
"Ih... Jangan mesum deh," keluh Litha.
"Bercanda," sahut Raka dengan tawa renyah. Udah kebayang dong gantengnya kayak apa? Wkwk ganteng kubik lah pastinya.
"Mm... Kak," panggil Litha yang memberhentikan tawa sang kekasih.
"Apa?" tanyanya.
"Jangan pernah tinggalin aku yah!" pinta Litha masih berdiri di depan meja dekat televisi besar.
"Nggak janji," jawab Raka santai.
"Lhoh... Kok gitu?" Tebakan Litha salah!
Padahal Litha udah nebak kalau Raka pasti bilang, Iya aku akan setia bareng sama kamu terus. Ya begitulah ucapan yang diinginkan Litha, yang keluar dari bibir Raka. Hancur sudah harapan Litha tentang angan-angannya, yang menginginkan Raka berbicara romantis.
Raka mendekat ke arah Litha, "Dalam pertemuan pasti ada perpisahan," tuturnya dengan satu tangan yang mengusap sisi wajah Litha. Gadis cantik itu mendongakkan kepalanya, kedua mata indahnya berkaca-kaca.
"Kak Raka pengen kita pisah?" Oke untuk saat ini Litha memang agak sensian, mungkin karena lagi kedatangan tamu bulanan. So wajar lah...
"Aku emang nggak bisa janji untuk selalu bareng kamu Tha. Tapi aku janji kalau hati aku akan selalu ada nama kamu. Nggak akan ada cewek lain yang bisa gantiin posisi kamu di hati aku," jawab Raka tulus ditambah senyum yang teduh pula.
Ah... Apa beruang kutub ini lagi ngegombal apa gimana? Tidak! Dia sangat tulus. Litha tersenyum manis melihat tatapan Raka yang tulus, ucapannya sepertinya memang jujur dari dalam hatinya. Dan Litha merasa beruntung memiliki kekasih seperti Raka.
"Aku sayang kak Raka," tutur Litha spontan. Akhirnya Litha mengakui dan mengungkapkan perasaannya.
Namun sepertinya Raka tidak ada niatan sedikit pun untuk membalas penuturan Litha. Raka hanya tersenyum, senyuman yang tulus, teduh, dan ganteng pastinya wkwk...
"Kok diem aja?" protes Litha.
Raka bagaikan sedang memikirkan sesuatu, "Mmm..."
"Kapan-kapan aja," sambung Raka dengan senyum tampannya, tapi terlihat sangat menyebalkan bagi Litha.
Cuma bilang aku juga sayang kamu, atau I Love you, atau apalah itu, susahnya minta ampun. Kayak disuruh nikahin Litha aja, harus mikir dulu terus bilang kapan-kapan aja.
Jika seandainya, memang itu adalah jawaban dari Raka untuk menjawab pertanyaan tentang pernikahannya dengan Litha. Sudah dapat dipastikan bahwa Litha akan sakit hati karena merasa digantungkan oleh kekasihnya sendiri.
***
"Kayak pengantin baru aja," goda Leon saat melihat seorang pemuda bertubuh semampai yang sedang merangkul pundak seorang gadis yang tingginya hanya sebahu pemuda tersebut, yang kini sedang menuruni anak tangga.
"Iri bilang bos," sindir Arkan pada Leon.
"Udah nggak sakit perut?" celetuk Umran.
Litha menggelengkan kepalanya dengan senyum mengembang yang menghiasi bibirnya dari pertama keluar kamar, menuruni anak tangga, sampai sekarang berada di ruang tengah menemui para tamunya.
__ADS_1
Raka dan Litha duduk bersandingan, menghadap ke arah Leon dan Arkan. Sedangkan Umran duduk sendiri menghadap ke arah Jordy dan Danil.
Raka mengambil ponsel dari saku celananya. Gadis disampingnya malah mencuri pandang, bukan muka gantengnya, Litha mah udah sering lihat yang good looking gitu.
