Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Putus?


__ADS_3

"Duh kok bisa lupa sih? Niatnya ke kantor kak Raka itu kan buat nanyain, kenapa tadi pagi dia malah ngasih kabar ke bang Umran bukan ke aku langsung," gerutu Litha yang berada didalam kamarnya.


"Eh tadi pagi kayaknya hp aku mati deh..." Litha baru ingat kalau handphone nya kehabisan baterai. Oh.. berarti tidak ada gunanya dia pergi ke kantor Raka tadi siang.


Krek...


Pintu terbuka, seperti biasa Umran selalu sesuka hatinya masuk ke kamar adiknya tanpa permisi.


"Tangkap!" seru Umran lalu melemparkan sebuah kertas tebal berwarna merah keemasan.


Dengan sigap Litha mengangkat tangannya, mengarahkan tangannya mengikuti arah kertas yang mengudara tersebut.


"Apaan nih?" tanya Litha setelah kertas tersebut berada dalam genggamannya.


"Baca dong!" suruh Umran dengan senyum menghiasi wajah tampannya.


Litha terkejut, gadis itu membelalakkan matanya, menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya. Setelahnya menatap ke arah Umran tidak percaya.


"Serius?" Litha memastikan.


"Emang gue pernah main-main?" tanya Umran balik yang masih dengan senyumnya.


**X MIPA 3__


Kasak-kusuk mengenai berita pindahnya sekolah Dita yang mendadak, membuat warga sekolah bertanya-tanya tentang apa yang menyebabkan siswi centil itu pindah sekolah.


"Si cabe akhirnya pindah juga," ujar Sarah dengan senyum terus mengembang.


"Bahagia banget lo, kayak nemu berlian dijalan aja," ucap Fika.


"Kayaknya kebahagiaan lo bukan karena Dita pindah doang," timpal Litha dengan alis naik turun.


Sontak saja ucapan gadis cantik itu membuat Sarah gelagapan, namun sebisa mungkin Sarah menenangkan dirinya.


"Lo bener nemu berlian dijalan Sar?" tanya Fika beropini sendiri.


"Dan gue bisa tebak berlian nya bukan cuma satu," sahut Litha.


"Doain aja gue dapet berlian satu truk," ujar Sarah mencoba menutupi kegugupannya.


"Eh anak kelas 3 udah mulai persiapan ujian tuh, bentar lagi lulus," alibi Sarah memancing Litha.


"Oh iya bener tuh. Kira-kira kak Raka ngelanjutin kuliah kemana?" tanya Fika pada Litha.


"Nggak tau. Menurut kalian kemana?" tanya Litha balik.


"Ke Universitas Nagara kali," tebak Fika asal.


"Kalo ke luar negeri gimana?" celetuk Sarah.


Litha terdiam sejenak, raut wajahnya terlihat sendu. Bagaimana jika ucapan Sarah menjadi kenyataan? Yah mengingat Raka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, tentu saja pemuda dingin itu menginginkan kuliah di luar negeri. Apakah mereka siap menjalani hubungan jarak jauh?


Tapi bisa jadi Raka tidak melanjutkan ke universitas luar negeri, melainkan dalam negeri. Raka pun tidak pernah membahas ini dengan Litha. Jadi ya sudah lah, semoga pilihan apapun yang Raka ambil, nantinya tidak akan membawa dampak buruk untuk hubungan mereka.


"Tha... Tha..." panggil Sarah dengan mengguncang tubuh mungil Litha, hingga akhirnya gadis tersebut tersadar dari lamunannya.


"Apa?" tanya Litha.


"Tuh..." Sarah menunjuk dengan sorot matanya ke arah depan.


Litha mengikuti arah pandang Sarah, netra indahnya menangkap seorang guru yang tengah duduk pada tempatnya dan bersiap untuk memberikan materi pembelajaran.


***

__ADS_1


Bel berbunyi nyaring, semua murid berhamburan keluar kelas. Termasuk Litha yang biasanya malas keluar dari sarangnya, kecuali jika tidak ada kepentingan atau waktu yang telah menunjukkan untuk pulang.


Tiga gadis cantik berjalan dengan santai menuju kantin untuk mengisi perut mereka.


"Tau nggak...?" ucap Fika terpotong.


"Enggak," sahut Litha cepat.


"Ikh... Litha!!" teriak Fika kesal, membuat Litha dan Sarah terkekeh.


"Katanya kak Raka nggak berangkat sekolah," ucap Fika memulai pembicaraan.


"Kenapa?" tanya Sarah yang penyakit kepo nya mulai kumat. Sedangkan Litha hanya ber oh ria saja.


"Kok pada diem sih?" protes Sarah merasa diabaikan.


