Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Pandangan Raka dan Sekar tak sengaja bertemu, setelah sebelumnya keduanya memperhatikan Arkan dan Litha yang masih saling perang saus.


"Sekar," panggil Raka dengan volume standar tapi membuat semuanya menoleh kepada Raka, termasuk Litha dan Arkan.


"Kenapa semuanya ikut noleh?" Raka bergantian menatap mereka satu persatu.


"Yaa kepo lah apa lagi coba kalau bukan kepo. Lu kira kuping kita budek semua apa? Gue juga tau yang namanya Sekar cuma satu orang," sahut Nick panjang lebar.


"Kalo gue mikirnya lo cemburu sama Arkan, terus lo ngajak Sekar buat sekongkol balas dendam bikin mereka cemburu balik," tanpa rasa berdosa Leon mengungkapkan isi kepalanya dengan jujur.


Tatapan datar dari mereka semua mengarah kepada Leon, dikira ini sinetron apa? Leon tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya sambil tangannya terangkat membentuk huruf V.


"Ada apa Kak?" Tanya Litha seraya menaruh botol saos.


"Alhamdulillah," Jordy berteriak keras, kedua tangannya mengusap wajah blasterannya.


"Napa lu? Masih sehat?" Heran Danil mewakili teman yang lainnya.


Bukannya marah karena pertanyaan Danil yang jatohnya menghina, Jordy malah tersenyum lebar, "Alhamdulillah masih," Jordy mengangguk dan masih tersenyum lebar juga.


Entahlah kerasukan apa tu anak, sudah lima detik berlalu kedua sudut bibir Jordy masih tertarik lebar. Yang lain hanya bisa berharap semoga Jordy masih bisa menjadi temannya seperti sedia kala yang sehat lahir batin.


Jordy menatap kawan-kawannya yang masih terheran-heran dengannya. "Silahkan dilanjut," tangan Jordy mempersilahkan Raka menjawab pertanyaan Litha.


Leon menggelengkan kepalanya, "Rada-rada lu, 11, 12 kayak Nick. Apa gara-gara sama-sama punya wajah blasteran yaa?"


Fika memutar bola matanya jengah, sudah biasa baginya mendengar ucapan Leon yang absurd.


Jordy masih tersenyum lebar tidak memperdulikan Leon. Dia bersyukur karena satu kata yang keluar dari bibir Raka mampu menyelamatkan bisnisnya yang nyaris kehabisan stok saos karena ulah dua manusia kampr*t itu. Masalahnya tadi Arkan sampai minta ke pelayan untuk membawakan satu dus saos tiram ke mejanya.


"Kak," panggil Litha. Raka menoleh kearah Litha lanjut tersenyum jahil menggoda Arkan yang menatapnya tajam.


"Aku disuruh Arkan nanya apapun ke Sekar," Raka tersenyum miring melihat Arkan menelan sesuatu dilehernya.

__ADS_1


"Tanya apa?" Sekar penasaran.


"Apa aja," jawab Raka dengan santainya mengambil jus jeruk milik Litha karena minumannya sudah diambil Nick tadi.


"Sialan," gumam Arkan. Dari gelagatnya Arkan baru sadar jika Raka ingin mengerjainya.


Baru saja Raka akan memulai pembicaraan, Arkan sudah lebih dulu menarik tangan Sekar. "Pulang yuk! Disini PANAS bikin haus kerongkongan," Arkan menatap tajam Raka saat mengucap kata panas.


"Kalau haus minum es biar seger," sahut Sekar menahan Arkan.


"Gak mau, es batunya ngeselin," Arkan masih menatap tajam Raka yang sudah cengengesan tidak seperti biasanya.


"Kalian kenapa sih?" Heran Sekar melirik Raka dan Arkan bergantian. Tanpa menjawab Arkan menarik tangan Sekar, segera mengajaknya pergi dari tempat ini, Sekar hanya bisa pasrah mengikuti Arkan.


"Ada apa sih Kak?" Tanya Litha.


"Ada kamu disini," Raka tersenyum manis sambil menunjuk dada kirinya, membuat Litha bersemu merah.


"Ekhem-ekhem..." Yang lain pura-pura batuk dan berdehem.


Raka pulang dan mendapati pintu kamar Oma yang terbuka. Dia langsung menanyakan kepada pelayan dimana keberadaan Oma, tapi para pelayan tidak ada yang mengetahui kemana Oma pergi.


Sudah magrib namun Oma belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat semua penghuni rumah semakin cemas.


"Ini kenapa coba Oma kamu dihubungi handphonenya mati dari tadi," oceh Papa Baskara kepada Raka.


"Sabar Pa, mungkin Oma sengaja menghindar dari kita karena butuh ketenangan," Raka menenangkan pikiran orang tuanya meskipun pikirannya sendiri juga kacau. Sebisa mungkin Raka menutupi kegelisahannya agar tidak membuat orang tuanya semakin cemas memikirkan Oma Rahma.


