Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Lari-larian


__ADS_3

"Main air yuk!" Senyuman dibibir Litha pudar ketika Raka menggelengkan kepalanya.


"Besok aja, kita nikmati suasana sunset sambil santai-santai duduk minum air kelapa," Raka menarik Litha yang sudah cemberut agar duduk diam ditempat yang telah tersedia. Yah tidak jauh-jauh dari The Perfect yang duduk di tempat penjualan minuman dan jajanan pinggir pantai.


"Mau minum apa?" Raka menarik hidung Litha yang masih manyun.


"Air mineral, gak mau air kelapa," ceritanya Litha masih ngambek nih karena gak dibolehin main air wkwk kayak anak kecil.


Raka meminta tolong Arkan yang lebih dekat dengan penjual minuman agar melemparinya botol air mineral. Arkan melempar satu botol air putih yang nyaris saja mengenai wajah Litha. Untung saja Raka segera menangkapnya tepat didepan hidung mancung Litha.


Sedangkan di sana Arkan sudah cengengesan melihat Litha yang memelototkan mata kepadanya.


"Sengaja," ucap Arkan sengaja ingin memancing emosi Litha. Sudah emosi karena tidak diizinkan Raka main air, ini ditambah lagi sama si ceroboh.


"Wah... Minta diplintir nih anak," Litha sudah berdiri, namun tangannya langsung ditahan oleh Raka yang mengetahui bahwa Arkan tidak sengaja dan tidak benar-benar ingin melempar botol itu tepat mengenai muka Litha.


"Jangan di ladenin," Raka menyuruh Litha kembali duduk.


Sebelum duduk Litha memelototi Arkan sambil menunjukkan jari tengahnya, membuat Arkan semakin tertawa puas.


"Pokoknya aku tetep pengen main air. Tuh lihat banyak bocil-bocil yang main air," Litha menunjuk segerombolan anak kecil bermain air dengan pengasuhnya.


"Kamu bukan bocil lagi sayang," Raka membukakan air mineral untuk Litha.


Litha menerima botol tersebut dan memincingkan matanya, tumbenan si tiang manggil sayang.


"Main jam segini sambil lihat sunset seru tau Kak, ayo kita main berdua," Litha menarik lengan Raka yang tidak ada pergerakan sama sekali, karena tenaga Litha kalah kuat dengan pertahanan Raka.


Dahi Raka berkerut tidak menyukai kata kita. "Oke aku izinin main, tapi aku lihatin kamu main aja dari sini,"


Litha memutar bola matanya jengah. Dia itu maunya main berdua bukan sendiri! Raka itu bukan orang tuanya Litha yang harus diawasin kayak anak kecil.

__ADS_1


"Berdua, ayok!!!" Kekeh Litha tidak ingin dibantah.


Akhirnya Raka menyerah dan mengikuti kemauan gadisnya. Walaupun sebenarnya Raka benar-benar malas, dia itu paling anti main-main yang bikin capek fisiknya. Intinya Raka tidak akan melakukan aktivitas yang tidak ada untungnya untuk masa depannya.


Sebelum bertemu dengan Litha, Raka sering menghabiskan liburannya dengan memilih untuk belajar mengasah otak dan ototnya atau terkadang malah tiduran full seharian di kasur king size nya.


Litha berlari menarik tangan Raka agar mengikutinya sampai dibibir pantai. Litha menunduk melihat ke bawah lalu mendongak menatap sinis Raka yang tidak merasa melakukan kesalahan.


"Main di pantai itu ada peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi," Litha berjongkok membuat Raka heran.


"Apa?" Raka ikut berjongkok seperti Litha.


"Gak boleh pake sepatu," Litha menarik paksa sepatu Raka sampai membuat Raka jatuh terduduk di pasir.


Keduanya masih saling berebut sepatu, Litha tidak ingin melepaskan tangannya dari sepatu Raka yang tetap kekeh ingin mempertahankan sepatunya.


