
Litha sangat terkejut dengan ucapan yang baru saja dilontarkan dari mulut Raka. Litha hanya diam seribu bahasa, dia menatap wajah tampan Raka, yang saat ini memang terlihat serius.
"Jadi benar? Pacaran sama gue, menurut lo itu susah banget?" tanya Raka.
Litha masih menatap wajah tampan dan bola mata hitam yang dimiliki Raka. Begitu pun Raka yang juga menatap wajah cantik dan netra indah yang dimiliki Litha. Sebenarnya Raka tidak ingin terlalu memaksa Litha untuk menjadi kekasihnya, saat ini Raka sedang menunggu jawaban Litha.
'Kalo pun gue jadi pacar Raka, kayaknya gak masalah. Ya.. walaupun gue belom yakin sama perasaan gue ke Raka. Tapi kalo Raka sampe ngelakuin hal yang gak senonong sama gue, tinggal minta putus aja kan beres? Atau gak laporin ke bang Umran, bahkan ke polisi juga bisa hhhh...' itulah batin didalam hati kecilnya Litha.
"Yaudah gue pamit," ujar Raka sambil membalikkan tubuhnya dan dengan melangkahkan kaki panjangnya.
Dengan segera Litha memegang lengan kekarnya Raka dan berkata, "Tunggu..! Gue ma.. mau jadi pacar seorang ketua OSIS," ucap Litha. Yang sebenarnya jantungnya sedang tidak normal, alias berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Setelah menyelesaikan perkataannya itu, Litha melepaskan tangan yang sedari tadi memegang lengan Raka.
Sebelum Raka membalikkan tubuhnya lagi ke hadapan Litha, Raka menaikkan kedua sudut bibirnya keatas secara bersamaan. Mungkinkah itu senyum bahagia? Tentu saja, jawabannya iya.
Raka membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya masuk begitu saja, ke rumah yang lebih mirip seperti istana itu, tanpa permisi kepada pemilik rumahnya.
"Eh... mau ngapain? Main nyelonong masuk gitu aja, nggak pake permisi lagi," ujar Litha sambil mengekori Raka yang sekarang menyandang gelar sebagai pacarnya.
"Masak mau masuk ngambil minum ke rumah pacarnya sendiri, pake ijin segala? Lagi pula di rumah ini cuman ada elo doang," jawab Raka.
Raka berjalan menuju dapur tanpa kendala apapun, bahkan Raka tidak bertanya dimana letak dapurnya, kepada Litha maupun pelayan di rumah itu. Padahal dari depan pintu untuk masuk menuju dapur, perjalanannya itu lumayan panjang, terdapat beberapa belokannya juga. Maklum saja, rumah Litha itu sangat besar dan luas, bak istana di kerajaan negeri dongeng.
"Kok dia bisa tau dapurnya? perasaan ini pertama kalinya dia masuk ke rumah gue. Dasar manusia aneh.. atau jangan-jangan dia beneran dukun kali ya..?" gumam Litha yang sangat absurd. Mana mungkin ada dukun yang masih muda dan tampannya kelewatan batas, seperti Raka.
__ADS_1
**Dapur__
Tanpa permisi lagi, Raka membuka pintu kulkas yang besar dan bentuknya terlihat sangat elegan. Saat melihat isi dari kulkas tersebut, sungguh sangat tidak mengecewakan indera penglihatan. Didalam kulkasnya terdapat banyak sayuran dan buah-buahan yang segar, serta makanan dan minuman.
Mulai dari yang kategori makanan sehat, instan, ringan, berat, dan mahal, semuanya ada. Dan ada berbagai macam merek terkenal minuman yang berkaleng maupun botol, serta terdapat juga minuman susu kotak dengan berbagai varian rasa, tak lupa juga ada beberapa botol yang berisi air putih.
Dari sekian banyaknya pilihan minuman berkaleng, botol, bahkan kotak susu. Raka hanya mengambil botol berisi air putih saja. Mungkin Raka sudah bosan dengan minuman seperti itu, kan di rumahnya sendiri juga tersedia minuman manis seperti didalam kulkas tersebut.
