
"Ya yang tadi. Lo pindah sekolah? Kenapa? Gak nyaman sekolah disini karena fasilitas dan tempatnya jelek gitu?" tanya Litha beruntun.
Saking kesal banget sama Raka, tiba-tiba Litha jadi amnesia mendadak gitu. Padahal sangat jelas kalau sekolah SMA Nagara ini adalah sekolah paling elit dan terpopuler di kota ini, banyak para alumni SMP yang ingin menimba ilmu di sekolah ini. Bahkan memang kenyataannya sekolah milik keluarga Nagara ini adalah sekolah terbagus dan terbaik di Indonesia.
"Jelek dari mananya sih Tha? Orang bagus banget malah," sahut Arkan.
"Kalo bagus kenapa pindah?" tanya Litha pada Raka.
"Bukan pindah tapi loncat kelas," jawab Leon datar.
"Hah...?" Litha tercengang mendengar penuturan Leon.
Litha menatap Raka seakan-akan meminta penjelasan lebih rinci dan lengkap. Namun sepertinya Raka enggan untuk berkomentar.
"Nah kan sama kayak gue. Awalnya gue juga kaget tiba-tiba tuh anak udah kelas 3 aja, mana bentar lagi mau ujian, terus lulus deh..." jelas Leon.
"Kok gak bilang-bilang sih? Tau gak? Gue diejekin karena gak tau apa-apa tentang lo," ucap Litha dengan volume yang sudah naik satu oktaf.
"Mereka ngira kalo gue cuman ngaku-ngaku jadi pacar lo. Karena mereka lebih tau tentang lo dari pada gue," tambah Litha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Entahlah mengapa Litha tiba-tiba menjadi cengeng. Litha itu kecewa dengan Raka yang hanya diam jika tidak ditanya. Litha merasa tidak dianggap sebagai kekasih oleh Raka.
Padahal itu hanya perasaan Litha saja, lagi pun memang pada dasarnya Raka tipikal cowok dingin yang gak suka cerita sana sini. Yups selama ini Raka diam-diam berusaha belajar rajin dan tekun.
Tentu saja dengan tujuan agar dapat menguasai seluruh pelajaran mapel-mapel yang ada di SMA. Serta agar mampu sepadan dengan anak kelas 3 yang sudah akan mempersiapkan ujian kelulusan. Tetapi kenyataannya malah kemampuan Raka melebihi anak kelas 3.
Padahal sembari belajar keras, Raka juga melakukan kerjaan sampingan yaitu mengurus salah satu cabang perusahaan keluarganya. Acungan jempol deh untuk Raka, keren bingits bisa membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Arkan dan Leon pun tak berani lagi ikut angkat suara, mereka tahu ini bukan waktu yang tepat untuk ikut campur dalam pembahasan masalah Raka yang sekarang sudah berada di bangku SMA kelas 3.
Raka yang awalnya biasa-biasa saja, setelah melihat mata Litha yang berkaca-kaca kini dia menjadi merasa bersalah terhadap Litha. Hatinya merasa sakit karena secara tidak langsung Raka telah membuat Litha menjadi sedih, bukan sedih lagi melainkan kecewa.
"Sorry Tha," ucap Raka dengan nada bersalah.
Litha terdiam menatap Raka dengan mata yang masih berkaca-kaca. Namun untuk seperkian detik, satu lalu dua tetesan air matanya mulai mengalir ke pipinya.
"Nggak," jawab Litha singkat tetapi penuh sejuta makna.
Deg...
Semuanya yang berada di tempat itu gugup, para sahabat Raka pun juga mengerti perasaan Raka yang sekarang.
"Mungkin kemarin waktu lo minta gue supaya jadi pacar lo. Lo gak serius ada rasa sama gue, kita cuman sebatas saling mengagumi doang. Toh juga kita gak pernah saling mengungkapkan rasa sayang kan?" ungkap Litha panjang lebar.
"Aku serius Tha," tutur Raka meyakinkan Litha. Entah kenapa Raka tiba-tiba pakai bahasa Aku?
