Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Khawatir


__ADS_3

Sedangkan Raka, dia tersenyum tipis. 'Duh... Ganteng banget sih..' batin Litha yang mencoba menahan, agar dirinya juga tidak ikut-ikutan tersenyum. Kan ceritanya Litha masih ngambek-ngambek manja hehe...


"Nanti biar gue yang anter ke rumah Fika!" pinta Raka.


"Masak harus nunggu 1 jam sih? Males," ujar Litha.


"Gue bisa izin pulang lebih awal," apa sih yang enggak buat Litha wkwk...


"Nggak usah, gue gak mau ganggu pembelajaran lo," tegas Litha, sepertinya ini adalah awal perdebatan diantara mereka.


"Gue tungguin sekalian sampe pulang," tegas Raka tak mau kalah dari pacarnya.


"Hah...?" Litha membuka mulutnya dengan memasang ekspresi kaget. Ya kali Raka mau nungguin ciwi-ciwi pada ngumpul, pasti lama dong.


"Kenapa?" tanya Raka yang memang tidak mengerti pemikiran Litha.


"NGGAK USAH, kenapa sih lo maksa banget?" ujar Litha dengan memberi penekanan pada kata yang bertuliskan huruf kapital.


"Gue khawatir," jawab Raka datar.


"Nggak akan terjadi apa-apa kok, lagi pula ada Sarah juga," sahut Litha.


"Gue tetep mau anter," tegas Raka.


"Tapi gue gak mau," ucap Litha sedikit kebawa emosi.


Dan bla... bla... bla... Perdebatan mereka masih panjang, untung aja suasana kelas masih sepi, jadi gak ada yang tahu tentang perdebatan diantara dua manusia good looking tersebut.


Hingga bel masuk berbunyi dan hal tersebut lahhh yang menghentikan ritual perdebatan mereka, dan kalian pasti bisa menebak siapa yang mengalah diantara mereka? Ya Raka lebih memilih untuk berdebat lagi dengan lawannya saat menyalon sebagai ketua OSIS, dari pada harus berdebat dengan Litha. Seorang perempuan yang pastinya selalu ingin menang.


**Rumah Fika__


Tok... Tok... Tok...


Sarah mengetuk pintu rumah Fika, tetapi belum ada jawaban dari dalam rumah tersebut. Suasananya sangat sepi, biasanya ada satpam yang menjaga gerbang rumah Fika, jangankan dijaga gerbangnya saja saat ini terbuka. Dan halaman depannya pun terlihat kotor, serta banyak tumbuhan yang layu mungkin karena beberapa hari terakhir ini tidak ada yang merawatnya, seperti rumah yang tidak berpenghuni saja.


"Fika ada di rumah apa enggak sih? Tadi udah dibela-belain panas-panas naik angkot masak gak ada orangnya," gerutu Sarah sambil mengibaskan salah satu tangannya ke wajahnya.


Sarah itu jarang banget naik angkot, biasanya dia naik taksi. Tapi Litha memaksa Sarah naik angkot, supaya nunggunya gak kelamaan. Litha jaga-jaga aja kalau nanti Raka keburu udah pulang, pasti Litha dipaksa Raka lagi supaya diantar naik mobil pacarnya itu. Litha itu masih kesal dengan perdebatan tadi.


Tok... Tok... Tok...


Kini giliran Litha yang mengetuk pintu, dengan harapan sang pemilik rumah akan membukakan pintu rumahnya.


Krekkk...


Akhirnya pintu terbuka, dan beruntungnya yang membukakan pintu adalah gadis yang dicari oleh Litha dan Sarah.


"Hai..." sapa Litha dengan senyum manis.


"Lhoh... Kalian mau ke sini kok gak bilang-bilang," tutur Fika sedikit terkejut dengan kedatangan kedua sahabatnya.


"Gimana mau bilang, orang elo dihubungin gak bisa," sahut Sarah ngegas.


"Sorry deh... Ya udah masuk yuk!" ajak Fika mempersilahkan kedua sahabatnya masuk ke rumahnya yang terlihat sepi.


