Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pawang


__ADS_3

Semua murid kelas dua belas SMA Nagara tengah sibuk mempersiapkan ujian kelulusan mereka yang hanya tinggal hitungan hari.


Jam terakhir di kelas Litha di isi oleh mapel Biologi, siapa lagi kalau bukan Pak Gio gurunya. Jika di dalam kelas guru tersebut sangat profesional, ia tidak pilih kasih terhadap siswi yang dicintainya selama dua tahun ini dengan murid yang lainnya.


"Nanti pulang sekolah jangan langsung pulang dulu," Sarah berbisik di telinga Litha yang sedang fokus mendengarkan Pak Gio menerangkan beberapa latihan soal beserta jawabannya untuk persiapan ujian.


"Mau kemana?" Litha menoleh ke sampingnya.


"Ke kantin dulu sambil nunggu jemputan. Soalnya Umran baru bisa jemput satu jam setelah kita pulang sekolah," jawabnya berbisik lagi.


"Emang kantin masih buka jam segitu?" Heran Litha.


"Masih, nanti kan ada ekskul basket jadi kantinnya masih buka," Litha mengangguk menatap Sarah yang tiba-tiba saja menyenggol lengannya dan langsung menundukkan kepalanya.


"Kenapa lo?" Litha melirik lengannya yang baru saja disenggol Sarah.


"Litha, Sarah!" Suara bariton Pak Gio memenuhi isi ruangan.


Keduanya kompak menatap Pak Gio yang sudah menunjukkan ekspresi suram. Guru itu tidak suka jika ada murid yang asik berbicara sendiri saat dirinya sedang menjelaskan beberapa materi pembelajaran.


***


Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berhamburan keluar setelah para guru yang mengajar keluar kelas.


"Gila yaaa Pak Gio ngasih hukuman gak kira-kira," omel Sarah.


Ketiga gadis cantik menyusuri koridor sekolah sambil mengomel karena tidak terima dengan hukuman yang diberi oleh Pak Gio untuk Litha dan Sarah.


"Ini gara-gara lo," Litha menatap tajam Sarah.


"Salahin tuh Pak Gio. Katanya naksir sama lo, bukannya dikasih duit malah di kasih tugas setumpuk," Sarah membanting buku besar yang awalnya dipeluk olehnya.


Fika mengambil buku besar tersebut dan mengusap-usapnya agar bersih dari debu. "Kalo buku ini rusak bisa abis lo sama Pak Gio,"


Buka tebal dan besar tersebut adalah buku milik Pak Gio. Ia meminjamkannya kepada Litha untuk membantu Litha dan Sarah menyelesaikan setumpuk tugas yang diberikan olehnya sebagai hukuman karena berbicara sendiri di dalam kelas.


"Tugasnya apa sih kok kalian pada ngeluh?" Heran Fika.


Ketiganya telah sampai di kantin, memesan minuman dan mengambil beberapa snack untuk cemilan.


Sarah menghembuskan nafas kasarnya. Kalau soalnya sama dengan soal punya Litha masih mendingan, ngerjainnya bisa dibagi dua biar mempercepat waktu dan tidak menguras otak mereka. Nah ini masalahnya soalnya beda semua woiii..!!!


Sarah menunjukkan layar ponselnya. Fika melongo melihat soal-soal perintah yang dikirimkan oleh Pak Gio. "Seratus soal uraian?"


"Seratus satu hukumannya," Litha meralat ucapan Fika.


Fika dan Sarah menatap heran, seolah bertanya 'Ada tambahan?'


"Ada tambahan. Baru dikirim nih, kita disuruh bawa bunga mawar merah tapi gak ada pot nya," Litha jadi penasaran sendiri, kenapa gak pakai pot?

__ADS_1


"Gue gak disuruh," Sarah mengecek pesan dari Pak Gio yang hanya memberikan gambar soal-soal uraian saja.


"Kok cuma gue doang? Gak adil sih ini, mau komplain gue," Litha berdiri dan hendak menuju kantor guru.


Fika menahan tangan Litha, "Eh jangan! Biasanya kalau kita komplain gak terima sama hukumannya, nanti hukumannya malah ditambah lebih banyak,"


"Positif thinking aja. Siapa tau lo yang bawa bunga, Sarah yang disuruh ngitung kandungan klorofil dalam daunnya atau disuruh ngitung durinya," Fika tertawa sendiri dengan leluconnya yang sangat absurd.


Sarah dan Litha hanya diam karena tidak mood. Mood nya sudah hancur sejak Pak Gio menatapnya tajam di dalam kelas tadi.


"Di kumpulin kapan tuh?" Fika mengunyah snack dengan santai sambil melihat kedua sahabatnya yang terlihat frustasi membolak-balikkan buku tebal dan besar.