Dia itu kepo sama apa yang ada di layar ponsel milik sang kekasih. Oke sekarang Litha tahu cogan disampingnya ini seperti sedang mengurus pekerjaannya atau lebih tepatnya mengecek data-data dari perusahaan yang di kelolanya.
"Yah... Padahal aku mau ngajak kak Raka main game," seru gadis berkulit putih tersebut.
Raka menoleh. Tidak, tidak hanya Raka, semua menatap ke arah Litha, Litha menjadi pusat perhatian. Baru Raka akan meletakkan ponselnya di atas meja dan berniat untuk menemani kekasihnya bermain game, tetapi Litha sudah memegang pergelangan tangan Raka yang masih menggenggam benda pipih tersebut.
"Nggak usah ladenin aku. Aku tau kamu lagi sibuk kan?" tutur Litha sembari melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Raka.
"Gpp aku temenin," sahut Raka.
Ya iya lah Raka tetep mau nemenin Litha. Kalau Litha tahu Raka lagi sibuk dan Litha mau mencoba jadi pacar yang pengertian, kenapa gadis itu berbicara Yah... Padahal aku mau ngajak kak Raka main game? Maksudnya apa coba? Mau ngetes? Litha diprioritaskan sama Raka atau enggak gitu?
"Nggak usah," ucap Litha masih sama seperti tadi.
"Gpp," kekeh Raka.
"Enggak," volume gadis ini sudah mulai naik.
"Gpp," Raka masih kalem-kalem saja.
"Enggak," fiks volume sudah dapat dikatakan tinggi.
"Gpp," kekeh Raka tanpa ada rasa emosi sedikit pun dari dalam dirinya. Terbukti dari ekspresi wajahnya yang terlihat datar-datar saja.
"Enggak!!!" seru Litha yang volumenya sudah naik lagi.
"Gpp sayang," tutur Raka tetap tenang, kalem, dan datar.
Litha bungkam mendengarkan kata sayang. Selalu ada yang berbeda menurutnya, saat orang terkasih melontarkan kata sayang dari bibirnya. Mengingat Raka yang sampai detik ini belom pernah mengutarakan perasaannya.
So Litha mungkin menganggap kata sayang yang keluar dari bibir merah alami bagi seorang laki-laki, itu adalah perasaan yang selama ini tidak pernah diungkapkan oleh pemuda itu. Yah anggap saja Raka sedang mengutarakan perasaannya yang sejujur-jujurnya.
Waktu jadian aja, karena Litha yang memberikan sebuah pengajuan permintaan dari Raka. Dan Raka yang bukan tipe cowok romantis, ditambah pula dengan hatinya yang mungkin udah cinta dan sayang sama Litha, pastinya memanfaatkan kesempatan emas itu.
Waktu itu Raka cuma bilang kalau dia suka sama Litha, udah itu aja! Nggak pake bahasa cinta-cintaan dan sayang-sayangan. Terus langsung nembak Litha!
Sudah seperkian detik, sejak Raka mengutarakan perasaannya. Eh ralat maksudnya mengucapkan kata sayang. Litha dan Raka masih saling bertatapan.
Yang lain? Mungkin dianggap nyamuk bahkan mungkin Raka menganggap teman-temannya dan calon kakak iparnya itu tidak ada! Suasana masih hening, sampai...
"Ekhem..." Umran berdeham memecahkan keheningan.
"Cie.. yang sekarang udah sayang-sayangan nih ye..?" ledek Jordy. Tetapi baik Raka maupun Litha yang biasanya gampang malu, sepertinya mereka berdua tidak ingin menggubris perkataan Jordy.
__ADS_1
Kedua sejoli itu menoleh sebentar ke arah si bule nyasar, lalu saling memandang lagi. Seolah-olah saling beradu pandangan adalah suatu aktivitas yang sangat mereka gemari untuk saat ini. Tidak ada bosan-bosannya! Malah selalu membuat ketagihan dan kecanduan seperti bermain video game saja.