"Kirain Litha yang mau jawab pertanyaan lo," sahut Fika.


"Gue aja baru tau dari elo, kalau dia nggak masuk hari ini," ucap Litha.


Litha sengaja tidak memperdulikan kehadiran atau ketidakhadiran Raka di sekolah ini. Dia juga tidak meminta Raka untuk selalu memberinya kabar setiap hari, yang terpenting didalam hati Raka ada namanya, itu sudah lebih dari cukup.


Litha tidak ingin terlalu banyak bertanya tentang kegiatan yang Raka jalani, nanti takutnya Raka malah merasa tidak nyaman.


"Emang lo nggak kepo kenapa kak Raka nggak masuk hari ini?" heran Fika.


"Enggak," Litha menggelengkan kepalanya acuh. Fika menghelai nafasnya, ada gitu ya cewek yang nggak butuh kabar dari cowoknya? Kayaknya cuma Litha doang.


"Udah nggak usah urusin dia Fik. Emang dia orang aneh!" cibir Sarah


"Lo tau dari Leon?" tanya Sarah yang diangguki oleh Fika.


"Emang kenapa kak Raka nggak berangkat?" tanya Sarah, jiwa penasarannya selalu bergejolak. Penyakit kepo nya hanya dapat terobati dengan jawaban atas penasaran yang menjalar dalam benaknya.


Sarah manggut-manggut, Litha diam-diam memasang telinga. Meskipun gadis berkulit putih itu berkata tidak penasaran akan penyebab ketidakhadirannya Raka, tapi jika ada yang bersedia memberi informasi, mengapa tidak mendengarkannya saja. Toh juga gratis, tidak dipungut biaya sedikitpun.


Sore nanti Litha berniat untuk menjenguk Oma Rahma. Siapa tau dengan menjenguknya, Oma akan bersikap lebih baik terhadap dirinya, begitu pikir Litha.


"Eh tiba-tiba kuping gue berdengung," sahut Litha memberhentikan langkahnya. Kedua sahabatnya pun juga ikut berhenti, padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai di kantin.


"Ada yang ngomongin lo kali," tebak Fika.


"Kebanyakan kata orang sih gitu," Sarah mengiyakan ucapan Fika.


***


"Dimana dia sekarang?" tanya Raka pada seseorang yang menghubunginya.


"Dirumah kerabatnya, tepatnya tinggal bersama dengan gadis yang ia lukai sebelum kejadian tersebut," ucap suruhan Raka yang telah menyelidiki Fandy, setelah Fandy keluar dari rumah sakit.


Tidak salah lagi, pasti keluarga Sekar yang telah menampung Fandy.


"Menurut penyelidikan saya, beberapa hari sebelum kejadian tersebut dia mengikuti nona Litha yang berada di mall bersama kedua temannya," jelas orang diseberang sana.


Raka mengulang memorinya beberapa hari yang lalu disaat dirinya melakukan panggilan video dengan Litha, Raka mengamati seseorang yang ada dibelakang Litha.


Yah saat Litha membeli pakaian yang akan digunakannya untuk bertemu dengan keluarga Adelard. Pantas saja, Raka merasa tidak asing dengan bentuk tubuh laki-laki yang berpakaian serba hitam waktu itu.


Jadi Fandy telah memata-matai Litha saat itu?


Raka tersenyum miring.


"Pantau terus gerak-geriknya!" suruh Raka lalu mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Raka terdiam menatap jalanan kompleks yang sama sekali tidak ada kehidupan, dari atas ruangan tersebut melalui pintu jendela yang tak terbuka. Bayangan tentang kejadian buruk yang dialami Litha karena ulah Fandy, mengudara di pikirannya.


Raka membalikkan tubuhnya, mendekat ke ranjang dimana ada wanita tua yang tengah terbaring lemah.


Disaat teman seangkatannya sibuk menerima beberapa materi untuk mempersiapkan ujian, Raka malah disibukkan dengan merawat Oma nya yang kurang enak badan. Kedua orang tua Raka sedang berada di luar kota, Raka tidak tega meninggalkan Oma tersayangnya sendirian di dalam kamar.


Oma melarang para pelayan untuk masuk ke kamarnya, dan ia selalu menolak jika dibawa ke rumah sakit. Wanita tua itu tidak suka dengan bau rumah sakit.


Untung saja menantunya seorang dokter, Mama Kania akan menjadi dokter rumah untuk Oma, memeriksa keadaan ibu mertuanya jika sedang sakit. Bahkan saat dulu Oma masih tinggal di luar negeri, Mama Kania tetap menjadi dokter langganan Ibu mertuanya.


