Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pergi


__ADS_3

Kepsek menatap Raka dengan datar, Raka tahu letak kesalahannya dimana.


"Semuanya harap tenang!" ucap Raka tegas membuat semua langsung terdiam.


Kepsek tersenyum terhadap Raka yang hanya menundukkan kepalanya sebentar. Kalau Raka bales senyum nantinya malah ricuh lagi.


"Untuk murid kelas 10 dan 11 100% dinyatakan naik kelas semua," ungkap kepsek.


Murid kelas 10 dan 11 bersorak gembira, usaha mereka belajar keras selama dua Minggu belakangan kemarin tidak sia-sia.


"Dan yang dinanti-nantikan untuk pengumuman juara umum tahun ini pastinya berbeda dari semester-semester sebelumnya yang selalu diraih oleh Raka Adelard Pangestu," ujarnya.


"Tidak usah bertele-tele, pasti kalian semua juga penasaran. Saya akan langsung mengumumkannya," senyum kepsek kepada semua anak didiknya.


"Selamat untuk Litha Kusuma Jaya Nagara sebagai juara umum tahun ini yang telah mendapatkan nilai tertinggi diantara semua murid di SMA Nagara," ucap Kepsek dengan bangga.


Semua bertepuk tangan dan ikut bahagia juga atas pencapaian anak dari pemilik sekolah yang mereka tempati. Yah meskipun ada beberapa murid yang bertepuk tangan dengan malas-malasan, tentu saja karena iri.


Litha terkejut dan bahagia juga tentunya, usaha belajarnya selama ini tidak sia-sia. Sarah dan Fika langsung memeluk Litha yang masih belum bergerak dari tempatnya.


"Gue bangga sama lo Tha," ucap Fika masih memeluk Litha.


"Sama, gue juga bangga banget sama adek ipar gue," sahut Sarah.


"Idihhh ngaku-ngaku aja lu," timpal Fika.


Sarah dan Fika melepaskan pelukannya. "Sono maju ke depan!" suruh Sarah.


"Udah ditungguin sama pangeran ganteng tuh..." goda Fika.


"Iya kasihan pangeran ganteng nungguin kehadiran putri cantik ini," balas Litha lalu melangkahkan kakinya menuju ke depan.


Bukannya tersipu malu atau salting, Litha malah sombong. Asli, Fika pingin nyentil dahi Litha.


Sarah menepuk pundak Fika, "Gue yang ngajarin tu bocah," ucap Sarah songong.


"Dih..."


Ditempat lain dibarisan para kakak kelas, empat cogan sedang berbincang tentang gadis yang namanya baru disebutkan oleh kepsek tersebut.


"Gila... Kita dikalahin sama adek kelas," Leon geleng-geleng kepala.


"Perasaan gue juga gak kalah pinter dari es balok," Arkan garuk-garuk tengkuk lehernya dengan tampang bodohnya.


Pletak... Jordy menyentil dahi si ganteng Arkan. "Sadar diri woi... Tingkat kecerdasan otak lu gak sebanding sama si kulkas,"


"Mereka emang cocok," celetuk Danil. Membuat ketiga cogan tersebut menatapnya seolah-olah tak mengenal Danil.


"Apa?" Tanya Danil bergantian menatap mereka bertiga.


"Gak nyambung lu," balas Jordy karena ucapan Danil memang tidak nyambung dengan obrolan mereka.


Litha melewati barisan murid-murid. Tatapan Raka mengarah pada Lith yang juga menatapnya tanpa berkedip seakan berkata, aku berhasil!

__ADS_1


Litha sampai pada tempatnya, Ia berdiri disamping Raka. Gadis itu tersenyum menoleh ke sampingnya, dimana dia dapat melihat wajah tampan Raka yang hanya... datar saja. Bukannya gak mau bales senyumnya Litha, Raka gak mau aja suasana jadi ricuh dan heboh lagi karena senyuman mautnya.


"Nah... Untuk murid yang lainnya, kalian bisa melihat peringkat dipapan pengumuman sekolah," ucap kepsek.


"Oh ya apa kalian tidak penasaran siapa yang lebih unggul diantara nilai raport mereka berdua?" Kepsek coba-coba mancing itu.


