Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Oma Shock


__ADS_3

Raka tidak bisa tidur, ia melihat jam masih menunjukkan pukul tiga. Ia menuju ke pantry untuk mengambil minum, dalam otaknya masih terpenuhi oleh Litha, Raka merasa bersalah karena dirinya Litha sampai hampir dilukai oleh Fandy.


Raka menaiki tangga menuju kamarnya, dia melihat teman-temannya yang sedang nyenyak walaupun tertidur di sofa dan ada yang di karpet juga.


Umran memutuskan untuk mengajak adiknya menginap di apartemen Raka, karena Umran membohongi orang tuanya bahwa Litha menginap di tempat Fika untuk menenangkan diri. Sedangkan Umran menginap di tempat Nick untuk melepas rindu dengan sahabatnya yang kurang waras itu. Nick juga ikut menginap di tempat Raka, padahal apartemennya ada di sebelah, katanya biar seru kalau kumpul bareng temen.


"Maaf," satu kata terucap ketika Raka menatap ke arah Umran yang tidurnya sambil ngorok.


Raka ragu untuk mengetuk pintu kamarnya, dia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Litha. Tapi bagaimana jika kehadirannya malah mengganggu Litha yang sudah tidur?


Raka membalikkan tubuhnya berniat ke bawah lagi dan mencoba tidur seperti yang lainnya.


"Kak," panggilan tersebut membuat Raka menoleh ke belakang.


Mata Raka berkaca-kaca langsung memeluk Litha sangat erat seolah-olah Litha adalah benda yang paling berharga untuknya dan tentu saja sesuatu yang berharga tidak boleh hilang dari genggamannya.


Litha bingung dengan sikap Raka, dia masih diam terpaku tidak membalas pelukan Raka.


"Maaf, maaf Tha. Ini semua karena aku, seandainya aku bisa menghalangi Via datang ke acara pertunangan mungkin semua ini gak akan terjadi, kamu gak akan sampai dibawa Fandy ke hotel. Sekali lagi maaf Tha," jelas Raka merasa sangat bersalah.


"Dan maaf karena aku gak cerita dari awal saat kedatangan Via di depan kita," Raka mengeluarkan semua isi dalam hatiny. Dia menjelaskan alasannya menyembunyikan masalah tentang Via, karena saat itu Raka tidak ingin menganggu konsentrasi Litha yang masih fokus belajar untuk ujian kenaikan kelasnya.


Sekarang Litha mengerti alasan Raka tidak mengatakannya sejak awal, Raka mempunyai alasan yang kuat untuk itu.


Tentang Litha yang dibawa oleh Fandy, bukan semuanya kesalahan Raka, ini juga salah Litha yang tidak hati-hati dan mudah percaya dengan seseorang yang pernah melukainya.


Litha melepaskan pelukan Raka. "Kak Raka nangis?" Ia mengusap pipi Raka.


"Ini pertama kalinya aku lihat Kak Raka nangis," Litha tertawa ringan mengejek seorang Raka yang terkenal dengan hatinya yang dingin, cuek dan wajah tampannya yang selalu datar ternyata bisa menangis juga.


"Kedua kalinya Tha," Raka meralat ucapan Litha.


Raka mengatakan dirinya juga pernah hampir menangis saat Litha dan Fika disekap oleh geng mafia yang dulunya milik Leon namun diambil alih oleh Fandy.


"Itu hampir Kak. Matanya cuma berkaca-kaca aja, air matanya gak sampe keluar," sahut Litha. Perdebatan tidak panjang, diakhiri dengan singkat karena Raka yang memilih untuk mengalah. Toh ucapan Litha memang benar adanya, air mata Raka pada saat itu tidak sampai keluar.


Litha menatap mata Raka dengan dalam, dari matanya Litha dapat melihat ada rasa bersalah yang sangat besar dalam diri Raka.


Raka mengusap lembut rambut gadis didepannya, "Maaf Tha. Aku akan selesaikan masalah ini hari ini, aku akan perjuangkan hubungan kita sampai kita mendapat restu dari Oma,"

__ADS_1


Litha langsung memeluk Raka. Tidak ada kata yang keluar dari bibir mungil Litha, pelukan tersebut sudah mewakili jika Litha sudah memaafkan Raka.


Litha menengadahkan kepalanya menatap wajah tampan si tiang listrik. "Aku gak bisa tidur," matanya melirik televisi disebelahnya. Yap didepan kamar ada sebuah televisi dan sebuah sofa yang tidak terlalu panjang, mungkin hanya cukup untuk tiga orang saja.


Keduanya menonton televisi, Raka merangkul Litha yang menyandarkan kepalanya dibahu Raka. Satu jam kemudian Raka menarik kedua sudut bibirnya, dilihatnya Litha yang sudah tertidur nyenyak. Menatap wajah Litha yang sedang tidur terasa sangat damai. Raka menggendong tubuh Litha, memindahkannya ke tempat tidur.


Cup. Satu kecupan manis nan singkat mendarat di dahi Litha. "Good Night,"


***


"Kamu bohong!" Seru Oma dengan mata berkaca-kaca dan tentunya otaknya dipenuhi oleh banyak opini dan berbagai pertanyaan.


