Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Alay


__ADS_3

"Maaf Tha, aku cuma bercanda," Duh muka gantengnya Raka tu sekarang lagi melas banget. Gak tau deh ini permintaan maaf yang keberapa kali, yang pasti udah puluhan kali.


Raka hanya bisa menghelai nafas panjangnya, ia hanya bisa pasrah. Sedari tadi Litha terdiam dengan menyimpan kekesalannya pada Raka. Litha duduk ditepi ranjang dengan membelakangi Raka.


Sudah berkali-kali Raka mengikuti arah pandangan Litha, tetapi saat Raka sudah berada didepan Litha, gadis itu malah berbalik arah membelakangi Raka. Sampai-sampai Raka lelah sendiri, jadilah Raka hanya bisa pasrah.


Setelah Raka menyebutkan nama Sarah dan Fika, rasa jengkel Litha pada Raka memuncak seketika. Litha mendorong tubuh atletis Raka dengan sekuat tenaganya.


Mungkin saking kesalnya, mendadak tenaga Litha menjadi bertambah berkali-kali lipat. Untung saja saat didorong Litha, Raka tidak sampai terjatuh ke lantai. Raka tidak hanya sering berolahraga untuk kekuatan otot-ototnya, dia juga sering olahraga untuk keseimbangan. So keseimbangannya tidak terkecoh saat dalam situasi yang tiba-tiba seperti tadi.


"Janji gak akan gitu lagi," ucap Raka dengan menunjukkan jari kelingkingnya.


"Gak gitu gimana?" tanya Litha. Akhirnya gadis itu mau berbicara setelah sekian lama diam membisu.


"Ya gitu," Raka bingung harus menjawab bagaimana.


"Pake baju gih!" suruh Litha tanpa mau memandang ke arah Raka.


Tanpa ba-bi-bu Raka segera mengambil hoodie hitamnya yang berada dilantai dan memakainya dengan asal. Setelah memakai hoodie, Raka menghadap ke arah Litha yang masih memasang ekspresi jutek.


Baru Raka akan berkata, tapi Litha sudah bersiap ingin berbicara, sehingga Raka memilih mengalah saja.


"Aku belum maafin kamu yah!" tegas Litha. Lagi-lagi Raka hanya bisa pasrah, dia membuang nafas panjangnya.


"Tentang video itu gimana?" tanya Litha.


"Aman," jawab Raka.


"Singkat banget sih... Tadi aja, waktu minta maaf dikasih penjelasan. Nah sekarang..?" Protes Litha.


"Iya-iya," ogah-ogahan Raka mengatakan hal tersebut.


"Jadi?" tanya Litha menagih penjelasan.


"Videonya udah ada yang delete dari HP dia. Bukan cuma di satu HP, tapi ada di dua HP yang menyimpan video itu dan di laptopnya juga ada," ungkap Raka.


Litha mengangguk, dia sudah tidak terkejut dengan kelicikan Dita yang menyimpan banyaknya video di ponsel dan laptopnya. "Siapa yang delete?" Litha mengernyitkan keningnya.


"Aku," jawab Raka.


"Kamu?" tanya Litha tidak percaya.


"Kok bisa? Kamu gak ngelakuin hal yang aneh-aneh sama Dita kan? Sampai Dita nyerahin video itu ke kamu," selidik Litha dengan mata memincing.


"Enggak, bukannya tadi aku keluar sebentar doang?" balik tanya Raka.


"Iya sih... Tapi..." ucap Litha bagai memikirkan sesuatu.


Lalu Litha menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Dia terkejut dengan pemikirannya sendiri. "Kamu pake hacker?" tebak Litha yang ternyata benar. Raka menganggukkan kepalanya.


"Hacker dari negara mana?" tanya Litha dengan tampang yang berbinar. Sepertinya gadis itu melupakan kekesalannya pada Raka.


"Indonesia," jawab Raka.


"Siapa?" Litha penasaran.


"Coba tebak!" pinta Raka yang ingin bermain tebak-tebakan dengan Litha.


"Emang aku kenal hacker itu?" tanya Litha yang diangguki oleh Raka.


Litha berfikir. Bukankah tadi Jordy yang sangat ingin melacak keberadaan Dita, sebelum Dita datang sendiri ke cafe The Perfect untuk bertemu dengan Raka? Mungkin saja Jordy handal dalam urusan seperti itu.


"Jordy?" tebak Litha tanpa menyebutkan embel-embel kak. Dulu Litha pernah menyebut cogan-cogan itu menggunakan embel-embel kak, tapi Raka malah melarangnya. Entah apa alasannya, Litha tidak tahu.