"Siapa Pak? Siapa Pak?" Tidak hanya satu murid yang berkata seperti itu, ada banyak yang penasaran dengan hasil nilainya.


Litha melirik Raka sekilas, lalu menghadap ke depan lagi dengan menghembuskan nafas panjangnya. Dia sudah tahu mana mungkin tingkat kecerdasannya mampu mengalahkan Raka?


Kepsek tersenyum kepada Raka dan Litha sebelum berkata, "Yahhh jika dipaksa seperti ini Saya bisa apa? Jika boleh jujur Saya akan mengumumkannya" Mau coba ngelawak tu kepsek, siapa yang maksa? Gak ada woi... Dengan terpaksa semua murid harus tertawa palsu, menghargai kepsek yang nyatanya lawakannya sangat amat garing.


"Sebenarnya nilai tertinggi diraih oleh Raka Adelard Pangestu. Namun karena Raka sudah dinyatakan lulus tahun ini, maka juara umum pada tahun dan semester ini jatuh pada Litha Kusuma Jaya Nagara," jelasnya.


Tuh kan... Litha udah nebak dari awal tadi. Dia menoleh sambil nyengir kuda. Raka tersenyum melihat Litha yang menurutnya lucu.


Sontak saja suara sorak gembira dan tepukan tangan menggema di setiap sudut sekolahan. Bukan! Bukan karena penjelasan kepsek, tapi karena Raka memperlihatkan senyumannya lagi yang biasanya tidak pernah dijadikan ajang pameran. Tapi hari ini Raka sudah menunjukkan senyumnya dua kali secara cuma-cuma? Siapa yang gak heboh, orang biasanya Dia selalu masang tampang datar tiap hari.


Kata-kata perpisahan serta ucapan terimakasih untuk ibu/bapak guru dari wakil teman seangkatan Raka sudah terucap didepan seluruh warga sekolah SMA Nagara.


Barisan sudah mulai bubar, para murid berhamburan entah kemana. Litha masih berdiri ditempatnya mengamati beberapa murid yang masih bergerombol ditengah lapangan dengan canda tawa mereka, Litha tersenyum mengamati mereka.


"Woi... Sendirian aja Neng, kemana suaminya?" tanya Fika yang baru menghampiri Litha. Suami? Maksudnya Raka? Hahaha dasar Fika.


"Ada urusan penting katanya," jawab Litha.


"Terus lo gak ikut?" Tanya Sarah.


"Bodoamat soal nilai sama peringkat, kita mah yang penting naik kelas," sahut Sarah dengan santainya.


**Kantin__


Sarah mengamati orang-orang yang berlalu lalang di kantin dengan jalan mereka yang terbilang cepat. Yah mereka adalah mantan kelas 12 yang baru saja dinyatakan lulus tahun ini.


"Kayaknya pada mau coret-coret deh.." ujar Sarah.


"Kira-kira Kak Raka ikutan gak ya?" Tanya Fika.


Sarah dan Fika menatap Litha, mereka pikir Litha mengetahui jawabannya. Litha berganti menatap mereka, memutar bola matanya malas, penyakit kepo nya tak kunjung sembuh, malah makin bertambah.


"Gak tau," jawab Litha acuh.


"Lihat yuk! Kayaknya seru," ajak Fika langsung menarik tangan Litha dan Sarah.


"Ikh... Makanannya belom abis tauk..." Protes Sarah.


"Ya elah makan mulu lo. Inget besok lo mau kawin, eh maksudnya mau tunangan. Jangan makan kebanyakan nanti gaun tunangan lo gak muat di badan lo yang melar," ucap Fika masih menarik tangan kedua sahabatnya.


Litha tersenyum miring, ada benarnya juga ucapan Fika. "Biasanya orang kalau besok mau tunangan atau nikah itu, pada diet. Nah elo? Malah porsi makannya dibanyakin," Litha berada dipihak Fika, membuat Sarah mengerucutkan bibirnya. Gelak tawa keluar dari bibir Litha dan Fika, semakin membuat Sarah kesal saja.


***


Banyak murid yang berdiri di koridor sekolah, ada juga yang dipinggir lapangan menyaksikan acara tahunan alumni SMA Nagara.