***


"Duduk!" perintah Fika kepada Litha dan Sarah yang masih berdiri dan clingak-clinguk ke samping kanan dan kiri. Sarah dan Litha pun menuruti perintah dari sang tuan rumah.

__ADS_1


"Kok sepi banget sih Fik, adek lo mana?" tanya Litha. Fika itu mempunyai saudara perempuan yang masih berumur 14 tahun, iya adiknya Fika masih SMP.


"Dia ke luar kota, nginep di rumah nenek gue," jawab Fika jujur.


"Lah sekolahnya gimana?" tanya Sarah.


"Udah pindah ke sana juga," jawab Fika.


"Ohh.. pindah rumah ceritanya. Kenap," ucap Litha terpotong karena ulah Fika.


"Ehh... Sampai lupa belom nawarin kalian minum, kalian mau minum apa?" ujar Fika yang sebenarnya tidak mau jika di interogasi lebih lanjut oleh dua manusia cantik dihadapannya.


"Jus jeruk ada?" tanya Litha.


"Ada, mau minum itu?" tanya Fika yang diangguki oleh Litha.


"Lo?" tanya Fika dengan bola mata yang menatap ke arah Sarah.


"Samain aja sekalian," jawab Sarah. Fika pun membalasnya dengan memperlihatkan tangannya dimana jari telunjuknya dan ibu jarinya membentuk huruf O, lalu Fika segera pergi ke dapur.


"Tunggu!!! Kok Fika nggak nyuruh ART nya buat bikinin kita minum?" tanya Sarah keheranan pada Litha. Tentu saja Litha yang bukan pemilik rumah ini hanya mengangkat kedua bahunya.


"Nih... Minuman sama cemilannya udah dateng," ujar Fika lumayan semangat, sambil masih berjalan menghampiri kedua sahabatnya dengan membawa nampan berisi minuman serta cemilan tentunya.


"Asik..." seru Sarah girang.


"Oh... Ya Fik ART di rumah lo pada kemana? Satpam yang biasanya ada di depan juga gak ada? Pada pulang kampung?" tanya Sarah.


"Iya," jawab Fika singkat.


"Pulang kampungnya kok berjamaah sih?" sahut Litha.


"Tauk tuh," lagi-lagi Fika jawabnya singkat.


"Gue jaga rumah. Lo kan tau ART gue pada pulang kampung berjamaah, terus adek gue ke luar kota pindah ke rumah nenek gue, nah.. nyokap gue masih di luar kota ngurusin pindahannya adek gue," jelas Fika yang juga panjang lebar.


"Kalo bokap lo man.." ucap Litha yang lagi-lagi terpotong, tapi kali ini terpotong karena handphonenya Litha berdering.


"Bentar gue angkat dulu," Litha mengambil HP-nya yang berada di dalam tas miliknya.


"Dari siapa?" Sarah kepo tuh...


"Es balok," jawab Litha lalu sedikit menjauh dari tempat duduk sahabatnya.


"Es balok?" gumam Fika yang masih terdengar oleh Sarah.


"DOI nya," sahut Sarah yang diangguki oleh Fika.


Fika langsung paham siapa es balok tersebut, siapa lagi kalau bukan ketua OSIS di sekolahannya yang terkenal dengan sikap dingin seperti es balok yang menjelma menjadi manusia tampan bernama Raka Adelard Pangestu, yang digilai oleh banyaknya kaum hawa dari yang muda hingga tua. Hehe.... Author lebay.


***


Litha segera menjawab panggilan dari kekasihnya itu.


"Apa?" tanya Litha.


"Udah nyampe di rumah Fika?" tanya Raka dari sebrang telepon.


"Udah, ini lagi ngobrol sama mereka terus ada pengganggu," ujar Litha.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Raka sedikit khawatir. Gak tau deh kenapa Raka terlihat mengkhawatirkan Litha dari tadi pagi malah?


"ELO," ucap Litha dengan penuh penekanan.


"Nanti biar gue jemput!" pinta Raka.


"Nggak usah, kenapa lo jadi perhatian gitu? Biasanya enggak," Litha pun juga merasakan bahwa ada sedikit yang berbeda pada sikap Raka.


