Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Passcode Apartemen


__ADS_3

"Semalem ada yang chat. Dia ngakunya Dita," tutur Litha yang sukses membuat Umran terkejut.


Pasalnya Umran mendapat kabar dari Raka, bahwa nomor Dita tidak aktif. Apa Dita menggunakan nomor baru? Dan nomor nya yang lama mungkin sengaja dibuang dan tidak dipakai lagi.


"Tapi..." sambung Litha yang ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Coba gue lihat," tutur Umran sambil menyambar ponsel yang berada ditangan Litha tanpa meminta izin dari empunya.


Hai Litha, gue Dita. Gue cuma mau ngasih tau kalau video itu masih ada di HP gue. Lo nggak lupa isi video itu kan?


Kalau lo nggak mau video itu kesebar, lo harus putusin Raka. Bukan cuma putusin, tapi lo juga harus jauhin Raka.


Kalau lo masih pingin nama sekolah milik keluarga lo sekaligus nama marga keluarga lo aman, jangan kasih tau ke Raka kalau gue yang udah nyuruh lo buat jauhin Raka. Dan jangan kasih tau nomor ini ke siapa pun, termasuk Raka.


"Video apa?" tanya Umran setelah membaca pesan tersebut.


"Dia mau cium gue," jawab Litha.


Umran mengerutkan keningnya, "Maksud lo si curut?" tanya Umran yang diangguki oleh Litha.


"Kita harus kasih tau ini ke Raka," saran Umran. Bukan, itu bukanlah saran, tapi pemaksaan.


"Tapii..." Litha takut jika video itu disebar oleh Dita karena dirinya memberitahu tentang ini ke Raka.


"Lo percaya sama gue," sahut Umran dengan menarik tangan Litha.


***


"Kita ke apartemen siapa?" tanya Litha saat berjalan melewati beberapa unit apartmen.


"Nanti juga lo tau sendiri," jawab Umran, membuat Litha mendengus kesal.


Setelah sampai ditempat yang Umran tuju, Umran hendak menekan beberapa angka yang dijadikan passcode apartemen itu, namun Litha malah menahannya dengan memegang tangan Umran. Pemuda tersebut menoleh ke arah Litha.


"Ini apartemen lo?" heran Litha, setahunya Umran tidak mempunyai apartemen.


"Bukan," jawab Umran singkat, tanpa mau menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


Umran menekan beberapa angka dan detik berikutnya pintu terbuka. Tapi anehnya Litha merasa sangat amat familiar dengan angka-angka yang dijadikan passcode apartemen itu.


Sepertinya ada sesuatu yang belum Litha ketahui, namun Litha tidak ingin bertanya lagi. Percuma bertanya kepada Umran, pasti jawabannya tidak sesuai keinginan Litha. So lebih baik diam saja, toh nanti juga akan tahu sendiri, bukankah tadi Umran berkata begitu?


Umran dan Litha memasuki apartemen, dilihatnya ruang tamu yang luas dan mewah dengan hiasan dinding yang mewah, serta terdapat beberapa lukisan abstrak yang terlihat indah.


Sepuluh langkah kemudian Litha melihat diujung sana terdapat dapur beserta pantry, dan disampingnya terdapat meja makan.


"Mau minum?" tanya Umran ketika melihat adiknya mengamati pantry sedari tadi.


"Emang boleh?" heran Litha.


"Ambil aja!" suruh Umran.


Litha melangkah ke arah pantry dan membuka kulkas, didalamnya hanya terdapat... minuman kaleng? Sebanyak itu...? Litha mengambilnya satu. Jujur saja sebenarnya Litha tidak haus, dia hanya penasaran dengan tempat ini. Dia ingin melihat lebih dalam lagi, apa saja isi dari apartemen mewah ini.


Litha mengikuti langkah kaki Umran yang menaiki anak tangga, dengan sesekali meneguk minuman kalengnya. Litha akui apartemen ini sangat luas, seperti layaknya rumah saja.


Krek...


Semua manusia good looking yang ada didalam kamar tersebut menatap ke arah Umran dan Litha. Ralat tidak semua, hanya Danil yang masih dalam ketenangannya menikmati alunan musik yang didengarnya melalui headphone.


"Lhoh... Kok lo bisa masuk?" tanya Arkan penasaran. Tidak hanya Arkan, nampaknya Jordy dan Leon pun juga penasaran. Pasalnya tidak ada satupun dari mereka yang diberi tahu passcode apartemen milik Raka.


Dan Umran bisa masuk dengan mudahnya tanpa menekan bel terlebih dahulu? Yah mereka tahu jika Litha tidak tahu mengenai apartemen Raka, jadi tidak mungkin Litha mengetahui passcode apartemen ini.


Umran menanggapinya dengan senyum meremehkan. Menyebalkan!!!


Sedangkan Litha terlihat santai-santai saja, dia pikir ini adalah salah satu basecamp The Perfect juga. Tetapi dimana kekasihnya? Mana manusia yang gantengnya gak manusiawi itu?


Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda dengan tubuh semampai, hidup mancung yang keluar dari balik pintu. Raka keluar dari walk in closed dengan pakaian santainya. Kaos hitam polos dengan celana selutut berwarna coksu, serta rambutnya yang masih setengah basah dan acak-acakan membuat pesonanya semakin tidak bisa ditolak oleh lawan jenisnya.


Bahkan sampai terpesonanya, Litha jadi terbatuk-batuk karena tersedak air minum yang akan ditelannya. Uhuk... Uhuk...


Semuanya mengarah kepada Litha. Termasuk Danil yang telah meletakkan headphone nya, setelah menyadari ada tamu yang tak diundang. Mereka tersenyum tipis, mereka tahu alasan mengapa Litha sampai tersedak dengan minuman kaleng itu.


Sedangkan Raka yang masih berdiri di ujung pintu sana, merasa heran dengan sikap kawannya sertaa... calon iparnya? Bagaimana mungkin dia dan Litha bisa masuk ke dalam sini? Apakah salah satu diantara kakak beradik itu adalah seorang peramal atau dukun?

__ADS_1


"Kalian..." ucap Raka menggantung seraya melangkahkan kakinya mendekat ke arah Litha dan Umran.


Jujur, gak tau kenapa Litha jadi gugup gitu. Asli emang ganteng banget kalo dilihat dari deket, rambutnya acak-acakan basah gitu lagi, astaga... lemes rasanya. Begitulah pemikiran yang ada dalam diri seorang Litha Kusuma Jaya Nagara.


"Kenapa? kaget?" senyum Umran meremehkan.


Raka terdiam, dia menatap Litha dan Umran bergantian dengan tatapan menyelidik. Umran masih saja tersenyum meremehkan, sedangkan Litha tak henti-hentinya menatap Raka dengan tatapan kagum.


Umran melirik ke samping, melihat adiknya yang sepertinya kesadarannya sedikit berkurang akibat pesona manusia dingin yang ada didepannya. Umran merangkul pundak Litha dengan posesif, Litha tersentak dengan perlakuan abangnya yang tiba-tiba aneh.


"Jangan dilihatin terus. Awas nanti gak bisa nahan. Malah elo sendiri yang repot. Lo mau ngelakuin gituan sama Raka, didepan gue dan gerombolan kadal-kadal itu?" bisik Umran yang sukses membuat Litha kesal.


Untung aja sifatnya bisik-bisik, sehingga hanya Litha yang mampu mendengarkannya. Tapi Litha tidak tahu saja, bahwa mereka sebenarnya juga tahu pemikiran absurd seorang Umran. Tidak, bukannya tahu! Tapi mereka juga memiliki pemikiran yang sama seperti Umran. Ya... Hanya Raka saja yang saat ini berada dalam mode polosnya.


Satu toyoran mendarat mulus di rahang Umran. Itu adalah hadiah yang pantas untuk diterima Umran. "Aww... Sakit Tha," rengek Umran yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Litha.


Litha melipat kedua tangannya di dadanya, dengan memandang ke arah samping ranjang besar yang tengah digunakan Arkan untuk rebahan. Netra indahnya tidak sengaja mendapati sebuah figura yang terpajang di atas nakas, berupa foto candid seorang perempuan cantik yang tersenyum bahagia, dengan pakaian dan topi pantai, yang seolah sedang berlarian dibibir pantai.


Litha sedikit terkejut setelah menyadari bahwa dirinya pernah berada di pantai itu dengan pakaian dan topi yang sama persis dengan wanita di foto tersebut. Seingatnya dia berlibur ke sana beberapa bulan yang lalu bersama Umran, sebelum dirinya mengenal lebih dekat dengan Raka. Tetapi jika benar difoto tersebut adalah Litha, mungkin Umran yang telah mengambil foto tersebut tanpa sepengetahuan dari empunya.


Baru Litha akan menanyakan tentang foto tersebut, Umran terlihat sudah kembali membaik setelah toyoran dari Litha tadi.


"Udah gue duga, lo pasti jadiin tanggal lahir ni bocah sebagai passcode apartemen lo," ujar Umran dengan menusuk kepala Litha dengan jari telunjuknya, sampai membuat kepala Litha sedikit miring ke samping.


Raka hanya tersenyum miring dengan menatap wanita yang dicintainya, yang kini memasang ekspresi wajah cengo?


Litha kesal dengan Umran? Tentu saja kesal atas perlakuan Umran, dan Umran yang menyebutkan sebagai bocah? Dan tanggal lahirnya dijadikan passcode apartemen Raka? Jadi ini adalah apartmen milik Raka?


Senang? Bahagia? Tentu saja Litha senang. Bahkan rasa bahagianya lebih besar dari pada rasa kekesalannya terhadap Umran.


Tapi Raka bohong! Oh big no. Litha segera menepis pikiran jelek tentang Raka. Kenyataannya Raka tidak bohong, hanya saja Raka tidak memberitahu, ditambah juga dengan dirinya yang tidak menanyakan tentang apartemen.


Jadi foto wanita cantik tadi memang dirinya? Ah senangnya ternyata ada fotonya yang terpajang di kamar Raka.


Author happy lhoh kalau yang like dan yang komen banyak... Jangan lupa follow akun nya Author ya🥰


Rsky Selly

__ADS_1


__ADS_2