Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Tata Tuta


__ADS_3

"Tha kita duluan ya... Nanti ketemu di sana," Bunda Larissa tersenyum menatap Litha yang sangat cantik dengan riasan tipis di wajahnya.


"Hati-hati Ayah Bunda," Litha menyalami kedua orang tuanya yang berangkat terlebih dahulu.


Dalam hati Litha bertanya, sebenarnya ada hal penting apa sehingga ada acara dinner bersama keluarga. Dan mengapa Umran tidak ikut serta? Ah apa ini hanya perasaan Litha saja, mungkin hanya makan malam biasa saja.


Tidak sampai lima menit Raka sudah menjemput Litha. "Loh baju kita samaan warna hitam," ucap Litha kegirangan.


"Cantiknya," Raka tersenyum mengacak-acak rambut panjang Litha yang sengaja digerai.


"Jangan gitu aku jadi malu," Litha merapikan kembali rambutnya.


"Terus bilang apa? Jelek?" Goda Raka.


"Nggak gitu juga kali," Litha membuang nafasnya kasar.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Raka merangkul pundak Litha lalu berjalan santai.


Di depan halaman mereka melihat Sarah dan Umran yang bersantai di taman mini menikmati semilir angin malam. Wait! Ralat, hanya Sarah yang bersantai, berbeda dengan Umran yang sibuk menulis sesuatu di sebuah buku.


"Nulis apaan Bang? Gak mungkin dong kerjaan kantor pake nulis di buku tulis," Litha mulai curiga.


"Tugas tadi pagi," Sarah memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Litha menyipitkan matanya menatap Sarah yang membuat abangnya pasti kecapean karena menulis jawaban yang sangat banyak.


Litha jadi teringat dengan tugasnya beserta buku-bukunya yang dibawa oleh Raka sore tadi. "Tugas aku gimana Kak? Udah kelar?"


"Belum," jawabnya singkat.


"Udah dikerjain setengah?" Tanya Litha lagi.


Raka menggeleng tanpa beban, "Belum juga,"


"Belum dikerjain sama sekali?" Tebak Litha tepat sekali, terbukti dari anggukan kepala dari manusia dingin disampingnya.


"Astaga Kak... Kapan selesainya kalau begini? Kalau besok pagi belum selesai gimana? Kak itu banyak lhoh Kak. Dan jawabannya juga gak kalah lebih banyak. Emang sih kamu pintar, tapi itu lumayan sus..." Ucapan Litha terhenti karena Raka menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk Raka.


"Malam ini penampilan kamu kelihatan anggun. Bisa nggak minimal malam ini aja jangan cerewet," ucap Raka membuat gelak tawa Sarah dan Umran terdengar.


Litha? Jangan ditanya, udah pasti manyun.


"Dulu aja waktu awal pacaran diem gak banyak ngomong. Sekarang ngajak ribut terus tiap hari," Raka tersenyum mengingat masa-masa mereka menjalin hubungan spesial.


"Itu kan dulu Kak. Sekarang mah beda," balas Litha tak mau kalah.


Sarah mengajak Umran untuk mendekat kepada Raka dan Litha. "Lucu yah kalau mengingat masa-masa dulu,"


Sarah masih tidak menyangka bahwa mereka sekarang berada dalam satu circle persahabatan dengan The Perfect. Yaaa mengingat bagaimana Raka dan The Perfect yang terkenal cool dan anti perempuan terkecuali untuk Leon Leonard.

__ADS_1


Mengingat hal tersebut membuat Litha teringat sebuah pertanyaan yang selama ini ia pendam sendiri. "Iya ya? Kenapa tiba-tiba Kak Raka suka aku?" Litha memaksa Raka yang menolak menjawab.


"Dulu kita belum saling kenal dekat. Kenapa Kak Raka maksa aku jadi pacar?" Tatapan mengintrogasi diperlihatkan oleh Litha.