"Besok berangkat sekolah biar gue yang jemput," ujar Raka, sambil sesekali meminum air putih di botol yang tadi diambilnya.
"Gak mau, gue biasa naik angkot sendiri," ucap Litha tegas.
***
"Napa lo senyum-senyum sendiri, lo gak lagi kesambet apa-apa kan?" tanya Sarah yang tiba-tiba menghampiri rumah Litha.
"Perasaan dari tadi gue gak senyum tuh..." jawab Litha. Bahkan Litha sendiri tidak sadar kalau dia senyum-senyum sendiri? Wajar sajalah, namanya juga baru punya pacar. Apalagi itu adalah pertama kalinya Litha memiliki pacar.
"Kesambet beneran lu, orang dari tadi elo tu senyum-senyum sendiri, kayak orang ste*s," ujar Sarah.
"Gitu ya..? Hehehe..." ucap Litha dengan tawa polosnya.
Sarah hanya menatap Litha dengan tatapan tajam dan mengerutkan keningnya sampai-sampai kedua alisnya menyatu. Sarah mengetahui ada suatu hal yang sepertinya tidak diketahui olehnya dan dengan sengaja Litha tidak memberitahukan hal tersebut. Sarah itu sudah berteman dengan Litha sejak kecil, jadi wajar kalau Sarah mengetahui ada sesuatu yang menjanggal terhadap sahabatnya.
__ADS_1
"Lo punya rahasia kan..?" tanya Sarah.
"E.. enggak kok," jawab Litha gugup.
"Ngaku aja! Udah ketebak dari gelagat lo yang mencurigakan dan menurut gue, itu aneh banget," ujar Sarah.
"Aneh apanya?" tanya Litha.
"Jangan-jangan lo punya pacar baru?" tanya Sarah yang asal menebak. Sarah gak tau aja, kalau tebakannya ternyata benar.
"Ngomong apaan sih lo, malah jadi ngelantur kemana-mana," jawab Litha.
"Ya... habisnya lo senyum-senyum gak jelas, kayak orang lagi jatuh cinta tauk," ucap Sarah.
"Udah ah... Gue ngantuk berat, mau tidur," ujar Litha sambil berjalan ke dalam rumahnya. Sungguh perbuatan yang tidak beradab, padahal kan lagi ada tamu. Kok malah ditinggal tidur sih, ya.. walaupun tamunya cuman Sarah doang yang setiap hari bolak balik ke rumahnya tanpa rasa sopan. Tapi tetep aja Sarah itu lagi bertamu, walaupun tidak diundang. Hadehhh...
"Lo tu gak bisa bohong sama gue," teriak Sarah yang sangat menggelegar. Sampai membangunkan bang Umran yang sedari tadi ketiduran di taman, depan rumahnya.
Untung saja Sarah berteriak keras kalau tidak, mungkin Umran akan ketiduran sampai berjam-jam di luar sana. Karena pelayannya tidak ada yang berani membangunkannya. Sedangkan orang tuanya jarang di rumah, saat ini ayahnya berada di luar kota untuk mengurus perusahaan keluarganya. Dan bundanya masih sibuk dengan urusannya yang dapat jatah malam untuk mengajar disuatu universitas, karena bundanya Litha adalah seorang dosen.
Kalau Litha? Pastinya sangat amat bahagia jika abangnya tertidur pulas diluar sana, seperti gembel. Umran itu sering masuk angin, karena keseringan tidur di luar. Dasar Litha itu benar-benar adek laknat.
Umran itu lebih suka dengan alam, makanya dia sering nongkrong sampai ketiduran di taman depan rumahnya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau angin malam itu sangat ganas, bagi seseorang yang mempunyai kekebalan tubuh yang lemah, seperti Umran.
__ADS_1
"Woiii... berisik," teriak Umran. Umran itu memang tidak tahu terimakasih, kalau bukan karena Sarah mungkin besok pagi dia bisa masuk angin lagi.