Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pembalap Amatir


__ADS_3

"Woi.. pelan dikit napa? Ini dibelakang ada anak orang," itu adalah teriakan dari penumpangnya bang Umran, siapa lagi kalau bukan Litha.


Teriakan tersebut justru malah membuat Umran tertawa sejadi-jadinya dan menambah kecepatan motornya. Tentunya hal tersebut membuat Litha sangat kesal.


'Ini orang pasti sengaja ngerjain gue, dasar kampr*t,' batin Litha.


**Sirkuit balap motor__


"Ngapain kesini, katanya mau nonton?" tanya Litha kebingungan.


"Nonton balapan," jawab Umran dengan santainya.


"Kalo cuma nonton balapan, ngapain ngajak temen. Dasar Bambank," ujar Litha mendengus kesal.


Umran hanya memberi tanggapan tertawa, seperti orang yang tidak mempunyai dosa saja.


***


"Gila gede juga ya sirkuitnya, gue baru pertama kali sih masuk sirkuit," ujar Litha sambil kepalanya clingak-clinguk menuju ke segala arah, agar dapat melihat semua yang ada disana. Ya.. bisa dibilang saat ini Litha memasang gaya kampungan, seperti yang ada di sinetron-sinetron.


"Ada untungnya juga kan, lo ikut gue?" tanya Umran.


Litha tidak menanggapi pertanyaan abangnya, dia masih clingak-clinguk ga jelas bangetlah pokoknya. Dan alhasil kelakuan Litha itu membuat Umran menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. 'Gini amat yak punya adek,' batin Umran.


***


Sekarang Litha dan bang Umran sedang duduk menunggu balapan motor dimulai.


"Ini balapan apaan sih..?" tanya Litha dengan tiba-tiba.


"Motorlah, yakali balapan odong-odong," jawab Umran dengan asal aja.


"Maksud gue yang ikut balapan itu pembalap profesional apa amatiran?" tanya Litha sekali lagi.

__ADS_1


"Nah... Kalo nanya tu yang jelas. Kayaknya pembalap amatir, soalnya ini kompetisi balap motor sport gitu. Hadiahnya lumayan lo, bisa buat ngasih makan orang sekampung." ujar Umran.


***


"Wahh.. tadi keren sih yang jadi juara 1, tapi kok helmnya gak dibuka ya..?" tanya Litha sambil berjalan menuju parkiran dengan bang Umran.


"Dia gak mau kalo banyak orang yang tau identitas aslinya," jawab Umran.


"Sok misterius banget," ucap Litha.


"Ehh... lo ga nyadar diri apa?" tanya Umran. Umran itu juga tahu kalau Litha menyembunyikan identitasnya saat di sekolah, bahwa dia berasal dari keluarga terpandang dan terhormat.


Litha hanya menanggapi dengan tawa kikuk, dia baru sadar, kalau dia juga melakukan hal yang sama seperti pembalap misterius itu.


**Jalan raya__


"Udahlah gue pergi sendiri ya..? Nanti keburu tutup," ujar Litha mendengus kesal kepada bang Umran.


"Tunggu bentar napa? Sekalian temenin gue sampe tukang bengkelnya dateng!" ucap Umran.


Litha? Dia sedang sangat kesal dan jengkel, karena Umran menyuruhnya menunggu seseorang, yang tak lain adalah temannya Umran, untuk mengantarkannya ke toko buku.


Sebenarnya Litha bisa sendiri, tapi dicegah oleh abangnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Umran itu aslinya juga sangat protektif dan posesif terhadap adeknya, karena dia telah diberi amanah pada orang tuanya yang super duper sibuk, untuk menjaga adeknya ini.


"Nah.. yang ditunggu dateng juga," ujar Umran.


Litha yang awalnya sibuk dengan handphonenya langsung memalingkan pandangannya ke arah sumber suara, yang dia pikir adalah orang yang akan mengantarkannya. Ternyata tidak, itu adalah tukang bengkel yang ditunggu Umran. Tak lama kemudian Umran menerima sebuah pesan singkat dari sahabatnya.