Yah tapi emang ada benernya ucapan Litha. Selama mereka memiliki status hubungan pacaran, diantara Raka maupun Litha memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya masing-masing.
__ADS_1
Litha tidak memperdulikan penuturan Raka, Litha hendak keluar dari tempat itu. Namun dicegah dengan tangan Raka yang memegang lengan Litha.
"Lepas atau kita gak akan pernah ketemu lagi!" ancam Litha kepada Raka.
Raka hanya bisa pasrah, dengan berat hati dia melepaskan lengan Litha yang tadi dipegangnya. Lalu Litha pergi dari basecamp The Perfect dengan perasaan yang campur aduk.
Kini keempat sahabatnya menatap Raka yang masih terdiam. Pikiran Raka kosong, dia tidak tahu harus berbuat apa?
Apakah Raka harus meminta maaf kepada Litha dengan mengadakan pengumuman, dengan mengumpulkan semua murid di lapangan sekolah? Dengan begitu para siswi-siswi yang mengejek Litha tadi, pasti akan menarik ucapannya lagi. Karena Litha memang tidak hanya mengaku-ngaku sebagai kekasih Raka.
Mungkin itu yang harus dilakukan Raka, tapi...
Akhh... Tidak!!! Itu terlalu berlebihan dan terlihat sangat lebay, pikir Raka.
Tiba-tiba Raka melangkahkan kakinya, tetapi langkahnya terhenti karena pertanyaan dari sahabatnya. Pastinya kambuh deh tu penyakit kepo dari cogan-cogan tersebut.
"Mau kemana lo?" tanya Jordy pada Raka.
"Nyusul Litha," jawab Raka sambil menoleh ke arah asal suara pertanyaan itu.
"Lo gak mau nanya nasehat ke gue? Kayaknya lo butuh materi dan trik nya dari gue," ungkap Leon songong.
Yang dimaksud Leon ialah sebuah materi dan trik bagaimana cara yang tepat untuk meluluhkan hati seorang wanita yang sedang marah atau lebih tepatnya salah paham kepada kekasihnya.
Mengingat Leon yang mantan playboy, pastinya dia sangat menguasai materi dan trik tentang hal tersebut. Dan kebanyakan sih Leon mempraktikkan materi itu dengan nilai sempurna, yups dulu Leon sangat pandai merayu perempuan-perempuan yang sedang marah dengannya.
Ingat ya guys dulu, sekarang udah enggak kok!!! Sekarang cuman pengen ngerayu satu cewek doang, siapa lagi kalau bukan Fika.
"Awas aja kalo nanti sampai minta nasehat dari gue, gak akan gue kasih tau trik nya," teriak Leon karena Raka sudah mulai menjauh darinya.
***
Kini Raka sedang berjalan dengan langkah yang cepat dan hal tersebut tidak membuat pesona seorang Raka berkurang. Bahkan semakin hari Raka semakin tampan saja menurut para siswi yang mengidolakan Raka.
Sampai akhirnya pandangan mata Raka menangkap sosok gadis cantik yang dicarinya, siapa lagi kalau bukan Litha yang sedang berjalan. Meskipun terlihat hanya dari bagian belakang ditambah jarak yang lumayan jauh, tetapi Raka yakin itu adalah gadis yang dicari olehnya.
Raka berjalan semakin cepat dan hap... Raka menarik tangan Litha hingga membuat gadis itu berada di pelukan Raka. Semua murid yang melihatnya terkejut dan tentunya para siswi menginginkan posisi Litha sekarang yang berada di dekapan hangat Raka.
Tetapi tidak untuk Litha, saat ini dia tidak mau berada di pelukan Raka. Walaupun tidak ada penolakan dari Litha, tetapi Litha tidak membalas pelukan Raka.
Sejujurnya Litha tidak nyaman berada di situasi saat ini, bukan karena tidak nyaman berada dalam pelukan Raka. Tapi karena banyak murid yang melihatnya, so Litha dan Raka jadi pusat perhatian banyak orang deh...
