
"Aku tampol mau?" Litha menatap tajam dengan tangan terangkat siap menampol wajah tampan Raka.
Litha mengamati wajah Raka walaupun hari ini dia memperlihatkan keceriaannya berbeda dari biasanya yang dingin tanpa ekspresi, tapi hari ini wajah Raka terlihat kurang segar ada samar-samar warna hitam dibawah kantung matanya.
Litha menurunkan tangannya yang seharusnya sudah menampol wajah cogan yang gantengnya kelewat manusiawi itu.
"Jangan bilang Kak Raka semalam gak tidur gara-gara ngerjain tugas tadi?" Wajah Litha mendekat mengamati setiap inci wajah Raka.
"Iya," Raka berkedip-kedip lucu. Oh tidak! Raka hanya berkedip biasa saja agar matanya tidak perih karena angin yang berhembusan. Itu hanya perasaan Litha saja yang menganggapnya lucu.
Raut wajah Litha terlihat sedih, ada sedikit rasa bersalah kepada Raka.
"Kenapa? Gak usah sedih. Aku udah biasa kok, waktu masih kuliah di Inggris kadang juga sering sampai gak tidur malem karena harus nyelesain target belajar," ujar Raka.
Raka menangkup sisi wajah Litha, "Tapi kalau kamu mau bayar mahal usaha ku semalam, aku gak bakal nolak,"
Mata Litha menyipit, "Mata duitan, udah kaya juga masih itung-itungan sama pacar sendiri,"
"Eh maksudnya tunangan sendiri hehe," Litha meralat perkataannya.
Raka menoel hidung mancung Litha, "Dasar! Bukan uang yang aku maksud,"
"Tapi ini," Raka tersenyum manis seraya menunjuk pipinya.
Oh ya ampun, sungguh demi apa pun itu Raka ganteng banget!!!
"Enggak ah. Gak mau!" Litha tersenyum memalingkan wajahnya. Tapi detik berikutnya ia langsung mencium pipi Raka meskipun hanya kecupan singkat di pipi tetapi sudah mampu membuat hati Raka berbunga-bunga.
Cup.
"Tapi bo'ong, mana tahan aku nolak nyium kamu," Litha tersenyum lebar menatap Raka yang terkejut lalu tersenyum juga pada akhirnya.
Baru juga berbahagia sebentar karena kecupan singkat itu, tiba-tiba ada tangan yang menjewer telinga Litha dan Raka membuat empunya terkejut dan meringis kesakitan.
"A.. a.. a.. sakit!" Pekik keduanya.
"Siapa ni ganggu aja. Minta diplintir tangannya?" Raka sudah memegang pergelangan tangan yang menjewer telinganya. Saat matanya melirik sosok dibalik tangan tersebut, Raka langsung melepas pergelangan tangan orang tersebut.
"Eh... Bunda," Raka dan Litha kompak cengengesan menyapa Bunda Larissa.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget ya kepergok lagi cium pipi?" Suara halus Bunda Larissa terdengar sangat merdu tetapi mematikan.
Susah payah Raka dan Litha menelan ludahnya sendiri.
"Tadi Raka bilang apa? Mau melintir tangan Bunda? Tadi Bunda salah dengar apa gimana ya?" Mata Bunda Larissa terbuka lebar dengan senyum yang ia paksakan.
Raka menghelai nafasnya, "Enggak, Bunda gak salah dengar. Tapi gak jadi kok Bun," Raka cengengesan menutupi rasa sakitnya.
"Kenapa gak jadi? Takut nanti gak dapet restu dari Bunda?" Bunda semakin kuat memelintir telinga putrinya dan calon mantunya.
"A.. a.. a.. sakit Bun," keduanya kompak meringis kesakitan.
"Salahin tuh tunangan kamu. Dia gak jadi melintir tangan Bunda, jadi Bunda aja yang melintir telinga kalian berdua," senyuman Bunda terlihat menatap wajah putrinya yang menahan rasa sakit.
"Gak sopan Bun kalau melakukan kekerasan dengan calon mertua sendiri," Raka menyengir memperlihatkan deretan giginya. Jarang-jarang nih Raka nyengir wkwk.
"Tapi kalau cium-ciuman ditempat umum apa lagi di lingkungan sekolah itu sopan yah?" Sindir Bunda.
Raka dan Litha hanya saling pandang. "Yaaa bisa dibilang begitu Bun," ucapan Raka membuat Litha melotot sedangkan Bunda semakin kencang menjewer telinga keduanya.
"Ee... Bisa tolong dilepasin nggak Bun? Sakit telinga Tatha," daun telinga Litha hampir mati rasa akibat ulah Bundanya sendiri.
"Telinganya sakit? Tapi kalau cium-ciuman ditempat umum gak sakit yah?" Lagi-lagi Bunda menyindir. Suka sekali kalau emak-emak nyindir-nyindir gitu, keseringan nyindirin tetangga kali ya wkwk.