"Aku gak maksa. Kamu mau dengan ikhlas lahir dan batin," sahut Raka beralibi dan mengingatkan Litha masa dulu.


"Tapi kannn...." Rengek Litha.


"Udah jangan bahas lagi. Ayo berangkat sekarang. Nanti orang tua kita kelamaan nunggu," Raka menarik Litha agar cepat masuk mobil.


***


Sampai di parkiran restoran, keduanya tidak langsung masuk.


"Eh Kak tunggu!" Litha menahan tangan Raka.


"Ada apa?" Herannya.


"Handphone aku ketinggalan di mobil," Litha menggantungkan tas selempang berwarna birunya di bahu Raka.


Raka melirik Litha yang malah tersenyum manis.




"Titip bentar. Mau ambil handphone dulu," sahut Litha segera berlari kecil ke arah mobil.


Sampai di meja yang telah dipesan oleh keluarganya, Raka menarik kursi untuk Litha. "Makasih ganteng," Litha berbisik pelan ditelinga Raka.


Raka duduk dihadapan Litha. "Kembali kasih cantik manis imut," ucapan Raka membuat pipi Litha merona.


"Ish... Apa sih Kak?" Protes Litha karena terlalu berlebihan menurutnya.


"Orang tua kita kemana?" Litha baru sadar jika seharusnya mereka berada di meja yang sama dengan para orang tua.


Raka mengedarkan pandangannya melihat sekeliling restoran mewah ini. "Itu," Raka menunjuk segerombolan para orang tua dengan dagunya mengarah ke belakang Litha.


Litha menoleh, melihat keluarga mereka berjalan mendekat. Ada Oma juga yang turut hadir dalam acara dinner keluarga ini.


"Ayah Bunda, Papa Mama dan Oma habis dari mana aja?" Tanya Litha setelah para orang tua duduk ditempatnya.


"Dari kutub Utara ngecek kondisi di sana masih dingin atau udah musim panas," gurau Papa Baskara disambut tawa oleh Ayah Kusuma.


"Habis keliling lihat kondisi resto. Soalnya Mama kurang yakin sama Raka," ucap Mama Kania.


Litha menatap heran, kenapa jadi ke Raka? "Lhoh kok?"


Mama Kania seolah mengerti pertanyaan dalam benak Litha. "Pasti Raka gak kasih tahu kamu kalau restoran ini punya dia,"

__ADS_1


Litha terkejut, ia mengamati seluruh penjuru restoran yang ramai akan pengunjung. Restoran dengan konsep elegan dan mewah tiga lantai, ada sebuah kolam ikan dan air mancur di tengah-tengah restoran ini.


Konsep restoran ini sangat cocok sekali untuk pengunjung yang ingin berkumpul bersama keluarga dan juga cocok jika digunakan untuk sepasang kekasih yang menginginkan suasana romantis.


Litha menatap tajam Raka. "Kak Raka kok gak cerita sih sama aku?"


"Orang kamu gak nanya. Kalau aku tiba-tiba bahas tentang resto, kesannya aku pamer dong?" Sahut Raka tidak ingin disalahkan.


Ayah Kusuma tertawa renyah, ada benarnya juga penuturan Raka. "Ini yang aku kagumi dari anak kamu," Ayah menepuk bahu Papa Baskara.


"Sejak kapan Kak Raka punya restoran ini Ma?" Tanya Litha kepada Mama Kania.


"Kenapa gak tanya ke aku langsung?" Tanya Raka tidak terima dengan Litha yang malah tidak bertanya langsung kepada owner restoran yang bernama Tata Tuta ini.


"Suka-suka aku lah," Litha masih kesal dengan Raka yang tidak ingin bercerita tentang kehidupannya.


Para orang tua hanya menggeleng dengan senyuman tulus melihat tingkah anak muda jaman sekarang.


"Restoran ini bisnis coba-coba yang ternyata malah membawa keuntungan besar bagi Raka," Mama Kania bercerita tentang awal pembentukan restoran Tata Tuta. Meskipun restoran Tata Tuta tidak memiliki cabang, tetapi keuntungan yang diperoleh Raka tidak main-main.


