
Leon tersenyum lebar dan menatap Arkan, lalu merubah senyumannya menjadi senyum devil. Arkan yang ditatap oleh Leon, merasa nantinya ada sesuatu yang akan membuat dirinya tidak menyukai perbuatan Leon.
Benar saja tebakan Arkan, Leon mencoba memasukkan rumput yang dikantongi nya tadi ke dalam mulut Arkan. Salah juga tadi Arkan sok-sokan nantangin Leon.
"Nih... gue sumpel beneran mulut lu pake rumput," ucap Leon sambil memaksa Arkan untuk membuka mulutnya. Jika kalian menebak Leon adalah pemenangnya, maka tebakan kalian benar.
Hahaha kasihan banget sama Arkan ganteng, mulutnya dipenuhi sama makanan yang seharusnya dimakan sama si pemilik suara yang sangat khas. Si mouhhh dan si embek, tiada lain dan tiada bukan ialah si sapi dan si kambing.
Byuhhh...
Dengan segera Arkan memuntahkan rumput yang sudah setengah masuk ke dalam mulutnya. Leon tersenyum puas, Raka masih tersenyum tipis dengan tingkah konyol kedua sahabatnya itu.
"Akhhh... Sialan lo," kesal Arkan sama si kutu kupr*t Leon, teman terkampr*t yang pernah dimiliki Arkan, untung cuman satu doang.
Jangan ditanya Jordy dan Danil tertawa sejadi-jadinya, mungkin kedepannya mereka akan menggunakan kejadian konyol tadi sebagai bahan ejekan untuk Arkan tentunya.
Seorang Arkan Wirata Pratama, anak dari jendral TNI kaya raya pernah nyaris memakan rumput yang seharusnya itu adalah makanan untuk binatang berkaki empat bernama sapi dan kambing. Whahaha... Kocak sekali bukan?
"Udah puas nyuapin tu bocah ceroboh?" tanya Raka pada Leon yang tadi memaksa Arkan untuk membuka mulutnya.
"Gue udah remaja bukan bocah," ketus Arkan tak terima dibilang bocah oleh Raka.
"Kok ceroboh sih? Masih inget sama nama aslinya kan?" tanya Litha pada Raka, yang sejujurnya itu bukanlah sebuah pertanyaan.
Raka menoleh ke samping melihat wajah cantik milik kekasihnya. Raka masih terdiam, lalu Litha menaikkan salah satu alisnya. Pertanda jika Litha meminta jawaban dari Raka, yang semoga saja sesuai dengan harapan Litha.
"Iya. Lain kali nggak lagi," jawab Raka.
"Janji?" tanya Litha lagi, Litha tahu Raka itu pemuda tampan yang selalu memegang perkataannya.
"Janji," jawab Raka singkat.
"Kalau gitu, ulangin ucapannya yang tadi!" suruh Litha.
Untung aja itu Litha, kalau bukan mungkin udah di banting sama Raka. Jujur Raka itu antara kesal dan gemas dengan Litha, Raka jadi gemas sendiri melihat tingkah gadis kecilnya yang menurutnya aneh. Kesal karena Litha menyuruh yang aneh-aneh, padahal itu hanya perasaan Raka.
__ADS_1
Raka ganteng, aneh dari mananya coba? Itu permintaan yang gampang banget lhoh... Cuman disuruh ngulangin ucapannya dengan memperbaiki kata yang sekiranya kurang baik untuk didengar.
Disisi lain kini Jordy, Danil, Arkan, dan Leon bersusah payah untuk menahan tawanya. Mereka yakin saat ini Raka sangat jengkel dengan Litha, tetapi pasti Raka akan tetap melakukan apa yang disuruh oleh Litha.
Ya kalau Raka nolak sih mungkin bisa tujuh hari tujuh malam Raka uring-uringan, karena sudah dijamin oleh keempat cogan-cogan itu kalau Litha bakalan ngambek selama itu. Walaupun cuman masalah kecil dan sepele doang, tetapi bisa besar kalau masalahnya menyangkut pihak yang namanya perempuan.
Raka menghelai nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum mengucapkan kalimat yang diinginkan oleh kekasih tersayangnya.
"Leonnn... ud.." ucap Raka terpotong karena Leon.
"Iya Rakaaa... Kenapa manggil nama Leon? Biasanya juga manggil kampr*t," selah Leon sengaja ingin bermain-main dengan Raka.
Leon masih teringat bahwa Raka pernah menyebutnya kampr*t, saat di cafe The Perfect milik Jordy. Hal tersebut dikarenakan Leon mengambil handphone Raka secara paksa.
Ya meski sejujurnya Leon masih ingat betul kalau Raka memanggilnya dengan sebutan kadal. Kan kalau manggil playboy cap kadal kepanjangan, so Raka memilih yang singkat aja, kadal. Tapi kembali lagi ke awal, Leon itu pengen ngerjain Raka. Mumpung ada kesempatan, kapan lagi coba bisa ngerjain big bosss nya sendiri wkwk...
Raka menatap tajam ke arah Leon yang dibalas Leon dengan cengiran tanpa rasa berdosa. Kini Leon bukan hanya teman terkampr*t bagi Arkan, namun juga teman terkampr*t untuk Raka.