"Besok," ucapan Litha membuat Fika tertawa ikut bersyukur atas hadiah dari Pak Gio untuk kedua sahabatnya.


Eh kok bersyukur? Maksudnya Fika "Sukurin," Fika tertawa terpingkal-pingkal sampai tersedak makanan yang ia kunyah.


Uhuk-uhuk...


Sarah dan Litha saling pandang dan tertawa puas melihat satu temannya yang mukanya sudah memerah karena merasakan sakit di dadanya. "Sukurin," kali ini gantian Litha dan Sarah yang ikut bersyukur atas makanan yang dikunyah Fika.


Tak lama kemudian Pak Gio datang ke kantin dan menghampiri meja Litha.


Litha, Sarah dan Fika hanya cuek bebek saja. Sarah jadi kesal sendiri melihat wajah Pak Gio yang tanpa ada beban apa pun.


Sedangkan kini kepala Sarah serasa ingin meledak memikirkan jawaban soal-soal uraian tersebut, belum lagi belajar untuk persiapan besok di kelas. Menjelang hari-hari terakhir untuk ujian kelulusan biasanya para guru memberikan latihan-latihan ujian.


Seperti biasa Pak Gio langsung duduk di samping Litha tanpa izin terlebih dahulu. Pak Gio dapat menyadari bahwa kedua muridnya sangat kesal terhadapnya, terbukti dari raut wajah mereka yang sangat tidak bersahabat.


"Professional sih profesional, tapi gak gini juga kali Pak," semprot Sarah.


"Jika saya tidak memberikan hukuman kepada kalian pasti murid yang lainnya akan melakukan hal yang serupa dengan kalian, bahkan bisa saja melakukan hal yang lebih buruk dari sekedar berbicara sendiri di dalam kelas saat guru menjelaskan pelajaran," jelas Pak Gio yang terang-terangan menyindir kedua muridnya.


Sejujurnya Pak Gio tidak tega melihat Litha yang terus menulis di bukunya tanpa menoleh ataupun melirik ke arahnya.


"Itu sih alesan Pak Gio doang," ketus Sarah sambil terus menulis jawaban yang ternyata satu nomor soal saja, jawabannya bisa sampai memenuhi isi satu halaman buku tulisnya.


Pak Gio tidak mempedulikan omelan Sarah yang mulutnya terus saja komat-kamit meskipun tangannya sibuk bergerak menulis. Sedangkan Fika hanya diam menjadi penonton setia seraya mengunyah snack, sangat persis seperti orang yang sedang menonton drama televisi.


"Litha tolong jangan hanya diam. Saya tidak bisa jika di diam kan seperti ini," ujar Pak Gio selembut mungkin.


"Saya harap kamu dapat mengerti kondisi dan posisi saya saat ini," mohon Pak Gio.


Litha kesal dengan ocehan Pak Gio, kupingnya serasa gatal sekali. Ia mendongak menatap tajam guru biologi tersebut, "Apa untungnya saya ngertiin Bapak? Mending saya ngertiin pasangan saya sendiri. Lagi pula kalau saya ngertiin Bapak, emangnya Bapak bersedia mengerjakan tugas-tugas ini yang diberikan oleh Pak Gio sendiri?"


"Jika hal tersebut bisa membuat suasana hati kamu kembali membaik, maka saya bersedia mengerjakannya," jawab Pak Gio tanpa ada keraguan.


Jawaban tersebut sukses membuat Sarah dan Fika melongo. "Saya juga dong Pak," Sarah meletakkan buku-bukunya tepat didepan Pak Gio.


Pak Gio hanya menatap Sarah sekilas. Jika dia harus mengerjakan tugas-tugas tersebut, menulis huruf-huruf yang sangat banyak sampai kram jari-jemarinya pun tak masalah asalkan Litha mau memaafkannya.

__ADS_1


"Serius?" Litha masih ogah-ogahan berbicara dengan guru itu, karena Litha tidak yakin Pak Gio akan benar-benar melakukannya.


Paling-paling juga Pak Gio pura-pura udah ngerjain semua tugas itu, padahal sebenarnya Pak Gio bohong. Bukannya yang ngasih tugas hukuman itu dia sendiri, dikumpulinnya juga ke dia. Ngapain dia susah-susah nulis banyak?


"Saya serius asal kamu memaafkan saya. Jika jam sekolah kamu adalah murid saya, tapi diluar jam sekolah kamu adalah wanita yang saya cintai," tutur Pak Gio membuat lidah Litha terasa pahit.


Sarah dan Fika jadi melting sendiri mendengar kata-kata manis yang terucap dari bibir guru menyebalkan itu.


