
Litha dan kedua kawannya sedang asik berbincang di kelas sembari menunggu bel masuk berbunyi. Fika baru mengetahui tentang masalah Litha kemarin, karena Leon sama sekali tidak memberi kabar ke Fika tentang Litha.
"Si Dita diapain tuh sama kak Raka?" tanya Fika.
"Ga tau," jawab Litha acuh.
"Lhah kok ga tau sih?" tanya Fika penasaran.
"Ga dikasih tau kak Raka," jawabnya.
"Bukan gak dikasih tau, tapi elo yang gak nanya," ujar Sarah yang diangguki oleh Litha.
"Lhah.. kok lo gak kepo Sar? Apa lo udah tau?" tanya Fika yang emang penasaran banget. Yah mengingat Sarah yang biasanya paling kepo.
"Hehe iya. Mau gue ceritain?" tawar Sarah.
"Kok lo lebih tau dari pada gue?" Heran Litha.
"Gue nanya ke abang lo hehe," senyum Sarah .
"Napa lo senyum-senyum gitu? Heha hehe heha hehe? Jangan-jangan..." Ucap Litha menggantung, membuat Fika semakin tambah kepo saja.
"Jangan-jangan apa?" tanya Fika dengan raut wajah yang serius.
"Jangan-jangan... Kepo ya...?" usil Litha yang membuat Fika memanyunkan bibirnya.
**Rumah Sakit__
Malam ini Litha dan The Perfect menjenguk Sekar di rumah sakit. Awalnya hanya Arkan yang akan menjenguk, tetapi Litha ingin ikut, dia ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada Sekar.
Karena Litha ingin pergi bersama Raka, jadilah Raka ditarik oleh Litha, dan Raka menarik Jordy, lanjut Jordy menarik Danil, setelahnya Danil menarik Leon. Dan yah Leon menarik angin yang berhembusan saja wkwk...
"Hai Sekar," sapa Litha saat masuk ke ruangan yang digunakan Sekar.
"Hai..." balas Sekar dengan senyuman.
"Eh... Kak Sekar maksudnya," Litha meralat ucapannya, karena ia baru ingat kalau Sekar adalah kakak kelasnya di sekolah.
"Panggil Sekar aja!" pinta Sekar yang diangguki oleh Litha.
"Gimana udah baikan?" tanya Litha basa-basi dengan senyum manisnya, sungguh sangat imut sekali menurut Raka.
"Udah. Sebentar lagi katanya udah boleh pulang," balas Sekar dengan senyum manisnya juga.
"Syukur deh... Oh ya gue mau bilang makasih waktu itu secara nggak langsung lo udah nolongin gue. Makasih banyak ya," ungkap Litha membuat gadis yang sedang di infus itu mengangguk dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Dan maaf. Karena secara nggak langsung juga, gue yang udah buat lo jadi terbaring di ranjang rumah sakit ini," ucap Litha merasa bersalah.
"Nggak lah.. Ini bukan salah lo. Mungkin udah takdirnya kayak gini," senyum Sekar.
"Oh ya kata Arkan harusnya lo nggak dirawat inap, tapi kenapa malah..." ucap Litha terpotong.
"Iya waktu infus gue habis, harusnya gue udah pulang dari kemaren-kemaren. Tapi mendadak gue jadi demam gitu. Kata dokter gue sakit tifus," sela Sekar.
"Oh iya kita bawa buah," ujar Litha sembari mengambil parcel buah dari tangan Raka, tanpa meminta izin dari empunya.
__ADS_1
"Pake repot-repot segala sih.. Makasih ya," Sekar menerima keranjang buah tersebut.
Disaat dua gadis itu sedang asik berbincang-bincang dan berusaha mengakrabkan diri mereka, cowok-cowok ganteng itu malah saling menatap. Entah apa yang dipikirkan? Mungkin mereka mikirnya, cewek itu ada aja yang dibahas untuk jadi topik pembicaraan.
"Gimana keadaan Fandy?" celetuk Sekar, membuat semuanya sedikit tersentak.
"Udah mulai membaik," senyum Litha.
Sebelum menjenguk Sekar, mereka memang melihat bagaimana kondisi Fandy terlebih dahulu. Ralat bukan mereka, hanya Litha yang ditemani oleh Danil saja yang masuk ke dalam ruangan Fandy. Mengingat hanya Danil saja yang masih mau melihat wajah Fandy, Danil ikut masuk tuh buat jaga-jaga kalau Fandy sampai berbuat nekad lagi kepada Litha.
"Maafin sepupu gue ya!" mohon Sekar kepada semuanya.
