
Pagi cerah menyambut, hari kedua liburan mereka habiskan dengan bersepeda santai mengelilingi kota yang indah ini. Saat siang mereka berburu kuliner khas kota ini, setelah itu balik ke hotel istirahat sejenak, sore harinya mereka check out dari hotel.
Liburan yang seharusnya diagendakan tiga hari, nyatanya hanya berlangsung dua hari saja. Karena Umran mendadak harus pulang secepatnya mengurus langsung perusahaannya yang sedang ada kendala kecil.
Hanya Umran selaku direktur kedua Nagara Groups yang bisa menyelesaikan pertikaian antara karyawannya, ditambah pula dengan penggelapan dana, menambah kesibukan Umran saja. Sedangkan direktur utama, Ayah Kusuma berada di luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya.
"Ribet kan? Karena itu gue gak suka jadi pengusaha," Litha melangkah melewati bangku Umran dan Sarah.
"Dasar adek luckn*t lu!" Balas Umran sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Litha duduk disebelah Raka yang sama sibuknya seperti Umran, layar laptop Raka memperlihatkan suatu data rumah sakit ternama.
Perjalanan pulang tidak ada suara bising yang menggangu indera pendengaran. Mereka semua memilih tidur, kecuali Raka dan Umran yang masih fokus pada laptopnya.
Perlahan mata Litha terbuka, ia melirik manusia disampingnya yang masih setia dengan laptopnya. Litha melihat layar handphonenya yang menunjukkan pukul delapan malam, berarti ia telah tertidur selama dua jam.
Netranya melihat selimut tebal yang memberikan kehangatan bagi tubuhnya, seingatnya sebelum tidur Litha tidak menggunakan selimut. Ia tersenyum melirik Raka yang pasti menyelimutinya.
"Jam berapa kita sampai rumah?" Tanya Litha.
Raka menoleh, "Udah bangun?"
Litha mengangguk dengan mata sipit masih mengantuk.
"Mungkin sekitar jam satu atau dua kita sampai di rumah," Raka tersenyum mengusap kepala Litha yang menguap.
"Nggak capek?" Litha bersandar dipundak Raka.
"Siapa?" Tanya Raka tidak mengerti.
"Kamu. Dari sebelum aku tidur sampai aku bangun kamu masih lihatin laptop terus. Emang gak capek?" Ungkap Litha ikut melihat layar laptop.
"Enggak," Raka mengusap sisi wajah Litha.
Litha mendongakkan kepalanya menatap sekelilingnya yang masih tertidur pulas, dilihatnya Umran yang baru menutup laptop dan memejamkan matanya.
"Rencananya kamu mau kuliah kemana dan ambil program studi apa?" Tanya Raka.
__ADS_1
Litha menoleh ke sumber suara, menatap Raka yang fokus mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.
"Mungkin ke Universitas Negara, biar gratis walaupun tanpa beasiswa," Litha tertawa kecil membayangkan kuliah gratis tanpa bantuan beasiswa karena owner Universitas tersebut adalah Bundanya sendiri.
"Gak kebayang nanti Bunda akan ngajar aku dikelas dan jadi dosen dari anaknya sendiri," Litha cekikikan mengingat cerita Umran yang harus bersikap formal dengan ibu kandungnya sendiri saat berada di area kampus.
Berbeda dengan Litha yang walaupun di lingkungan sekolah. Ia tetap akan bersikap biasa saja dengan Bunda Larissa, meskipun Ayah dan Bunda selalu memperingati Litha jika harus menjaga sikap saat dilingkungan sekolah.
"Kamu mau ambil prodi pendidikan bahasa Inggris atau manajemen bisnis?" Setahu Raka Bunda Larissa hanya mengajar di dua program studi tersebut.
Litha menggelengkan kepalanya, tidak memilih diantara keduanya. Untuk apa mengambil program studi bahasa Inggris? Kalau dia sendiri sudah bisa mengobrol dengan seorang bule memakai bahasa internasional. Dan untuk manajemen bisnis? Sekali lagi Litha tegaskan ia tidak suka dengan hal yang berbau perusahaan.
"Terus mau ambil program studi apa?" Raka menoleh menatap Litha yang menggelengkan kepalanya.
"Belum tahu. Menurut kamu jurusan apa yang cocok buat aku?" Litha menunggu jawaban dari Raka yang sepertinya kesulitan untuk mendapatkan jawaban.
"Kamu pandai dalam segala bidang, kecuali seni suara," sindir Raka membuat Litha cemberut, namun tidak membantah karena ucapan Raka memang benar. Suara Litha jauh dari kata merdu.
Raka tertawa renyah. Ia menangkup wajah Litha, tatapan mata Raka kini berubah serius. "Kamu pandai dalam segala bidang. Aku yakin kalau kamu menekuni suatu bidang, kamu akan menjadi orang sukses kedepannya,"
"Punya banyak uang?" Senyuman Litha lebar tidak sabar menantikan kesuksesannya.
"Menurut aku pribadi, sukses dia adalah orang yang mampu menerapkan ilmu yang telah ia pelajari dan berhasil memanfaatkan ilmu tersebut bukan hanya untuk diri sendiri, namun bermanfaat juga untuk orang lain," tutur Raka tersenyum manis.
