Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bertemu Kembali


__ADS_3

Raka langsung membuka pintu rumahnya dibantu dipapah oleh Litha. Keduanya masuk dan mendapati Nyonya Adelard sedang bersantai di ruang tengah menikmati kesendiriannya karena Oma Rahma sedang berlibur ke New York. Sudah lama juga Mama Kania tidak bekerja lagi sebagai dokter, kerjaannya sekarang hanya menikmati masa kegabutannya.


Mama Kania langsung berdiri dengan wajah panik saat melihat Litha yang memapah Raka. "Kalian kenapa? Litha, kamu gak papa kan? Ada apa sebenarnya ini?"


Mama Kania menarik tubuh Litha dimana itu membuat Raka hampir terjatuh jika dia tidak langsung mencari sandaran sofa agar tubuhnya tidak sempoyongan.


Mama Kania memutar tubuh gadis itu. "Kamu ada yang luka atau enggak?"


"Enggak kok Ma, Litha aman," Litha tersenyum lebar membuat Mama Kania bernafas lega.


"Ini Raka lhoh yang dipapah. Kenapa yang dikhawatirin malah yang memapah Raka?" Tatapan Raka sinis kepada Mamanya yang lebih care terhadap Litha.


"Kamu itu laki-laki, jangan manja!" Balas Mama Kania.


"Kalian abis kena begal atau dicegat preman atau apa sih?" Tanya Mama Kania sambil mengajak Litha duduk bersamanya.


Whahaha....


Mama Kania tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Litha.


"Ma tangan kanan Raka gak bisa digerakin ini, bukannya khawatir malah ngetawain anak sendiri," gerutu Raka.


"Abisnya kamu kelihatan lemah banget gitu. Badan kamu kayak gini karena Litha? Hahaha..." Puas sekali Mama Kania menghina anaknya habis-habisan.


"Tatha nyerangnya mendadak, mana sempet Raka persiapan?" Ucap Raka membela diri.


"Ini tukang pijetnya jadi ke sini apa enggak sih Ma?" Tanya Raka yang sudah tidak kuat dengan rasa sakit tangannya yang tidak bisa digerakkan.


"Sabar Ka. Baru juga Mama hubungin," ucap Mama Kania.


"Ma," panggil Litha.


"Kenapa sayang?" Tanya Mama Kania begitu lembut, berbeda sekali jika dengan anaknya sendiri.


"Litha boleh peluk Mama nggak? Udah lama gak ketemu," Senyuman Litha terlihat begitu tulus.


Mama Kania tersenyum dan meraih tubuh Litha. "Kamu sih jarang main ke rumah. Sibuk sendiri sama kuliah kamu. Sekarang udah koas, pasti tambah sibuk,"


Litha memeluk erat Mama Kania, rasa sayangnya kepada Mama Kania sama besarnya dengan rasa sayang Litha kepada Bunda Larissa.


"Maafin Litha yah Ma, karena ulah Litha Kak Raka jadi kayak gitu," setulus hati Litha merasa bersalah kepada Mama Kania karena telah membuat putra semata wayangnya merasakan sakit ditubuhnya.


"Gak papa sayang. Raka itu laki-laki jadi harus kuat. Yang terpenting bagi Mama itu kondisi kamu. Raka begitu juga karena salah Raka yang asal main tarik tangan kamu," Mama Kania mengusap kepala Litha.


Raka tersenyum melihat interaksi dua wanita yang begitu ia cintai.


"Kamu nggak merasa bersalah sama aku Tha?" Tanya Raka yang kembali berwajah datar.


"Tadi di rumah sakit kan udah. Sekarang udah enggak," ucapannya tanpa rasa berdosa membuat Mama Kania jadi gemas sendiri dengan tingkah lucu calon menantunya yang terlihat masih awet muda seperti anak ABG usia 16 tahun.


***


Lima hari berlalu, Raka masih libur tidak berangkat bekerja karena masih dalam proses penyembuhan sendi-sendinya yang bergeser.


Saat ini Litha dan Nara sudah selesai tugas, dan sedang menuju pintu keluar rumah sakit.


"Besok kelompok kita dapat bagian shift malem. Katanya ada operasi, kita harus ikut," wajah Nara memelas tidak ingin ikut di ruang operasi.