"Nggak usah," Litha mulai debat lagi tuh..
"Gpp," tetap pada pendiriannya.
"Enggak,"
"Gpp,"
"Enggak,"
"Gpp,"
Apa Raka harus manggil sayang lagi, biar Litha diem? Hufffttt... Yang denger tu capek tauk. Kasihan juga Danil, Jordy, Leon, Umran, sama Arkan ganteng, indera pendengaran mereka tu merasa terganggu.
"Stop, biar gue aja yang main game sama Litha. Lo mau nggak Tha? Lo ngijinin gue nggak Rak?" ujar Leon melerai perdebatan diantara dua sejoli itu.
Ceritanya sok bijak ni ye, mencari solusi dan menengahi perdebatan mereka! Padahal Leon emang hobby nge-game juga, di dukung pula oleh indera pendengaran milik Leon yang rasanya gatal sekali, karena mendengar perdebatan Raka dan Litha.
Raka dan Litha menoleh ke asal suara. Tanpa pikir panjang, dan tanpa rapat atau bermusyawarah atau lebih tepatnya berdebat, mereka menyetujui usulan dari playboy cap kadal itu. Eh maksudnya Leon Leonard, Leon kan udah tobat, udah gak playboy lagi.
"Boleh," jawab mereka berdua bersamaan.
"Cie barengan nih ye.." sahut Arkan yang berada di pihak Jordy. Ya emang pada dasarnya mereka berdua punya karakter yang hampir sama sih.
"Cie... Cie..." tambah Jordy dan Arkan, kali ini tidak hanya mereka berdua. Umran juga ikut ambil bagian, kalau Umran sih lebih meledek ke adeknya aja.
Karena Umran tahu bahwa Raka bukan tipikal orang yang gampang malu-malu kucing atau apalah itu. Secara kulkas berjalan ini kan sangat cuek dengan sekitarnya. Dan cenderung bodoamat, tidak perduli, tidak masalah, tidak penting!!!
Sukses! Yap mereka bertiga berhasil membuat Litha tersipu malu, pipi gadis cantik itu sudah mulai memerah.
"Jangan di goda terus!" perintah Raka pada trio kampr*t itu.
Alhasil trio kampr*t itu bungkam, si ceroboh dan bule nyasar tentunya akan menuruti perintah bigbosss nya, mereka berdua juga merasa tidak enak gitu sih, agak canggung juga dengan Litha.
Sedangkan Umran, dia kasihan juga sama Litha, soalnya ada The Perfect. Kalau nggak ada pasukan The Perfect, jangan ditanya! Habislah kau Litha! Dan masak iya, Umran harus menggoda Litha sendiri, sendirian? Nggak seru dong.
Ah... Raka Adelard Pangestu, pemuda tampan yang tinggi semampai, hidung mancung, kulit putih, bibir merah alami untuk seorang laki-laki, bersurai hitam kecoklatan, dengan tubuh atletisnya, dan sikap dinginnya yang selalu diperlihatkan untuk umum, ternyata sangat pengertian sekali kepada tuan putri nya.
Author sih maunya juga up tiap hari, tapi Author diteror terus sama tugas dan Author juga harus fokus belajar, mengingat sebentar lagi mau PAS.
Oh ya Author mau mengucapkan terimakasih untuk yang udah dukung Author dengan cara komen dan like, kalau bisa di vote juga yah hehe..
Untuk yang cuma baca doang, ayolah tinggalkan jejak like, komen, and vote.
Saran dan kritik sangat diperlukan dalam karya ini, Author masih belajar menulis nih, alias belum pro, so dimaklumi aja ya kalo ada kata-kata yang kurang mengenakkan bagi para readers.
__ADS_1
Selamat Hari Guru Nasional, Guru adalah percikan, inspirasi, buku panduan, lilin dalam hidup saya.