
Seorang gadis cantik bertubuh tinggi dengan pakaian ketat yang membalut tubuh seksinya menghampiri para gerombolan cogan-cogan itu, dengan berjalan bak model yang tengah fashion show.
"Hai..." Sapa gadis itu.
Leon dan Arkan menelan salivanya dengan susah payah ketika disuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Sedangkan Raka, Jordy dan Danil hanya datar-datar saja, mereka bertiga tidak tertarik, apalagi tergoda oleh tubuh seksinya dan paras cantiknya. Cowok idaman banget kan? Pasti dong.
"Lo Raka kan?" gadis itu menunjuk Raka dengan sorot matanya. Raka mengangguk dengan malas.
"Lo model yang dari luar negeri itu?" tanya Leon dengan wajah berbinar.
"Iya," sahutnya semanis mungkin.
"Boleh gabung?" tanya gadis itu dengan senyumnya.
"Boleh dong, sini-sini..." jawab Leon seraya berdiri dari tempatnya dan mempersilahkan gadis itu untuk menduduki tempatnya. Dengan senang hati gadis itu duduk di bangku Leon.
"Minggir lo, cari kursi lain," Leon mengusir Jordy agar Leon menduduki tempat Jordy dan bisa berdekatan dengan gadis yang belum ia ketahui namanya tersebut.
"Lo ngusir pemilik cafe?" tanya Jordy sedikit ngegas.
"Siapa yang ngusir? Lo cari kursi laen noh..." elak Leon.
"Lo nyuruh pemilik cafe cari kursi lain? Terus tempat gue lo dudukin?" tanya Jordy yang sudah berdiri, mensejajarkan dirinya dengan si kampr*t Leon.
"Justru itu pelanggan adalah raja. Lo pemiliknya kan? Geser tuh kursi di meja sebelah," ucap Leon menjeda kalimatnya. Jordy tentu saja sudah mengibarkan bendera perang kepada Leon.
"Kalau gue yang geser kursi sebelah, nggak enak sama pemiliknya. Dikira gue ngobrak-ngabrik tempat usahanya," sahut Leon seraya mengambil alih bangku Jordy tanpa rasa dosa.
Membuat Jordy mendengus kesal, mau tidak mau Jordy menggeser kursi dari meja sebelah.
"Cantik namanya siapa?" tanya Leon manis, seperti kembali pada mode playboy nya, seakan pikun jika ia masih memiliki hubungan dengan Fika.
"Inget yang di rumah, Fika nungguin lo pulang," sela Arkan seolah-olah Leon dan Fika sudah menikah dan memiliki hubungan suami-istri saja.
"Cih... Ngaca! Lo pikir kita nggak tau kalo lo udah punya gebetan," cibir Danil teruntuk Arkan.
Arkan bungkam, apa yang dikatakan Danil memang benar adanya. Arkan menatap ke arah gadis disebelahnya, "Cuma gebetan doang," Arkan menunjukkan cengirannya.
Gadis itu membalasnya dengan tersenyum manis, lalu perhatiannya teralihkan pada Raka. Pemuda tampan berhati dingin yang akan menjadi kekasihnya, ya jika Raka mau.
"Nama lo siapa? Tadi kan belom dijawab. Gegara tu bocah," tanya Arkan manis, hanya kalimat terakhirnya saja yang ketus dengan menatap tajam Danil.
Membuat gadis itu menoleh kepada Arkan, "Noviana Cantika Geraldy," senyumnya.
__ADS_1
"Panggilannya siapa nih?" Leon ikut menimpali.
"Yee... Masih usaha aja lo," sahut Jordy.
"Sirik aja lo," ketus Leon.
"Panggil Via aja," ucap gadis yang berprofesi sebagai model itu.
"Maaf ya bukan maksud kita sombong atau gimana. Kita emang nggak terlalu tahu banyak tentang nama-nama model," jelas Arkan.
"Iya, gue nggak tersinggung kok," sahut Via dengan senyum yang tak luntur sedari tadi.
Setelahnya Leon dan Arkan mengenalkan dirinya masing-masing dan mengenalkan juga nama-nama sahabatnya, termasuk Raka. Ah padahal tanpa diperkenalkan oleh Arkan dan Leon, Via sudah mengenal manusia dingin bak kulkas berjalan itu.
'Akhirnya kita bisa ketemu lagi..' batin Via menatap Raka yang acuh kepadanya.
Tak lama kemudian ada beberapa gadis dan pemuda yang mengenal Via, jika Via adalah seorang model, mereka pun mengajak Via untuk berfoto bersama. Sesekali pandangan Via mengarah pada Raka yang terlihat cuek dan acuh kepadanya.
Pandangan Raka tidak sengaja bertemu dengan Via yang masih berfoto bersama penggemarnya. Via tersenyum kepada Raka, tetapi bukan senyuman yang dibalas oleh pemuda itu. Raka segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Mereka menghabiskan waktu yang semakin larut malam, dengan bercerita tentang bagaimana kehidupan Via selama di luar negeri. Tidak, bukan mereka, tetapi hanya Arkan, Leon, dan Via yang asik mengobrol. Pemilik cafe, Danil, dan Raka sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Jadi lo ngambil home schooling?" tanya Leon.
"Sama dong kayak kita," sahut Arkan.
"Gue pindah home schooling di sini selama beberapa bulan, soalnya gue dapet job di Indo dan kontraknya lumayan lama sih," ucap Via membuat Arkan dan Leon manggut-manggut mengerti.