"Bukan," ucap Raka sedikit malas, karena jawaban Litha tidak sesuai dengan ekspektasinya.

__ADS_1


"Terus siapa?" tanya Litha yang begitu penasaran. Bukankah tadi Raka sudah menyebutkan bahwa dirinya yang mendelete video itu? Akh... kenapa Litha mendadak jadi agak tulalit? Buang saja pikiran negatif itu, mungkin saja Litha lupa, namanya juga manusia!


"Aku," jawab Raka datar. Ya dia pikir Litha akan menyebutkan namanya, eh malah yang disebut si bule nyasar.


Litha menatap Raka dengan tatapan tidak percaya. Raka bukanlah seorang mahasiswa lulusan departemen komputer dari luar negeri? Jangankan sudah mendapat gelar sarjana, lulus dari sekolah menengah atas saja belom.


Tetapi bagaimana mungkin Raka bisa menjadi seorang hacker? Raka belajar dari mana? Bukankah selama ini dia sibuk dengan urusan perusahaan? Tapi nyatanya Raka lebih wow, dari yang Litha bayangkan, Raka sangat hebat.


Tidak hanya itu, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepala Litha. Tapi ya sudahlah Litha tidak perlu harus mengetahui bagaimana prosesnya, yang ia tahu Raka sangat hebat.


Raka yang merasakan ada sesuatu yang menggangu pikiran gadis itu, lantas bertanya, "Nggak percaya?"


Litha menatap Raka tajam, lalu tiba-tiba saja sebuah senyuman terbit pada bibir mungilnya. "Kak Raka hebat banget sih? Eh bukan cuma hebat, tapi keren juga," Litha berdecak kagum pada kekasihnya.


Litha meraih pinggang Raka dan memeluknya, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Raka. Tapi Litha merasakan ada yang aneh, Litha mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan Raka yang hanya datar-datar saja? Raka tidak senang dipeluk Litha?


"Kok nggak balik meluk sih?" kesal Litha, tetapi kedua tangannya masih memeluk Raka.


"Tadi bilangnya belom dimaafin. Nanti kalo aku meluk kamu, yang ada kamu tambah marah," ledek Raka.


Litha baru ingat, kalau dia lagi marah plus kesal dengan Raka. Litha melepaskan pelukannya, dia beranjak dari duduknya dan sedikit mundur kebelakang.


Raka juga ikut berdiri, dia mendekatkan dirinya dengan Litha, lalu menangkup wajah Litha yang sedang cemberut. "Yakin gak mau meluk lagi?" goda Raka.


Litha bersikedap, "Nggak ah... Kan aku lagi sebel sama kamu," Litha menjeda kalimatnya.


"Lagi juga kamu nggak mau bales meluk aku," tambah Litha.


"Kan kamu belom maafin aku," bela Raka.


"Ya kamu nggak minta maaf sih," sahut Litha tak mau kalah.


"Jadi dari tadi aku mohon-mohon sambil ngomong panjang lebar sampai aku capek, gak dianggep?" tanya Raka yang masih menangkup kedua sisi wajah Litha.


"Masak cuma ngomong doang capek? Lebih capekan mana sama kemaren yang gebukin orang sampai pingsan?" sindir Litha.


"Jadi mau dimaafin nggak nih?" tanya Litha.


"Emang kamu mau maafin?" tanya Raka balik.


"Coba aja dulu!" suruh Litha.


"Enggak ah... Nanti nggak kamu maafin malah dapet capek lagi," ujar Raka yang menolak secara terang-terangan.


"Usaha aja dulu!" kekeh Litha yang tetap memaksa Raka.


"Kalo udah usaha tapi nggak dapet hasil yang diinginkan ya percuma," ceritanya Raka nyindir Litha tuh. Yah mengingat Raka yang udah minta maaf berkali-kali tapi malah didiemin Litha.


"Berarti usahanya kurang. Kamu lupa sama kata-kata usaha tidak akan mengkhianati hasil?" Litha tetap ingin memaksa Raka, agar meminta maaf lagi kepadanya, dengan mengingatkan kata-kata mutiara pada Raka.


"Ikh... Cepetan dong minta maaf lagi. Aku pasti maafin deh..." paksa Litha karena Raka tidak merespon ucapannya tadi.


"Litha maafin aku yah," ucap Raka tulus serta dengan tampang sok imut.


Duh bikin Litha jadi melting aja hehe... Udah lah Litha gak kuat kalau lihat Raka yang berada di mode imut gitu. 'Iya dimaafin kok, tapi nanti ya beruang kutub kesayangan ku hehehe,' begitu batin Litha.


