
Setelah membuka lakban, anehnya penjahat itu menatap Litha dengan tatapan penuh arti yang sangat sulit untuk diartikan.
"Cantik," gumam penjahat tersebut yang hanya terdengar oleh Litha.
Lalu tiba-tiba dia menyeret anak buahnya yang tadi membawa Litha kesini, di tempat yang seharusnya tidak cocok untuk gadis secantik Litha. Orang yang diseret pun gelagapan ketakutan, dia mengerti bahwa ketuanya saat ini sedang marah.
"Ada apa bos?" tanya anak buahnya. Ketua pimpinan mafia itu tidak menjawab, dia menonjok dengan sangat keras hingga anak buahnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Gadis cantik ini bukan adeknya Fika, dia bukan inceran klien kita," ucap pimpinan mafia itu dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah Litha.
Litha sangat terkejut dengan penuturan orang yang baginya sangat asing. Bagaimana mungkin dia mengetahui Litha? Sedangkan Litha saja merasa sama sekali tidak kenal dengan orang tersebut, bahkan ini adalah pertama kalinya Litha melihat wajah penjahat yang dipanggil bos tersebut.
"M... m.. ma.. af bos, ka.. ka.. mi ti.. dak tahu," tutur anak buahnya terbata-bata, saking takutnya.
"Bagus kerja lo, gue gak perlu susah-susah buat nyari cewek secantik dia," ucap pimpinan mafia itu dengan volume rendah.
"Litha Kusuma Jaya Nagara, lo lupa sama gue?" tanya pimpinan mafia tersebut dengan lembut.
Bagi Litha orang tersebut seperti orang misterius. Selain karena dia mengetahui dan mengenal Litha, dia juga sangat pandai dalam mengubah moodnya dalam hitungan detik. Sungguh aneh, tadi marah-marah sampai nonjok muka orang sekarang ngomongnya pake nada lembut gitu.
"Lupa? Gue nggak kenal lo," ungkap Litha.
"Gue Fandy, temen lo waktu lo masih SMP," jawabnya.
Litha memutar bola matanya, dia masih mengingat memorinya saat SMP. "Hah... Kak Fandy?" ucap Litha terkejut.
Sejujurnya Fandy bertemu dengan Litha saat Litha masih kelas 1 SMP, sedangkan Fandy kelas 1 SMA. Yups Fandy adalah itu seangkatan dengan Umran, tetapi mereka tidak terlalu akrab, hanya sekedar kenal saja. Itu pun karena adanya sebuah peristiwa yang tidak disengaja. Litha tidak tahu jika Umran mengenal Fandy, karena Litha juga tidak pernah menceritakan tentang persahabatannya dengan Fandy.
Fandy pernah mengikuti latihan tinju, dan saat itu juga Litha mengikuti latihan tinju perempuan. Disitulah seorang Fandy tertarik dengan paras cantik Litha, Fandy tidak pernah menceritakan perasaannya kepada siapa pun. Fandy mencoba mendekati Litha, namun dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dan Litha selalu menganggap hubungannya dengan Fandy hanya sebatas kakak-adik. Sayangnya hubungan kakak-beradik itu hanya berlangsung selama tiga tahun saja.
__ADS_1
Setelah Litha keluar dari tempat latihan tinju tersebut, Fandy tidak menghubungi Litha lagi. Sering kali Litha mencoba menghubungi Fandy, tapi selalu tidak bisa, mungkin saat itu Fandy sudah mengganti nomor teleponnya.
"Kak tolongin gue kak! Dan Fika itu sahabat gue kak, Fika gak bersalah kak, Fika gak tau apa-apa tentang ayahnya yang bawa uang sebanyak itu," jelas Litha berharap penuh kepada Fandy.
Karena dulunya Fandy sangat bersikap baik dan sopan kepada Litha, itulah cara Fandy untuk mendapatkan cinta dari Litha, tetapi hasilnya nihil. Litha hanya menganggap Fandy sebagai kakak, toh juga saat itu Litha masih belum cukup umur.
"Tolongin? Itu nggak akan gue lakuin," ketus Fandy.
"Kenapa kakak gak mau lepasin kita? Apa karena kakak lebih mementingkan pekerjaan kakak ini?" tanya Litha, namun yang dimintai penjelasan malah diam saja.
"Gue bakal bilang ayah buat ngasih kerjaan yang lebih bagus dari kerjaan ini buat kak Fandy, tapi kak Fandy harus lepasin kita dulu. Dan gue janji gue gak akan bilang kejadian ini ke ayah," tambah Litha yang seperti rumus volume balok.
"Sekarang yang gue butuhin bukan pekerjaan Tha," tutur Fandy.
"Apa yang kakak butuhin? Gue bakal kasih," jelas Litha. Litha itu polos, dia tidak tahu jika sekarang Fandy bukanlah Fandy yang dikenalnya dulu, faktanya Fandy memang sudah berubah 180°.
"Gue butuh lo, gue ingin lo Litha," pinta Fandy dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Gue butuh lo sebagai alat untuk menghancurkan Raka dan Umran," ungkap Fandy dengan senyum liciknya.
Deg...
