gimana Litha?" tanya gadis tersebut ketika Arkan masuk ke ruang rawatnya.


"Belom tau," jawab Arkan lalu duduk di kursi samping ranjang.


"Baru sadar, udah nanyain keadaan orang lain. Lo tau nggak? Lo itu hampir bikin gue jantungan," ucap Arkan sedikit ngegas.


"Jantungan?" Gadis itu tersenyum meremehkan.


"Ya iya lah... Tiba-tiba ada cewek mukanya pucet, jalannya pincang, ada darah dikaus kakinya, terus gak lama kemudian malah pingsan. Pingsannya mendadak gitu lagi, gak bilang-bilang dulu juga," ujar Arkan absurd. Ya kali ada orang pingsan harus bilang dulu.


Gadis tersebut tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Sejenak Arkan terpaku melihat senyuman manis gadis tersebut, iya dia cantik. Tapi sesegera mungkin Arkan menyadarkan dirinya sendiri.


"Sebenarnya lo siapa? Kenapa lo bisa kenal Fandy?" tanya Arkan.


"Gue Sekar temen satu kelas Leon, tapi mungkin Leon gak kenal sama gue. Gue kakak sepupunya Fandy," jelasnya.

__ADS_1


"Sepupu?" Sekar mengangguk. Tidak, itu bukanlah pertanyaan, Arkan hanya terkejut saja.


"Terus kenapa lo bisa ada di kelas Raka waktu itu? Gue kira lo anak kelas 12," tutur Leon.


"Nemenin temen yang lagi menjalankan tugas sebagai pengurus OSIS," jawabnya.


"Tugas apa?" tanya Arkan.


"Ada lah... Ternyata Arkan yang salah satu member The Perfect yang terkenal dengan sifat cool nya, tukang kepo juga ya?" gurau Sekar.


Arkan tersenyum, lalu entah dari mana datangnya tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas dipikirannya. "Lo sepupunya Fandy, tapi kenapa lo gak berada di pihak Fandy?"


"Gue gak suka kejahatan," jawab Sekar.


"Dan untung aja gue ketemu elo. Semoga Litha baik-baik aja," sambungnya.


"Kenapa lo perduli sama Litha?" Arkan penasaran.


"Menurut gue keperdulian gue masih dalam batas normal. Walaupun gue gak kenal deket sama Litha, tapi gue yakin dia orang baik. Gue gak rela kalo Fandy melakukan hal yang merugikan untuk masa depan Litha, orang yang gak tau apa-apa tentang kematian Fani. Litha nggak salah apa-apa!" jelas Sekar.


Tanpa disadari oleh empunya, air mata Sekar mengalir membasahi pipinya. Tentu saja hal tersebut membuat Arkan bingung, Arkan masih mencerna setiap kata yang keluar dari bibir gadis tersebut.


"Merugikan untuk masa depan Litha? Apa itu rencana Fandy?" Sepertinya Arkan butuh penjelasan dari kalimat tersebut.


Sekar mengangguk, "Itu rencana Fandy," ucapannya.


"Fandy pernah jatuh cinta sama Litha. Tapi Litha cuma nganggep Fandy sebagai kakak dan sahabatnya aja," Sekar memulai ceritanya.


Sekar baru mengetahui hal tersebut saat dirinya dimintai tolong oleh Fandy untuk melancarkan rencana licik Fandy. Mengingat Fandy yang sebelumnya tidak pernah menceritakan perasaannya kepada siapapun.


Jadi begitu ceritanya? Arkan pernah mendengar cerita dari Raka, jika Litha dan Fandy pernah berteman saat dulu mengikuti latihan tinju. Tapi Arkan baru mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Fandy yang mencintai Litha.


"Dan Fandy juga benci sama Raka dan kakaknya Litha, karena kematian Fani dulu," Sekar menyeka air matanya.


Dia sangat dekat dengan Fani, jujur saat ini Sekar sangat merindukan Fani, tapi apa boleh buat? Fani sudah tiada di dunia ini, karena ulahnya sendiri atau mungkin memang begitulah takdir yang sudah digariskan untuk Fani.


"Iya gue tau tentang itu," sahut Arkan.


"Fandy akan balas dendam ke Raka dan Umran bukan secara fisik. Tapi Fandy akan nyerang mental mereka, dengan menyangkut pautkan Litha. Dengan begitu, batin mereka berdua akan tersiksa dan Litha akan jadi milik Fandy seutuhnya," jelasnya panjang lebar.


Namun penjelasannya terlalu ambigu bagi Arkan. Tak lama kemudian Arkan mampu memahami maksud dari penjelasan Sekar.


"Apa Fandy akann..." tebak Arkan. Sekar mengangguk, dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Arkan.


"Udah, lo jangan sedih lagi!" tutur Arkan lembut. Niat hati mau mengusap air mata Sekar, tapi gak enak juga. Alhasil Arkan cuma bisa mengeluarkan kata-kata tersebut. Inget! Arkan bukan siapa-siapa Sekar.


"Gue juga perempuan, gue gak terima kalo ada cowok yang punya niat jahat untuk ngehancurin hal yang paling berharga bagi perempuan. Tapi gue gak bisa apa-apa buat nolongin Litha," jelasnya dengan menyeka air matanya.


"Lo udah cukup membantu Kar. Informasi dari lo itu udah cukup buat Raka," ujar Arkan.


Tunggu! Arkan baru menyadari bahwa leher Sekar terdapat bekas kemerahan-merahan. Apakah itu yang membuat suara Sekar serak dan seperti sulit untuk berbicara saat berada di mobil tadi?


"Apa Fandy juga, yang udah buat lo jadi kayak gini?" tebak Arkan.


Mati-matian Arkan berusaha untuk tidak menanyakan hal tersebut, kenyataannya Arkan tetap saja ingin mendapatkan jawabannya. Tapi rasanya mana mungkin ada seseorang yang tega membuat sepupunya sendiri terluka macam ini? Yaps ada, jika orang tersebut memang sudah tidak waras macam Fandy.


Flashback On


Flashback nya kapan-kapan aja yah wkwk. Author mau capcusss ambil raport nih😝


Happy Holidays🥳


Selamat liburan akhir semester dan akhir tahun❤️

__ADS_1


__ADS_2