Senyuman Litha terlihat menatap sepasang sepatu hitam yang berhasil ia rebut, karena Raka memilih mengalah dari pada nanti akhirnya ribut.


"Itu kalo dijual bisa laku jutaan lhoh Tha," Raka menyayangkan sepatu yang baru ia beli dan baru sekali pakai langsung hilang ulah tunangannya sendiri.


"Gak nanya!" Ketus Litha yang tahu seberapa banyak isi kartu ATM orang didepannya ini.


"Ganti rugi," tegas Raka sok-sokan marah. Litha menahan tawa, dia tau kalau Raka gak akan marah karena hal sepele itu.


"No! Lagian ngapain beli sepatu harga mahal-mahal? Yang harga dibawah satu juta juga banyak," jangankan harga satu juta, yang dibawah seratus ribu juga banyak kali Tha.


Litha berlari mundur, "Tangkap aku kalau bisa aku akan ganti rugi sepatu jelek itu," Litha menjulurkan lidahnya mengejek Raka yang menyeringai penuh arti.


Duh... Duh... Tolong deh Tha itu sepatu harga jutaan, baru dibeli kemarin lhoh, dan baru dipakai beberapa jam doang, masak udah dibilang jelek.


Litha membalikkan tubuhnya berlari sangat kencang. Raka menyusul dengan lari yang lebih kencang dari Litha. Dalam hati Raka bersumpah akan menangkap gadis kecil itu dan tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


Dari kejauhan The Perfect tersenyum lebar melihat dua sejoli yang sedang berlari-larian dipinggir pantai. Dikiranya lagi pacaran, padahal aslinya lagi lomba lari itu wkwk.


"Ayang, ikut lari-larian lucu kayak mereka yuk," Fika membujuk pacarnya yang masih merajuk karena ulah Sarah yang menceritakan tentang Fika yang memuji ketampanan Raka dan Arkan.


Hais... Kalo inget itu Fika jadi pingin getok lagi kepalanya Sarah dan menarik bibirnya yang lemes.


Kepala Leon menggeleng, "No. Aku masih ngambek,"


"Astaga... Kayak anak perawan aja, ngambeknya lama banget," Fika cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.


Leon melirik ke sampingnya, tiba-tiba rasa dongkolnya kepada Fika sirna seketika saat melihat Fika yang malah marah balik kepadanya.


"Kok jadi kamu sih yang marah? Yang salah siapa?" Leon mengarahkan tubuh Fika agar menghadap padanya.


"Kamu!" Ketus Fika mengarahkan kepalanya ke arah selain melihat wajah Leon. Ayolah... Fika tu jadi kesal sendiri sama Leon, udah dibujuk dari tadi masih aja marah, kan Fika jadi sebel.


Mata Leon membola, ia menghembuskan nafasnya kasar sambil mengusap dadanya.


"Iya, aku yang salah. Cewek selalu bener. Aku minta maaf ya sayang udah bikin kamu bad mood," Leon mengusap sisi wajah Fika yang langsung tersenyum penuh kemenangan.


"Untung sayang, kalo enggak..." gumaman Leon terhenti saat Fika menatapnya tajam.


"Kalo enggak apa?" Tantang Fika.


"Kalo enggak sayang. Yaaa aku pasti cinta kamu, so balik lagi kalo ucapan aku di awal itu salah, cowok selalu salah dan cewek selalu benar. Perumpamaan kita berdua itu seperti rasa cinta dan sayang yang selalu berdampingan, udah sepaket pokoknya mah..." Leon memeluk erat Fika.


"Woii jangan ***-*** disini," seru Nick sengaja menganggu momen romantis Leon Fika.


"Minta di sumpel apaan mulut lu?!" Balas Leon tidak terima dituduh yang macam-macam.


"Duit aja. Kalo bisa yang dollar," Nick tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


__ADS_2