"Sekali lagi saya tegaskan saya mencintai orang lain. Tapi saya akan memaafkan Bapak kalau Bapak bersedia mengerjakan tugas saya dan juga tugas Sarah. Seorang guru biologi akan mengerjakan tugas yang diberikan olehnya sendiri, bukankah itu hal yang sangat mudah?" Litha menantang Pak Gio.


"Jika itu yang kamu mau, maka saya akan melakukannya," Pak Gio langsung mengambil buku-buku yang berserakan di depan Litha.


Bukan maksud Litha untuk mengerjai Pak Gio, Litha masih terbawa emosi karena kesal dengan Pak Gio yang memberi hukuman tidak kira-kira. Dikira otak Litha komputer apa? Litha juga harus menyicil belajar pelajaran lainnya untuk persiapan ujian kali Pak!


Sarah tersenyum lebar melihat Pak Gio yang benar-benar mengerjakan tugas-tugas tersebut di depan mata mereka. Sedangkan mulut Fika menganga lebar, dan Litha kini merasa tidak enak hati. Dugaan Litha ternyata salah, Pak Gio saat ini sedang menulis jawaban dari soal-soal tersebut tepat didepan mata Litha sendiri.


Baru menulis beberapa kalimat, suara seseorang membuat Pak Gio menghentikan kegiatannya.


"Litha Kusuma Jaya Nagara," suara keras terdengar sangat tegas, dingin, dan menekan disetiap kata yang terucap.


Semuanya menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkan mereka berempat.


"Pawangnya dah dateng," Sarah tersenyum kecut melihat Raka yang berjalan mendekat dengan menunjukkan mata elangnya menatap tajam Litha. Kalau begini ceritanya auto gagal dong buat judul guru biologi ngerjain tugas biologi yang dibuatnya sendiri.


Raka masih berdiri didepan Litha, sepertinya manusia tiang itu tidak ada niatan untuk duduk. Tatapan matanya pun masih sama seperti diawal.


"Maaf Kak," Litha tertunduk tidak berani menatap Raka. Litha yakin pasti Raka telah di sini lebih dari lima menit yang lalu.


Raka sengaja tidak menunjukkan dirinya karena dia ingin mendengar obrolan apa saja antara Litha dengan Pak Gio jika tidak ada dirinya disisi Litha.


Bukan karena cemburu! Namun apakah Litha akan memegang kata-katanya yang diucapkan tadi malam? Apa gadis kecil tersebut benar-benar akan menghormati guru yang menyukainya itu?


"Apa aku butuh permintaan maaf dari kamu?" Tanya Raka menyindir Litha yang langsung menggeleng dengan kepala tertunduk.


"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan!" Suara dingin tersebut membuat Litha tidak berani berkutik sedikit pun.


Sarah dan Fika juga sama takutnya seperti Litha. Jika Raka sudah marah dan kecewa maka dunia terasa menakutkan.


Padahal nih ya Raka ini gak marah beneran kok, dia hanya ingin memperlihatkan sisi tegasnya agar Litha mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya hari ini dan mampu memegang perkataannya tadi malam. Mereka belum tau aja kalau Raka gak akan bisa marah lama-lama sama Litha.


Litha menuruti perintah Raka. Ia mengambil kembali buku-buku miliknya dan milik Sarah.


"Pak Gio saya meminta maaf karena sikap saya yang tidak sopan terhadap Bapak, tidak seharusnya saya menyuruh Bapak untuk mengerjakan tugas tersebut. Saya janji untuk kedepannya, saya akan lebih menghormati Bapak," Litha menatap Pak Gio, setulus hati Litha memohon maaf atas sikapnya yang kurang ajar terhadap gurunya sendiri.


Litha kemudian menyenggol lengan Sarah yang ada di sampingnya. Sarah terkejut, ia baru tersadar dari lamunannya karena terhanyut dalam kata-kata Litha.


Sarah mengangkat dagunya dengan tatapan bertanya. Litha membalas dengan melirik Raka sekilas, lanjut melirik Pak Gio sekilas. Dan barulah Sarah paham.


"Ss... Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya Pak," Sarah tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Kok persis kayak yang di sinetron TV-TV?" Fika merasa tidak asing dengan kata-kata dan nada yang diucapkan Sarah.


"Emang! Orang gue niruin kata-katanya dari situ," Sarah keceplosan, ia menutup mulutnya sambil menatap Raka dan Pak Gio yang geleng-geleng kepala. Secara tidak langsung Sarah telah memberitahu mereka semua bahwa permintaan maafnya tidak tulus dari lubuk hati terdalam.


__ADS_2