Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Hari yang dinantikan Sarah telah tiba, hari pertama ia sah menjadi istri seorang Umran Kusuma Jaya Nagara. Senyuman Sarah terlihat, kecantikannya terpancar duduk manis diatas pelaminan bersama suaminya.


Yap tadi siang Umran dan Sarah melaksanakan ijab qobul, dan malam ini adalah acara resepsinya. Pesta pernikahan mereka bertema outdoor yang di request langsung oleh mempelai pria yang sangat menyukai alam.


Tangan Litha bergelayut manja di lengan Raka, ia bahagia bisa melihat kakaknya menikahi sahabatnya sendiri. Litha tidak menyangka jika jodoh sahabat sejak kecilnya ternyata sangat dekat dengannya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Raka.


Litha melepaskan lengan Raka kemudian memukul lengan berotot tersebut. "Kamu kira aku kurang normal?" Sinis Litha membuat Raka tertawa renyah.


"Aku ikut bahagia melihat senyuman mereka berdua," mata Litha melihat arah pelaminan dimana kedua orang tersayangnya sedang bersanding diatas pelaminan sambil sesekali melempar senyum kepada setiap tamu undangan yang datang.


Raka merangkul pundak Litha, "Aku lebih bahagia lagi melihat kamu tersenyum," keduanya saling menatap dengan senyuman hangat, sampai senyuman mereka pudar ketika biang rusuh menghampiri mereka. .


Kali ini hanya Danil yang belum menampakkan batang hidungnya, maklum sang aktor sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah acara liburan di pantai selesai, Leon langsung melakukan penerbangan ke negara tempat Leon melanjutkan pendidikan. Sedangkan penerbangan Nick menuju negara keluarganya tinggal, karena kuliahnya juga sudah selesai sama seperti Umran.


Namun saat acara pernikahan Umran dan Sarah, mereka rela terbang kembali ke Indonesia meskipun mereka baru sebentar di luar negeri.


"Gue bingung sama masa depan sendiri. Cocoknya gua jadi apa yah?" Nick melegut minumannya.


"Di kantor gue lagi cari office boy," balas Raka.


"Cocok tuh," sahut Leon sangat antusias.

__ADS_1


"Buat lu aja kalau cocok," Nick senyum-senyum sendiri sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Jordy mengintip isi ponsel Nick yang membuat empunya seperti orang yang sedang kasmaran. Senyum jahil dibibir Jordy terukir, ia menyambar handphone Nick, membaca isi pesan dari seseorang dengan suara lantang.


"Iya sayang, selamat bersenang-senang dengan teman kamu, sampaiin salam aku buat mereka ya sayang.... Dari My heart?" Jordy menahan tawa. Nick langsung mengambil kembali ponselnya.


"Sialan!" Umpat Nick sangat kesal.


Arkan menghentikan makannya sebentar. "Trio jones member nya hilang satu. Namanya ganti duo jones dong?" Celetuk Arkan mengejek dua publik figur, Jordy dan Danil.


Kemudian manusia ganteng itu kembali melanjutkan makan brutalnya ditemani oleh Leon yang ngiler melihat Arkan mengunyah tanpa rem. Dua anak sultan yang suka makan gratis dan banyak, tapi tidak berakibat pada tubuhnya yang masih terlihat begitu indah dimana gadis-gadis.


Senyuman Raka dan Litha terlihat, diam-diam Nick sudah memiliki kekasih. Mereka yakin bahwa Nick telah melupakan Via alias Fani, Nick sudah menemukan tambatan hatinya. Terbukti dari kekesalan Nick kepada Jordy, jika gadis itu hanya dijadikan bahan pelampiasan tidak mungkin Nick sekesal itu saat Jordy menjadikannya bahan candaan.


"Kapan cewek itu dikenalin ke kita?" Litha berharap bisa segera menyambut teman barunya. Begitupun dengan Fika dan Sekar yang menganggukkan kepalanya.


"Jangan mainin anak orang lu!" Ketus Arkan.


