Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Drama


__ADS_3

"Lo baik dan cantik. Lo mau nggak jadi pacar gue? Kalau lo mau jadi pacar gue, gue akan tinggalin semua kelakuan buruk gue selama ini. Gue akan memperbaiki diri gue demi lo. Gue akan nurutin semua ucapan lo," Nick menatap manik mata Sekar yang tidak menunjukkan keterkejutan seperti kawan-kawannya.


"Nick!!!" Litha, Fika, dan Sarah berseru menatap tajam Nick yang sama sekali tidak memperdulikan itu.


Arkan tersulut emosi, ia melangkah dengan mengepalkan tangannya. Jordy menahan lengan Arkan, jujur baru kali ini The Perfect melihat kemarahan Arkan yang ternyata juga mengerikan.


"Gue yakin Sekar bukan cewek gampang menerima perasaan seseorang. Justru kalo lo nunjukin emosi lo didepan Sekar, dia akan ngejauh dari lo," Jordy membisikkan kata-kata tersebut pada Arkan dengan volume rendah yang hanya Arkan saja yang bisa mendengarkannya.


"Tapi lihat Sekar, dia sama sekali gak kaget atau segera jawab apa gitu, dia diem aja. Apa artinya dia mau? Apa selama ini dia gak anggep gue temen deketnya?" sahut Arkan pelan tapi terdengar oleh Danil.


Danil tersenyum miring, cinta memang membuat seseorang menjadi aneh bin ajaib. Ada yang dibuat gila karena cinta, ada yang menjadi lebih baik dari sebelumnya, ada yang jadi emosian dan mendadak jadi pikun seperti lansia.


"Yang bisa jawab pertanyaan itu cuma lo sendiri. Jangan kebawa emosi. Lo yang lebih tau gimana karakter Sekar dari pada kita berdua," Danil ikut mendekat kepada Arkan dan Jordy.


"Gue nunggu jawaban lo dan gue harap jawabannya iya. Tapi keputusan ada ditangan lo, gue gak akan marah kalo lo nolak gue," ujar Nick serius.


"Gila yah... Lo mau nikung sahabat lo sendiri?" Sarah ikut tersulut emosi.


"So jawabannya?" Nick tersenyum mendapati Sekar juga tersenyum manis kepadanya. Akankah Sekar menerima cintanya? Pasalnya bukan hanya sekedar senyuman manis yang gadis itu perlihatkan, Sekar juga tidak menepis tangan yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Nick..." Litha memanggil tanpa rasa emosi seperti diawal.


Nick beralih menatap Litha, "Kenapa? Apa yang salah? Gue nembak cewek yang belum punya pacar,"


Sekar masih tersenyum manis. "Iya," satu kata dari bibir Sekar membuat mereka semua terkejut.


Kepalan tangan Arkan memudar bersamaan dengan tubuhnya yang lemas seketika. Sementara Nick menarik kedua sudut bibirnya, tapi hati kecilnya masih tidak percaya dengan dua suku kata yang keluar dari bibir Sekar.


"Iya. Gue emang belum punya pacar, tapi gue punya pasangan. Ada hati yang harus gue jaga," lanjut Sekar melepaskan genggaman tangan dari Nick.


"Walaupun gak ada kata cinta diantara kita, gue percaya dia juga akan ngejaga perasaan gue," Sekar memang tidak memandang ataupun melirik ke arah Arkan, tapi ucapannya kali ini membuat Arkan merasa kata-kata itu diperuntukkan bagi dirinya.


"Lo nggak butuh kepastian untuk hubungan kalian?" Tanya Nick penasaran.


Sekar tersenyum menggeleng. "Untuk saat ini gue belum butuh kepastiannya. Kata komitmen untuk sebuah menjalin hubungan dengan pasangan, itu udah lebih dari cukup bagi gue,"


Arkan langsung memeluk Sekar dengan erat, air mata harunya keluar dari pelupuk matanya.


Arkan merenggangkan pelukannya "Terimakasih sudah menjaga hati ini,"


Semua dibuat takjub oleh Sekar yang mencerminkan wanita berkelas.