Litha mengangguk paham dengan memberikan dua jempol kepada Raka.
"So... Udah tau kedepannya mau jadi apa?" Tanya Raka.
Litha menggeleng tidak ingin terlalu memaksa otaknya untuk berpikir tentang masa depannya nanti.
"Sekar ngambil prodi tata busana, Fika rencananya mau ngambil prodi farmasi. Soalnya kalau ilmu kedokteran, otak Fika nggak sampai," Litha tertawa mengingat Fika yang mengakui kemampuan otaknya yang selalu malas belajar, tapi Fika ingin masuk dalam dunia medis. Jadilah Fika mengambil prodi yang paling mudah diantara prodi ilmu kesehatan yang lain.
"Kalau Sarah..." Ah... Perempuan tomboi itu cepat-cepat ingin menikah muda karena ia tidak ingin belajar lagi. Impiannya hanya ingin tetap menjadi orang kaya yang berdiam diri di rumah tetapi uangnya tetap cair setiap bulan.
"Kenapa Sarah gak jadi ibu kontrakan aja?" Celetuk Raka disambut gelak tawa Litha.
Litha mengamati layar laptop Raka yang membuatnya sibuk. "Itu apa Kak?" Tanya Litha penasaran.
__ADS_1
"Data rumah sakit," jawabnya.
"Kak Raka...." Mulut Litha terbuka lebar.
Senyuman Raka terukir di bibirnya. "Iya. Aku akan mengambil alih sepenuhnya rumah sakit Adelard. Papa hanya akan fokus dengan perusahaan Adelard Groups,"
"Kedepannya mungkin kita bakal jarang ketemu. Aku akan sering-sering ada di rumah sakit. Sesekali mungkin seru juga kalau bermain-main sama alat medis operasi," ucap Raka dengan santainya.
Ia ingin memanfaatkan ilmu yang telah dipelajarinya selama dua tahun diluar negeri. Bukan hanya menjadi seseorang yang hanya santai duduk manis mengelola dokumen-dokumen penting rumah sakit.
Litha manggut-manggut, begitulah konsekuensinya menjalin hubungan dengan (COS)si Calon Orang Sibuk, siapa lagi kalau bukan Pak Dokter Raka + Kepala rumah sakit + pengusaha tinggi + bos restoran. Enakan jadi seperti Danil dan Jordy, cuma foto-foto doang bisa dapet duit.
"Dulu Kak Raka udah pernah koas di luar negeri?" Tanya Litha apakah Raka pernah berlatih menjadi dokter di rumah sakit luar negeri, sehingga Raka sudah siap menjadi Dokter spesialis bedah sepenuhnya.
"Pernah walaupun cuma sebentar," jujur Raka. Yaa kan Raka bukan cuma pintar materi saja, soal praktik Raka juga jagonya.
"Terus Kak Raka nggak akan ngurus perusahaan lagi?" Tatapan Litha serius penasaran dengan keputusan Raka.
Kali ini Litha mirip dengan seorang wartawan yang banyak tanya sekali. Yah... Litha sih gak mau aja kejadian bodohnya terulang lagi, saat dirinya tidak mengetahui apa pun tentang Raka.
Raka menggeleng. "Aku akan membantu Papa di kantor pusatnya jika sedang ada proyek besar. Dan disalah satu kantor cabang yang dulu aku pimpin, kantor itu masih dibawah kendali aku, aku hanya akan mengecek setiap laporan yang masuk,"
Raka tidak bisa lepas tanggung jawab dari perusahaan keluarganya begitu saja. Karena Raka adalah pewaris satu-satunya Adelard Groups, ia juga memiliki setengah saham dari perusahaan tersebut. Sedangkan Papa Baskara saja hanya memiliki seperempat saham. Dan sisanya dibagi menjadi beberapa bagian oleh direktur di kantor-kantor cabang Adelard Groups.
Mulut Litha tergagap, bagaimana mungkin dirinya bisa bersanding dengan Raka yang jauh diatasnya.
Satu yang jadi pertanyaan Litha. Apakah Raka lupa dengan bisnis kulinernya?
Raka tertawa renyah. "Gimana aku bisa lupa sama bisnis yang aku rintis sendiri Tha? Apa aku harus sebut secara detail setiap pekerjaan yang aku jalani?"
Litha langsung menggeleng, bisa mengeluarkan asap kepalanya jika harus mendengarkan setiap pekerjaan Raka dengan detail.
"Tentang rumah sakit Adelard, menurut kamu gimana kalau aku ganti sistem kerjanya dan ganti nama rumah sakitnya?" Tanya Raka meminta saran dengan orang yang salah.
Litha langsung angkat tangan dan menggeleng. "Terserah! Semoga kepala Kakak gak meledak,"
Raka tersenyum geleng-geleng kepala dengan tingkah Litha yang sebenarnya pintar, hanya saja Litha terlalu malas untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan otaknya.
__ADS_1
***
Kasih dukungan yang banyak dong!!!🙏