
Litha memakan makanannya hanya ditemani oleh suara sendok garpu dan piring yang berdenting, dengan sesekali melihat banyaknya para tamu hotel yang berkunjung ke resto.
Seorang wanita cantik dengan tubuh semampai tiba-tiba menabrak meja Litha. Membuat Litha tersentak kaget, untung saja dia tidak sampai tersedak.
"Eh sorry," ucapnya.
"It's oke," sahut Litha.
"Boleh gabung?" tanya wanita bertubuh tinggi itu.
Litha mengernyitkan keningnya. Wanita itu cukup paham maksud sikap Litha.
"Bukannya lo sendirian doang? Gue juga sendirian. So kenapa kita nggak bareng aja sekalian?" terang wanita tersebut.
"Oh oke. Duduk..!" Litha mempersilahkan wanita itu duduk disebelahnya.
Wanita tersebut duduk dan melambaikan tangan memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang, wanita itu mengajak Litha berkenalan.
"Kenalin nama gue Via, nama lo siapa?" tanya Via basa-basi. Padahal dia sudah mengetahui identitas Litha, dia juga mengetahui bahwa Litha adalah kekasih Raka. Yups menabrak meja Litha hanyalah modus agar dirinya bisa semeja dengan Litha.
"Litha," Litha tersenyum. Mereka saling menjabat tangan dengan seulas senyuman.
"Lo nginep di hotel ini?" Lagi-lagi Via basa-basi. Dia tahu jika Raka datang ke hotel bersama Litha.
"Enggak, cuma mampir sebentar," Litha tersenyum.
"Gue baru beberapa hari di Indo jadi gue belom punya banyak temen. Lo mau nggak jadi temen gue?" Via memulai rencananya. Dia berusaha bersikap ramah dan baik kepada Litha.
"Boleh. Em... Asal lo dari mana?" tanya Litha.
"Asal gue asli dari Indo. Tapi keluarga gue pindah ke luar negeri. Gue disini sendirian, nggak ada keluarga, tapi nggak papa sih... Gue nggak nggak terlalu kesepian walaupun sering sendiri," ujar Via.
"Terus tujuan lo datang ke Indo untuk apa?" tanya Litha yang mulai merasa nyaman dengan Via, karena Via bukan orang tertutup, dengan mudahnya Via menceritakan kehidupannya disini.
"Gue ke sini karena ada job sekaliguss..." ucap Via menggantung dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Sekaligus?" Litha mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Sekaligus ketemu jodoh gue," gelak tawa keluar dari bibir Via, membuat Litha ikut tertawa.
"Jadi lo udah kerja?" tanya Litha, Via mengangguk.
"Gue masih SMA, jadi gue harusnya manggil elo Kak dong?" tanya Litha.
"Nggak usah. Kita cuma beda beberapa tahun aja kok," Via tersenyum manis. Rencananya untuk mengakrabkan diri dengan Litha berhasil.
"Gue ada job model di sini," sahut Via yang sukses membuat Litha melotot.
"Wow keren banget. Pantesan..." gadis cantik nan manis itu berdecak kagum terhadap Via yang ternyata berprofesi seorang model.
"Kenapa?" Heran Via.
"Tubuh lo bagus, tinggi juga lagi," ungkap Litha.
"Nggak semua model punya tubuh tinggi. Lo cantik, tubuh lo juga nggak kalah oke dari gue," Via tertawa renyah diikuti oleh Litha yang juga tertawa.
Terkadang Via memang sering menyombongkan diri untuk bahan bercandaan bersama temannya. Yah Via benar-benar menganggap Litha sebagai temannya, tetapi Via pastikan akan berteman dengan Litha hanya untuk waktu sesaat!
"Eh... Nggak usah. Gue emang suka sama model apa lagi yang tubuhnya tinggi kayak elo. Tapi gue cuma sekedar mengagumi aja. Kalo untuk gue yang jadi model, kayaknya enggak deh," jelas Litha.
"Kenapa?" Via penasaran.
"Gue nggak suka dilihatin banyak orang," sahut Litha yang memang kenyataannya begitu.