__ADS_1


Litha tidak melihat Raka diantara banyaknya orang-orang yang sedang berlarian ditengah lapangan dengan memegang smoke bomb berwarna-warni. Alunan musik perpisahan beserta suara rusuh sorak gembira dan suara tangis mulai mengusik indera pendengaran semua murid yang ada disana.


"Seru kali ya, kalo kita juga ikutan kayak mereka," ucap Sarah.


"Gue jadi sedih. Setahun lagi Leon bakal lulus, terus kuliah diluar negeri," hembusan nafas Fika terdengar oleh telinga Litha.


Kekhawatiran Fika kini sudah dirasakan lebih dulu oleh Litha. Jujur, Litha juga takut kehilangan sosok pemuda dingin itu. Litha mengecek ponselnya, tidak ada notifikasi chat ataupun panggilan dari beruang kutub Utara. Ia mencoba menghubungi Raka, namun ponsel Raka mati.


"Kenapa lo?" Tanya Sarah pada Litha.


"Gpp," Litha tersenyum untuk menutupi rasa kecemasannya terhadap Raka.


"Gue cabut duluan. Nanti kalo kalian mau pulang, duluan aja," ucap Litha lalu hendak melangkah tapi ditahan oleh Fika.


"Lo mau cari Kak Raka?" tebaknya dan diangguki oleh Litha.


"Lo yakin dia masih disini?" Sarah menimpali.


"Kenapa enggak?" Tanya Litha balik.


"Gue tahu sih tadi pagi lo bareng Dia. Tapii... Ee... Mungkin..." Ucap Sarah menggantung.


"Mungkin apa?" Litha sudah mulai curiga dengan ucapan Sarah.


"Ya kali aja Kak Raka langsung pergi," ungkap Sarah yang diangguki Fika.


"Maksud kalian?" Mata Litha mulai berkaca-kaca.


"Secara Kak Raka kan orangnya pintar, sampai loncat kelas juga lagi. Eee... Pastinya dengan kepintarannya itu, nggak nutup kemungkinan dong kalau Kak Raka dapet beasiswa disalah satu universitas diluar negeri yang mungkin juga salah satu universitas terbaik di dunia," jelas Fika.


"Kalian ngomong apaan sih?" Litha memalingkan wajahnya sebentar, mengusap kasar pipinya yang basah karena setetes air matanya.


"Mungkin nggak sih, Kak Raka langsung ke sana dan sengaja nggak ngabarin lo dan bahkan Dia sampai matiin handphonenya, karena Dia gak tega lihat lo nangis karena keberangkatannya?" Tutur Sarah.


Handphone mati? Dari mana Sarah tahu itu? Apa Raka memberitahu kepada Sarah dan Fika tentang rencananya yang akan langsung ke luar negeri?


Litha mengusap kasar kedua pipinya, air matanya sudah tumpah membasahi seluruh wajahnya. "Kak Raka ngasih tau kalian?"


Mereka berdua mengangguk. Sarah mengusap punggung Litha.


"Mungkin Dia gak akan nyalain handphonenya, karena Dia mau fokus belajar supaya cepet lulus dan cepet balik lagi ke sini," jelas Sarah berusaha menenangkan Litha.


"Dan lagi, kalau Kak Raka video call elo, lo pasti nangis. Dia gak bisa lihat lo sedih. Mending loss contact kayak gini aja, kayaknya emang itu yang terbaik untuk kalian," tambah Fika.


"Kenapa Dia nggak ngasih tau gue tentang keberangkatannya? Seenggaknya gue tau dari awal kalau ini pertemuan terakhir untuk penantian panjang kita," Litha berteriak sambil menangis, tetapi suaranya tak mampu mengalahkan suara orang-orang yang masih berjoget ria ditengah lapangan.


Sarah dan Fika memeluk Litha, mengusap punggungnya untuk menyalurkan semangat pada diri Litha.


***


Author baru bisa upload sekarang karena sibuk dengan dunia nyata. Untuk satu Minggu berikutnya kayaknya juga gak bisa upload karena lagi mid semester.


Terimakasih untuk kalian yang sudah mau mensupport dan menunggu cerita ini❤️

__ADS_1


__ADS_2