
Setelah bel tanda berakhirnya jam pelajaran di sekolah berbunyi nyaring, semua murid kelas 10 berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Yups jam pulang antara anak kelas 10 sampai anak kelas 12 kan beda-beda, so murid kelas 11 dan 12 masih bertempur dengan mapel nya masing-masing.
Fika sudah meluncur terlebih dahulu, sedangkan Litha dan Sarah masih berdiri di gerbang sekolah yang sepertinya sedang menunggu jemputan hari ini.
Padahal biasanya juga naik kendaraan umum seperti taksi, atau dengan terpaksa mau tidak mau Sarah harus menuruti keinginan Litha yang kadang-kadang ingin naik angkot. Biar lebih cepat sampai rumah! Kalau nunggu taksi kadang-kadang suka lama, ya itu sih tergantung keberuntungan.
"Lama banget sih!" gerutu Sarah sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah cantiknya. Meskipun cuaca siang ini mendung, tetapi rasanya sangat gerah sekali, mungkin hujan akan turun nanti.
Sedangkan Litha memilih untuk diam saja, dia malas untuk meladeni Sarah. Yah Litha sangat hafal dengan sopir yang akan menjemputnya siang ini, dia sangat lelet dalam melakukan segala aktivitasnya.
"Mana sih tu anak? Dia yang maksa-maksa buat jemput, tapi lama banget kek keong," gerutu Sarah lagi.
Seseorang yang ditunggu oleh dua gadis itu, sedari tadi dia memaksa Litha dan Sarah agar dirinya saja yang menjadi jasa sopirnya sepulang sekolah nanti.
"Tuh," ucap Litha dengan mengarahkan dagunya ke arah mobil sport yang sedang melaju kencang dari seberang sana.
Mobil sport tersebut kini sudah berada dihadapan Litha dan Sarah. Sang pengemudi keluar dari mobilnya dengan senyum tampan yang menghiasi bibirnya. Tetapi itu sangat menyebalkan menurut Litha dan Sarah.
"Lelet," ketus Litha lalu segera masuk ke dalam mobil, tanpa memperdulikan sang sopir yang sepertinya akan menahan Sarah untuk mengikuti langkah Litha.
"Macet," sopir tersebut berusaha membela dirinya sendiri. Tujuannya? Agar tidak terlihat payah dimata seseorang mungkin?
"Apa," tanya Sarah saat pemilik mobil sport tersebut memegang pergelangan tangan Sarah.
"Duduk di depan ya!?" pinta pemuda tersebut, tetapi nadanya seperti sebuah pertanyaan juga. Entahlah? Dia hanya tidak ingin memaksa Sarah untuk menuruti permintaannya.
Mata Sarah melirik sekilas ke arah mobil sport tersebut, terlihat bahwa mobilnya sudah menyala. Dan gadis cantik yang bersamanya tadi, ia sudah duduk manis di samping tempat duduk pengemudi sambil memainkan ponselnya.
Mungkin Litha sengaja menyalakan mesin mobil, agar AC mobilnya juga menyala. Walaupun Litha tadi tidak mengomel-ngomel tapi sudah dapat dipastikan jika gadis itu kegerahan.
"Udah ada yang nempatin," sahut Sarah tanpa rasa kecewa. Pikirnya mau duduk di depan atau di belakang sama aja, yang penting dapet jemputan gratis, wkwkwk...
Umran menoleh ke belakang, karena memang posisinya yang menghadap ke Sarah, so Umran membelakangi mobil sport nya deh... Yap pemuda tampan tersebut ialah Umran, yang entah ada angin apa tiba-tiba dengan senang hati meluangkan waktunya untuk menjadi jasa sopir dengan menjemput adik semata wayangnya.
Tunggu!!! Umran berniat untuk menjemput Litha atau jangan-jangan Sarah? Entahlah biar kalian saja yang menebaknya lewat gelagat yang Umran tunjukkan nanti.
__ADS_1
Umran menghadap lurus ke depan lagi, setelah tadi menoleh ke belakang sebentar. "Biar gue yang urus tu bocah," tutur Umran.
"Terserah," jawab Sarah acuh, tetapi mampu membuat Umran tersenyum.
Umran membuka pintu mobil bagian kiri, Litha yang sudah duduk manis sangat heran dengan tingkah abangnya ini. Dengan terpaksa Litha menghentikan aktivitasnya yang memainkan ponsel, Litha menoleh ke arah Umran.
Bukankah masih ada satu pintu bagian kanan? Lagi pula dia yang akan mengemudikan mobilnya bukan? Dan Sarah yang mengekori kakaknya? Bukankah dia bisa masuk lewat pintu mobil bagian kanan? Disaat Litha sudah duduk manis, apakah Sarah akan mengusiknya?
Tetapi Litha tahu betul bahwa sahabatnya ini bukanlah tipe manusia yang suka mengganggu seseorang. Ya meskipun Sarah hobby meledek, tetapi dia tidak hobby mengusik ketenangan seseorang. Beda halnya dengan kakaknya yang menyebalkan itu, Umran Kusuma Jaya Nagara!!!
"Pindah belakang!" suruh Umran tegas. Litha melongo tidak percaya.
Seperti guru BK saja nada bicaranya, sama sekali tidak ada lembut-lembutnya, padahal Umran itu kakak kandung dari Litha. Ingin sekali Litha menimpuk kepala Umran dengan buku paketnya yang sangat tebal itu, biar benjol aja sekalian. Agar kadar ketampanannya berkurang, syukur-syukur malah hilang.