Tak lama kemudian pesanan makanan dan minuman Via diantar oleh pelayan. Dua wanita cantik tersebut menghabiskan makanannya sembari bercanda ria.
Sampai mereka berdua tidak menyadari jika ada seseorang yang menatap mereka dengan tatapan tajam, pemuda itu memantau interaksi dua wanita cantik tersebut.
Flash Back On
"Sebentar," Raka melepaskan rangkulannya dari pundak Litha dan sedikit menjauh dari Litha, setelah keduanya melarikan diri dari pasangan Leon dan Fika.
"Udah?" tanya Litha saat Raka kembali. Pemuda itu mengangguk dan menggandeng tangan Litha.
"Kita pulang? Lipgloss nya gimana?" tanya Litha begitu menyadari bahwa Raka menuntun dirinya menuju arah pintu keluar mall.
__ADS_1
"Dititipin penjaga mall aja," sahut Raka, Litha menurut saja karena waktu yang semakin larut malam.
Raka menyerahkan dua paper bag jumbo yang berisi Lipgloss kepada seorang laki-laki berseragam hitam yang berjaga didepan pintu mall.
Raka mengatakan kepada laki-laki berseragam hitam itu, untuk memberikan satu lipgloss kepada setiap orang yang berkunjung ke mall ini. Dengan senang hati penjaga mall tersebut menuruti perintah Raka, otomatis dengan adanya bagi-bagi lipgloss membuat mall tempatnya berkerja semakin rame.
Raka melajukan mobilnya menuju salah satu hotel bintang lima. Saat di mall tadi, Raka menerima panggilan dari Oma nya, Oma menyuruh Raka pergi ke hotel untuk menemui Via yang sedang menginap di sana. Tidak hanya itu, Oma juga memberikan nomor Via kepada cucunya, dan meminta Raka agar menghubungi Via terlebih dahulu.
Via memang mempunyai apartemen, tetapi dia memilih menyewa kamar di hotel tersebut dan tinggal di sana untuk beberapa hari dengan suatu tujuan.
Setelah meninggalkan Litha di restoran hotel, Raka menghubungi Via tetapi tak ada respon dari Via. Raka mencoba mencari keberadaan kamar Via, Raka melangkah menuju ruangan manajer. Dia menanyakan dimana kamar yang Via pesan kepada manajer hotel yang tadi membawakannya payung.
Kenapa tidak menanyakan kepada resepsionis hotel? Karena Raka tahu mereka pasti tidak akan memberitahu Raka, karena hal tersebut termasuk privasi bagi tamu hotel.
Sampai di depan kamar Via, Raka mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Ingin sekali Raka segera menemui Litha dan pulang bersama, tetapi perintah dari Oma belum ia lakukan untuk menemui Via.
Raka memutuskan untuk menemui Litha dan mengajaknya pulang. Untuk Via? Nanti Raka akan bilang yang sejujurnya kepada Oma, jika Via tidak bisa dihubungi dan dirinya juga sudah mencoba mencari kamar Via, tetapi sepertinya Via sedang tidak ada ditempatnya.
Flash Back Off
Disinilah Raka sekarang, di restoran hotel Raka malah mendapati wanita yang harusnya ia temui sedang bercanda ria dan makan malam bersama gadis yang ia sayangi.
Apa Via sengaja ingin bermain-main dengan Raka?
Tapi mungkinkah seorang Via yang terlihat seperti wanita baik-baik ternyata bermuka dua?
Tetapi Oma bukan seorang wanita tua yang mudah ditipu! Namun Raka yakin, jika Oma juga tidak akan menerima orang jahat untuk masuk dalam kehidupan keluarganya.
Apa Raka salah, telah menganggap Via sebagai wanita tidak baik?
Bisa jadi Via tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Litha?
Bahkan mungkin Via juga tidak mengetahui jika Litha adalah kekasih Raka?
Entahlah Raka pusing memikirkannya, begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalanya.
Raka akan menyelidikinya. Bukannya tidak percaya dengan Oma ataupun Via, hanya saja Raka merasakan ada yang tidak beres dengan wanita yang berprofesi model tersebut.
__ADS_1