Oma masih schok karena ditipu oleh seseorang yang dianggapnya orang yang baik, berhati lembut dan penuh kasih sayang.


"Ini bukan kebohongan, ini fakta Oma," Raka mengerti bahwa Oma sangat terkejut dengan kenyataan tersebut, tapi apa boleh buat memang itu faktanya.


Tapi Raka juga tidak habis pikir dengan Oma yang masih kekeh membela Via, jika Via adalah orang yang baik. p


Padahal Raka sudah menunjukkan semua rekaman video bahwa Via adalah Fani. Dan tujuan awal Via mendekati Raka yaitu ingin balas dendam karena cintanya tidak terbalas. Yaa meskipun berakhir dengan Via yang jatuh cinta lagi kepada Raka, tapi tetap saja tujuan awalnya berniat buruk.


"Siapa Fani? Apa dia orang terdekat mu di masa lalu?" Tanya Oma.


"Bukan. Dia hanya orang yang berusaha mendekati Raka agar Raka membalas cintanya dengan berbagai cara, termasuk mengancam dengan bunuh diri," ujarnya membuat Oma membelalakkan matanya karena terkejut.


Raka menjelaskan bahwa Fani pernah mengancam akan lompat dari atas gedung sekolah jika Raka tidak membalas perasaannya.


"Apa yang kamu lakukan saat itu? Apa kamu membalas perasaannya?" Tanya Oma.


Raka menggeleng, "Dia lompat dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia,"


Oma mengangguk mengerti. Seketika badannya merasakan lemas, kepalanya pusing begitupun dengan hatinya yang sakit karena ditipu mentah-mentah oleh Via. Kaki Oma serasa tidak kuat lagi menopang tubuhnya, tubuh Oma sempoyongan.


"Oma.." Raka menahan tubuh Oma yang hampir mendarat ke lantai.


"Mama.." kebetulan sekali Pak Baskara dan istrinya yang baru pulang dari luar kota langsung dikejutkan dengan keadaan itu.


Mereka berdua berlari mendekat kepada Oma Rahma yang berada dalam pelukan Raka.


"Ada apa Ma? Kenapa Mama sampai hampir pingsan? Mama sakit apa? Sudah periksa ke dokter atau rumah sakit?" Papa Baskara memborong dengan berbagai pertanyaan, saking khawatirnya. Bahkan Papa Baskara sampai lupa jika Mamanya tidak suka ke rumah sakit.

__ADS_1


"Mama baik-baik saja," jawabnya.


"Coba Kania cek keadaan Mama ya..." bujuk menantu Oma Rahma.


"Tidak perlu. Mama hanya butuh waktu untuk sendiri," Oma menatap cucunya yang mengangguk paham.


Papa Baskara menatap punggung Mamanya yang semakin hilang dari pandangan matanya.


"Oma kamu kenapa Raka?" Tanya Papa Baskara.


Raka mengembuskan nafasnya, "Raka males ngomong Pa,"


"Kamu tu ya kebiasaan," Mama Kania juga menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Mendingan Mama sama Papa istirahat aja dulu. Nanti kalo capeknya udah hilang dan malesnya Raka juga udah hilang, pasti Raka cerita," ujar Raka dengan senyum lebar yang ia paksakan agar Mamanya tidak jadi merajuk.


"Kamu tu kapan sih nggak males ngomongnya? Perasaan tiap hari, per jam, per detik selalu males ngomong," oceh Mama Kania tidak percaya dengan putranya.


"Nanti pasti Raka cerita Ma, ini masalah tentang Via, pilihan Oma yang mau dijodohin sama Raka," jelas Raka membuat kedua orang tuanya semakin penasaran.


"Masalah apa?" Tanya Papa Baskara.


"Mana mau tuh anak kamu cerita sekarang. Yang ada malah bikin kita berdua tambah kepo," Mama Kania melipat kedua tangannya di dada.


"Anak kita Ma. Coba aja kalau dapet juara umum langsung rebutan 'anak Mama tuh, bukan anak Papa, soalnya kepintarannya nular dari Mama bukan Papa,' " Papa Baskara menirukan logat bicara ala emak-emak ketika sangat membanggakan anaknya.


Raka tersenyum dengan memalingkan wajahnya agar Mamanya tidak bertambah kesal.


"Kenapa Ka? Lucu yah?" sahut Papa Baskara membuat Mama Kania menatap tajam putranya.


"Yang lucu Papa Ma, Raka nggak lagi ngetawain Mama," ucap Raka.


"Sekarang Mama sama Papa istirahat dulu, nanti pasti Raka cerita," bujuk Raka agar Mama tidak bertambah kesal.


"Promise?" Mama Kania menunjukkan jari kelingkingnya yang bergerak seperti cacing kepanasan.


Papa Baskara hanya tersenyum tipis sambil menggeleng melihat kelakuan istrinya yang seperti anak-anak, harus janji kelingking dulu baru bisa percaya dan tenang.


"Promise," Raka menautkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


***


Kenapa ga rajin up? Karena Author juga punya kesibukan di dunia nyata.


__ADS_2