Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bad Mood


__ADS_3

"Beruang kutub?" Litha mengerutkan keningnya.


"Ehh itu anu, hehehe gue gak sengaja pernah buka HP lo terus gue kepo sama nomor yang namanya Beruang Kutub, apa lagi ada emoticon kepala beruang kutub putih 🐨. Terus gue tanya ke bang Umran deh.." ucap Sarah cengengesan.


Litha yang mendengar penjelasan dari Sarah, cuman masang ekspresi datar. Litha memaklumi bahwa Sarah itu punya penyakit kepo stadium lanjut, udah susah banget buat disembuhin.


"Eh tadi di BK gimana? Ceritain dong!" pinta Sarah pada Litha.


"Gak tega gue sama orang tuanya Dita, mereka takut masa depan anaknya jadi gak jelas. Orang tuanya masak sampai mau bersimpuh biar anaknya gue maafin," ujar Litha sambil duduk disebelah Fika. Sedangkan Sarah sekarang menoleh ke belakang, sebelumnya Sarah itu semeja dengan Tiara yang berada di depannya Litha.


"Hahhh..? Jadi ortunya beneran ngelakuin itu demi anaknya?" tanya Sarah penasaran.


"Enggak lahhh, sebelum orang tuanya beneran mau bersimpuh, gue udah bilang bakal maafin anaknya," jawab Litha.


Litha mulai menyadari sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiran Fika. Dari awal Litha masuk ke kelas, Fika hanya diam menatap ke layar handphonenya yang hanya terlihat warna hitam. Iya HP-nya itu gak dinyalain sama Fika, tapi gak tau kenapa Fika malah ngelihatin HP-nya terus? Dan tumben-tumbenan Fika gak kepo tentang si cabai itu, eh maksudnya Dita.


Litha mengode Sarah dengan menyenggol tangan Sarah yang berada di atas meja, dan bola mata Litha melirik ke arah Fika, setelah itu Litha menaikkan sebelah alisnya. Sarah menaikkan kedua bahunya, ya Litha paham kalau Sarah juga tidak mengetahui dengan sikap Fika kali ini. Litha sangat penasaran mengapa Fika hanya diam dan terlihat sedih..?


Dari tadi sebelum Litha ke kelas, Sarah maupun Fika sama-sama diam. Keduanya sibuk melihat ke arah layar handphonenya masing-masing. Bedanya kalau layar HP-nya Sarah itu berwarna, sedangkan layar HP-nya Fika itu berwarna hitam.


"Fik lo kenapa?" tanya Litha yang membuyarkan lamunan Fika.


"Ehh elo Tha, sejak kapan lo udah duduk di sini?" tanya Fika yang benar-benar tidak menyadari bahwa Litha sudah berada di kelas dari tadi.


"Udah dari tadi. Elo sih ngalamun terus, kayak lagi galau habis di putusin pacar aja," seru Litha pada Fika.

__ADS_1


"Apaan sih lo!" ketus Fika. Nggak biasanya nih Fika cuek gitu sama sahabatnya.


"Jangan-jangan lo emang habis di putusin sama pacar lo ya?" gurau Sarah agar memancing Fika untuk banyak bicara.


"Ngaco lu," terlihat jelas dari raut wajah Fika yang sangat tidak tertarik untuk meladeni gurauan Sarah. Mungkin aja Fika lagi bad mood banget?


"Yaelah sewot amat lu, gue cuman becanda kali Fik," ucap Sarah.


"Udah-udah Sar, mungkin Fika lagi bad mood," sahut Litha. Dan Fika masih tetap setia melihat handphonenya yang layarnya hanya terlihat warna hitam.


"Kalo lo punya masalah cerita aja ke kita, siapa tau kita bisa bantu," tambah Litha.


"Iya kita kan sahabat lo, kalo ada sesuatu ngomong aja. Jangan dipendam sendiri, bisa-bisa jadi stres terus depresi lanjut frustasi ujung-ujungnya kalo udah mentok bisa is dead deh.." ucap Sarah panjang lebar, dan pastinya kata-katanya gak bisa dikondisikan, alias ceplas-ceplos.


"Parah lu," ungkap Litha. Ya walaupun emang ada benernya juga omongannya Sarah, tapi juga harusnya gak usah terang-terangan gitu.