"Kenapa?" tanya Litha yang melihat abangnya seperti sedang kebingungan, setelah menerima pesan WhatsApp itu.


"Temen gue tiba-tiba ada urusan, jadi gak bisa kesini," jawab Umran.


"Yaudah gue sen..," ucap Litha yang belum sempat terselesaikan, karena tiba-tiba ada seseorang dengan motor sport hitamnya berhenti tepat didepan Umran dan Litha berada. Litha merasa pernah melihat motor sport hitam itu, dia merasa tidak asing dengan motornya dan bentuk tubuh yang ideal dan agak berotot itu, siapa lagi kalau bukan pengendara motornya.

__ADS_1


"Lhoh.. ini kan yang tadi jadi pemenang balap motor," ujar Litha sangat terkejut, ternyata orang yang berhenti tepat didepannya adalah sang pembalap amatir yang diakuinya sangat keren.


Litha pun tambah terkejut setelah melihat orang itu membuka helmnya, ternyata identitas asli dari pembalap amatir itu adalah seorang pemuda tampan bernama Raka Adelard Pangestu.


"Motornya kenapa?" tanya Raka pada pemilik motor yang ban nya sedang mengalami musibah, apalagi kalau bukan bocor.


"Kebetulan ada lo, ban motor gue lagi bocor nih.. Lo mau bantuin gue gak? Anterin Litha ke toko buku. Gue khawatir kalo dia sendirian malem-malem gini," ujar Umran dengan ekspresi wajah sangat cemas.


Raka hanya merespon permintaan Umran dengan anggukannya.


"Lhoh.. tunggu, elo beneran yang tadi di sirkuit dan kalian saling kenal?" Litha masih tak percaya bahwa manusia tampan ini adalah sang pembalap tadi, dan sekarang Litha dikejutkan lagi oleh bang Umran yang terlihat sangat dekat dengan Raka.


"Iya.... Udah jangan banyak bac*t, buruan naik ke motornya Raka," jawab Umran.


"Kok lo gak ngomong sih, kalo kenal Raka. Dia itu cowok yang gue pikir aneh, yang waktu itu gue ceritain ke elo," ucap Litha. Dulu saat pertama bertemu Raka di sekolah, Litha memang pernah bercerita tentang tatapan Raka yang dirasa Litha aneh, kepada kakaknya itu.


"Iyeee... gue juga tau kalo yang lo ceritain waktu itu Raka, waktu itu lo kan juga nyebut namanya terus," ucap Umran yang mulai bosan dengan ocehan Litha.


"Terus kenapa lo gak bilang ke gue, kalo lo kenal sama ni beruang kutub?" tanya Litha lagii....


"Cepetan!" ujar Raka, biasalah dengan nada dingin dan datarnya.


"Udah buruan sono, jangan banyak bac*t," ucap Umran.


**Toko buku__


"Kalo lo mau pulang duluan gpp," ujar Litha yang baru sampai didepan toko buku bersama beruang kutubnya, ehh.. maksudnya Raka.


Raka tidak merespon ucapan Litha, dia masih duduk dengan setia berada diatas motornya. Litha yang malas berbicara dengan es batu ini akhirnya meninggalkan Raka dan masuk ke dalam toko buku.


Sebelum Litha benar-benar masuk ke dalam toko, tepatnya dia masih berada didepan pintu. Dia mendengarkan Raka yang menyalakan mesin motornya dan Litha juga melihat Raka pergi meninggalkan tempat itu.


'Kalo emang mau pergi ya.. pergi aja. Ngapain coba nungguin gue dulu sampe didepan pintu toko, dari awal juga gue udah nyuruh dia pulang duluan kan? Dasar aneh,' gerutu Litha dalam hatinya sendiri. Yang pasti saat ini Litha sedang sangat kesal dan jengkel.

__ADS_1


***


Entah kenapa Litha sangat emosi saat ini, sampai-sampai dia memborong semua komik yang ada di toko itu. Padahal rencananya Litha hanya ingin membeli buku pelajaran dan beberapa komik kesukaannya saja.


__ADS_2