Umran itu selalu menganggap dirinya tampan seperti Raka, malah kadang ia berfikir bahwa dirinya jauh lebih tampan dari pada Raka. Aishh... Litha sangat tidak menyukai perkataan songong yang keluar dari bibir Umran. Percaya dirinya sangat tinggi sekali bukan? Litha memang mengakui bahwa kakaknya itu tampan, tapi Raka jauh lebih tampan!
Jika saja ada Raka, pasti Litha akan mengadukan sikap kakaknya ini kepada kekasihnya. Ya meskipun seperti yang pernah terjadi, saat Litha mengadukan sikap atau perbuatan Umran yang kurang baik kepada Litha, Raka tidak berbuat apa-apa. Tetapi setidaknya Litha punya seseorang yang menjadi tempat mengadu, dan Litha sangat yakin seseorang itu tidak akan mungkin bersikap seenaknya saja seperti kakaknya itu.
"Nggak mau," jawab Litha setelah diam beberapa detik, lalu ia sibuk lagi dengan ponselnya. Sebenarnya Litha hanya ingin menghindari tatapan tajam dari kakaknya. Bukan takut, hanya malas saja!
Seketika Litha balik menatap tajam Umran, Litha tidak percaya saudaranya ini akan begitu tega meninggalkan dirinya pulang sendiri. Sedangkan dia membawa mobil dan akan mengantarkan sahabatnya pulang, yang tak lain adalah Sarah.
"Ogah," ketus Litha dengan mata yang melotot ke Umran.
"Ini mobil punya siapa?" tanya Umran yang tak mendapat jawaban dari Litha.
"Punya gue kan? So... Lo harus nurut sama pemilik mobil kalo gak mau pulang sendiri," tambah Umran.
"Turun..! Naik taksi atau angkot sana, biasanya juga gitu kan?" sambung Umran yang sedari tadi tak mendapat respon dari adiknya.
"Hah..." Litha melongo mendengar penuturan Umran. Apa iya, dia benar-benar akan meninggalkan Litha, jika Litha tidak menuruti perintahnya? Sebegitu tegakah dia sebagai seorang kakak yang akan meninggalkan adiknya sendirian dipinggir jalan?
"Jalan kaki aja kalo gak mau naik taksi atau angkot. Apa mau ngesot sekalian aja? Biar penderitan lo sempurna!!!" ujar Umran yang terdengar begitu sadis.
Awalnya Litha mengira Umran tidak akan tega meninggalkan dirinya, sedangkan dia akan pulang hanya bersama dengan Sarah. Tapi Litha salah besar! Ternyata Umran lebih dari tega, dia sangat sadis sekali!!!
__ADS_1
Sedangkan Sarah yang berada tepat di belakang Umran, bodoamat. Ya Sarah memang mendengar celotehan kakak beradik itu, tapi Sarah terlalu malas untuk ikut serta dalam celotehan mereka.
Dari tadi sampai sekarang pun Sarah masih tetap setia mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah cantiknya. Sarah sangat kegerahan, mungkin itu adalah penyebab rasa malasnya untuk ikut angkat suara.
Ya Sarah sangat amat malas untuk melerai perdebatan diantara dua manusia bersaudara itu. Biar saja diantara mereka berdua, harus ada salah satu yang mengalah. Atau jika tidak ada pasti juga akan lelah sendiri dan akhirnya memilih diam.
"Mau pindah atau turun nih?" tanya Umran dengan nada yang tidak menyenangkan dan tampangnya yang menyebalkan.
"Iya. Pindah," jawab Litha malas. Lalu Litha pindah ke belakang, duduk di belakang, menuruti perintah abangnya yang kampr*t menurut Litha.
"Silahkan," ujar Umran lembut dengan senyum mengembang mempersilahkan Sarah memasuki mobil sport miliknya.
Sedangkan Sarah sangat heran dengan tingkah laku kakak dari sahabatnya ini. Apa dia salah minum obat atau bagaimana? Pikir Sarah.
"Kenapa abang lo?" tanya Sarah saat sudah duduk, dan tepat saat Umran telah menutupkan pintu mobil untuk Sarah. Umran masih berjalan dengan santainya ke arah pintu mobil bagian kanan, dimana dia yang akan mengendarai mobil miliknya.
Umran memperlakukan Sarah seperti kekasihnya saja, tetapi Sarah belum menyadari akan hal tersebut. Hanya Litha yang sudah mulai curiga dengan abangnya yang menyebalkan itu.
"Tauk. Naksir kali sama lo," Litha menjawab asal, tetapi mampu membuat jantung Sarah menjadi tidak karuan.
Litha itu masih kesal dengan perkataan Umran yang terdengar sadis sekali dan perlakuannya yang seenaknya saja, mentang-mentang ini mobil punya dia. Ohhh... Raka lihatlah bagaimana calon kakak ipar mu memperlakukan kekasih mu!!!
Sekarang bertambah pula kekesalan Litha berkali-kali lipat, karena sikap kakaknya yang sangat berbeda 180° kepada dirinya dan sahabatnya. Bisa-bisanya Umran si kutu kupr*t bersikap manis kepada sahabat Litha, Sarah.
Sarah mengernyitkan dahinya.
Mana mungkin apa yang dikatakan Litha benar?
Tapi kalau memang begitu bagaimana?
Ah... tapi rasanya itu adalah suatu hal yang mustahil!
Bisa saja Umran hanya ingin mengerjai adeknya, atau Umran sengaja ingin membuat emosi adeknya meluap-luap.
Begitulah yang ada dalam benak Sarah.
__ADS_1