"Omongannya gak harus sekasar gitu kali," tutur Litha.


"Mau kasar atau lembut intinya juga sama!" ucap Sarah yang masih tak mau kalah.


"Iya deh serah lo aja," Litha akhirnya mengalah, karena Litha gak mau debat dengan Sarah. Kan gak baik juga kalau ujung-ujungnya jadi berantem, hanya karena masalah sepele.


"Gue cabut ya!" celetuk Fika sambil berdiri dan mengambil tasnya, setelah itu melangkah kakinya. Akhirnya Fika mengeluarkan suara juga, setelah dari tadi diam membisu.


"Mau kemana? Bentar lagi kan bel masuk!" teriak Sarah. Padahal Fika baru tiga langkah dari mejanya Sarah, tapi masih aja teriak-teriak. Selain Sarah punya hobby ngeledekin sama ngerjain orang, ternyata Sarah juga hobby-nya teriak-teriak.

__ADS_1


"Pulang, tiba-tiba gue gak enak badan," jawab Fika sambil berjalan dan tanpa menoleh ke arah Sarah.


"Emang lo udah izin ke BK?" teriak Litha. Nahh kalo Litha teriak mah wajar, soalnya jarak Fika dari mejanya Litha udah lumayan jauh. Kalau Litha bisik-bisik Fika gak kedengaran dong.


"Izinin ya Tha! Lagian sekolah juga punya keluarga lo sendiri," pinta Fika kepada Litha, dengan menghentikan langkah kakinya sebentar, setelah itu Fika melanjutkan langkahnya lagi.


Litha tidak menjawab ucapan Fika, sedangkan Sarah masih menatap punggung Fika yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.


"Gue gak yakin kalo tu anak beneran sakit," ungkap Sarah.


"Udahlah biarin aja," sahut Litha santai. Litha gak mau ambil pusing dengan sikap Fika. Litha yakin jika Fika benar sedang tertimpa masalah, nantinya Fika juga akan bercerita kepada Litha dan Sarah, mungkin saja Fika belum siap untuk menceritakan masalahnya.


"Kalo gitu gue juga mau kayak si Fika, pura-pura sakit. Karena gue juga sama kayak Fika yang gak pinter bohongin orang, mending gue minta tolong lo buat ngizinin gue ke BK. Pinter juga tuh si Fika nyuruh lo ngizinin ke BK, secara keluarga lo kan pemilik sekolah ini," ujar Sarah yang seperti rumus volume balok.


"Enak aja lo, ogah gue ngizinin lo," ucap Litha kesal. Masak iya Sarah malah punya niatan untuk memperalat Litha? Litha kan sahabatnya Sarah sejak kecil.


"Yaelah gitu amat lu sama gue. Giliran Fika aja, lo mau ngizinin," ucap Sarah yang juga ikutan kesal. Ralat Sarah itu sebenarnya kesal karena cemburu ke Fika.


"Fika itu kelihatan lagi gak semangat, dari tadi dia murung terus, kayak ada masalah gitu. Nahhh elu?? Ketawa-ketiwi ke sana ke sini,kayak orang gak punya dosa gitu malah. Mending lo di sini aja temenin gue!" tutur Litha.


"Hehehe... Iya deh. Ya udah yuk gue temenin ke BK?" ajak Sarah.


"Ngapain? Lo kangen ya sama guru BK?" ledek Litha sambil menarik turun kan kedua aliasnya.


Sarah itu paling males kalau ketemu guru BK. Jangankan bertemu, saat Sarah menyusuri koridor dan melihat guru BK yang masih terlihat lumayan jauh, dengan segera Sarah berbalik arah. Sarah lebih baik mencari jalan lain, walaupun muter-muter gpp, dari pada harus berpapasan dengan guru killer.

__ADS_1


Soalnya guru BK itu mayoritas pada galak-galak. Ya Sarah sih mengakui kalau guru BK itu cantik-cantik, tapi mukanya pada judes-judes gitu, didukung pula oleh kegalakannya, bahkan terkadang malah sadis juga. Bisa dibilang ngeri-ngeri sedap gitu lahhh hehehe...


"Dihhh!!! Ya ngizinin Fika lah, lo pikir gue mau berurusan sama tuh guru killer," jelas Sarah sewot.


__ADS_2