"Enggak cium-ciuman kok Bun. Orang cuma cium doang," sahut Litha membela diri.
"Apa bedanya?" Kali ini Bunda menaikkan volume suaranya agak tinggi.
"Kalau cium-ciuman itu berkali-kali atau dua kali lebih. Nah kalau cium itu cuma sekali doang Bun," jelas Litha.
Bunda melepaskan jewerannya kepada dua manusia yang pagi-pagi sudah membuatnya emosi. Litha dan Raka bernafas lega, mereka mengusap telinganya yang hampir mati rasa saking kuatnya jeweran dari Bunda.
Suara tepuk tangan terdengar dari telapak tangan Bunda.
"Wah... Sekarang anak Bunda sudah pintar ya menjelaskan tentang ciuman, apa lagi jika dilakukan DITEMPAT UMUM! DI LINGKUNGAN SEKOLAH! dan BUKAN MAHRAMNYA pula!" Tuh kan Bunda mainannya sindir-sindiran terusss...
Bel berbunyi nyaring menunjukkan jam pelajaran akan segera dimulai.
"Ngapain senyum-senyum," Bunda memandang Raka dan Litha yang seperti orang gila senyum-senyum sendiri tidak jelas.
__ADS_1
"Udah bel Bun, Tatha masuk kelas dulu ya!" Kedua tangan Litha mengatup memohon agar dilepaskan oleh Bundanya.
"Kalo Raka habis ini mau ke kantor Bun, mau lihat perkembangan perusahaan cabang yang dulunya Raka pimpin," jujur, itulah Raka. Mana pernah Raka bohong?
"Bunda gak peduli...! Kalian harus ikut Bunda, kalian harus mendapatkan hukuman atas perbuatan kalian yang melanggar peraturan sekolah!" Tegas Bunda Larissa tidak ingin dibantah.
"Ttt... Tapi Bun sebentar lagi Tatha harus ujian, nanti kalau ikut Bunda yang ada Tatha gak ikut latihan soal-soal ujian dong Bun?" Rengekan Litha terdengar masih memohon kepada Bundanya.
"Nanti Bunda yang langsung ngelatih kamu. Bukan cuma otak kamu yang Bunda latih, tapi akhlak kamu juga," tuh kan nyindir lagiii....
Emak-emak kalau belum nyindir sampai seratus kali, sampai tujuh hari tujuh malam, tujuh tanjakan tujuh turunan belum puas hatinya! Hehe bercanda kok Bun, i lopyu sakebon Bunda sayang!
Bunda Larissa menatap Raka yang seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi ditahan.
"Apa? Mau cari alesan apa kamu?" Bunda menantang Raka.
"Raka itu kan bukan murid SMA Nagara lagi, jadi Raka bebas hukuman dong Bun?" Raka tersenyum menunjukkan gigi-giginya.
"Enak aja!" Ketus Bunda. "Kamu akan tetap mendapat sanksi tegas atas perbuatan yang kamu lakukan bersama murid di sekolah ini,"
Bunda berjalan terlebih dahulu, Raka dan Litha mengekori dari belakang. Dengan santai keduanya berjalan seolah tanpa beban hidup, Raka merangkul bahu Litha, begitu juga sebaliknya Litha juga merangkul pinggang Raka.
Bunda menoleh kebelakang yang sunyi tidak ada suara apapun, siapa tau mereka berdua kabur.
Mata Bunda terbelalak melihat pasangan tersebut yang malah santai-santai saling merangkul, dipikir Bunda mau ngajak mereka ke KUA?
Apa mereka perlu diingatkan dengan hukuman yang melambai-lambai menanti mereka? Atau tiba-tiba mereka mendadak jadi pikun dengan kejadian tadi saat Bunda memarahi dan menjewer telinga mereka?
Bunda menepuk jidatnya sendiri, "Kalian ini malah nempel terus kayak perangko ngapain? Jalan sendiri-sendiri gak bisa? Gak usah pake rangkulan gitu!"
"Bunda beneran marah loh ini sama kalian! Seandainya tadi ada murid lain yang lihat kalian cium pipi, terus ditiru sama murid-murid lainnya gimana? Apa nggak tercoreng nama reputasi sekolah ini?" Ocehan Bunda kali ini sangat meyakinkan bahwa Bunda sedang marah.
Emangnya tadi kurang meyakinkan? Kalau tadi gak marah, namanya apa Susanto? Bunda lagi pidato bahasa Indonesia gitu?
"Maaf Bun, kita ngaku salah," keduanya kompak menundukkan kepalanya.
"Ngaku salah tapi masih dempet-dempetan gitu? Masih rangkul-rangkulan gitu?" Bunda geleng-geleng kepala dengan tingkah laku keduanya.
Raka dan Litha saling pandang, lalu melepaskan rangkulannya dan melangkah saling berjauhan.
__ADS_1