Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Iri


__ADS_3

"Lhah kok waktu itu Bang Umran gak ngenalin kita berdua?" Tanya Litha setelah mendengar kisah awal pertemanan kakaknya dengan Raka.


"Aku nolak," jawab Raka.


"Terus kenapa kamu ngikutin sampai depan rumah aku?" Heran Litha.


Raka bangkit dari rebahannya. Ia menatap Litha yang juga balik menatapnya. Senyuman Raka terukir tidak menyangka bocah SD yang dulunya begitu culun kini menjelma menjadi bidadari yang cantik jelita.


"Karena aku cuma penasaran dengan kehidupan kamu," Raka menatap lekat netra indah milik Litha.


Raka juga tidak mengerti kenapa pada masa itu ia menolak tawaran dari Umran, padahal dalam hatinya sangat penasaran ingin mengulik lebih dalam lagi tentang kehidupan bocah SD yang menolongnya dari tiga preman pasar.


"Kenapa gitu?" Tanya Litha merasa aneh dengan tingkah konyol Raka saat kecil.


"Aku juga gak tau," Raka mengangkat kedua bahunya.


"Aneh," ucap Litha merasa kurang puas dengan ucapan Raka.


Sejak Raka berkenalan dengan Umran, ia selalu memantau kondisi Litha. Perlahan penampilan si culun sudah mulai menunjukkan perubahan.


Mulai dari menghilangkan kacamata tebalnya, kemudian esoknya rambut kepangnya berubah menjadi tergerai indah. Hingga sampai bocah tersebut mulai paham dengan fashion style dan mulai merawat dirinya agak tidak terlihat dekil. Sehingga kulit putihnya bersinar cerah.


Hanya dalam kurun waktu dua bulan si culun dekil tersebut berubah menjadi sosok bidadari yang cantik, meskipun tanpa polesan make up diwajahnya.


"Oh... Pantes waktu kita pertama kali ketemu di sekolah, aku ngerasa tatapan kamu ke aku itu beda, kayak tatapan penuh arti gitu, seakan-akan kamu udah kenal aku deket," ujar Litha.


Litha masih mengingat tatapan penuh arti saat dirinya sehabis dari ruang BK menemani Sarah karena ulah Dita.


"Setelah pertemuan itu, aku gak pernah lihat kamu lagi. Dan setelah satu semester terlewati baru kita ketemu lagi," yah.. pertemuan kedua mereka saat berada di koridor sepi yang arahnya akan tertuju ke basecamp The Perfect. Kala itu Raka dan The Perfect sehabis dari basecamp ingin menuju ke kantin, tidak disangka malah bertemu dengan seorang gadis cantik.


"Nggak nyangka yah... hubungan kita yang dulunya gak saling kenal, sekarang jadi sepasang kekasih," senyuman dibibir Litha terukir.


"Tanpa kamu sadari kalau sebenarnya kita udah kenal sejak lama Tha," gumam Raka.

__ADS_1


"Hah..? Gimana Kak?" Litha hanya mendengar suara yang tidak jelas.


"Aku tahu semuanya tentang kamu. Aku minta balasannya, apa yang kamu tahu tentang aku?" Ujar Raka.


Litha nampak berpikir keras. Apa yang dia tahu tentang kehidupan Raka? Yang Litha tahu, Raka itu tipikal orang menutup diri. Dia jarang menceritakan kisah hidupnya dengan sahabatnya.


"Emm... Kak Raka itu jago bela diri. Punya geng motor yang leader nya bukan Kak Raka lagi, walaupun begitu geng motor itu masih dibawah kendali Kakak. Kak Raka termasuk orang yang jenius. Sikapnya dingin, cuek, kalau ngomong ngirit banget," ocehan Litha terdengar masih menyebutkan apa saja yang ia ketahui tentang Raka.


"Dan yang terpenting Raka Adelard Pangestu hanya mencintai dua wanita dalam hidupnya. Yang pertama Mama Kania. Dan yang kedua Litha Kusuma Jaya Nagara," Litha tersenyum dengan kedua tangan menyilang menunjuk pipi kanan kirinya.