Arkan melepas pelukannya, dia menoleh menatap Nick tanpa rasa niat sungguh-sungguh. "Untuk lo makasih juga udah buat jantung gue ketar-ketir,"


Suara gelak tawa terdengar memenuhi isi ruangan.


"Yahhh patah hati lagi gue," ucap Nick tidak menunjukkan ekspresi sedih sama sekali.

__ADS_1


Nick merangkul Jordy dan Danil. "Selamat bagi yang sudah menemukan cinta sejatinya. Dan doakan saja kami para jomblo kelas tinggi, semoga segera menemukan seseorang yang tepat untuk mengisi kekosongan hati ini,"


"Aamiin," seru mereka berbarengan.


"Jadi tadi lo gak serius sama Sekar?" Selidik Sarah kepada Nick yang sudah cengengesan dengan The Perfect termasuk Arkan yang seolah melupakan kejadian lima menit yang lalu.


"Serius," jawab Nick mantap.


"Gini nih konsepnya, kalau Sekar nolak gue gak masalah karena persahabatan gue sama Arkan akan langgeng, dan itu artinya Sekar setia sama si ceroboh ini, sehingga gue dapat memastikan bahwa sahabat gue gak salah pilih cewek," jelas Nick panjang lebar.


Sarah manggut-manggut percaya, "Kalau diterima gimana?"


"Kalau itu terjadi gue untung banyak dong! Udah dapet cewek cantik, hidup tertata menjadi lebih baik, bisa manas-manasin Arkan. Auto menang banyak!" Nick terkekeh geli dengan halunya. Yaa Nick udah nebak kalau Sekar gak akan mungkin nerima cintanya.


"Kampr*t," Arkan melirik Nick yang malah menaik turunkan alisnya.


***


Malam telah larut, The Perfect pulang menuju hotel untuk beristirahat. Di dalam ruangan hanya menyisakan Raka dan Litha. Seperti malam-malam sebelumnya, Raka tidur di atas banker bersama Litha.


"Kenapa senyum terus? Bahagia yah operasinya membuahkan hasil sesuai dengan yang kita harapan?" Raka naik ke atas memeluk Litha yang masih senyum-senyum sendiri.


"Sekar uwuw banget, aku pengen jadi kayak Sekar tapi nyatanya beda banget," bibir Litha mengerucut.


Raka tersenyum simpul, "Uwuw gimana maksud kamu?"


"Ya uwuw aja gitu. Cukup dengan rasa yakin tanpa meminta kepastian hubungan dengan pasangannya, keren kan? Selain cantik dia juga baik dan gak emosian. Sama sepupu sendiri yang pernah jahatin dia, dia langsung maafin," Jelas Litha.


Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba mata Litha menyipit. "Kamu suka Sekar?" Tuduhnya dengan nada yang tidak bersahabat.


Raka menelan ludahnya bulat-bulat. Bukannya tadi yang mulai bahas tentang Sekar itu Litha? Nah kalau Raka menyetujui ucapan Litha apa salahnya? Kalau gak setuju atau gak menanggapi ucapannya malah tambah salah.


"Sayang kok tanyanya gitu? Jelas-jelas aku disini sama kamu. Kalau aku suka Sekar udah dari dulu aku deketin dia, secara Sekar itu teman seangkatan aku dan kita juga pernah satu kelas," jelas Raka mengaktifkan mode lembutnya.


"Ohhh jadi gitu pernah deket sekelas?" Wajah Litha menunjukkan kekesalan.


"Astaga sayang... gak gitu," Raka mengacak rambutnya.


"Kalau gak gitu gimana? Gini?" Litha mengambil tangan yang melingkar diperutnya, menaruhnya untuk tidak berada di atas perutnya.


Raka menghelai nafasnya, "Aku sayang kamu," ucap Raka lantang, ia bingung harus bagaimana menghadapi sikap gadis itu.


"Aku juga sayang kamu," balas Litha tak mau kalah.