"Kenapa gak bangun restoran cabang?" Litha menatap Raka.


"Takut menyaingi bisnis cafe Jordy katanya," jawab Mama Kania dengan tawa renyah begitupun dengan yang lainnya. Raka hanya diam mengamati wajah Litha yang semakin cantik bila tertawa macam itu.


"Kamu harus bangga karena Raka membangun bisnis kuliner ini dengan hasil jerih payahnya sendiri. Raka menolak segala jenis bantuan dari Papa, Mama dan Oma ," lanjut Mama Kania.


Restoran Tata Tuta ini dibangun oleh Raka sejak Raka memasuki bangku Sekolah Menengah Atas. Raka mengumpulkan uang sejak kelas satu SMP saat dia mulai berkerja di perusahaan Papanya sendiri.


Semua posisi di perusahaan pernah ia lakoni termasuk menjadi office boy. Lalu setiap bulannya Raka menaiki jabatan yang lebih tinggi dari jabatan sebelum-sebelumnya, hingga akhirnya Raka menjabat sebagai direktur di perusahaan cabang Adelard Group.


Yap diawal remajanya Raka memulai kariernya sebagai OB di kantor Papanya. Sejak mendapat gaji pertama oleh Papanya, sejak itu pula setiap sekolah Raka tidak pernah diberi uang jajan oleh orang tuanya. Selama tiga tahun Raka berhasil mengumpulkan uang yang ditabungnya untuk membangun bisnis kuliner sederhana.


Niat Raka hanya ingin coba-coba mandiri membangun usaha sederhana, namun tidak disangka ternyata bisnis kulinernya mampu berkembang tiap tahunnya. Raka bahkan tidak menyangka jika restoran Tata Tuta yang dulunya sangatlah sederhananya bisa berkembang dan sukses dalam kurun waktu lima tahun.


Litha berpikir sejenak, entah mengapa ia merasa nama restoran Tata Tuta ini adalah gabungan dari namanya. Tapi bukankah Raka telah membangun restoran ini sejak dia awal masuk SMA? Dan pada masa itu mereka belum saling mengenal.


"Waktu awal bangun restoran ini nama restorannya apa Ma?" Tanya Litha.


"Dari awal dibangun dulu, restoran ini namanya tetap sama. Restoran Tata Tuta," senyuman Mama Kania terlihat. Mama Kania lalu menceritakan lagi sesuatu yang menurutnya menarik untuk didengarkan oleh Litha.


Dulu Raka selalu menolak segala bentuk bantuan dari keluarganya, Raka menolak bantuan materi dan tenaga kerja yang ditawarkan oleh Papa dan Oma nya. Dia juga menolak tawaran dari sang Mama yang berniat merekomendasikan restoran sederhana tersebut kepada rekan kerja Mamanya sesama Dokter.


"Wih... Keren," Litha bertepuk tangan kecil.


Malam ini Litha baru tahu ternyata Raka telah dididik keras sejak remaja oleh kedua orang tuanya.


Litha pikir selama SMA dulu Raka terlihat kaya karena mendapat uang lebih dari orang tuanya. Ternyata Raka hanya mengandalkan uang dari gaji yang ia terima dari Papanya yang berstatus sebagai CEO yang sesungguhnya di perusahaan Adelard Group.


But lain cerita, sekarang mah Litha melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Raka udah beneran sukses. Ditambah lagi dengan pendidikannya, Raka udah selesai kuliah!

__ADS_1


Dia sudah menyandang gelar S...? S berapa ya? Kok Litha belum tau? Ah mungkin S1 kali ya??? Jurusan apa Litha gak tau? Hadeh pacar model apa begini?


"Kak Raka S1 jurusan apa?" Litha menatap Raka yang malah menaikkan sebelah alisnya ke atas.


__ADS_2