
Satu bulan berlalu. Litha, Sarah, dan Fika sudah selesai dengan ujiannya mereka lulus dengan nilai memuaskan. Hasilnya tentu saja Litha meraih nilai tertinggi diantara hasil ujian peserta lainnya.
Mereka bertiga masih santai-santai belum memikirkan kampus mana yang akan mereka pilih untuk melanjutkan pendidikannya. Paling-paling nanti ke Universitas Nagara sama seperti Jordy, Arkan dan Sekar.
"Kok kita gak ikut terkenal kayak mereka ya...?" ucap Fika sambil memakan mie instan.
Sarah, Sekar, dan Litha menatap ke arah Fika. "Siapa elo?" Kompak ketiganya.
Keempat gadis itu sedang berkumpul di rumah Sekar dan menonton acara gosip televisi yang sedang mengundang The Perfect sebagai bahan gosip hari ini. Terkecuali Raka yang bersikeras tidak ingin ikut.
Sejak viral foto kebersamaan dan kelengkapan anggota The Perfect Raka selalu memakai masker, kaca mata hitam dan topi saat keluar rumah untuk menghindar dari penggemar Jordy dan Danil yang masih mencari keberadaan Raka yang digadang-gadang mempunyai ketampanan berkali-kali lipat dari selebgram dan musisi tersebut. Emang aslinya lebih wowww! Mereka aja yang belum beruntung bisa melihat secara langsung pemandangan yang sangat menyegarkan mata.
"Gue kapan yah di kasih cincin sama Leon?" Entah mengapa tiba-tiba Fika melirik cincin dijari manis Litha dan Sarah.
"Ngapain dipikirin Fik? Gue aja yang dari dulu belum dikasih kepastian hubungan yang jelas, santai-santai aja," Sekar mengunyah cemilan dengan mata fokus memandang televisi.
"Serius?" Sarah, Fika, dan Litha terkejut.
"Untungnya buat gue bohongin kalian apaan?" Sahut Sekar.
Dering ponsel Litha berbunyi, gadis itu segera mengambilnya.
"Hallo?" Ucap Litha.
"Serius?" Litha menatap ke arah sahabatnya yang hanya diam penasaran.
Litha mematikan ponselnya dengan wajah dibuat-buat bahagia, emang lagi bahagia sih hihihi.
"Kenapa?" Suara Sekar terdengar.
"Ada apa?" Sarah ikutan kepo.
"Jangan bikin penasaran deh..." Omel Fika.
"Kitaaa...." Litha sengaja menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Kita ikut diundang di acara gosip bareng The Perfect?" Tebak Fika dengan mata berbinar.
Seketika raut wajah Sarah dan Sekar menjadi berubah datar. "Iya Tha?" Tanya Sarah tidak bersemangat.
"Bukan. Kita diajak liburan bareng The Perfect di pantaii..." Senyuman Litha terlihat menghiasi wajah cantiknya.
Sarah dan Sekar bertepuk tangan kegirangan. Sudah lama juga mereka tidak liburan bersama, terakhir liburan ya di Korea sana, itu pun karena tujuan utamanya Litha operasi wajah.
Sarah melihat Fika yang biasa-biasa saja, tidak menunjukkan ekspresi bahagia. "Kenapa lo? Gak mau ikut? Kita sih fine-fine aja kalau lo gak ikut,"
"Ya ikut lah. Ntar siapa yang akan menemani my honey bunny kesayangan Leon kalau bukan gue?" Ucap Fika lebay binti alay.
Litha dan Sekar serasa ingin muntah mendengarnya. Berbeda dengan Sarah yang mengeluarkan tawa besar.
"Whaha... Lo pikir si playboy cap kadal itu akan kesepian kalau gak ada elo?" Enggak-enggak! Leon udah beneran tobat kok, Sarah emang lagi kepengen jahil aja.
Fika menatap tajam, "Jangan pernah ngasih julukan lucknut itu lagi ke Leon!"
***
Keesokannya para anak sultan berkumpul di rumah Raka, beberapa tas ransel besar sudah dikumpulkan menjadi satu untuk menunggu diangkut ke dalam kendaraan. Rencana liburan yang diadakan secara dadakan tinggal menunggu hitungan menit.
"Gileee.... Bawa koper segede kulkas gitu isinya apa aja?" Jordy geleng-geleng kepala melihat satu koper besar milik Fika yang sedang asik bermesraan dengan sang kekasih di sofa.
