
Raka mengejar Litha yang sesekali menoleh ke belakang seraya menjulurkan lidahnya. Raka menarik lengan Litha hingga sang empu hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Raka segera memeluk tubuh Litha yang sebenarnya kalau nggak dipeluk juga Litha masih sanggup menyeimbangkan tubuhnya agar tidak mendarat di pasir.
Gadis dalam pelukan Raka tersebut menarik kedua sudut bibirnya, membuat dahi Raka berkerut.
"Ciee..." Litha cengengesan tidak jelas.
"Apa?" Heran Raka tidak mengerti.
Litha merasakan pelukan Raka merenggang, dia tahu Raka akan melepaskan pelukannya. "Jangan dilepas! Sebentar aja... Aku mau kayak gini dulu,"
Litha tersenyum Raka mengurungkan niatnya untuk melepas pelukannya pada tubuh mungil itu. Kelopak mata Litha tertutup, hembusan angin semilir menerpa wajahnya membuat beberapa helai rambut panjangnya menutupi wajah cantiknya yang sedang tersenyum manis merasakan kenyamanan dalam hatinya.
"Kamu kenapa?" Tangan kanan Raka menyingkap rambut yang menutupi wajah Litha yang tetap tersenyum manis, sedangkan tangan kirinya masih setia memeluk tubuh Litha.
Perlahan Litha membuka matanya, "Dada ini..." Litha menjeda kalimatnya sesaat.
"Dada ini rasanya berdebar setiap berdekatan dengan seseorang yang memberikan pelukan hangat," Litha menyentuh dada kirinya.
Senyuman Raka juga terlihat mendengar ucapan manis dari Litha yang kalau lagi emosi kadang diem doang, kadang juga cerewet binti bawel pake judes pula!
"Alhamdulillah," Raka tersenyum tampan mempesona. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Litha, ia memikirkan ucapan Raka yang menurutnya rada kurang nyambung dengan perkataan manisnya tadi.
Raka menahan tawa melihat ekspresi Litha yang bertanya-tanya. "Jantung kamu masih berdetak, itu artinya kamu masih hidup,"
Mata Litha terbelalak sempurna, ia mendorong tubuh Raka dan memukul dadanya beberapa kali. Bukannya membuat Raka merasa sakit, beruang kutub tersebut malah tertawa geli.
"Kak Raka tuh ya... gak ada romantis-romantisnya sedikit pun. Merangkai kata-kata manis itu butuh latihan tauk," Litha membelakangi Raka yang masih cekikikan puas mengerjai Litha.
"Jadi kata-kata manis tadi gak tulus dari hati kamu?" Raka berdiri didepan Litha yang langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Raka.
"Iya, kenapa? Nggak terima?" Ketus Litha, tuh kan kumat judesnya.
__ADS_1
"Menurut kamu?" Raka berdiri didepan Litha, dan kejadian yang sama terulang seperti tadi, Litha langsung balik badan.
"Auk!" Tangan Litha bersikedap.
Raka memegang kedua pundak Litha, mengarahkan tubuhnya agar menghadap kepadanya. Tapi doi malah mengarahkan kepalanya ke samping. Raka mengalihkan tangannya berada di sisi wajah Litha agar menatap matanya.
"Katanya mau main air?" Tanya Raka.
"Nggak jadi. Males gerak, dingin, gak mood, bad mood," Litha cemberut dan Raka tersenyum manis menatap lekat netra indah gadis yang sedang merajuk ini.
"Jangan ngelihatin aku kayak gitu," Litha melepaskan tangan Raka dari wajahnya.
Litha menatap ke arah luasnya lautan air untuk menetralkan hatinya yang tidak karuan karena senyuman maut Raka. Litha tu jadi salting kalau disenyumin gitu, dalam hatinya tu melting.
Raka menyandarkan kepalanya diatas kepala Litha, ia merangkul pundak Litha yang melihat keindahan warna langit yang mulai gelap dengan gradasi warna jingga.
"Apa sih Kak?" Mata Litha melirik ke atas dan hanya bisa melihat hidung mancung Raka.
"Sini, duduk dibawah," Raka mengajak Litha duduk diatas pasir tempat mereka berdiri saat ini.
Litha menuruti permintaan Raka, air ombak bergerak sampai mengenai kakinya yang sudah ia tekuk dan dipeluk olehnya. Raka tersenyum melihat kaki Litha yang bergerak-gerak merasakan kelembutan pasir dan air pantai.
Waktu berjalan dua menit keduanya masih diam tidak ada yang bersuara, Raka tahu jika Litha masih kesal dengannya. Raka tersenyum simpul mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Raka akui mencari kata-kata manis memang tidak mudah untuk seseorang yang cenderung cuek, apa lagi orang tersebut tidak terbiasa menggunakan bahasa manis. Beda halnya dengan tipikal orang seperti Leon dan Fika yang sering mengungkapkan kata-kata manis sehingga mudah bagi mereka untuk membuat suasana menjadi romantis.
