Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Senyuman Maut


__ADS_3

"Itu rencananya kak Raka bukan rencana Tatha," jawab Litha jujur.


"Lhoh... Emangnya kamu gak mau ketemu sama keluarga Adelard?" tanya ayah.


"Takut?" Ayah sepertinya meremehkan Tatha lagi nih...


"Iya pasti takut tuh..." jawab Umran yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Ikh... Apaan sih lo, rese banget," kesal Litha pada kakaknya. Umran hanya tersenyum tanpa dosa.


"Dasar BAU," ucap Litha dengan memberi penekanan pada kata yang bertuliskan huruf kapital. Litha kalau lagi marah sama Umran ya gitu, menghina Umran dengan sebutan BAU, kepanjangan dari bang Umran.


"Bodoamat gue gak denger," tutur Umran sambil menjulurkan lidahnya.


"Ayah bunda lihat tuh si BAU," Litha sedang mencoba meminta pembelaan dari orang tuanya, tuh kan mode manja Litha dikeluarkan kalau lagi sama orang tuanya.


"Udah-udah, Umran gak boleh gitu ya sama adeknya!" pinta bunda.


"Bercanda bun, pisss..." ucap Umran sambil mengangkat tangannya dengan jari membetuk huruf V.


**Sekolah__


Seperti biasa Litha berangkat sekolah dengan dijemput oleh Raka, kali ini Sarah tidak ikut nebeng bareng mereka. So Litha bisa bercerita tentang apapun kepada Raka, tanpa rasa canggung karena biasanya ada Sarah.


Litha merasa tidak enak kalau berbicara pada Raka tanpa mengajak Sarah ikutan nimbrung, kesannya seperti cuek dan acuh terhadap Sarah. Padahal sejujurnya Raka itu memang irit ngomong, sekarang aja nih beruang kutub yang ganteng itu cuman diem aja menyimak celotehan Litha. So emang Raka tu anaknya gak bisa diajak ngobrol bareng.


Kayaknya Raka harus dapet pelajaran sosiologi deh... Biar tau caranya berkomunikasi yang baik dan benar, serta tahu akan pentingnya bersosialisasi dengan individu lainnya. Supaya gak cuman menghafal materi mapel biologi dan gak cuman menghitung angka-angka dengan rumus matematika, fisika, dan kimia doang.


Dalam perjalanan saat berada di dalam mobil, Litha menceritakan tentang bagaimana sikap semua siswi kepada dirinya, setelah gosip pacaran antara dirinya dengan Raka mulai menyebar ke seluruh penjuru sekolahan. Selalu saja Litha menjadi bahan pembicaraan mereka saat Litha melewati koridor sekolah.


"Sampai," itulah satu kata tanpa intonasi yang pertama kali diucapkan Raka sejak dalam perjalanan menuju sekolah.

__ADS_1


"Dari tadi kak Raka dengerin gue ngomong gak sih?" tanya Litha dengan volume sedikit tinggi.


Raka menatap Litha, sebuah pertanyaan terlintas dalam pikirannya. Kenapa tiba-tiba Litha manggil Raka pakai embel-embel kak? Dan menurut Raka itu aneh.


"Denger," jawab Raka datar.


"Bukain pintu mobilnya!" pinta Litha yang berhasil membuat Raka kebingungan. Tidak seperti biasanya Litha bersikap manja.


Litha bertujuan ingin membuat seniornya menjadi iri. Siapa lagi kalau bukan kakak-kakak kelas 3 dan kelas 2 yang selalu menunggu di parkiran untuk melihat wajah tampan Raka.


Sebenernya bukan supaya iri sih, Litha ingin menunjukkan bahwa gosip Litha yang dianggap kecentilan yang beredar itu salah besar. Bukan hanya Litha yang mencintai Raka, tetapi Raka lebih jauh mencintai dan menyayangi Litha.


Selama ini Litha selalu digosipkan yang tidak-tidak, Litha dianggap sebagai perempuan murahan yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan hati seorang pemuda tampan bernama Raka.


"Manja," ucap Raka datar.


Entah itu mengartikan Raka sedang meledek atau menghina Litha, atau mungkin gemas dengan kelakuan Litha? Tapi bukannya kalau gemas itu ada senyumnya? Nah Raka kok datar-datar gitu aja? Emang dasarnya Raka gak bisa jauh-jauh dari ekspresi wajah datar dan selalu setia dengan ucapan tanpa nada serta intonasi.