"Emmm... Udah sering manggil nama, aku bosen dengernya. Ulangin!" Litha sepertinya ingin mengerjai Raka. Kapan lagi coba bisa ngerjain manusia ganteng yang dingin kek es batu plus anak orang kaya yang terlahir dari keluarga terhormat?


"Tadi katanya dimaafin," tutur Raka tidak terima.


"Kan aku bilangnya nggak ada kata langsung dimaafin," Litha membela dirinya sendiri.


"Terus maunya dipanggil apa? Sayang?" tawar Raka.


"Udah biasa," jawab Litha cepat.

__ADS_1


"Terus apa?" tanya Raka sedikit frustasi menghadapi Litha.


"Pikir sendiri dong! Katanya pinter, selalu jadi juara umum," ujar Litha.


"Em... Mama Papa? Ayah Bunda?" tanya Raka asal.


Litha tertawa renyah. "Jangan itu. Yang lebih alay lagi,"


Raka terdiam, "Emm... oke!" ucap Raka setelah berfikir beberapa detik.


"Udah ketemu?" tanya Litha.


"Udah," jawab Raka dengan nada sombong.


"Apa coba?" tanya Litha dengan tawa kecil.


"Litha sayangku cintaku kasihku maafin aku yah..." ucap Raka dengan menunjukkan ekspresi imutnya dan senyum khasnya yang tampan.


Pffttrr... Litha menahan tawanya. Jujur Raka terlihat sangat lucu saat mengucapkan kata-kata yang sangat alay itu. Karena itu jauh dari karakter Raka yang sangat cuek, dingin, dan terkadang juga sadis jika amarahnya sedang memuncak seperti kemarin.


Whahahaha... Akhirnya tawanya meledak, bahkan Litha sampai mengeluarkan air dari sudut matanya. Mungkin jika The Perfect dan Umran melihatnya, mereka akan lebih mengeluarkan suara tawa yang sangat kecang dari pada Litha saat ini.


Sedangkan Raka kini kembali memasang ekspresi datarnya. Dia memandang Litha yang masih dengan gelak tawanya.


"Belom puas ketawanya?" tanya Raka akhirnya setelah hanya diam memandangi Litha.


"Udah, hhh..." jawab Litha disela tawanya.


"Lanjutin aja gpp," sahut Raka.


"Ya ampun perut aku sampai sakit, hhh..." ucap Litha.


Karena tak mendapat sahutan dari Raka lagi, akhirnya Litha menghentikan tawanya. Apa manusia dingin itu marah? Ah sepertinya tidak, dia bukan tipikal orang yang gampang marah karena hal sepele.


"Oke udah puas dan udah aku maafin juga," ungkap Litha, tetapi Raka hanya diam saja.


"Ikh... Kok diem sih? Kamu marah?" kesal Litha.


"Enggak,"


"Bener?"


"Iya,"


"Jujur?"


"Iya,"


"Kalo gitu bales peluk dong!" suruh Litha dengan meraih pinggang Raka. Litha sudah membenamkan wajahnya di dada bidang Raka lagi, rasanya tidak ada bosan-bosannya Litha melakukan hal itu. Baginya Raka adalah tempat ternyaman untuknya.


Dengan senang hati Raka membalas pelukan dari gadis bertubuh mungil itu. "Bilang aja minta dipeluk," sindir Raka yang masih memeluk Litha.


"Emang iya," sahut Litha tanpa rasa malu.


Raka tersenyum mendengar penuturan Litha, "Kangen?" tanya Raka.


"Banget..." sahut Litha dengan mempererat pelukannya, membuat Raka tersenyum begitu juga dengan Litha.


"Baru ditinggal keluar sebentar udah kangen banget? kemaren udah peluk juga?" heran Raka.


Litha merenggangkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya, melihat wajah kekasihnya. "Ga tau. Pokoknya kangen aja, pingin peluk, gpp kan?" tanya Litha.


Raka menundukkan kepalanya dengan seulas senyuman yang tulus. Tanpa menjawab pertanyaan Litha, Raka mengarahkan kembali wajah Litha ke dadanya. Raka dan Litha sama-sama mempererat pelukannya, dengan senyum yang menghiasi bibir keduanya.


Mereka berpelukan cukup lama, melampiaskan rasa sayangnya sekaligus melepaskan rasa rindunya, seolah-olah mereka baru saja dipertemukan setelah sekian lamanya tak berjumpa.

__ADS_1


Khusus untuk malam tahun baru, di chapter ini full Raka and Litha 😻


Happy New Year semuanya 🥳❤️ Malam ini pada bakar-bakar apa nih? Mau bakar makanan apapun terserah deh, asal jangan sampai kebakar api cemburu hehehe...


__ADS_2