
Litha dan Arkan berjalan menyusul sahabatnya yang lebih dulu masuk ke hotel yang jaraknya hanya hitungan langkah kaki dengan pantai yang akan menjadi tujuan liburan mereka. Sebenarnya ada villa keluarga Adelard disekitar pantai ini, tapi Oma menyuruh menginap di hotel saja, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat mereka hanya berlibur sendiri tanpa ada sosok orang tua yang mendampingi.
"Gue masuk duluan, tentang tas ransel itu gak usah terlalu diambil pusing deh," mereka berdua telah sampai di depan pintu kamar hotel yang akan ditempati Litha dan yang lainnya yang telah masuk lebih dulu.
Yap para ciwi-ciwi memilih untuk tidur berempat sekalian di kamar yang sama, tentu dengan ukuran kamar yang lebih besar dari kamar pada umumnya. Sedangkan untuk The Perfect memesan kamar sendiri-sendiri, kalau bareng-bareng bisa gak tidur mereka, tau sendiri kalau udah kumpul pengennya ngajak tawuran mulu.
"Lo nggak ngerasain sih makanya bilang gitu. Coba aja kalau tas lu yang ilang," Arkan menjawab lesu.
Litha mengintip didalam kamar, ternyata tas ransel Arkan masih berada dalam genggaman mereka. "Gue ramal nanti tas lo bakal balik sendiri. Lo masuk kamar duluan gih..! Nanti sekitar lima menitan lagi lo buka pintu, gua jamin tas lo ada didepan mata lo,"
"Kayak dukun aja lu," Arkan tidak menggubris ramalan Litha. Arkan berjalan menuju komplek kamarnya yang berdekatan dengan kamar Raka dan yang lainnya. Akh.. sepertinya manusia ganteng itu sudah mengikhlaskan kepergian tas ranselnya.
Whahaha...
Litha masuk dengan tawa menggelegar membuat tiga orang yang sudah berleha-leha tiduran langsung bangkit dan berpelukan dipojokan menatap tajam Litha.
"Kesurupan lo Tha?" Sarah jadi merinding sendiri.
Litha langsung menghentikan tawanya menatap sinis tiga manusia penakut yang berpelukan sudah mirip teletubbies.
"Balikin tuh tasnya Arkan! Yang punya nyariin sampai hampir gila," Litha melempar tubuhnya dengan kasar di kasur king size yang empuk.
"Astaga gue lupa," Sekar menepuk jidatnya, niat hati ingin gantian membantu membawa tas Arkan mumpung tadi tas miliknya dibawakan oleh Sarah.
***
Litha membuka matanya setelah cukup beristirahat hampir setengah jam. Ia melihat Sarah menyisir rambut, Fika menyemprotkan parfum ke tubuhnya, serta Sekar yang sedang bercermin mengamati penampilannya.
Sekar menoleh melihat muka bantal Litha yang masih mengumpulkan nyawanya. "Tha ayo buruan siap-siap, yang lain udah nunggu kita di pantai,"
"Ngapain?" Litha duduk bersila dengan rambut acak-acakan.
"Lihat sunset, kata Umran sih bagus. Suasananya cocok banget buat orang pacaran," Sarah menarik turunkan alisnya.
"Pacaran terus otak lu," balas Fika.
"Layar handphone lo hidup terus dari tadi, kayaknya ada yang hubungin lo," Sekar melihat benda pipih milik Litha yang tergeletak disamping pemiliknya.
__ADS_1
Litha melihat ada panggilan masuk, sepuluh panggilan tidak terjawab dari Raka yang detik ini juga menyuruh Litha bersiap, karena Raka sudah menunggunya di lobby hotel.
Litha segera turun dari ranjang, selesai mandi ia langsung memoles tipis wajahnya dengan bedak dan lipgos. Langsung capcuss keluar, langkah Litha terhenti saat menyadari tidak ada makhluk hidup dibelakangnya, ia balik lagi menongolkan kepalanya masuk ke dalam kamar.
"Ayo keluar, kalian gak mau lihat sunset?" Tanya Litha.
"Ini juga mau keluar. Elo aja yang lupa ngajak kita barengan keluar," Sarah jalan melewati Litha yang menyengir menunjukkan deretan gigi rapinya.
"Tauk lo. Ditungguin juga, malah duluan keluar!" Ketus Fika.
"Let's go!!!" Sekar beranjak dari duduknya, merangkul Litha dan Fika untuk menyusul Sarah yang sudah lari-larian sambil bersenandung kecil seperti bocil TK.
Sampai di lobi keempat gadis itu clingak-clinguk mencari keberadaan si tiang ganteng yang katanya udah nungguin, tapi mana? Gak ada.
"Kak Raka beneran nungguin kita di lobby?" Tanya Sarah memastikan.
"Kata doi sih gitu," Litha menghubungi Raka, menanyakan keberadaannya.