"Gue belom bisa maafin dia," tegas Raka tanpa ekspresi. Begitu juga dengan Arkan, Jordy dan Leon yang berada dipihak Raka, terbukti dari ekspresi mereka bertiga yang tidak senang.
Litha tersenyum kikuk kepada Sekar, dia merasa tidak enak atas sikap Raka kepada Sekar. Lalu Litha menatap tajam ke arah mereka bertiga. "Kak..." panggil Litha yang memaksa agar Raka mau memaafkan Fandy.
"Udah nggak papa Tha, gue ngerti kok," tutur Sekar dengan memegang tangan Litha.
Litha tersenyum tulus kepada gadis yang masih terbaring ditempatnya, lalu menatap jengah ke arah mereka bertiga yang masih menyimpan dendam kepada Fandy. Litha tidak habis pikir, kenapa mereka suka sekali menyimpan dendam? Bukankah lebih baik menyimpan berlian saja?
"Sekar," panggil seseorang.
Semuanya melihat ke arah sumber suara, dilihatnya seorang wanita paruh baya bersama dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya, mungkin itu adalah kedua orang tua Sekar.
"Kalian teman-temannya Sekar?" tanya Mama Sekar dengan ramah.
"Iya Tant, kita temen satu sekolah," jawab Litha. Selanjutnya semuanya bersalaman mencium punggung tangan orang tua Sekar.
"Eh ada Nak Arkan lagi," sambung Mama Sekar saat mendapati sosok yang tak asing bagi wanita itu. Arkan membalasnya hanya dengan senyuman tampannya saja.
"Udah, nanti dokter kesini lagi buat meriksa kamu sebelum kamu pulang," ucap Papa Sekar.
"Tapi ada yang aneh. Waktu Papa mau bayar biaya perawatan kamu selama di rumah sakit ini, kata admin rumah sakit nya gratis," heran Papa Sekar.
"Gratis?" tanya Sekar pada dirinya sendiri.
"Terus Fandy gimana?" tanya Sekar.
Perihal Fandy, orang tua Sekar sudah mengetahuinya, tidak ada yang disembunyikan sama sekali. Dan keluarga Sekar sudah memaafkan Fandy, untung saja keluarga Sekar masih berbaik hati pada Fandy. Jika tidak, mungkin Fandy akan hidup menyendiri tanpa adanya keluarga.
"Nah itu, Fandy juga gratis," heran Mama Sekar.
"Iya Om, Tante. Emang sengaja digratisin sama anak pemilik rumah sakit ini," jelas Arkan.
"Lhoh... Bukannya owner dari rumah sakit ini, Pak Baskara Adelard?" tanya Papa Sekar. Memangnya siapa yang tidak mengetahui keluarga Adelard? Semuanya sangat familiar dengan nama pengusaha sukses itu.
"Iya itu termasuk pemiliknya Om. Tapi owner aslinya itu istrinya, Bu Kania Adelard," jelas Arkan yang terlihat sudah akrab dengan orang tuanya Sekar.
"Nih anaknya..." ucap Arkan dengan menepuk bahu Raka yang hanya tersenyum tipis, sebagai rasa hormat kepada orang yang lebih tua dari dirinya. Hanya tersenyum tipis dan senyumannya pun tak bertahan dalam waktu yang lama.
"Wahhh terimakasih ya. Tapi sebaiknya tidak perlu seperti ini, Om yakin pasti biaya perawatan Sekar dan Fandy itu tidaklah sedikit," ujar Papa Sekar merasa tidak enak.
"Tidak masalah Om, saya justru malah berterimakasih kepada Sekar. Dengan adanya informasi yang Arkan terima dari Sekar, saya dapat menyelamatkan Litha," jelas Raka yang tumben-tumbenan ngomong panjang lebar didepan banyak orang gini. Mungkin karena dari awal, Raka belum mengucapkan terimakasih kepada Sekar secara terus terang.
"Om dan Tante malah merasa bersalah atas perlakuan Fandy terhadap Litha. Maaf ya Tha..." ucap Mama Sekar yang terlihat sendu.
__ADS_1
"Litha udah maafin dia, jadi Tante gak usah merasa bersalah gitu," ucap Litha tulus, meski dia belum mau menyebutkan nama Fandy.
"Raka.. Litha.." panggil Sekar membuat yang dipanggil menoleh ke arahnya.
"Makasih ya," senyum Sekar.
Litha mengangguk dengan senyuman yang tak kalah tulus dari Sekar. Sedangkan Raka hanya mengangguk saja, tanpa adanya senyuman.