"Beban hidupnya ikut nyangkut ke dalam kopernya kali," Arkan terkekeh kecil melihat koper jumbo tersebut.
"Dosa-dosa lo tuh yang ikut nyangkut," balas Fika yang tadinya sedang leha-leha rangkul-rangkulan bersama Leon, langsung menegakkan tubuhnya menatap dua manusia yang kurang kerjaan itu yang sukanya mengomentari orang lain.
"Astaghfirullah, istighfar sayang. Masalah kayak gitu jangan sampai dijadiin bahan candaan!" Tegur Leon mengingatkan Fika.
Seketika suasana mendadak hening, semua pasang mata tertuju kepada Leon yang memang akhir-akhir ini terlihat menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi gak tau deh kalau di lubuk hati terdalam.
"Kenapa?" Leon menaikkan sebelah alisnya menatap satu per satu beberapa pasang mata yang tidak berkedip sama sekali.
"Wuidihh... Jarang-jarang nih anak bener!" Nick geleng-geleng kepala seraya bertepuk tangan.
__ADS_1
"Takut nanti siang hujan deres, jadi gagal liburan kita. Alam suka kaget liat lo tiba-tiba waras," sahut Raka ngeledek.
Tunggu-tunggu, kata-kata ini beneran keluar dari bibir Raka? Kesambet apaan tu es balok? Seumur-umur baru kali pertama The Perfect mendengar Raka coba-coba bercanda gini.
Kali ini gantian Raka yang menjadi objek pemandangan mereka. "Krik... Krik..." Umran menirukan suara jangkrik sambil melirik sahabatnya yang juga saling lempar lirikan.
"Gue lebih takut lagi kalau nanti siang hujan deras plus angin ribut. Alam suka kaget liat lo tiba-tiba mencoba melawak," sahut Sarah membalikkan ucapan Raka.
Raka mengingat gurauannya, dia sendiri baru sadar ada dorongan dari arah mana coba? Kok bisa-bisanya kata-kata itu bisa ke ucap? Raka menatap Litha yang menunggu jawabannya.
Raka memutar otaknya, dia jadi kikuk dan malu sendiri mau ngomong apa. "Kalian ngira gue ngelawak?" Tanya Raka yang sebenarnya bukanlah pertanyaan.
Semuanya kompak mengangguk tanpa ekspresi apapun.
"Terus kenapa kalian gak ketawa?" Sahut Raka.
"Karena gak lucu! Whahaha...." Suara tawa Umran terdengar sangat keras.
Umran menghentikan tawanya saat menyadari semua orang hanya diam saling melirik.
"Dih... Apaan sih kurang seratus persen nih anak!" Leon geleng-geleng kepala diikuti oleh yang lainnya yang tidak memihak kepada Umran.
"Lebih kurang lagi elo! Udah tadi istighfar tapi masih rangkul-rangkulan sama yang bukan muhrimnya," balas Umran. Skak mat! Mau jawab apa hayooo?
"Ya tinggal istighfar lagi dong. Astaghfirullah, tuh kan udah?" dengan santainya Leon kembali merangkul pundak Fika yang memutar bola matanya jengah. Dipikir Fika tadi Leon beneran udah berubah, eh taunya lebih parah. Perbuatan yang sangat amat patut untuk tidak dicontoh.
"Tobat woiii... Tobat! Jangan pada ngegila!" Sarah memukul piring dengan sendok beberapa kali, agar semuanya sadar!!!
Kedua bola mata Litha terbuka lebar, ia menarik sudut bibirnya sambil mengangkat jempolnya kepada Leon.
Dari sisi kanan Raka memegang dahi Litha, bersamaan dengan Umran yang melingkarkan tangannya didepan dada adiknya dari sisi kiri Litha. Mereka berdua kompak memundurkan tubuh Litha.
Langkah kaki Litha perlahan mundur ke belakang, ia hanya melirik ke atas kanan dan kirinya, melihat dua pengawal pribadinya yang selalu siap siaga menjaga fisik jasmani dan rohani nya.
"Jangan deket-deket! Lebih bahaya modelan kayak gitu dari pada modelan playboy cap kadal kayak taun kemaren!"
__ADS_1
***
Baru bisa up hehe✌️ Terimakasih yang sudah mendukung karya ini❤️