Litha mengedarkan pandangannya selagi menunggu panggilannya diangkat oleh pemilik nomor. Netranya tak sengaja mendapati sosok yang dari gestur tubuhnya mirip dengan Raka.
"Itu Kak Raka atau bukan ya...?" Litha bertanya kepada temannya.
"Itu yang ada diluar," Litha menunjuk seseorang yang menggunakan setelan serba hitam jika dilihat dari belakang.
Mereka berempat keluar mendekati lelaki tinggi tersebut. Litha mematikan handphonenya yang tidak ia ketahui bahwa telah tersambung dengan nomor Raka.
"Kalau itu beneran Kak Raka, kenapa dia pake topi rimba segala?" Heran Litha, tidak biasanya dia memakai topi model seperti itu.
"Lagi trend," jawab Fika yang faktanya memang begitu, topi rimba kekinian yang lagi naik daun.
Litha mengernyitkan keningnya, sepengetahuannya Raka bukan tipe orang yang suka mengikuti trend fashion dan sebagainya.
"Kak Raka," Litha memanggil nama tersebut setelah tepat berada dibelakang manusia tiang tersebut.
Dan benar ternyata dugaan Litha, Raka menoleh membalikkan badannya dan tersenyum menatap gadis cantik dihadapannya.
__ADS_1
Sejenak Litha terpaku oleh pesona Raka yang memakai kaos putih dengan paduan jaket hitam, celana hitam, sepatu hitam, serta jangan lupakan topi rimbanya yang juga berwarna hitam yang menjadikannya terlihat berbeda dari biasanya.
"Gantengnya pacar sahabat gueee...." Fika tersenyum malu-malu sambil memeluk Litha yang langsung tersadar dari lamunannya.
"Ups... Salah, maksudnya tunangan sahabat gue," Fika mengeratkan pelukannya kepada Litha dengan senyuman lebar dan pipi yang merona.
Padahal kan ya yang disenyumin sama Raka itu Litha, bukan Fika! Kenapa jadi Fika yang malu-malu kucing gitu?
Sarah tepuk jidat sendiri, dia dan Sekar saling pandang. Jujur mereka berdua jadi malu sendiri dengan tingkah Fika yang kurang normal.
"Ayo kita ke pantai, udah ditungguin sama yang lain," Raka mengandeng tangan Litha yang masih diam menatap kagum pesona Raka yang entah kenapa tiba-tiba Litha jadi ngerasa kalau tunangannya itu tambah ganteng.
Sarah dan Sekar merangkul Fika agar berada ditengah mereka. Kalau gak dipegangin takut nanti berkeliaran bebas menguntit Raka, terus tanpa sadar malah gandeng pasangan sahabat sendiri, bisa perang dunia nanti.
"Jaga tuh matanya, jangan jelalatan!" Sekar menegur Fika yang tatapan matanya masih fokus kepada manusia tampan didepannya.
"Habis ganteng sih," sahut Fika tidak ingin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walaupun cuma bisa menikmati dari arah belakang, tapi gak papa lah, dia masih ingat wajah Raka yang kalau tersenyum jadi ganteng kuadrat.
"Inget pacar sendiri woiii..." Seru Sarah sembari memegang kepala Fika agar sadar dan otaknya tidak konslet.
"Inget kok, Leon si playboy cap kadal itu kan?" Fika masih senyum-senyum sendiri gak jelas.
"Eh maksudnya si mantan playboy, hihihi..." Fika malah tertawa seperti mbak kunti.... Kok Sarah jadi merinding sendiri yaa membayangkan itu wkwk.
Sekar tersenyum menggelengkan kepalanya dengan tingkah centil sahabatnya itu.
Sampai dipinggir pantai, Fika mendadak menghentikan langkahnya membuat Sarah dan Sekar bingung. Padahal jarak mereka masih terlalu jauh dari gerombolan The Perfect dan Litha yang sudah duduk santai menikmati air kelapa muda.
Pandangan Fika tidak sengaja bertemu dengan Arkan yang juga menatapnya. Pipi Fika kembali memerah, kedua tangannya memegang pipinya, matanya berbinar menatap penuh kagum.
Sarah dan Sekar yang masih merangkul Fika ditengah-tengah mereka, jadi terheran berkali-kali lipat dengan tingkah laku Fika yang kurang wajar.
"Kenapa cowok orang jadi kelihatan lebih ganteng dimata gue?" Celetuk Fika menatap Arkan yang mengangkat sebelas alisnya, Arkan tu ngerasa aneh aja sama tatapan Fika yang gak biasanya begitu.
Sekar langsung menyentil dahi Fika.
Sarah geleng-geleng kepala. "Bener-bener kemasukan nih anak," bulu kuduk Sarah berdiri, ngeri juga kalau ucapannya benar wkwk.
__ADS_1
***
Bonus foto si cakep kesayangan kita semua 😋 jangan lupa like, hadiah, dan vote nya. Follow juga akun Author 😘