
Mereka berangkat menggunakan bus yang disewa oleh Raka. Berbeda dari dua tahun yang lalu saat menuju Korea yang disponsori oleh Oma Rahma, liburan kali ini disponsori oleh pewaris tunggal Adelard, mulai dari transportasi, konsumsi, dan penginapan.
Di dalam bus mewah tersebut mereka duduk dengan pasangan masing-masing. Jangan ditanya lagi kalau Raka pasti duduk dengan Litha, Umran dengan Sarah, Leon dengan Fika, Arkan dengan Sekar, sedangkan tiga cogan jomblo ngenes memilih duduk bersama dibarisan paling belakang.
"Ini kenapa gak pake pesawat atau helikopter aja sih?" Tanya Leon yang lebih condong ke arah protes. Baru masuk aja udah protes, padahal doi tinggal menikmati liburan dan cuma modal tenaganya doang, jadi pengen ngetok kepalanya pakai linggis.
"Kalau pakai jalur udara gak sampai sepuluh menit kita udah sampai," Danil duduk dan langsung memejamkan matanya tidak ambil pusing ocehan Leon.
Suara tawa Litha terdengar menonton film komedi yang terlihat di layar laptop milik Raka. Di depannya ada Sarah yang tengah sibuk menjahili menjawil-jawil mencolek-colek wajah Umran yang terlihat sangat fokus dengan tabletnya, apa lagi kalau bukan urusan pekerjaan kantor. Di deretan samping ada Arkan dan Sekar yang saling adu kecerdasan, mereka bermain catur di ponsel Arkan.
Berbeda pula dengan pasangan Leon dan Fika yang malah membahas mengenai berbagai macam topik obrolan random. Mulai dari pohon-pohon disepanjang jalan yang mereka lewati, berbagai macam kendaraan yang terlihat, dan masih banyak lagi, pokoknya yang dipandang oleh mata mereka langsung diomongin, nyamuk lewat depan mata mereka aja langsung diomongin. Benar-benar pembahasan unfaedah. Kalau trio jones lebih memilih menghabiskan waktu perjalanan ini dengan mengarungi dunia mimpi yang indah.
Litha sudah cekikikan tidak jelas menatap layar laptop yang berada di pangkuannya. Ia menoleh ke sampingnya, dilihatnya Raka yang juga ikut menyimak alur cerita dalam film. Yang jadi pertanyaan Litha, kenapa Raka gak ada ekspresi apapun, wajahnya sangat konsisten dengan muka gantengnya yang datar. Oh ayolah film ini bergenre komedi, bukan horor!
Raka yang merasa diperhatikan ikut menoleh ke sampingnya menatap gadis cantik yang memincingkan mata ke arahnya. "Kenapa?"
"Kamu beneran nonton film nya nggak sih?" Litha memajukan wajahnya lebih dekat dengan wajah Raka.
Kerutan dahi Raka terlihat. "Emang ada nonton bo'ongan?"
"Ini film komedi, kenapa gak ketawa?" Litha menuntut meminta penjelasan yang masuk ke logikanya. Litha tahu kalau si muka datar ini emang jarang ketawa, tapi ini film komedi loh?
"Kalau lihat film komedi emang harus diwajibkan untuk ketawa?" Tanya Raka balik.
Lelucon yang susah payah diperankan oleh aktor dan aktris terkenal yang dirangkai oleh si pembuat ide film tersebut sudah tidak ada harga dirinya lagi dimata Raka.
__ADS_1
"Coba deh direnungkan dan dipikirkan baik-baik, ada kejadian yang bernilai lucu di film ini nggak?" Litha geram sendiri dengan Raka yang sama sekali tidak memiliki selera humor.
Raka nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ada,"
"Terus kenapa gak ketawa?" Litha memperhatikan mimik wajah Raka yang dari tadi datar-datar saja.
"Males," jawabnya singkat.
"Emang ada ya orang yang lihat film lucu dan bilang kalau filmnya lucu tapi males ketawa?" Nafas Litha sudah memburu menahan emosi, ia tidak tahu lagi kemana arah jalan pikiran si kulkas berjalan tersebut.
"Kalau aku bilang gak ada yang lucu nanti kasihan sama yang buat film ini," jawab Raka tanpa rasa berdosa.
Tuh kan film komedi selucu apapun tidak ada harga diri sama sekali jika dihadapkan kepada seorang manusia modelan Raka.
"Tentang?" Tanyanya.
"Apa lagi kalau bukan soal film ini. Katanya tadi bilang ada adegan lucu. Bohong banget kalau kamu ngakunya males ketawa, tapi mulutnya ngomong ada yang lucu," tatapan mengintrogasi diperlihatkan oleh Litha.
Raka menghelai nafasnya, "Kamu tadi nanya penilaian lucu dari film ini dari sisi pemikiran aku, bukan dari sisi perasaan aku. Aku jawab ada karena pemikiran aku kasihan sama pembuat filmnya kalau aku bilang gak ada," jelasnya.
"Kalau dari sisi perasaan, kamu ngerasa gak ada yang lucu sama sekali?" Tebak Litha dengan nafas memburu. Raka mengangguk lalu lanjut menonton layar laptopnya.
Litha menoleh ke arah lain selain wajah datar tampan itu. Ia menghelai nafasnya berkali-kali dan mengibaskan tangannya di depan mukanya menahan emosinya. Ini dia yang salah tanya atau Raka yang aneh sih?
Raka mengamati Litha yang memejamkan matanya menarik nafas buang nafas beberapa kali. "Kenapa?"
__ADS_1
Litha menoleh menatap sinis. "Pake nanya lagi," ketusnya.
"Ya kan kita gak ada yang tau kalau tiba-tiba Jordy lagi live Ig, kalau suara kita masuk di videonya bisa matiin pasaran kita," jelas Raka yang tumben-tumbenan kali ini peka terhadap maksud Litha yang masih rada emosi.
Litha menyipitkan matanya, gak tau aja pokoknya masih kesal dengan si kulkas itu. Dipikir-pikir ucapan Raka ada benarnya juga, kalau sampai ketahuan publik bisa gak laku nih film komedinya.
"Aku ngantuk," ucap Litha.
"Ngantuk tinggal tutup mata, kenapa bilang aku?" Raka menahan tawa melihat ekspresi Litha yang cemberut.
"Bercanda," Raka tersenyum sambil mengusap kepala gadis disampingnya.
"Aku atur kursinya biar bisa rebahan ya?" Izin Raka yang membungkuk hendak memencet sebuah tombol dibawah kursi.
"Eh jangan Kak," Litha memegang pundak Raka agar kembali duduk bersandar.
"Kenapa?" Alis Raka terangkat sebelah.
"Aku kurang nyaman, nanti kalau dilihat orang belakang," ujar Litha merujuk kepada trio jones tamvan, siapa lagi kalau bukan Si bule nyasar Jordy dan Nick, serta si kalem Danil.
Raka mengangguk mengerti. Litha tersentak kaget saat Raka mengarahkan kepala Litha agar bersandar di bahunya. "Tidur gini dulu gak papa ya. Agak gak nyaman sih tidur posisi duduk begini, tapi sabar aja sebentar lagi kita sampai tujuan kok,"
Suara lembut tersebut membuat Litha tersenyum. Gak tau deh ini anak kesambet apaan, kenapa mendadak jadi pengertian begini.
Litha memejamkan matanya bersandar dibahu Raka dengan tangan melingkar diperut Raka yang keras. Sedangkan pemuda itu merangkul pundak Litha dan menyadarkan kepalanya diatas kepala Litha yang sudah masuk ke alam mimpinya.
__ADS_1