"Terus lo mau di Indo berapa lama? Sampai kontrak lo selesai?" tanya Leon dengan melegut minumannya.
"Nggak tau. Tapi orang tua sebenarnya ngasih izin kalau gue menetap di sini. Gimana pun juga, keluarga gue asli orang Indo, gue lahir juga disini," terang Via.
"Lahir disini?" tanya Arkan, Via mengangguk meyakinkan Arkan.
"Nggak mungkin lah... Orang cafe ini baru berdiri dua tahun yang lalu, sedangkan umur lo pasti udah belasan tahun dong?" gurau Arkan mencairkan suasana.
Via tertawa renyah, berbeda dengan Leon yang malah berkata, "Bisa aja lo kadal," sahutnya dengan melempari Arkan beberapa batang kentang goreng.
Sekali lagi Via mencuri pandang wajah tampan milik Raka. Sikap dingin yang dari dulu selalu melekat pada diri seorang Raka Adelard Pangestu, begitu yang ada dalam benak Via saat memandang wajah rupawan itu.
Jujur Raka juga tahu jika model itu sering mencuri pandang terhadap dirinya. Tapi Raka lebih memilih cuek, seolah-olah tidak tahu, dia malas untuk berbicara dengan orang yang baginya asing.
Lagi pula Oma hanya menyuruhnya bertemu dengan model itu bukan? Oma tidak menyuruh Raka untuk berbincang-bincang dengan gadis bernama Via. Jadi, ya sudah. Bodoamat, jika gadis itu merasa diacuhkan oleh Raka dan merasa tidak dihargai, itu malah bagus untuk Raka.
***
__ADS_1
Keesokannya Raka menjemput Litha untuk berangkat sekolah bersama. Mereka hanya berdua saja didalam mobil karena yang biasanya tukang nebeng mau berangkat agak siangan katanya. Siapa lagi kalau bukan Sarah.
"Kak katanya kelas tiga udah persiapan ujian yah?" tanya Litha memulai pembicaraan.
"Iya," jawab Raka yang masih fokus pada jalanan depan. Seperti biasa, dia tidak banyak bicara.
"Mau kuliah kemana?" tanyanya lagi.
"Di universitas," jawab Raka dengan menoleh sekilas ke samping, memperlihatkan senyum menyebalkan menurut Litha. Kalau menurut cewek lain mah pasti senyum ganteng. Gimana gak ngeselin? Iya tau, tempat kuliah itu namanya universitas, dipikir Litha gak tau apa?
"Iya universitas. Namanya universitas apa kak Raka?" Litha membuang nafas kasar. Membuat Raka tertawa kecil, bagi Raka Litha itu terlihat lucu jika sedang dalam mode kesal ala-ala gitu.
"Belum ada rencana mau nerusin kemana," jawab Raka yang kali ini serius.
Hening, tak ada sahutan dari gadis disampingnya. Raka melirik sekilas ke samping, dilihatnya gadis itu sedang termenung menatap jalan aspal yang dilewati mobil yang ia tumpangi, pandangannya ke arah samping jendela kaca mobil.
Sepertinya ada yang mengusik pikiran dan hatinya. Begitu pikir Raka.
"Kenapa? Takut jauh dari aku?" tebak Raka.
"Hah?" Litha mulai gelagapan, tebakan Raka tepat pada sasaran.
"Kamu takut jauh dari aku?" Raka mengulang kalimatnya dengan senyum tampan.
"Enggak," dusta Litha.
Raka menepikan mobilnya. Setelahnya menatap Litha yang juga menatapnya. "Ya udah, kalo gitu aku kuliah ke Harvard university," ucap Raka.
"Jangan!" sahut Litha cepat, entah sadar atau tidak gadis itu berkata begitu. Namun sedetik kemudian Litha tersadar akan ucapannya, "Eh... Mm.. ma.. maksudnya terserah kamu," ucap Litha menghadap ke depan, menatap jalanan, menghindari tatapan netra pemuda disampingnya.
Hening... Gadis itu melirik sekilas ke sampingnya, seperti biasa, datar!
Raka menangkup sisi wajah gadis cantik itu, mengarahkannya untuk menatapnya. Degup jantung Litha seketika menjadi tak beraturan, entah mengapa dia menjadi gugup, dadanya bergemuruh.
Seulas senyuman terukir pada bibir yang jarang bicara itu.
Cup
Raka mengecup kening Litha, cukup lama Raka menahannya, terasa amat nyaman baginya. Setelah dirasa cukup puas, Raka melepaskan bibirnya dari kening mulus nan putih milik Litha.
"Apapun yang akan terjadi kedepannya kita harus saling menjaga hati. Walaupun suatu saat kita jauh, tapi hati kita akan selalu dekat," tutur Raka lembut. Membuat Litha terdorong untuk menghambur masuk ke dalam pelukan Raka. Pemuda itu membalas pelukan gadis mungil itu dengan senang hati.
"Beruang kutub ku ternyata bisa ngucapin kata-kata romantis juga," ucap Litha mengejek Raka, gadis itu masih tetap dalam posisi nyamannya.
Raka tertawa kecil, "Dasar," ucap Raka lalu menghujani ciuman di pucuk kepala gadis yang berada dalam dekapannya. Membuat Litha tertawa geli dan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Raka.
__ADS_1