"Kagak. Yang ini gue beneran serius, gue rela meninggalkan dunia malam gue demi dia," Nick kembali tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka di sekitar kampusnya.


"Jadi dia junior lo?" Tanya Fika disela-sela makannya.


Nick mengangguk. Nick akan mengenalkan kekasihnya kepada semuanya setelah dia menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. "Setelah kuliahnya selesai, dia akan kembali lagi ke Indonesia untuk menetap,"


"WNI?" Raka yang sedari tadi diam, kini ikut bersuara.

__ADS_1


Nick mengangguk. "Semoga kali ini gue gak salah mencintai seseorang,"


"Semoga lo jadi orang bener," sahut Leon membuat Nick menatap sinis.


Dari atas pelaminan Sarah melambaikan tangannya kepada The Perfect yang sedang berkumpul dengan obrolan random mereka.


Sebentar lagi acara lempar bunga, banyak pemuda dan gadis-gadis yang sudah berkumpul didepan pelaminan ingin berebut bunga pengantin yang konon katanya, jika yang mendapatkan lemparan bunga maka akan segera ikut menyusul naik pelaminan.


"Ayo kita ikut!" Sekar menggandeng tangan Litha dan Fika yang juga sangat bersemangat ingin mendapat bunga. Meskipun diantara mereka bertiga tidak ada yang ingin cepat-cepat menikah. Aneh bukan? Anggap saja hanya sebagai seru-seruan.


Arkan menahan lengan Sekar. "Ngapain ikut ke sana? Sebentar lagi aku akan masuk pendidikan Bintara. Kalau kamu dapet bunga, siapa yang mau nikahin kamu kalau bukan aku?" Dengan percaya dirinya Arkan menyibakkan rambutnya sok kegantengan. Yaa emang ganteng sih, tapi gak usah narsis juga kalee..!


Sekar menepis cekalan tangan Arkan. "Dih... Siapa yang pengen cepet-cepet dinikahin kamu?" Sekar langsung melangkah menarik tangan Litha dan Fika yang kepalanya menoleh ke belakang mengejek Arkan dengan menjulurkan lidahnya.


Suara tawa para cogan-cogan terdengar besar, tidak seperti biasanya, kali ini Raka juga ikut tertawa. Entah lah kemana wajah sok cool nya yang selalu datar? Yang pasti sejak Raka pulang dari Inggris, ia terlihat lebih banyak tertawa dan tersenyum walaupun masih irit bicara. Mungkin saja itu karena pengaruhnya dari Litha, gadis cantik nan imut penakluk beruang kutub Utara.


Tiga gadis cantik sudah berjajar diantara anak muda yang lainnya. Sedangkan The Perfect memilih duduk santai masih ditempat yang sama.


Suara langkah berlari-larian terdengar, langkahnya terhenti tubuhnya membungkuk dengan nafas ngos-ngosan, satu tangannya memegang lututnya, satu tangannya lagi memegang sebuah kado.


Sarah dan Umran membalikkan tubuhnya bersiap-siap melemparkan satu buket bunga mawar putih. "Satu... Dua... Tiga...!"


Bunga melayang tinggi, netra Litha mengikuti arah bunga yang terbang melewatinya begitu saja tanpa permisi. Semua anak muda membalikkan badannya melihat buket bunga sudah ada digenggaman dua pemuda tampan yang sangat terkenal juga populer karena mukanya sering bermunculan di layar kaca televisi.


"Defras Danil Nanggolan...! Jordyan William...!" Para anak muda yang didominasi oleh kaum hawa berteriak kencang, namun tidak berani mendekat.

__ADS_1


Tamu anak muda yang diundang kebanyakan adalah teman sekolah Sarah, maka tidak heran jika banyak dari mereka yang mengenal Jordy dan Danil.


Nafas Danil masih memburu akibat berlari dari area parkir menuju ke sini. Jordy dan Danil saling pandang, lalu tatapannya turun melihat buket bunga yang ada digenggaman mereka berdua.


__ADS_2