"Gue bukan perhatian, tapi khawatir," jelas Raka jujur.


"Dihhh..." ketus Litha. Andai aja kalau Raka ada di sini, pasti Raka bisa ngelihat ekspresi Litha yang lagi cemberut.


"Intinya gue khawatir sama lo, lo jangan aneh-aneh di sana," tegas Raka.


"Kayak dukun aja lo, belajar dari mana?" Litha mengerti apa yang dimaksud oleh Raka. Raka itu merasa nantinya akan terjadi sesuatu pada Litha, entah itu hal baik atau buruk? Atau mungkin ini hanya perasaan Raka yang terlalu overthinking?


"Gue berharap ucapan lo salah," sahut Raka.


"Kenapa?" tanya Litha. Padahal kan Litha tadi cuman becanda.


"Supaya elo nggak kenapa-kenapa dan kekhawatiran gue ke elo salah," jawab Raka.


***


"Udah sayang-sayangannya?" goda Sarah pada Litha yang baru selesai teleponan sama Raka.


"Sayang-sayangan apaan sih? Dia itu nelfon cuman nanya udah sampe di rumah Fika apa belom, sama... Dia nawarin mau jemput kita. Tapi gue nolak," jelas Litha panjang lebar.


"Kenapa lo nolak?" tanya Fika keheranan. Bukannya malah seneng ya kalau dijemput pacar? pikir Fika.


"Iya tauk lo, biar nanti sore gak naik angkot lagi," ucap Sarah.


"Gue gak mau ngerepotin dia," jawab Litha.


"Nanti kalo pulang naik taksi online aja, mau nggak?" tawar Litha dan diangguki oleh Sarah.


"Ehh... Gimana kalo sebelum pulang kita maskeran bareng dulu. Terus matanya dikasih irisan timun, biar kelihatan keren," ajak Sarah.


"Terus kita foto-foto terus di upload ke medsos deh..." tambah Sarah dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Litha dan Fika saling pandang, Litha menaikkan sebelah alisnya ke atas, dan Fika pun membalasnya dengan senyuman lebar, "Okay..." ucap Litha dan Fika secara bersamaan dengan antusias.


"Tapi gue gak punya timun, mending salah satu dari kalian berdua ada yang beli di warung depan sana. Gak mungkin dong gue yang beli, gue kan mau nyiapin masker wajah nya," jelas Fika panjang lebar.


"Gue sama Litha beli di warung depan, lo nyiapin maskernya sendiri aja, secara ini kan bukan kompleks perumahan gue sama Litha," ujar Sarah yang kurang setuju dengan perintah Fika tadi.


"Ya elah, gue jamin gak ada apa-apa. Lagian tinggal beli di depan sana, kalo jalan kaki juga gak jauh-jauh amat. Kalo maskernya mau cepet jadi, harus ada yang bantu gue nyiapin. Jadi kalo timunnya udah sampe langsung tinggal diiris aja terus maskernya langsung dipake," jelas Fika panjang kali lebar kali tinggi.


"Eee... elo aja ya Sar yang beli di depan, soalnya tadi Raka udah ngewanti-wanti gue supaya gak macem-macem di sini," ujar Litha.


"Macem-macem gimana? Maksudnya gak boleh mondar-mandir di kompleks nya Fika? Takut diculik sama om-om ganj*n ya..?" tutur Sarah cekikikan.


"Bukan," jawab Litha sambil menyipitkan kedua matanya.


"Dia khawatir sama keselamatan gue, gue juga gak tau kenapa dia mikir gitu," jelas Litha.


"Lo gak nanya balik ke kak Raka, kenapa dia mikir kayak gitu?" tanya Fika.


"Udah. Katanya dia sendiri juga gak tau?" jawab Litha apa adanya, lagi pula memang itu yang tadi disampaikan oleh Raka.

__ADS_1


"Ya udah lo aja Sar yang beli timunnya! yang ngajak maskeran siapa?" tutur Fika.


"Iye gue," sahut Sarah lalu berjalan capcuss keluar dengan tujuan ke warung depan.


__ADS_2