
**Basecamp The Perfect__
Litha sedang berada di depan pintu basecamp The Perfect, dengan harapan dia akan bertemu sosok manusia yang gantengnya gak manusiawi, siapa lagi kalau bukan Raka.
Litha sejujurnya ragu untuk masuk ke dalam ruangan dengan casing yang mirip gudang, sedangkan isinya seperti hotel bintang lima. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, tetapi Litha lumayan gugup untuk masuk ke basecamp The Perfect.
Oke jika Litha ingin mengetahui tentang kejadian tadi saat di depan kelas Dita, Litha harus masuk ke dalam ruangan itu. Karena sampai sekarang pun Raka belum menghubungi Litha. Ditambah lagi Litha yang belum mempunyai nomor dari sahabat kekasihnya.
Tidak ada niatan Litha untuk mengetok pintu atau permisi dengan pemilik hak ruangan itu, meskipun sebenarnya Litha juga berhak atas ruangan itu. Secara Litha kan anak dari ibu Larissa, pemilik SMA Nagara ini yang terkenal paling elit dan terfavorit di kota ini. Litha membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan.
Krekkk...
Setelah terbuka lebar Litha dikejutkan oleh kejadian yang tidak menyenangkan bagi mata indah milik Litha. Semua yang berada di dalam basecamp The Perfect menatap ke arah sumber suara pintu terbuka tadi.
Awalnya semua santai dengan kesibukannya masing-masing, Raka duduk santai sambil membaca buku tentang pengetahuan umum. Jordy dan Arkan berperang dalam kehidupan video game bersama, Danil asik memainkan piano. Selain ada biliard, di basecamp The Perfect juga tersedia alat musik seperti gitar dan piano.
Sedangkan Leon yang tadi dari taman sekolah, dia berdiri tepat dibawah AC. Dia merasa kepanasan dan sangat gerah, meskipun sudah ada AC tetap saja Leon merasa gerah.
Bahkan tadi Leon dan Jordy sempat berdebat karena Jordy merasa AC nya terlalu dingin, tapi tidak bagi Leon yang habis berjemur dibawah teriknya sinar matahari. Tetap saja Leon yang menang karena Leon yang mengantongi remot AC nya.
Yups Arkan, Jordy, Danil, terkejut dengan kehadiran Litha. Dan Leon yang masih setia berdiri dibawah AC pun menoleh ke arah Litha, Leon tak kalah terkejutnya dengan ketiga sahabatnya. Raka sama halnya dengan para sahabatnya yang menatap Litha sangat amat terkejut, bahkan Raka lebih terkejut dari pada keempat sahabatnya.
"Astaga..." gumam Litha yang terdengar oleh telinga milik cogan-cogan tersebut. Litha juga tak kalah terkejutnya dengan kelima cogan tersebut.
Tadi yang awalnya santui banget, dengan segera Raka beranjak dari tempat duduknya menghampiri kekasihnya. Raka menutupi mata Litha dengan tangannya, tangannya tidak menghalanginya seluruh pemandangan yang dilihat Litha.
Yups tangan Raka tidak menempel dengan pelupuk mata Litha, hanya tepat berada di depan mata Litha. Tujuannya? Hanya untuk menjadi tembok penghalang pemandangan mata Litha bagian depan saja. Pasalnya tadi Litha sempat melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dilihatnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak pantas? Itu Leon lagi telanjang dada, dia cuman pakai boxer doang, baju dan celana seragam sekolahnya dihempaskan gak tau deh kemana?
Refleks dong Leon langsung menutup bagian organ kemalu*nnya dengan kedua tangannya, tapi sungguh itu sangat konyol.
Bukannya matanya Litha udah di tutupin sama tangannya Raka? Bukannya Leon juga masih pakai celana? Ya walaupun celana pendek sih, tapi kan bagian kemalu*nnya gak kelihatan. Otomatis tangan yang digunakan untuk menutupi bagian organnya tadi gak guna dong.
Dasar Leon absurd banget!!! Bukannya gercep pakai seragam sekolahnya, malah tangannya menutupi bagian yang seharusnya tidak usah ditutupi. Mungkin kedepannya itu adalah julukan yang cocok untuk Leon, mengingat Leon sudah tobat dan meninggalkan dunia keplayboyan nya.
Sedangkan kini mata Raka tak henti-hentinya menatap tajam ke arah Leon. Litha yang pandangannya dihalangi oleh tangan Raka, merasa antara bahagia dan kagum. Dengan Raka melakukan sesuatu yang terlihat sangat sepele ini saja, itu sudah menambah rasa cinta Litha pada Raka. Terkadang suatu perlakuan dari laki-laki yang terlihat sepele itu sangat berharga bagi seorang perempuan.