Awalnya Litha juga sama terkejutnya dengan para murid yang melihat aksi Raka, bahkan Litha sangat amat terkejut dari pada para murid itu.
Memang sangat gi*a rencana Raka, memeluk Litha secara tiba-tiba ditempat umum seperti ini? Apa lagi ini masih dilingkungan sekolah. Tetapi mau bagaimana lagi? Ini adalah salah satu cara yang instan untuk membuat Litha tidak marah lagi kepada Raka.
"Lepas," satu kata yang terucap dari bibir Litha.
__ADS_1
Kepala Litha terpaksa berada di dada bidang Raka, Litha dapat merasakan detak jantung Raka yang terbilang cukup normal. Yups itu karena tinggi Litha setara dengan tinggi bahu Raka.
"Nggak akan sebelum kamu maafin aku!" tutur Raka.
"Tapi ini dilihatin banyak orang kak," ucap Litha.
"Bukannya bagus? Gosip tentang kamu yang jelek-jelek itu gak terbukti. Karena faktanya aku yang meluk kamu, dan kamu aja gak bales pelukan dari aku," jelas Raka.
Jantung Litha seperti tersetrum oleh ucapan dan perlakuan Raka. Litha baru ingat kalau ini adalah pertama kalinya Raka memeluknya. Dan ini juga yang pertama kalinya untuk Raka memeluk seorang perempuan, kecuali ibunya.
Litha memang merasa nyaman berada dalam pelukan hangat seorang Raka, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk adegan romantis.
Sejujurnya Litha malu, jika Raka juga merasakan detak jantung Litha yang sudah mulai tidak normal. Sedangkan Raka saja masih sangat normal seperti tidak terjadi apa-apa. Litha sendiri juga bingung memikirkan itu.
Mengapa jantung Raka baik-baik saja?
Apakah Raka tidak benar-benar mencintai dirinya?
Bukankah orang yang sedang jatuh cinta biasanya selalu dag dig dug jika berada dekat dengan orang yang dicintainya?
Begitulah pertanyaan yang ada dalam pikiran Litha.
"Kak ini masih di sekolah!" ucap Litha mengingatkan Raka. Ya siapa tau aja Raka jadi amnesia karena kemarahan Litha. Sungguh konyol memang pemikiran Litha.
"Aku tau," jawab Raka singkat.
"Oke kita baikan lagi, tapi lepas!!!" pinta Litha.
"Tarik dulu ucapan kamu tadi!" pinta Raka.
"Yang mana?" tanya Litha.
"Di basecamp," jawab Raka.
Litha mengingat kembali apa saja yang dirinya ucapkan, pasti itu adalah kata-kata yang tidak diinginkan oleh Raka. Namun tetap saja Litha tidak tahu, ucapan mana yang tidak diinginkan oleh Raka dari bibir Litha.
"Yang mana sih kak?" tanya Litha yang sudah mulai kesal.
"Sebatas saling mengagumi," jawab Raka.
"Emang itu kenyataannya kan?" tanya Litha.
Namun Raka diam membisu, dia tidak menggubris perkataan Litha.
"Oke iya aku tarik ucapan itu," sambung Litha dengan terpaksa, karena memang Litha belum sepenuhnya memaafkan Raka. Dan entah kenapa juga Litha jadi ikut-ikutan pakai bahasa Aku.
Raka melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Litha untuk pergi menjauh dari koridor itu. Karena sedari tadi malah semakin bertambah banyak saja para siswi yang melihat kejadian tadi.
__ADS_1
Sungguh itu sangat memalukan bagi Litha. Tetapi tidak untuk Raka yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang, terkhusus para kaum hawa.
Santai kok guys para murid yang melihat kejadian tadi gak dengerin celotehan antara manusia ganteng sama manusia cantik tadi. Karena mereka semua gak berani melihat dengan jarak yang lebih dekat lagi, so mereka sama sekali gak denger obrolan antara Litha dan Raka yang ngomongnya pake volume rendah.