__ADS_1


"Lo pura-pura pingsan aja," ucap Litha memberikan solusi yang sesat.


"Ide bagus," Nara memberikan jempolnya membuat Litha geleng-geleng kepala dengan senyum manisnya.


"Litha..." Seseorang melambaikan tangannya kepada Litha.


Litha menyipitkan matanya melihat seseorang yang berada tak jauh dari bagian penebusan obat.


"Fika?" Senyuman Litha terukir, menggandeng tangan Nara agar ikut bersamanya menemui apoteker cantik tersebut.


"Gila ya! Bukannya lo udah seminggu koas disini. Tapi kita baru ketemu sekarang," Fika memeluk erat Litha.


"Kenalin, temen koas gue," Litha memperkenalkan Nara kepada Fika. Keduanya langsung menjabat tangan, setelahnya Nara pamit lebih dulu karena tubuhnya sudah lelah ingin segera menikmati pulau kapuknya dikamar.


"Hari ini Leon balik ke Indo," ucap Fika kegirangan. Mereka berdua mengobrol ria sambil berjalan menuju lobby rumah sakit dimana pintu keluar berada.


"Serius? Dia udah selesaiin kuliahnya?" Tanya Litha.


Fika mengangguk dengan senyum mengembang. "Udah, selama setahun ini dia belajar mati-matian karena gue omelin," seharusnya Leon sudah lulus sejak setahun yang lalu sama seperti Jordy. Namun entah mengapa Leon selalu saja berkata belum menyelesaikan pendidikannya.


"Emang tu anak ambil prodi apa sih?" Tanya Litha.


Fika mengangkat bahunya tidak tahu. Setiap tanya, Leon tidak memberitahunya. Tidak terasa mereka berdua telah sampai di lobby.


"Ayang Fikaaa....!" Dari pintu depan rumah sakit Leon melambaikan tangannya sambil berteriak sesuka hatinya tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya yang menatap sinis Leon.


Fika menepuk jidatnya sendiri, dipikir Leon ini hutan apa gimana?


Leon langsung memeluk kekasihnya yang begitu ia rindukan, setahun terakhir ini dia tidak pulang sama sekali karena sibuk belajar dan belajar.


Litha sudah memukul-mukul lengan Leon, tapi Leon masih memeluknya erat. Litha nyengir kuda melihat Fika yang matanya melotot dengan hidung yang kembang kempis serta dadanya yang naik turun.


Fika menarik telinga Leon sangat kuat membuat empunya langsung melepas pelukannya dari Litha.


"Aaa aa aa, sakit yang," pekik Leon.


"Salah sendiri peluk-peluk cewek lain di depan aku," Fika melipat tangan didadanya, memalingkan wajahnya dari hadapan Leon.


"Salah siapa yang tadi gak mau dipeluk?" Balas Leon.


"Salah sendiri teriak-teriak di rumah sakit, bikin malu!" Sungut Fika.


"Rumah sakit punya saudara kembar sendiri mah gak masalah," sahut Leon.


"Dih ngaku-ngaku Tha?" Fika menatap Litha yang hanya diam menjadi penonton perdebatan sepasang kekasih yang baru berjumpa setelah setahun lebih tidak bertemu.


Karena tidak ingin banyak debat akhirnya Leon memilih mengalah dengan mengalihkan topik pembicaraan. "Sakit tau yang," Leon mengusap telinganya yang masih memerah.


"Itu mah gak ada apa-apanya dibanding kalo Kak Raka lihat kamu peluk-peluk istrinya," ucap Fika dengan nada yang tidak bersahabat.


"Dokter kulkas itu udah lima hari gak masuk kerja karena ulah istrinya sendiri," sindir Nick yang muncul tiba-tiba dengan melirik Litha yang terkejut akan kehadiran Nick. Tidak hanya Litha, Leon dan Fika juga sama terkejutnya karena bule yang katanya sudah tobat itu muncul tiba-tiba seperti setan.


"Kalo Leon tau Raka di rumah sakit, mana berani dia peluk-peluk ceweknya," tambah Nick.


"Jangankan peluk Litha, pegang kukunya aja gue gak berani," Leon tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Lhoh? Emang iya Tha?" Tanya Fika yang dibalas anggukan oleh Litha. Pantas saja sudah lima hari Fika tidak melihat Raka sliwar-sliwer di kantin khusus tenaga medis.