Raka tidak bisa berbuat apa-apa, melacak jejak Oma juga tidak bisa karena ponsel Oma mati dan Oma pergi tidak menggunakan mobil pribadi yang sudah terpasang JPS.


Papa Baskara dan Raka sudah mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari Oma. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menemukan tanda-tanda keberadaan Oma.


"Pa, Mama izin ya ke rumah sakit. Mama hari ini ada jadwal shift malam," tutur Mama Kania yang sejujurnya merasa tidak enak hati karena harus pergi meninggalkan rumah, padahal kondisi rumah sedang dibuat pusing oleh hilangnya kabar dari Oma.

__ADS_1


"Iya. Mama hati-hati dijalan," Papa Baskara tersenyum menatap istrinya yang terbiasa pergi sendiri tidak ingin diantar oleh suaminya ini.


"Mama yakin kalian berdua pasti akan segera menemukan keberadaan Oma Rahma, yang mungkin sedang nongkrong di cafe," tambah Mama Kania membuat gurauan sedikit agar suami dan anaknya tidak terlalu tegang.


"Semoga yang kamu ucapkan benar-benar terjadi," Papa Baskara terus berdoa agar Mamanya kembali dengan keadaan baik, begitu pula dengan Raka yang melakukan hal serupa.


"Maaf ya Pa, Mama harus pergi bekerja, gimana pun juga Mama gak boleh seenaknya lepas dari tanggung jawab mentang-mentang rumah sakit itu punya keluarga kita," ujar Mama Kania pamit untuk ke rumah sakit.


Apa boleh buat? jika ingin cuti tidak bisa secara dadakan begini. Minimal tiga hari sebelumnya harus mengajukan surat permohonan cuti kepada kepala rumah sakit.


"Iya gak papa. Mama nggak usah terlalu memikirkan masalah ini. Biar Papa dan Raka saja yang mencarinya," usapan lembut terasa di kepala Mama Kania.


Inilah yang membuat Mama Kania nyaman dengan Papa Baskara. Papa Baskara selalu mengerti dengan Mama Kania dan tidak pernah menuntut apapun dari Mama Kania.


Mama Kania menuju rumah sakit dan memeriksa calon pasien yang sudah mengantri. Satu persatu pasien masuk ke dalam ruangan praktek Mama Kania. Mama Kania hanyalah dokter umum biasa, beliau memang tidak memiliki minat untuk menjadi dokter spesialis ataupun dokter bedah.


Di sisi lain Litha juga akan menuju rumah sakit untuk mengantarkan Mbok Inah periksa karena wanita yang usianya hampir menginjak 66 tahun tersebut sedang di landa flu berat. Umran tidak bisa menemani karena sibuk dengan urusan perusahaan, pelan-pelan Umran belajar untuk mewarisi bisnis keluarga.


"Astaga..." Mama Kania terkejut melihat seorang pemuda yang masuk keruangannya dengan wajah dan tubuh yang banyak luka.


"Kenapa Dok?" Tanya orang tersebut sambil duduk di hadapan meja Dokter Kania.


"Ee.. Tidak, saya hanya terkejut melihat kondisi luka anda. Kenapa lebih memilih mengantri?" Tanya Mama Kania.


Fandy mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud ucapan Dokter tersebut. "Maksud Dokter?" Yaps dia adalah Fandy yang setelah mengurus Oma, dia lanjut tidur lagi. Dan saat bangun sekujur tubuhnya terasa nyeri dan terasa sakit di bagian luka-lukanya.


"Jika lukanya banyak seperti ini kenapa tidak langsung menuju IGD saja, agar lebih cepat mendapat penanganan dari pihak medis," jelas sang Dokter.


"Hanya luka ringan," jawabnya, membuat Dokter Kania tersenyum menggelengkan kepalanya.


Fandy menganggap lukanya hanya bagian luar, tidak ada luka dalam yang dapat merenggut nyawanya. Mengantri sebentar pun tak masalah baginya karena bisa melihat suster-suster cantik yang berjalan kesana kemari.


Dokter Kania mempersilahkan Fandy membaringkan tubuhnya di tempat yang sudah disiapkan untuk pasien, karena Dokter Kania perlu memeriksa secara detail luka-luka di seluruh tubuh Fandy.

__ADS_1


Setelah mengecek kondisi pasiennya, Dokter Kania menjelaskan jika tidak ada luka dalam, suhu normal, tekanan darah normal, semuanya normal, sehingga tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Fandy hanya membutuhkan istirahat cukup, meminum obat sesuai resep dan rutin mengoleskan salep pada lukanya.


"Sebentar, saya tuliskan resep obatnya dulu," ucap Dokter Kania dan diangguki Fandy.


__ADS_2