Bahkan saat ini saja Litha melupakan tujuan utamanya untuk datang ke basecamp ini. Dia malah lagi senyum-senyum sendiri melihat wajah Raka yang begitu menawan menurut Litha. Akhh... Litha benar-benar terhipnotis oleh perlakuan dari pemuda tinggi itu, di dukung pula oleh ketampanannya yang gak manusiawi.
"Cepet pake baju lo!" perintah Raka tegas.
"Oh iya hehehe... Sorry ya Tha," sahut Leon cengengesan dan meminta maaf kepada Litha.
"Iye bos sabar, ini juga lagi nyari baju ma celananya," ujar Leon sambil mencari keberadaan seragamnya. Leon yang sedang clingak-clinguk ke sana ke sini malah disambut oleh tawa pecah dari ketiga sahabatnya.
"Diem lu pada! Gue sumpel mulut lu satu-satu pake rumput langsung muntah-muntah, baru tau rasa lu," ujar Leon ngegas. Dan kini Leon sudah menemukan keberadaan seragam tersayangnya.
"Mana rumputnya?" tantang Arkan meremehkan.
"Nih..." jawab Leon yang sebelumnya telah merogoh kantong celana seragamnya, yang sekarang tengah dipegangnya.
Bagai seorang pesulap handal saja, ternyata ditangan Leon kini benar ada segumpal rumput. Arkan, Jordy, Danil bahkan Raka pun juga terkejut dengan rumput yang sekarang ada di tangan Leon.
Pasalnya mereka tahu walaupun sekonyol apa pun Leon, Leon tidak akan mungkin mengantongi bahkan menyimpan rumput disaku celananya. Bukankah itu seperti orang tidak waras? Masak nyimpen rumput disaku celana sih?
__ADS_1
Leon? Dia sangat amat terkejut melebihi keempat sahabatnya. Niat hati ingin bercanda, eh kok bisa ada rumput beneran sih? Jangan-jangan seorang Leon Leonard yang ganteng plus pintar nya gak kalah saing dengan Raka, ternyata bisa sulap? Atau sihir ya? Wahhh sangat keren sekali bukan? Begitulah yang ada dalam pikiran Leon.
Kelakuan dan pemikirannya pun juga sama, sama-sama absurd banget. Fix Leon memang pantas dijuluki raja absurd. Sepasang mata cogan-cogan tersebut sama-sama membulat, meraka antara percaya dan tidak percaya.
"Amazing," celetuk Jordy kagum.
"Itu rumput asli?" tanya Danil masih ragu.
Leon meraba rumput itu dan memang realitanya itu sebuah rumput asli. "Asli," jawab Leon kagum dengan dirinya sendiri.
"Gi*a... Lo nyimpen gituan buat apa?" tanya Jordy.
"Pasti buat nanti makan malam di rumah, soalnya kalo dimakan disini nanti takut ketahuan sama kita," gurau Arkan cekikikan ga jelas.
"Selera makanan lo oke juga," tambah Arkan mengejek Leon.
Lalu Arkan terkekeh setelah membayangkan ucapannya tadi, pikirannya malah ngelantur kemana-mana. Astaga Arkan sayang kok berkhayal nya udah kejauhan banget sih...
Begitu juga dengan Jordy dan Danil yang ikut-ikut ngakak seperti Arkan, Raka hanya tersenyum tipis saja. Sedangkan Litha tidak mengerti apa-apa, meskipun dia mendengar celotehan cogan-cogan tersebut. Tapi Litha tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan celotehan cogan-cogan tersebut terlalu ambigu menurut Litha.
Litha lebih memilih untuk memandangi wajah tampan Raka yang saat ini sedang tersenyum tipis. Kalau udah ganteng dari sononya mah mau masang ekspresi apa pun juga tetep ganteng. Ganteng kuadrat adalah gelar yang saat ini pantas untuk diterima oleh Raka Adelard Pangestu.
Leon tersenyum lebar dan menatap Arkan, lalu merubah senyumannya menjadi senyum devil. Arkan yang ditatap oleh Leon, merasa nantinya ada sesuatu yang membuat dirinya tidak menyukai perbuatan Leon.
Kok bisa ada rumput disaku celana milik Leon? Jangan-jangan Leon punya bakat terpendam? Leon beneran bisa sulap? wkwkwk tunggu jawabannya di next episodnya ya!!!
Salam Hangat dari Author untuk para readers tercinta 🥰
__ADS_1