__ADS_1


"Lo apain Tha?" Kumat kan keponya si Fika.


"Di plintir tangannya sampai gak bisa gerak dua hari dua malam," sahut Leon sangat antusias membuat Litha menatapnya tajam.


"Kok bisa?" Tanya Fika lagi yang seperti seorang wartawan harus bertanya 5W 1H, baru mulutnya mau mingkem.


"Ceritanya dilanjut nanti aja!" Ucap Nick saat mengingat sesuatu.


"Hari ini gue balik sama cewek gue, dia lagi beli minum sebentar, nanti nyusul ke sini," Nick mengangkat alisnya sekejap dengan senyum tampannya.


Satu yang menjadi pertanyaan Leon. Kenapa mereka bisa bebarengan ke sini? Hanya selang beberapa menit setelah kedatangan Leon ke rumah sakit ini, Nick juga ke sini?


Nick cengengesan tidak jelas. "Tadi waktu sampai bandara gue gak sengaja lihat lo masuk mobil, terus ngikutin aja sekalian. Nah pas banget ternyata lo ke sini, soalnya cewek gue mau cari kerja di Indo. Ya udah gue kasih dia rekomendasi rumah sakit ini, tadi gue juga udah sempet telepon Raka supaya nerima cewek gue jadi dokter disini," ujar Nick panjang lebar plus tinggi.


"Widih... Cewek lo lulusan dokter?" Tanya Leon berbinar, seakan tidak percaya.


"Yoi. Keren gak gue dapet cewek dokter?" Nick menaik turunkan alisnya.


"Kagak," muka Leon langsung berubah datar. Litha dan Fika terkekeh melihat ekspresi Nick yang tersenyum kecut karena dikerjai oleh Leon.


"Cewek lo dokter apa?" Tanya Litha penasaran.


"Dokter cinta... Dan hanya akulah pasiennya, karena dia yang membuat hati ku dag dig dug der tidak karuan," ucap Nick sangat drama sekali hingga membuat tiga orang didepannya ingin muntah.


"Mendadak mual perut gue," sahut Leon.


Nick membalikkan tubuhnya. "Itu cewek gua,"


Nick menarik kedua sudut bibirnya saat melihat seorang wanita cantik berkacamata hitam tengah berjalan menuju pintu rumah sakit dengan tangan kiri yang memegang sebuah minuman dalam cup, dan tangan kanannya membuka maskernya.


Leon menganga ternyata Nick memiliki kekasih yang begitu cantik, baru kelihatan mulut dan hidung aja udah kelihatan cantik.


"Cantik," ucap Leon melihat kekasih Nick yang memakai pakaian seksi hingga lekuk tubuhnya terlihat.


Plak...


Fika langsung mendaratkan tamparan di pipi Leon.


Deg.


Melihat itu, wanita yang disebut kekasih Nick menghentikan langkahnya tepat didepan pintu rumah sakit, bersamaan dengan terjatuhnya minuman boba yang baru saja dibelinya.


Otomatis semua orang melihat ke arah minuman terjatuh yang membuat lantai kotor. Begitu pula dengan Fika dan Litha yang menatap heran ke arah wanita seksi itu.


"Dita..." Nick langsung menghampiri Dita yang membuka kaca mata hitamnya.


"Dita?" Ucap Leon, Fika, dan Litha yang terkejut melihat Dita kembali dihadapan mereka dengan status sebagai kekasih Nick.


Mereka bertiga saling pandang lalu menatap ke arah Dita yang juga sama terkejutnya seperti mereka.


Dita tidak menyangka akan bertemu kembali dengan seorang wanita yang dulu dia benci. Jika ada Litha, pasti juga ada Raka bukan?


Tatapan Dita beralih melihat Leon, ternyata yang dimaksud sahabat oleh Nick adalah mereka, The Perfect? Dita menyesal terlalu bersikap bodo amat terhadap kehidupan circle persahabatan kekasihnya.


***


Kira-kira gimana ya reaksi Nick kalo tahu Dita pernah bersikap jahat hanya karena ingin mendapatkan Raka?

__ADS_1


__ADS_2