Litha tak sengaja melihat Arkan yang terus memandangi Sekar yang sedang tersenyum, dengan tatapan yang aneh menurut Litha. Yah Litha akui jika Sekar terlihat lebih tambah cantik saat tersenyum manis seperti itu.
***
Setelah drama antara Arkan dan Jordy, akhirnya Arkan ikut pulang bersama teman-temannya. Tadinya Arkan ingin mengantarkan Sekar pulang sampai ke rumahnya, tapi Jordy terus saja memaksa Arkan agar pulang bersamanya. Karena apa? Karena Jordy nebeng di mobil Arkan, rumah Jordy dan Arkan memang searah.
Mereka berenam pulang bersama, karena waktu yang sudah mulai larut malam. Sedangkan Sekar masih di ruang rawat inap nya bersama Mamanya, mereka berdua masih menunggu obat yang di tebus Papanya di apotek.
Di koridor rumah sakit, Litha yang menggandeng lengan Raka, tak henti-hentinya memandang ke arah Arkan yang sedang tersenyum-senyum seperti orang gila. Kalau boleh jujur, Litha agak ngeri sendiri ngelihat Arkan yang mirip orang kurang waras itu.
Sepertinya hanya Litha saja yang menyadari tingkah aneh Arkan. Dilihatnya mereka semua termasuk Raka, sibuk dengan ponselnya masing-masing. Kalau Jordy malah lagi live ig, Litha memutar bola matanya jengah, bisa-bisanya live ig di rumah sakit. Ya sudah biarkan saja, si bule itu kan emang selebgram.
"Sekar cantik yah?" celetuk Litha. Semua menoleh ke arah gadis cantik itu, kecuali Arkan yang masih setia dengan lamunannya dan senyumannya.
"Bukan cuma cantik, tapi manis juga," ucap Arkan tanpa sadar. Tentu saja penuturan Arkan membuat kawan-kawannya menatapnya dengan sedikit terkejut, berbeda dengan Litha yang malah cekikikan ga jelas.
Arkan yang merasa menjadi pusat perhatian lantas menatap balik temannya satu per satu. Lalu dia mulai mengingat dan sadar akan ucapannya sedetik yang lalu.
"Eh... Ii... Itu. Namanya juga cewek pasti cantik dong, masak ganteng sih?" ungkap Arkan antara gugup, canggung, dan kesal juga karena Litha tadi malah memancingnya.
"Ekhem..." Jordy tersenyum jahil, dia berniat menggoda Arkan.
"Gue doain yang terbaik buat lo," ucap Danil dengan senyum jahilnya juga.
"Nggak nyangka, ternyata lo normal juga," gurau Leon yang jatohnya malah menghina.
"Kampr*t lu," balas Arkan teruntuk mantan playboy kelas kakap itu.
Seketika wajah Arkan menjadi memerah, semerah tomat karena malu. Hhh punya malu juga tu anak. Ditambah juga dengan Litha yang masih cekikikan, membuat Arkan bertambah malu, tetapi ada rasa kesalnya juga.
"Nggak usah malu-malu kucing gitu!" ujar Jordy masih dengan senyum jahilnya.
"Ya nggak?" tanya Jordy pada Danil dan Leon, Jordy butuh bala bantuan untuk menggoda Arkan.
"Yoi," sahut Leon sama seperti Jordy. Tersenyum tampan khas mereka masing-masing, tetapi terlihat sangat menyebalkan bagi Arkan.
"Biasanya juga gak punya malu," tambah Danil berada dipihak Jordy dan Leon. Membuat semuanya terkekeh, hanya Raka saja yang tersenyum tipis, itu sudah hal yang biasa.
"Ah... Rese lo Tha," ucap Arkan kepada Litha.
"Kak lihat tuh Arkan," ucap Litha dengan mempererat tangan yang melingkar di lengan berotot Raka. Ceritanya Litha ngadu tuh ke ayang nya wkwk.
Raka tetap pada wajah datarnya, melihat tingkah para sahabatnya yang rada-rada dan pacar tersayangnya. Raka akan membiarkannya selagi tingkah keduanya dan ucapan yang Arkan balas untuk Litha, masih dalam batas wajar.
"Beraninya ngadu, apaan tuh?" ejek Arkan.
"Biarin. Wek..." Litha menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Litha sudah akrab dengan The Perfect, tidak ada rasa canggung lagi dalam dirinya saat bersama mereka. Bahkan Litha juga sudah menganggap mereka semua seperti keluarganya sendiri, mungkin karena Raka dan Umran juga menganggapnya seperti itu, jadi Litha ikut-ikutan deh...