Tapi kali ini Mama Kania sedang sibuk di luar kota. Menghubungi dokter lain untuk datang ke rumah pun, juga ditolak oleh Oma. Jadilah Raka yang merawat dan memberikan obat yang telah disarankan Mama Kania untuk Oma minum.


"Bagaimana keadaan Oma?" tanya Raka saat melihat wanita itu sudah terbangun dari tidur siangnya.


"Bagaimana hubungan mu dengan gadis itu?" Bukannya menjawab, Oma malah menanyakan hal lain. Raka cukup paham siapa gadis yang dimaksud Oma.


Untuk seseorang yang berbincang dengan Raka melalui sambungan telepon genggam, Oma mengetahuinya. Tetapi Oma tidak penasaran dengan urusan cucunya, karena Oma tidak mendengar ucapan orang di seberang sana, yang menyebutkan nama Litha. So Oma berpikir itu adalah urusan bisnis, bukan urusan pribadi.


Raka tersenyum tulus, "Bagaimana keadaan Oma? Apa sudah lebih membaik?" tanya Raka lagi. Semalaman Raka sampai begadang karena menjaga Oma yang demam dengan mengigau menyebut nama Raka dan suaminya yang telah tiada.


"Jawab dulu pertanyaan Oma!" tegas Oma dengan suara lemah khas orang sakit.


"Hubungan kami baik-baik saja. Litha gadis yang baik Oma, Raka nyaman bersama dengan dia," senyum Raka sembari duduk ditepi ranjang, menghadapkan wajahnya ke arah wanita yang berbaring dengan selimut membalut setengah badannya.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Oma seolah mengintrogasi.


"Raka selalu ingin melihatnya tersenyum bahagia," jawabnya.


"Apa kamu menyayanginya?" tanya Oma lagi.


"Raka tidak ingin melihatnya sedih," sahut Raka.


"Lebih besar manakah rasa sayang mu terhadap anggota keluarga mu dengan gadis itu?" Oma bagai menekan batin cucu tersayangnya yang memberikan pertanyaan berbelit-belit.


Raka menghelai nafasnya sebelum menjawab, lalu senyuman tulus nan tampan terbit dari bibirnya. "Keempat orang tersebut tidak bisa dibandingkan, semuanya memiliki tempat tersendiri dalam hati Raka," jawabnya.


"Bagaimana jika Oma mempunyai pilihan untuk mu?" tawar Oma seakan tidak menyetujui hubungan cucunya dengan gadis bernama Litha.


"Tidak masalah," santai Raka yang merasa tidak terbebani dengan penuturan Oma nya.


"Apa kamu akan memutuskannya?" tanya Oma.


"Tidak akan," jawab Raka tanpa keraguan.


"Jadi?" sepertinya Oma membutuhkan penjelasan dari cucu semata wayangnya.


"Raka akan tetap pada pilihan Raka, terserah jika Oma memiliki pilihan lain," sahut Raka dengan santai.


Jawaban yang bijak menurut Oma. Tidak bisa dipungkiri bahwa selain pandai dalam bidang akademik dan urusan bisnis, cucunya itu juga amat pandai dalam berkata.


"Apa kamu tidak ingin membahagiakan wanita tua ini?" tanya Oma menunjuk dirinya sendiri.


Oma selalu menggunakan bahasa formal, jika berbicara dengannya pun harus memakai bahasa demikian. Entah mengapa Oma sangat nyaman memakai bahasa tersebut? Mungkin karena dari muda dia sudah terbiasa dengan bahasa itu.


"Tentu Raka ingin membahagiakannya," Raka tertawa kecil.


Jawaban Raka membuat Oma tersenyum. Wanita tua itu tahu bahwa cucunya tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri. Sekali berucap, maka pemuda itu mampu mempertanggung jawabkan perkataan yang keluar dari bibirnya.


Oma menatap lurus ke depan, menatap atas langit-langit kamar. Raut wajahnya seketika menjadi dingin, senyumannya memudar. "Putuskan dia dan rajutlah cinta dengan pilihan Oma," kini suara wanita itu terdengar sangat dingin.


Raka terdiam menatap dingin wanita itu. Raka tidak pernah sekalipun menolak perintah Oma nya. Yups dia lah nyonya Adelard yang sesungguhnya. Semenjak suaminya, yang asli bermarga Adelard telah meninggal, Oma Rahma berkuasa dalam keluarga Adelard. Perintahnya serta peraturannya tidak dapat dibantah oleh siapa pun, termasuk anaknya Baskara dan cucu kesayangannya Raka.


"Baiklah..." ucap Raka yakin tanpa ada rasa keraguan dalam dirinya. Membuat Oma menarik kedua sudut bibirnya tanpa menatap Raka, pandangannya masih melihat langit-langit kamar.

__ADS_1


__ADS_2