Litha sendiri juga tidak tahu arti ucapan tersebut. Yang Litha tahu hanyalah sekarang Raka itu miliknya, Raka itu kekasihnya. Pokoknya ya gitu deh! titik gak pakai koma!! Valid no debat!!!


Raka terkejut dengan kelakuan Litha yang tiba-tiba seperti sedang memamerkan hubungannya ke semua orang. Tetapi Raka juga tidak merasa keberatan dengan hal tersebut, dengan senang hati Raka membalas genggaman tangan Litha.


"Anterin sampai kelas!" pinta Litha lagi sebelum melangkahkan kakinya. Raka hanya mengangguk tanpa tersenyum.


Dan itu membuat siswi yang melihatnya menjadi tambah berburuk sangka terhadap Litha. Mereka berpikir kalau Litha yang selama ini menggoda Raka, dan masih menjadi misteri mengapa Raka menuruti keinginan Litha?


Ya emang pada dasarnya kan Raka itu susah senyum sama irit ngomong. Netizen kayaknya pada lupa sama sifatnya Raka yang nyebelin itu.


Padahal sudah jelas bahwa Raka memiliki hubungan yang spesial dengan Litha, jadi itu bukanlah sebuah misteri mengapa Raka menuruti keinginan Litha. Tentu saja jawabannya adalah karena Raka tidak ingin membuat orang yang disayanginya merasa kecewa.


***

__ADS_1


Kini mereka berdua sampai di depan pintu kelas Litha. Setelah tadi menyusuri koridor mereka selalu ditatap oleh para kaum hawa.


Sebenernya Litha sedikit kesal terhadap sikap Raka yang sangat cuek pagi ini. Tapi mau bagaimana lagi, memang begitu resikonya mempunyai pacar sedingin es batu.


Keduanya masih bergandengan tetapi masih juga dengan diamnya. Mereka saling menatap satu sama lain, Litha sedikit menaikkan dagunya melihat ke atas, Raka sedikit menundukkan kepalanya melihat ke bawah.


"Selamat belajar sayang," ucap Raka sambil tersenyum. Sangat menawan itulah gambaran yang ada pada Raka saat ini, senyuman perpaduan antara manis dan tampan. Jangan lupakan jika ucapan tersebut menggunakan nada lembut dengan dibumbui rasa ketulusan cinta pastinya.


Deg...


Rasanya Litha ingin melompat-lompat kegirangan. Matanya tak henti-hentinya menatap kagum senyuman maut dari Raka. Hatinya bergetar hebat, jantungnya bergemuruh tak bisa dikontrol.


Dengan senyuman nan ucapan yang terdiri dari tiga kata saja sudah mampu membuat jantung Litha berdebar-debar bukan main. Tadinya Litha merasa sangat kesal dengan sikap dingin Raka, namun dalam sekejap batin Litha menjadi heboh sendiri.


Yups Litha masih terdiam mematung menatap senyuman menawan yang diberikan manusia tampan di depannya ini. Tapi sumpah demi apapun Litha sangat amat senang, hatinya, jantungnya, bahkan semua organ yang ada didalam tubuh Litha rasanya ingin melompat-lompat kegirangan.


Litha tersenyum, senyuman yang sangat manis menurut Raka. Tanpa disadari oleh Litha, Raka melepas genggaman tangannya, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menjauh dari Litha.


Litha masih tersenyum melihat kepergian Raka, punggung Raka mulai menghilang dari pandangan Litha. Tetapi Litha belum sadar juga akan kepergian Raka, sepertinya Litha benar-benar terhipnotis oleh senyuman maut dari Raka tadi.


"Woi..." seru Sarah menyadarkan Litha sekaligus mengejutkan pastinya.


"Ikh... Ngagetin gue aja lo," ujar Litha kesal.


"Ngapain lo senyum-senyum sendiri?" tanya Fika pada Litha.


"Gue..? Lhoh dia kemana?" tanya Litha.


"Dia siapa maksud lo?" tanya balik Sarah.


"Kalian lihat kak Raka nggak?" tanya Litha sambil clingak-clinguk.

__ADS_1


"Kak Raka? Sejak kapan dan kesambet apaan lo manggil dia kak? Biasanya juga nyebut nama doang," tanya Sarah penasaran kenapa Litha menyebut pacarnya dengan embel-embel kak?


"Kepo," jawab Litha singkat.


__ADS_2