Yahh.. kayaknya rencana Leon buat ngerjain Raka gatol, alias gagal total. Kelihatan kalau Litha masih anteng-anteng aja gak mau ngomong buat sekedar nasehatin Raka atau nyuruh-nyuruh Raka lagi, Litha masih terdiam dalam pandangan yang masih terhalang oleh tangan Raka.
Litha tu bodoamat dengan penuturan Leon. Litha berpikir pasti itu karena ulah Leon juga, sehingga membuat beruang kutub yang dingin menjadi sedikit ganas. He he author lebay...
Karena sekarang memang Raka sengaja tersenyum untuk mengejek Leon. Raka tau rencana Leon yang nyaris berhasil ingin membuat Raka mati kutu dihadapan para sahabatnya hanya karena seorang gadis kecil, cantik nan imut?
Jika rencana Leon berhasil itu akan membuat Raka terlihat lemah dihadapan para sahabatnya. Begitulah cinta, terkadang membuat seseorang menjadi kuat, tapi terkadang juga membuat seseorang menjadi lemah.
"Udah puas nyuapin Arkan?" Raka mengulang kembali pertanyaannya kepada Leon.
"Udah puas buanget dong," jawab Leon lebay.
"Pake baju lo!" suruh Raka ketus untuk Leon tentunya.
Leon hanya nyengir tanpa rasa bersalah lalu dengan segera memakai seragamnya. Sedangkan Litha masih mengagumi sosok manusia tampan disebelahnya, siapa lagi kalau bukan Raka
Setelah Leon selesai memakai seragamnya, Raka menurunkan tangannya. Mengingat sedari tadi tangan Raka menjadi tembok dadakan untuk penghalang pemandangan tepat di depan Litha. Disaat itu juga Litha tersadar dari lamunannya dan untung saja Litha mengingat kembali, tentang tujuan utamanya datang ke basecamp ini.
__ADS_1
"Sorry tadi gue gak ketok pintu dulu," ucap Litha meminta maaf kepada The Perfect.
"Iya tapi lain kali jang..." baru saja Leon mau ngomong tapi udah dipotong sama Raka. Kayaknya Leon mau ngomel dikit tuh...
"Gak masalah. Lo bebas masuk ke sini," ucap Raka kepada Litha.
"Duduk dulu!" ajak Raka sambil menarik tangan Litha.
Tetapi Litha menepis tangan Raka lalu berkata, "Nggak," ucap Litha singkat.
Raka sudah merasa sepertinya ada yang salah pada dirinya, sehingga membuat Litha menjadi aneh begitu. Sedangkan sahabat-sahabat Raka masih setia untuk menyimak, mereka tidak mau ikut campur dulu dengan urusan antara big bosss nya dan gadis cantik itu.
"Kenapa tadi gak nelfon dulu?" tanya Raka pada Litha.
"Nih..." jawab Litha dengan menunjukkan bukti lewat handphonenya, bahwa sedari tadi Litha telah menghubungi nomor yang tertera nama Beruang Kutub 🐨 di kontak nya.
Raka meraba saku bajunya dan celananya, tetapi tidak ada sesuatu yang mengganjal di dalam sakunya. Raka menoleh ke samping melihat meja yang berada di depan sofa yang didudukinya tadi, tetapi hanya terdapat laptop dan tablet nya saja.
Raka terdiam sejenak seperti sedang mengingat-ngingat sesuatu. Dan benar saja sepertinya Raka lupa membawa handphone miliknya.
"Ketinggalan di kelas," celetuk Raka.
"Tadi gue ke kelas lo, tapi ada yang bilang lo udah gak ngehuni kelas itu lagi," ungkap Litha.
"Wha.. ha.. ha ngehuni? Kayak set*n aja bahasanya penghuni," gurau Jordy yang langsung disambut tatapan tajam dari keempat sahabatnya, termasuk Raka pastinya. Karena ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda atau bergurau.
"Eh bule gosong... penghuni itu bukan cuman buat set*n doang. Emang lo gak pernah dengar kalimat penghuni surga atau rumah?" ujar Arkan.
"Kalau gue gosong, elo angus dong," ledek Jordy teruntuk Arkan.
Yap Jordy sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan dari Arkan, yang berniat untuk membenarkan penuturan dirinya tadi, yang sempat ada kekeliruan tentang lanjutan yang pas untuk kata penghuni.
Semuanya tertawa, ralat hampir semua. Karena Raka dan Litha tetap memasang ekspresi datar, kalau Raka emang udah dari sononya begitu. Tapi kalau Litha, dia masih dengan kesalnya pada Raka.
"Jadi?" tanya Litha yang sukses membuat pemuda tinggi di depannya ini kebingungan.
__ADS_1
"Jadi apa?" tanya Raka yang juga sukses membuat gadis di depannya ini semakin kesal saja.
"Ya yang tadi. Lo pindah sekolah? Kenapa? Gak nyaman sekolah disini karena fasilitas dan tempatnya jelek gitu?" tanya Litha beruntun.