"Aku cinta kamu," sahut Raka tegas.


Tidak ada nada romantis pada kalimat yang dilontarkan keduanya, padahal kalimat tersebut adalah salah satu kata-kata manis untuk pasangan. Namun berbeda kali ini, mereka mengucapkannya seakan untuk saling melawan dan tidak ingin terkalahkan.

__ADS_1


"Aku juga cinta kamu," Litha menatap tajam seperti ingin menantang Raka.


Raka menghelai nafasnya. Kata orang, marahnya orang sayang adalah memilih mengalah, dan Raka akan melakukannya meskipun rada jengkel.


Raka memeluk Litha erat, dengan pelukan emosinya langsung mereda. "Sekarang berani ngelawan yaaa? Mentang-mentang operasinya lancar dan wajahnya jadi cantik. Awas kalau udah sembuh total, aku ajak kamu duel di atas ring tinju,"


"Siapa takut?" Litha tidak membalas memeluk Raka, tapi dia juga tidak menolak untuk dipeluk.


Raka merenggangkan pelukannya, dia menatap netra indah Litha. "Siapa tadi yang mulai bahas tentang Sekar? Aku tadi hanya menyetujui ucapan kamu, apa itu sebuah kesalahan?" ucapan Raka terdengar lembut namun tercampur ketegasan didalamnya.


Litha hanya menggeleng.


"Dengar aku, jika laki-laki sudah menyematkan seseorang di hatinya, mau sebaik dan secantik apapun wanita diluar sana pemenangnya akan tetap yang ada didalam hatinya," ujar Raka membuat hati Litha berbunga-bunga, tapi sebisa mungkin Litha menahan ekspresinya agar terlihat biasa-biasa saja.


"Kamu percaya itu?" Tanya Raka.


"Percaya, tapi kepercayaan itu hanya berlaku untuk laki-laki sejati," jawabnya.


Raka mengerutkan keningnya. "Berarti selama ini kamu gak anggep aku laki-laki sejati?"


"Aku gak bilang gitu?" Jawab Litha cepat.


"Terus kenapa tadi nuduh yang enggak-enggak?" Sekarang giliran Litha yang disudutkan oleh Raka.


"Masak? Kayaknya tadi bukan yang enggak-enggak deh," tutur Litha membela diri.


"Terus apa?" Tantang Raka.


"Yang iya-iya," jawab Litha tanpa rasa bersalah.


Tatapan mata Raka sangat tajam, nafasnya memburu menahan rasa kesal. Baru sadar jika gadis dihadapannya ini ternyata hanya mengetesnya saja, Litha hanya ingin bermain-main saja! Padahal jantung dan pikiran Raka tadi sudah tidak karuan, karena takut akan kesalahpahaman diantara mereka.


Karena Litha jadi takut sendiri melihat tatapan elang dari Raka, Litha langsung mencium pipi kanan Raka.


Cup.


Litha menatap Raka dan ternyata raut wajahnya masih sama seperti diawal. Lanjut Litha mencium pipi kiri Raka.


Cup.


Litha menatap Raka lagi dan ekspresi wajahnya tak ada perubahan sedikit pun. Litha melirik bibir Raka sekilas, niat untuk mencium bibir dia urungkan, nyalinya terlalu ciut untuk memulai duluan. Litha memutuskan untuk memeluk Raka, yaa itu lebih baik dari pada mencium bibir.


"Please jangan marah!" Pinta Litha menenggelamkan wajahnya didada Raka yang tidak membalas pelukannya.


Raka tersenyum simpul. Raka akui dia tidak akan bisa marah kepada gadis manis nan cantik ini. Raka membalas pelukan hangat Litha. "Udah malem, stop dramanya, sekarang tidur. Besok pulang dari rumah sakit, kita langsung liburan bersama,"


Litha tersenyum mengeratkan pelukannya, aroma mint dari tubuh Raka selalu membuatnya nyaman dan menenangkannya.

__ADS_1


***


Kasih like dan komen yang banyak dong biar Author semangat nulis hehe...


__ADS_2