Raka tersenyum mengacak gemas rambut Litha. Raka mengajak Litha kembali ke hotel, jika masih ingin terus membahas masa lalu bisa tiga hari tiga malam baru kelar. Mereka terlalu lama menghabiskan waktu berdua ditepi pantai sampai meninggalkan makan malam bersama The Perfect dan yang lainnya.


***


Matahari mulai naik ke atas, cahayanya menembus gorden tipis yang menutup jendela.


Sarah menggeliatkan tubuhnya menatap tiga sahabatnya yang masih tidur sangat pulas seolah tidak merasa terganggu dengan sinar matahari yang menembus gorden tipis itu.


Sarah bergegas mandi, setelah mandi Sarah geleng-geleng kepala melihat tingkah tiga anak manusia yang tidurnya sudah tidak beraturan, sebelum ia mandi mereka masih tidur manis.


"Woi... Bangun! Udah pagi...!" Teriakan Sarah bagaikan angin lalu yang tidak didengar.


Sarah memukul ketiganya dengan guling. "Bangun. Kebo!!!"


Sekar menangkis guling. "Bocil diem!" Seru Sekar tidak ingin membuka mata.


"Kita cuma beda setahun, gak usah sok tua!" Balas Sarah.


Fika bangun dengan mata yang masih sipit dan kantung mata berwarna hitam, rambutnya acak-acakan seperti singa, iler ada dimana-mana.


"Berisik! Diem deh Sar. Yang semalem gak malam mingguan, kalo mau bangun, bangun aja gak usah ganggu kita bertiga," Fika lanjut tidur lagi memeluk kaki Sekar.


Sarah mengingat semalam hanya dirinya yang berdiam di kamar karena Umran mendadak harus ikut meeting online perusahaan dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.

__ADS_1


Mata Litha terpejam tetapi mengucapkan... "I love you beruang kutub," Litha tersenyum lalu cengengesan dengan mata tertutup.


Ucapan Litha membuyarkan lamunan Sarah, ia menatap Litha yang seperti orang tidak waras, tidur tapi bisa ketawa ketiwi? Sebegitu indahkan malam mingguan Litha dan Raka sampai terbawa mimpi?


"Huwaaaaa....." Sarah menangis teriak-teriak langsung lompat kasur berada di tengah-tengahnya.


Litha, Fika dan Sekar terlonjak kaget dengan teriakan Sarah, untung saja kamar mereka kedap suara. Kalau tidak mungkin kompleks kamar mereka langsung demo ingin mengeluarkan mereka berempat.


"Lo kenapa Sar?" Tanya Fika sedikit khawatir.


"Huwaa...." Tangisan Sarah semakin kencang.


"Gg... Gue..." Ucapan Sarah terhenti.


"Lo kenapa sih? Gue sampai bangun gara-gara lo, padahal tadi gue lagi mimpiin Kak Raka tauk!" Ocehan Litha membuat Sarah semakin berteriak kencang.


"Ni anak kenapa sih?" Fika garuk-garuk kepala lalu mengelap iler disekitar bibirnya lanjut menempelkan dihidungnya. Litha yang melihatnya jadi jijik sendiri.


"Loo... Masih waras kan Sar?" Tanya Sekar yang ragu-ragu.


Sarah tidak mau mengeluarkan kata, ia masih asyik menangis sambil teriak-teriak tidak jelas. Membuat ketiga sahabatnya bingung harus melakukan apa.


"Telfon Umran gih... Gue pusing dengernya," Sekar yang baru selesai mandi masih mendapati Sarah yang menangis namun sudah tidak teriak-teriak lagi.


"Sama gue juga pusing. Nih telfon abang lo sekarang," Fika melempar handphone Litha kepada pemiliknya.


Litha langsung menangkap benda pipih itu dan menghubungi saudaranya mengatakan jika calon istrinya mirip orang depresi.


"Bang Umran lagi otw ke sini," sahut Litha setelah menutup ponselnya.


"Sebenarnya gue tuh cuma iri aja sama kalian karena gak bisa malam mingguan sama cowok gue," Sarah sesenggukan, tangannya mengusap ingus yang keluar dari hidungnya.


"Apaaa?" Teriak mereka bertiga langsung menepuk jidatnya masing-masing.

__ADS_1


Pagi-pagi bikin heboh karena hal sepele? Minta ditampol nih anak.


__ADS_2