Litha terkejut, sama halnya dengan Fika yang sedari tadi hanya menyimak.
"M... maksud kak Fandy?" tanya Litha.
"Lo tau kenapa 3 tahun yang lalu setelah kita keluar dari tempat latihan tinju itu, gue gak ngehubungin lo lagi? Dan lo juga gak bisa ngehubungin gue?" tanya Fandy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Litha. Litha belum sadar jika Fandy sudah berubah, ya begitulah Litha yang tak kalah polos dari Fika.
__ADS_1
"Gue depresi, lo tau kenapa?" tanya Fandy. Litha hanya menggelengkan kepalanya. Akh... sial, sepertinya Fandy ingin bermain tebak-tebakan dengan Litha.
"Karena kembaran gue bunuh diri di sekolahannya, tepatnya di gedung sekolah milik keluarga Nagara. Keluarga lo dan Umran, dan lo tau? Rencana bunuh diri nya berhasil mulus, dia meninggal di tempat kejadian," ucap Fandy dengan senyum seperti Joker. Perlahan air matanya mulai mengalir satu persatu, sepertinya Fandy masih belum terima jika kembarannya bunuh diri hingga meninggal.
"Kak Fandy punya kembaran?" tanya Litha.
"Dia seorang perempuan cantik sama kayak elo Tha. Tiga hari sebelum ujian kelulusan dimulai, tepatnya hari Jumat dia bunuh diri lompat dari atas gedung sekolahannya," Ya Fani itu anak kelas 3 yang akan menanti hari kelulusannya, namun ternyata takdir berkata lain, Fani sudah meninggal dunia sebelum hari kelulusannya. Fandy terdiam sejenak.
"Namanya Fani, dia baik, dia juga cantik. Tapi dia malah punya rencana untuk mengakhiri hidupnya dengan cara rendahan," air mata Fandy sudah membasahi pipinya, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, keduanya tangannya mengepal erat dan kuat. Fandy sepertinya sedang menahan amarahnya.
"Fani bunuh diri karena Raka, dia cinta mati sama Raka, dia jadi gi*a karena Raka. Sedangkan Umran yang satu kelas sama Fani, Umran cuman diem menyaksikan keg*laan Fani. Padahal Umran juga ada di atas gedung itu, gue benci sama kedua orang yang sekarang penting di hidup lo," jelas Fandy. Saat itu Umran dan Fani kelas 3, sedangkan Raka masih kelas 1.
"Fani meninggal karena Raka dan Umran, kalau Umran saat itu mencegah Fani. Mungkin sampai sekarang Fani masih hidup," tambah Fandy.
"Tapi kejadian Fani itu mutlak bukan kesalahan Raka dan bang Umran, cinta itu gak bisa di paksa kak. Kak Fandy gak bisa nyalahin Raka karena Raka gak bisa bales cintanya Fani. Dan asal kakak tau bang Umran gak punya hak untuk ngelarang Fani bunuh diri, karena bang Umran bukan siapa-siapa nya Fani," ujar Litha menentang opini Fandy.
"Terus kenapa kakak gak ada di tempat kejadian itu? Seharusnya kak Fandy sebagai saudara kandungnya yang ngelarang Fani untuk bunuh diri. Ternyata selama ini gue salah nilai elo kak, lo itu manusia paling egois yang pernah gue kenal," tutur Litha.
"Gue egois? Lo tau kan bokap gue udah meninggal. Keluarga gue hidup serba kekurangan, gue ditinggal nyokap gue. Nyokap gue gak bisa hidup miskin, dia ninggalin anaknya demi laki-laki kaya yang brengs*k. Gue nyari uang untuk keberlangsungan hidup gue dan Fani. Fani pengen sekolah di sekolah elit yang harganya mahal menurut gue, dan gue menyanggupi permintaan Fani. Tapi sisa uang gue cuman cukup buat gue sekolah di SMA yang biasa, nggak seelit sekolahan yang Fani incer," jelas Fandy puanjang banget.
"Tapi elo gak bisa nyalahin Raka sama bang Umran," teriak Litha tetap bersikeras membela orang-orang yang disayanginya.
Toh juga Raka dan Umran memang tidak berbuat apapun terhadap Fani. Fani saja yang terlalu bodoh, untungnya bunuh diri apa coba? Nggak ada kan? Jangankan mendapat cintanya Raka, mendapat perhatiannya Raka aja enggak.
"Kenapa? Karena lo pacarnya Raka dan adiknya Umran? Hmm...?" tanya Fandy.
"Jawab!" bentak Fandy sambil membanting kursi di samping Litha. Alhasil suara keras itu membuat Litha dan Fika sangat terkejut.
"Raka udah buat orang yang gue sayang meninggal, dan gue juga harus ngelakuin hal yang sama," ucap Fandy dengan menaikkan dagu Litha ke atas. Agar Litha dapat melihat wajah marah dari seorang Fandy yang lumayan menakutkan.
__ADS_1
"Sakit kak," Litha merengek kesakitan dan air matanya mengalir di pipi mulusnya. Tangan Fandy memegang dagu Litha dengan cengkraman yang sangat kuat. Sedangkan Fandy tersenyum puas, Fandy benar-benar sudah berubah.