"Kamu penasaran gak kenapa waktu itu, aku tiba-tiba minta kamu jadi pacar aku?" Raka memulai obrolan yang dia yakini akan membuat Litha tertarik dengan ceritanya.
Litha menoleh melihat Raka yang tersenyum manis. Gadis itu menatap kagum Raka yang hanya sebagian wajahnya saja yang terkena sinar matahari senja. Netra Litha mengabsen setiap bagian wajah Raka yang terlihat sangat tampan disinari oleh cahaya jingga. Yaa meskipun hanya separuh wajahnya saja, tapi justru itu yang membuatnya lebih terlihat tampan mempesona.
"Hei... Kamu dengerin ucapan aku tadi apa enggak?" Raka bertanya sangat lembut, karena tidak ingin jika Litha nantinya tersinggung dengan pertanyaannya. Walaupun Raka tahu kalau Litha gagal fokus karena pesonanya sore ini. Wkwk rada narsis sih... Tapi emang itu faktanya.
__ADS_1
"Eh?" Pertanyaan tersebut membuyarkan lamunan Litha. Dia mengingat ucapan Raka beberapa detik yang lalu.
"Denger kok," Litha mengangguk-angguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sesekali ia menggigit bibir bawahnya dan melirik Raka yang tertawa kecil. Hadeh Litha tuh malu tau kepergok ngalamun gara-gara aura dalam diri Raka yang terlihat lebih wow dari biasanya.
Raka geleng-geleng kepala dan mengacak-acak gemas rambut Litha. "So?" Tanya Raka.
"Apanya?" Litha menatap Raka yang tersenyum simpul. Tumben banget beruang kutub ini murah senyum. Biasanya boro-boro senyum, memperlihatkan suatu ekspresi aja berasa ngangkat karung beras. Agak berat!!!
"Kamu penasaran gak kenapa waktu itu, aku malah minta permintaan konyol sama kamu dengan minta kamu jadi pacar aku? Padahal sebelumnya kita gak terlalu dekat," Raka mengulang pertanyaannya.
"Oh itu," Litha manggut-manggut. "Emmm..." Litha bingung mau jawab apa? Bingung atau gengsi atau malu-malu kucing Tha?
"Jawab yang jujur, gak usah gengsi sok cuek dan pura-pura kalau kamu gak kepo tentang pertanyaan tadi. Kita udah dua tahun lebih menjalin hubungan, gak usah malu-malu kucing," tutur Raka yang lebih ke arah 'ngatain' menurut Litha. Itu mah perasaan Litha doang, aslinya niat Raka itu to the point Tatha sayang.
Litha memincingkan matanya, "IYA DUA TAHUN LEBIH..!!!DUA TAHUNNYA jauh-jauhan, gak saling ngasih kabar. Cuma bagian LEBIHNYA doang kita tatap muka jarak dekat," Litha menekankan kata berhuruf besar.
Raka tersenyum sambil berkata... "Yang jauh hanya pijakan, bukan perasaan. Yang berjarak hanya raga, bukan rasa,"
"Aku yakin selama dua tahun ini hati kita tetap merasa dekat tanpa jarak, walaupun tanpa sekali pun kita saling berkomunikasi," sambung Raka.
"Kamu tahu kenapa kamu tidak merasakan hati kita saling berdekapan?" Litha menggeleng tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan Raka yang belum Litha pahami.
"Karena rasa rindu yang besar dalam diri kita selalu bertumbuh dan berkembang setiap harinya, sehingga menghasilkan rasa rindu yang sangat banyak hingga bertumpuk-tumpuk menutupi rasa cinta dihati kita yang sebenarnya saling menjaga berdekapan tanpa jarak," jelas Raka masih setia dengan senyuman yang belum pudar.
Senyum dibibir Litha terukir. Kata-kata manis dari manusia dingin yang membuat moodnya seketika membaik.
"Penjelasan yang cukup masuk akal," Litha mengangguk, sekarang ia paham dengan pemikiran Raka yang telah diutarakan. Mungkin benar apa yang diucapkan Raka jika rasa rindu mereka terlalu besar dan banyak sehingga membuat Litha lupa bahwa sesungguhnya hati mereka saling menjaga dan berdekapan.
Raka merangkul pundak Litha yang membalas memeluk pinggang Raka. Tidak hanya itu, Raka menyandarkan kepalanya diatas kepala Litha yang juga bersandar dibahu lebarnya.
__ADS_1
Sejenak keduanya terdiam menikmati suara ombak pantai yang berlomba mencapai bibir pantai ditambah pula dengan keindahan langit senja. Mereka bahkan melupakan pertanyaan diawal obrolan yang telah menciptakan momen romantis ini tanpa mereka sadari.